
Ruang kepala sekolah.
"Aku kaget, jantungku jadi lemas rasanya." Keluh Satella.
"Yasudah.. duduk dulu." Suruh pak kepala sekolah.
"Bentar, ambil napas dulu." Satella terpejam dengan wajah kesal.
Mengatur napas, sambil mengatur napas Satella terpejam dengan raut wajah yang kesal.
Membuka mata, Satella cemberut..
"Sebentar!" Satella kelihatan marah.
"Apa alasan dari memukul meja barusan itu?" Satella melotot.
"Kalau nakal dimarahi kan wajar, barusan aku salah apa? Udah benar kan kalau menemukan barang milik orang lain itu dikembalikan, lalu kenapa lagi tadi!" Satella dengan ekspresi kesal campur frustasi.
"Aku gak marah." Kepala sekolah.
"WHAT!" Satella geram.
"Kubilang aku tidak marah." Kepala sekolah mengulangi kata-katanya.
"Bisa jelaskan kenapa tadi pukul mejanya? Bikin kaget saja." Protes Satella.
"Habisnya Satella itu orangnya kagetan." Potong Jack.
Jack menyela, Satella menoleh kearahnya.
"Jack.. DIAM!" Satella marah.
"Ya.. buk, eh maksudnya Satella." Kemarahan Satella bikin Jack agak terdiam sedikit.
"Ahem." Kepala sekolah berdeham, Satella menoleh.
"Aku hanya mengetes." Kata Kepala sekolah, mengangkat jari.
"....." Satella mengedutkan alisnya.
"Apa kamu melihat ada goresan di mejaku?" Tanya kepala sekolah.
Spontan Satella dan Jack fokus menatap mejanya. Satella diam sementara Jack berkomentar.
"Tidak ada, sama sekali." Jawab Jack.
"Pedang Griffin sword jadi tumpul karena aku tidak dikonfirmasi sebagai usernya." Kepala sekolah.
"Di.. konfir.. masi? Itu lagi?" Satella bingung lagi.
"Sekarang kamu coba!" Kepala sekolah memberikan Griffin sword kepada Satella, diterima olehnya dengan wajah bengong yang imut.
"....." Satella diam, seolah diatas kepalanya ada benang kusut, ia kebingungan sekali.
"Sekarang kamu tebas mejanya!" Pinta kepala sekolah.
"Apa?" Satella masih bingung.
"Lakukan saja!"
"Iya, baiklah." Satella bersiap menebasnya.
"Tunggu! Ambil ancang-ancang supaya tebasan nya kuat." Pinta kepala sekolah.
"Em, mana ku tahu aku kan bukan swordman." Keluh Satella, menarik pedangnya keatas tuk mengambil ancang-ancang.
"Ha.. rasakan ini." Dengan cara hebohnya Satella menebas meja dengan amat berlebihan.
Bruk..
Entah bagaimana tangan lentik Satella dengan serat otot lemah sanggup membelah meja.
"Eh? Loh.. belah?" Satella
"Tanganku sama lemahnya dengan anak usia sebelas tahun, kok bisa begini?" Satella bingung.
"Itulah kekuatan asli Griffin sword. Karena kamu sudah terkonfirmasi oleh pedang sebagai user makannya kekuatannya keluar kalau kamu memakainya. Kalau orang lain yang memakainya maka kekuatannya otomatis tersegel, menggores meja kayu saja tidak bisa." Jawab kepala sekolah, Satella mengangguk saja dengan ekspresi super bengong.
"Ya.. ampun, ekspresi diam kemu seperti cucu bapak yang masih berusia sepuluh tahun." Komentar kepala sekolah.
"Satella emang imut." Kata Jack.
"...." Dikomentarin begitu Satella memasang wajah cemberut.
Kepala sekolah mengangkat tangan dan bersiap menerangkan.
"Griffin sword dibuat oleh pendiri sekolah ini loh. Siapa yang tahu ia menyembunyikan pedang didalam topi sihirnya. Topi ini adalah satu tradisi dimana kepala sekolah menunjuk penerusnya dengan cara memberikan topi ini. Dari generasi ke generasi belum ada yang berhasil menemukan pedangnya." Kata pak kepala sekolah.
__ADS_1
"Kenapa aku dianggap pemiliknya oleh pedang ini?" Satella bingung.
"Itu karena kamu punya syarat sebagai usernya." Jawab kepala sekolah dengan santainya.
"Eh? Makin bingung." Keluh Satella.
"Entahlah aku lupa, yang pasti ada kekuatan besar didalamnya." Kata kepala sekolah.
"Kekuatan macam apa?" Satella.
"Ini disebut physical penetration, yaitu kemampuan menembus efek sihir defensif. Ada dua macam sihir defensif yaitu terhadap kerusakan fisik dan terhadap magic." Kepala sekolah pelan-pelan menjelaskan.
"Griffin sword memiliki kekuatan membunuh mahluk myth dan juga monster kuat lainnya. Intinya kamu bisa membunuh monster apapun yang kuatnya diluar nalar dengan pedang itu." Ujar kepala sekolah.
"Aku paham.. aku paham." Setelah banyak penderitaan, akhirnya ia sanggup mengukir senyum lebar diwajahnya.
"Tapi apakah, Griffin sword bisa membunuh balisik? Tanya Satella.
"Balisik tewas dalam satu giliran." Jawab kepala sekolah.
"Satu giliran." Satella bengong.
"Intinya! Senjata biasa tak mampu membunuh balisik walau ditusuk kearah kepala balisik, sementara Griffin sword cukup sekali tusuk kearah kepala balisik." Kata kepala sekolah.
"Hebatnya." Seru Satella.
"Tentu.. menusuk kepala balisik dengan pedang tak semudah yang kamu kira. Walau senjata kamu sekuat itu, apa kamu selaku user Griffin sword bisa melakukannya?" Kepala sekolah mempertanyakan.
"Tidak semudah itu!" Kepala sekolah mengangkat jarinya.
"Menatap matanya saja kamu bisa membatu seketika, sekalinya kamu bisa menghindari kutukannya tapi ular balisik punya bisa korosif yang berbahaya." Kata kepala sekolah.
"...." Satella mengukir senyum sarkastik.
[Satella : aku kan punya telekinesis, terbangkan saja pedangnya.] 😝
Selanjutnya kepala sekolah banyak cerita ini itu. Sementara Satella menanggapi dengan masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Beberapa saat kemudian..
"Bapak.. kami pergi dulu." Satella bilang, sedikit membungkuk dan tersenyum sambil terpejam.
"Sudah mau pergi?" Sahut kepala sekolah.
Skip..
Jam makan siang berakhir, Satella datang kelapangan tempat untuk latihan sihir. Tapi pada jam segini training ground sudah ditempati banyak orang, murid-murid sedang bersiap diri untuk praktik besok. Secara tak terduga Satella dapat tindakan rasis dari beberapa siswa.
"Lihat itu, Satella freezing." Seru seseorang siswa, membuat lainya ikut-ikutan heboh.
"Kita sudahi saja, aku tidak ingin berakhir dibekukan olehnya, ya."
"Iya aku juga, ayo kita tinggalkan tempat ini."
"Dasar tukang beku."
"Dasar Satella freezing."
Mendapat tanggapan sinis seperti begitu. Bibir Satella mendadak melengkung tertekuk, cemberutnya sungguh masam dan sendu.
"Apa-apaan mereka ini, seenaknya membuat julukan untukku!" Ucap Satella, mengeram kesalnya.
"Oke lanjut!" Seru Satella, memaksa diri untuk bersemangat.
Boneka kayu ditata sedemikian rupa untuk latihan. Ada murid memakai untuk latihan menembak baut api, lalu es, sampai pisau angin cekung. Sementara itu Satella mencoba tuk menerbangkan pedang dengan skill telekinesis yang dia kuasai.
Pertama, mengangkat pedangnya kedepan lalu pedang pun terlepas dengan sendirinya karena melesat kedepan. Pedangnya meleset, tidak kena boneka kayunya melainkan terus melaju hingga menabrak dindingnya. Akurasi Satella masih belum baik dalam teknik satu ini.
Kemudian..
"Wow tembus!" Satella pun kaget melihat pedangnya tembus sangat dalam ditembok.
Lebih dari setengah bilah pedang masuk kedalam dinding. Satella menarik-narik gagang pedang.
"Kya.. uh susahnya!" Satella sampai Terengah-engah kesulitan menarik pedangnya.
"Tangan lemah ini menyebabkan!" Keluh Satella.
"Oh iya, kan aku punya telekinesis." Gumam Satella.
Alih-alih menarik pedang dengan tangannya, Satella memakai tenaga telekinesis untuk menarik pedang yang tertancap.
Kesempatan kedua..
Telekinesis !!
Pedang melesat cepat.
__ADS_1
"GAGAL! lagi." Satella frustasi.
"Coba lagi deh." Satella dengan bernada pasrah.
Setelah beberapa percobaan.
"Yeay kena." Satella melompat kegirangan sebagai selebrasinya.
Boneka kayu dipaku sehingga itu menyatu dengan balok kayu yang ditanam ke tanah. Balok kayu itu sampai patah saking kencangnya lesatan pedang. Bukan dilempar dengan otot tapi tenaga pysche, telekinesis. Satella pun mendekat untuk memunggut pedangnya lagi.
Satella melangkah..
"Hebat." Gumam Satella.
Pedangnya menusuk boneka kayu hingga dalam. Gagang pedangnya sampai menyentuh bagian kayu saking dalamnya. Satella sampai dibuat tercengang oleh pedangnya.
Bagaimana tidak..
Pedang manapun tak mungkin menembus kayu sedemikian rupa hingga sedalam ini. Pedang tempa manapun mana mungkin menusuk kayu sedalam itu. Kayu yang lebih keras dari daging, biasanya hanya ujung pedangnya saja sebanyak beberapa sentimeter. Ppa lagi kalau bukan pedang mistik, powerful.
"Gak masuk akal." Gumam Satella setelah melihat kalau boneka kayu terlempar tujuj meter dari balok penyangga.
Satella berlatih sampai sore hari supaya yakin kalau dia bakalan memenangkan duel dengan vilain.
Skip...
Malam hari.
Satella memasuki kamarnya dan bercermin dimeja. Ia masih pakai handuk setelah mandi shower dikamar mandi yang ada didalam asrama putri.
Handuk dijatuhkan kebawah.
Pemandangan langit malam nan indah terlihat dikota Geffenia nan megah ini. Perspektif pandangan berpindah ke jalan raya besar atau protokol utama kota. Segalanya lalu-lalang, kelap-kelip lampu jalan yang bentuknya seperti lampu penerangan jalan ala Inggris era Victoria, atau Inggris ala 1900 an.
Tapi yang beda adalah didalam lampunya bukan bohlam tetapi kunang-kunang. Iya itu benar, berbeda dengan universe bumi, didunia ini kunang-kunang itu monster seukuran fairie pixie. Kunang-kunang disini diberikan pakan serangga pada siangnya kemudian bisa untuk menerangi jalanan kota semalaman penuh.
Lihat..
Kunang-kunang didalam tabung lentera penerangan jalan raya itu sedang memakan serangga kecil didalam tabung. Ternyata selain kunang-kunang yang dimasukkan kedalam lampu itu juga dimasukan pakan juga agar bisa selalu nyala.
Ada dua alternatif untuk lampu penerangan. Pertama, cara yang tradisional adalah dengan cahaya monster kunang-kunang, hanya membutuhkan serangga yang tak terlalu banyak. Kedua, cara yang modern dan praktis yaitu bebatuan bercahaya, cukup dialiri mana diwaktu sore, malamnya menyala.
Tapi, kunang-kunang jauh lebih ekonomis..
"Yeay.. cantiknya."
Persepsi berpindah kepada Satella yang sedang memandang dirinya sendiri di cermin. Alih-alih pakai piyama tidur, Satella memakai kemeja putihnya dan rok selutut dengan stoking putih yang halus.
Apalagi kalau bukan untuk pergi keluar pada pukul sebelas malam nanti. Loh, bukanya Satella tidak berselera untuk menghadapi sang vilain yang sudah mengalahkannya sebanyak dua kali itu. Tidak lain karena Satella menemukan Griffin sword, itu penyebab semangatnya kembali lagi pada dirinya.
"Kali ini pasti bisa! Karena pada malam ini aku, OKE!" Seru Satella dengan energi hebohnya.
Duk.. duk.. duk..
Suara tembok yang diketuk-ketuk dengan sepatu..
"BERISIK!" Kata penghuni kamar sebelah.
"Maaf." Satella malu sendiri.
Suara detak jam dikamar Satella terdengar ditengah keheningan suasana. Jam kayu yang persegi panjang yang besarnya setara satu kotak surat.
"Apa yang aku lakukan? Menunggu sampai datangnya jam sebelas itu lama banget, kalau aku ketiduran duluan gimana?" Gumam Satella.
Jam 9.00
Satella membuka pintu kamarnya yang terlihat ada banyak siswi yang membuka bukunya. Mereka sedang menghapal buku pelajaran.
[Note : disini murid sihir yang nilai ujian praktiknya dibawah standar bakalan ikut remedial. Berupa tes tertulis, tapi itu gak bakalan lebih tinggi dari nilai standar minimum.]
"Masih belajar." Ucap Satella yang memberi tegur sapa.
Itu dibalas emosi..
"Kami sadar diri bahwa kami gak berbakat seperti kamu, makannya kami siap-siap remedial tertulis!" Cerocos beberapa siswi dengan ekspresi kesalnya.
"Maaf ganggu." Balas Satella yang tersenyum masam.
"Gess." Mendesis dalam hati nada level bisikan.
Satella keluar pintu asrama putri..
"Oke kita keliling-keliling." Satella.
Berjalan di lorong..
~bersambung~
__ADS_1