
Satella dan Starla pergi menuju kediaman keluarga Frankenstein. Theodore mengantar mereka, ia mengantar ketempat dimana Ciel dibawa. Ternyata Ciel adalah sosok homonculus kreasi Frankenstein families. Mereka tiba di gerbang.
"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya penjaga gerbang.
"Kami hendak bertemu anak yang bernama Ciel Ferguson." Jawab Satella, mewakili keinginan Starla.
"Oh, bocah homonculus itu. Akan saya antar." Kata penjaga.
Akhirnya mereka berkunjung ke house of Frankenstein. Adalah satu keluarga bangsawan kelas satu.
Frankenstein yang asli merupakan keturunan penyihir, spesialisasi mereka adalah sihir alkimia. Ilmu alkimia mereka adalah manifestasi dari eksperimen yang dilakukan berabad-abad. Homonculus yang mereka ciptakan cukup sempurna, karena melalui riset dalam waktu berabad-abad.
Karena keluarga Frankenstein itu terspesialisasi pada sihir alkimia, kemampuan bertarung mereka itu lemah. Tapi mereka telah melatih homonculus sebagai penyihir tipe petarung yang kuat. Homonculus ciptaan mereka, melindungi tuan mereka dengan baik.
Akhirnya Satella, Starla dan butler kepercayaan yaitu Theodore, duduk diruang tamu. Penjaga pun hendak memanggilkan majikannya.
Datanglah seseorang yang usianya setara dengan kakak laki-lakinya Satella. Ia memiliki rambut yang panjang berwarna biru, rambutnya ditata seperti kepang Perancis.
Walau rambutnya ditata seperti demikian, ia adalah pria tampan.
"Permisi nyonya kecil dan butler kepercayaannya. Bisa perkenalkan identitas kalian?" Tanya orang itu.
"Aku Satella Shiela Charlotte, dan adikku. Namanya Starla Cloe von Charlotte." Jawab Satella.
"Namaku Theodore, aku seorang butler. Boleh aku pergi diluar tuan bangsawan?" Ucap Theodore yang memberi gestur sedemikian sopan.
"Silahkan." Pemilik mansion pun mempersilahkan Theodore untuk beranjak pergi.
"Putri kecil pasti adalah adik dari Duke Pegasus? Kalau iya, namaku Duke Hans Andersen Frankenstein. Senang bisa kedatangan seorang bangsawan lain sebagai tamuku." Pemimpin keluarga Frankenstein memberi keramahtamahan.
"Kak...." Bisik Starla, memberikan kode.
"Adikku, namanya Starla. Adikku ingin bertemu dengan homonculus yang bernama Ciel Ferguson. Apa disini homonculus dengan nama demikian ada, adakah?" Satella hendak bertanya.
"Homonculus yang kemarin, aku sudah mengeliminasinya." Jawab Duke Frankenstein.
"Eliminasi?" Sahut Satella.
"Dimusnahkan karena sudah rusak dan tidak bisa dipulihkan." Jawab Duke Frankenstein.
Melihat mimik wajah Starla, Duke paham akan situasinya. Kemudian Duke Frankenstein memberi solusi.
"Aku punya banyak homonculus. Apakah kamu mau satu?" Duke Frankenstein menawarkan.
"Homonculus, sepertinya mahal." Gumam Satella.
"Aku akan memberikan satu pada kalian. Anggap ini hadiah dariku, kepada sekutu. Klan Frankenstein memandang klan Charlotte sebagai sekutu yang menjanjikan." Itulah pernyataan Duke Frankenstein.
"Ngomong-ngomong, kenapa Ciel sampai rusak?" Tanya Starla.
"Entahlah, misterius. Aku heran, itu sihir macam apa? Aku baru tahu kalau ada sihir bisa merusak sirkuit magis nya." Kata Duke Frankenstein.
"Oh, mereka yang disebut dengan kelompok anti magus itu cukup menarik juga." Sahut Satella.
"Pernah dengar sih." Balas Duke Frankenstein.
"Mereka menggunakan ini sebagai senjata." Satella meletakkan pistol yang dipakai Strega.
"Apa itu?" Tanya sang Duke.
"Senjata yang aku rebut dari salah seorang anggota Strega setelah aku mengalahkannya." Ujar Satella.
"Boleh aku meneliti ini?" Pinta Duke Frankenstein.
"Oh, silahkan." Jawab Satella.
Skip....
Duke Hans Andersen Frankenstein mengajak Satella dan Starla untuk keliling mansion. Sang Duke sedang menunjukkan desain homonculus buatannya.
"Para staf laboratorium kami itu terspesialisasi di bidang alkimia. Tentunya rahasia keluarga kami adalah aktor yang berpengaruh didalam kesuksesan pembuatan homonculus. Teks pengetahuan tentang homonculus hanya ada didalam keluarga Frankenstein. Beberapa ahli sihir alkimia banyak melakukan tiruan terhadap model homonculus kami. Karya mereka cenderung cacat bila dibandingkan karya kami.
"Bisa kalian lihat, dari beberapa homonculus yang kita temui tadi." Duke Frankenstein melakukan presentasi.
"Dari sekian banyak, ada satu yang ingin aku tunjukkan!" Ujar Duke Frankenstein.
Satella dan Starla berjalan saja mengikuti tuan rumah.
"Kami berhasil melakukan kloning dari seorang arc mage dimasa lalu. Gen pencangkok nya berasal dari seorang bernama Helene Charlotte. Itu pendahulu kalian kan? Konon katanya, di eranya ia sangat hebat."
Kala Duke Frankenstein memberi penjelasan, ia menunjukkan satu homonculus.
"Siang mas Hans. Ajak Ellen pergi keluar ya." Ucap seorang gadis.
Gadis tersebut tubuhnya mungil. Ia lebih mungil dari Satella. Memiliki iris mata berwarna merah scarlett yang sedikit menyeramkan. Orang didunia ini biasa menyebut mata dengan iris berwarna merah scarlett sebagai mata jahat. Tapi ia begitu imut. Betapa imut garis wajahnya, telah menyamarkan mata jahatnya.
"Ini adalah homonculus karyaku! Namanya Ellen, homonculus yang dibuat dari gen Helene Charlotte." Duke Frankenstein menunjukkan homonculus nya.
__ADS_1
"Wah ... dia mirip denganku."
Satella bergumam.
"Ditambah," Duke Frankenstein mengangkat tangannya. "Ingatan miliknya semasa hidup berhasil disalin."
"Itu artinya," Satella pun terdiam sejenak. "Nenek Ellen."
Homonculus menanggapi dengan.
"Heh ... aku bukan nenek kalian! Lagipula aku ini masih muda tau!" Protes homonculus.
"Tapi kamu kloning dari Helene Charlotte kan? Helene Charlotte adalah nenek moyang kami. Kamu adalah kloningannya, itu artinya kamu itu nenek kami kan?" Ujar Satella, dengan wajah polosnya.
"Eh, ini nenek kita kak? Kok kita kalah imut kak? Nenek lebih imut daripada kita kak." Menanggapi kakaknya, Starla terkekeh.
"Apa benar Helene Charlotte itu memiliki tubuh semungil ini? Perasaan, bingkai foto dilorong mansion menunjukkan Helene Charlotte itu setara kakak Diana posturnya. Tapi kenapa tiruannya bertubuh mungil?" Tanya Satella.
Satella bingung....
Duke Frankenstein terkekeh atas polosnya raut wajah Satella.
"Apa boleh buat." Batin Ellen.
"Hei, kak Hans. Eh, maksudku Duke Hans. Apakah homonculus Helene sudah boleh dibawa pulang?" Tanya Satella.
"Iya silahkan." Jawabnya.
Ellen homonculus.
Skip....
Berada didalam kereta naga.
"Namaku Satella Shiela Charlotte. Diriku keturunan Helene Charlotte yang hidup empat abad yang lalu. Kami cucu moyang mu berarti, iya kan nenek." Satella berkenalan.
Aneh rasanya, Satella memanggil nenek kepada orang yang punya wajah sebaya dengannya. Sebagai homonculus, Ellen baru berumur sembilan belas tahun.
"Kita cuma beda satu tahun! Aneh rasanya dipanggil nenek, dengar Satella!" Protes Ellen.
"Nanti juga terbiasa, nenek." Canda Satella.
"Aku Starla Cloe von Charlotte, nek." Starla memperkenalkan dirinya.
"Iya nenek." Balas Satella dan juga Starla, secara bersamaan.
"Aku belum nenek-nenek tau." Ellen memberi protes kecil.
Sementara Ellen terganggu atas sebutan yang diberikan Satella, kembarannya menggagas nama panggilan yang lebih ekstrim lagi.
"Kak Stella, kak Stella." Seru Starla.
"Apa dik Starla?" Sahut Satella.
"Ini loh yang terdapat dibuku cerita dongeng ala masyarakat tradisional Amaterasu. Mereka menyebutnya sebagai, nenek loli." Kata Starla.
"Nenek loli?" Satella bingung.
"Umumnya diatas 60 tahun tetapi wujudnya seperti anak usia sepuluh tahun kak." Jawab Starla.
"Tetap aneh. Tetap saja aku bingung dengan teori mu." Balas Starla.
"Mau aku pinjamkan buku cerita tradisional masyarakat Amaterasu?" Tanya Starla.
Satella mengangguk.
[Note : Amaterasu adalah pulau terpencil, tak jauh dari dataran Aluscia. Amaterasu punya latar kebudayaan yang mirip Jepang.]
Skip....
Akhirnya mereka tiba di rumah.
Diana duduk disofa ruang tengah mansion kota Las Castella. Diana meminum secangkir teh hangat dengan buku novel yang terkenal.
Diana menyadari kedatangan adik bandelnya, segera menaruh buku novelnya barang sejenak.
"Kalian sekarang menjadi tukang culik?" Sambut Diana.
"Apa maksudmu kak?" Ucap Satella dengan nada prihatin.
"Anak siapa yang kalian bawa? Hei, dasar kalian anak bandel!" Omelan diberikan oleh Diana.
"Ini homonculus kak!" Jawab Satella.
"Iya kak, hadiah dari Frankenstein families." Starla menambahkan.
__ADS_1
"Ara ... kalian sungguhan?" Diana seolah tidak percaya.
"Homonculus ini dibuat dari gen Helene Charlotte. Namanya adalah Ellen." Satella menjelaskan.
"Nenek?" Gumam Diana.
"Wah, kakak Diana sepemikiran dengan kak Stella." Ceracau Starla.
"Tentang apa?" Sahut Satella.
"Konsep panggilan nenek itu loh." Jawab Starla.
"Kalian semua sama saja." Ellen menampakkan mimik teraniaya.
"Cup, cup, cup, jangan bersedih. Kemarilah cute Ellen." Diana pun menyambut anggota keluarga.
"Cute Ellen?" Ceracau little Ellen dengan pipi memerah.
"Dasar nenek loli." Bisik Starla.
Ellen menyukai panggilan cute Ellen yang Diana berikan.
"Minta data tangan dong kakak kesayangan." Bujuk Satella yang memberi nada imut yang mirip anak-anak.
"Untuk apa, adik sayang?" Tanya Satella.
"Kita mau mengikuti turnamen penyihir." Jawab Satella.
"Tapi gak boleh merusak bangunan koloseum nya. Berjanji pada kakak!" Diana memberi persyaratan.
Bahkan Diana menyadari bahwa kedua adik kembarnya memiliki kekuatan sihir seperti monster.
"Iya kak." Balas Satella.
Skip....
Satu hari berlalu.
Kereta yang dinaiki oleh Satella dan Starla sedang menuju kementrian sihir. Jalur setapak dilalui, sampai kusir nya melihat bangunan kastil besar didepan mata. Adalah kastil yang terletak di Geffenia field. Ada dua kastil, pertama kastil institut berikutnya kastil kementerian sihir.
Padang rumput nan luas....
Pendaftaran tahap pertama tentu diadakan didalam kastil.
Seribu lebih penyihir yang daftar turnamen.
Biasanya kementerian sihir adalah pihak penyelenggara.
Nantinya akan ada ujian tahap satu. Ujian pertama adalah tentang teori, tentu si kembar es dan api mampu melewati dengan mudah. Akan ada banyak peserta gugur ditahap satu.
Setidaknya 20 persen peserta akan gugur ditahap ini.
Apabila kementerian sihir punya rencana mempersulit tahap satu. Peserta gugur dapat mencapai 30 persen, atau bahkan 40 persen.
Tapi tidak demikian.
Biasanya ujian tahap dua dan tiga yang menjadi momok menakutkan bagi peserta.
Tahap kedua adalah labirin. Tahap ketiga adalah dungeon yang penuh jebakan dan magical beast. Kalau tahap bonus, hanyalah untuk sesi selingan saja. Tahap bonus sangat disukai, karena berhadiah. Tentu peserta yang gagal ditahap bonus tidak akan dianggap gugur. Tahap bonus berbeda-beda tiap tahun.
Dungeon apakah yang menanti?
Tantangan macam apakah yang ada didalamnya?
"Ada apa kak, orang-orang sedang berkerumun?" Tanya Starla.
Kereta naga mereka baru akan tiba gerbang depan dari tembok kastil kementerian sihir.
Satella mengetuk kaca keretanya. Adalah kaca depan yang menjadi penghubung antara kusir kereta dengan penumpangnya.
"Kenapa nyonya kecil?" Tanya sang kusir.
"Kami turun disini saja!" Satella meminta.
"Sungguh?" Balas kusir kereta.
"Iya pak!" Jawab Satella.
Akhirnya Satella dan Starla turun dititik sebelum gerbang dinding kastilnya.
Mereka penasaran, kenapa situasi ramai begitu.
Ada apakah?
Lihat saja....
__ADS_1
~Bersambung~