
Kalau menemukan kesalahan penulisan mohon dimaklumi. Saya sedang mengedit tulisannya sesuai puebi, tapi butuh waktu.
______________________________________________
Satella sedang duduk, menunggu diruang perpustakaan. Benar saja, Jack datangnya terlambat. Ini adalah jam sembilan pagi dan perpustakaan memang sepi, tapi setidaknya disana ada empat orang siswi sihir lain.
"Antara tidak menepati janji atau tak tepat waktu saja. Dibilang tidak tepat janji tidak tepat. Dibilang tidak waktu juga salah, itu karena Jack sudah bilang kalau dia tidak berani janji jam berapa. Habisnya anak laki-laki kalau bangun selalu aja kesiangan ataupun suka terlambat." Satella mengoceh sendiri sambil duduk diruang perpustakaan. Memegang sebuah benda meja, ia mulai berkonsentrasi.
Perpustakaan akademi sihir Griffin quen, Geffenia. Terdapat beberapa rak khusus peninggalan alumni siswa-siswi. Ada orang pelit yang hanya menyumbang buku catatan yang dia tulis, basicly hanya buku tulis kosong berbentuk hard cover yang isinya catatan waktu pelajaran berlanjut. Siswa tersebut mencatat ke buku tulis, agak klasik.
"Kalau dipikir-pikir ini seperti aku ngecheat sih." Gumam Satella seraya menatap atap menaruh telunjuknya didagu, mengenang.
Waktu kelas satu siswa-siswi lain membaca buku paket mata pelajaran sekolah. Umumnya mereka masih berusia 15 tahun karena itu masih tahun pertama. Alih-alih membaca buku pelajaran, Satella membaca buku tulis berisi catatan. Dibanding buku paket yang bahasanya rumit, catatan dari alumni itu cenderung mudah dicerna. Alhasil Satella pun unggul dalam pelajaran, yaitu tes tertulis ataupun menjawab semua pertanyaan guru, mendapat nilai tambah. Yang kedua Satella telah menemukan buku ramuan tingkat lanjutan, itu buku paket asli yang dicoret oleh pemilik. Alumni tadi menambah catatan catatan yang mudah dimengerti dan tak ditulis oleh penulis buku paketnya.
Misalnya catatan spesifik bahwa mencabut tanaman monster harus pakai cara tertentu yang tak ada dibuku. Supaya mudah dan cepat. tanaman monster bisa mengigit jadi note didalam buku alumni yang ada coretannya sungguh membantu. Alhasil Satella menang dalam hal kecepatan waktu. Disaat semuanya masih sibuk mencabut tanaman monster dari tanah, Satella selesai melakukan brewing. Bukan hanya cepat, hasil racikan pun presisi.
Hasilnya Satella diuntungkan lagi dengan nilai praktik terbaik untuk kategori ilmu ramuan penyihir. Sementara siswa lain beranggapan bahwa buku paket dengan coretan pemilik buku kurang berguna dan hasilnya hanya Satella seorang yang diuntungkan dengan cheat itu.
Karena buku tulis dan buku paket dengan coretan itu berisi kenangan mantan pemilik, makannya Satella memakai bukunya untuk melakukan sihir psikometri. Maka dari itu perpustakaan adalah tempat yang paling sering dikunjungi Satella. Sejak lama telah mengintip kenangan dari banyak buku warisan alumni dan berbekal psikometri Satella terus mengasah bakat Esper nya. Kebanyakan hanya kenangan tak berguna yang Satella temui. Sementara kenangan yang menguntungkan adalah saat Satella menemukan item sihir rare yaitu Sage diari. Tak menutup kemungkinan Satella akan uji coba pergi ke desa green Apple, mencari liontin itu dan mengetes tuahnya.
Tapi....
Dari ingatan yang tidak memberi keuntungan pun Satella mencuri manfaatnya. Seperti bagaimana caranya orang-orang dalam ingatan menipu, dengan begitu Satella punya wawasan tentang cara agar tidak ditipu. Dengan ingatan Satella telah belajar cara memahami perasaan orang lain. Membuang sisi negatif mencerna segala kebaikan ingatan.
Ada beberapa buku peninggalan alumni disitu. Seni tulisan dan kosa kata yang kuno, biasanya Satella memakai benda peninggalan dari beberapa abad yang lalu. Berdiam, duduk manis dan menerawang.
"Berkat psikometri aku jadi tahu budaya dan kebiasaan orang-orang jaman dulu, walaupun itu beberapa abad yang lalu." Gumam Satella dengan nada berbisik. Akhirnya memulai proses penerawangan.
Psikometri !!
Tahun 740, tahun merpati.
Lokasi penerawangan letaknya diruang asrama laki-laki, tepatnya ruang tengah dari asrama. Jam didinding menunjukkan jam tujuh pagi hari. Diruang tengah tampak banyak sekali siswa berkumpul. Malahan ada beberapa tiduran dikarpet masih ngantuk, ada juga tiduran disofa. Melihat situasi itu membuat sang gadis penerawang menjadi kesel dan cerewet sendiri.
[Satella : Eh, ya ... ampun!] 😤
Tak ada suara yang keluar dari mulutnya Satella. Semua suara berasal dari dalam hati Satella.
[Satella : Ya ... ampun, asrama cowo jorok banget. Ini kan jam tujuh tapi mereka masih pada tiduran aja bukanya cepetan mandi! Melihatnya bikin aku kesel sendiri. Dia tidur sambil duduk terus gak pake baju lagi, lalu handuk dileher. Mau sekolah gak sih tuh si m*nyet. Sumpah ini penerawangan yang paling gak guna yang pernah terjadi.] 😡
[Satella : Ya ... ampun rugi aku pilih buku ini Sebagai media psikometri. Ingatannya bikin tambah sebel. Malah bisa-bisa pms ku maju jadi besok! Kenapa aku harus melihat hal yang menjengkelkan ini, dasar wedus!] 😩
Skip...
__ADS_1
Setelah beberapa omelan yang gak ada habisnya. Akhirnya siswa yang ada didalam penerawangan Satella pergi menuju kelas. Beramai-ramai berjalan di koridor mereka dengan jumlah tujuh orang. Tiba-tiba ada seorang siswa berlari di koridor sedang menuju kearah mereka dan kelihatannya dia agak cukup panik.
"Oy, tunggu oy!" Seru satu siswa agak panik. Siswa itu memberi isyarat untuk berhenti.
"Kenapa oy?" Sahut seorang siswa dalam kelompoknya.
"Tadi ada dua siswa yang dihukum karena terlambat. Dihukum berdiri diluar, didekat pintu masuk kelas sambil memegang ember. Jangan kalian masuk kelas sekarang!" Ujar Siswa, mewanti-wanti.
"Oh berarti kita bolos." Kata siswa dalam kelompok.
"Kalau ketemu Felix penjaga sekolah lalu ketahuan bolos saat pelajaran kita bisa dihukum lebih parah!" Seorang siswa pun memberi peringatan.
Seorang memberikan sebuah ide.
"Kita pergi ke ruang perawatan saja, terus pura-pura sakit." Siswa tersebut memberi usulannya.
"Pura-pura sakit dan berdiam diri dirumah sakit sekolah itu sangat membosankan." Bantah seseorang.
"Lalu bagaimana, berkeliaran di lorong sampai ketahuan penjaga lalu dihukum kepala sekolah?" Balas seorang siswa.
"Kalian belum tahu tentang adanya kamar kebutuhan ya?" Tanya siswa tersebut.
"Huh ... kamar apa?" Lima orang berucap bersamaan.
"Aku tahu ini dari tuyul sekolah loh asal kalian tahu." Ujar siswa yang memberi ide.
"Maksudnya goblin yang dijinakkan menjadi peri rumah?" Yang lain lagi mengoreksi.
Setiap orang punya versinya masing-masing dalam menyebutnya.
"Sudah ikut saja, ruang itu lebih mewah dari ruang rekreasi kalau dinilai sebagai tempat penghiburan. Letaknya di koridor lantai tujuh, cepat! Sebelum terciduk penjaga sekolah." Ujar siswa pemberi ide.
Mendengar ada tempat rahasia yang tersembunyi dan sangat mewah sebagai tempat rekreasi, semua jadi senang juga antusias. Tak ada satupun yang menolak ide itu. Tujuh siswa dalam kelompok bersama satu siswa yang datang sebagai pelapor yang dengan informasi tentang hukuman, semua segera bergegas ke lantai tujuh.
Skip....
Berada di lantai tujuh mereka pun menyusuri koridor. Terhenti disisi yang ada permadani dipaku pada temboknya. Permadani yang bergambar monster troll yang agak mirip dengan manusia sedang menari dengan pakaian balet nya.
[Satella : ya ... ampun, tokoh kartun Shrek sedang nari balet pakai baju balet imut. Astaga ngakak berat aku.] 😂
Meanwhile.
Sekelompok siswi yang sedang berada diperpustakaan. Menatap Satella ketika sedang menerawang dengan keahlian psikometri. Sementara dari penglihatan siswi lain terlihat kalau Satella lagi senyam-senyum sendiri. Itu momen pas Satella lagi ngelihat permadani dengan ciri-ciri yang sangat aneh dan kocak itu.
__ADS_1
Kembali ke penerawangan....
"Jadi begini." Siswa pemberi ide mengangkat telunjuknya, bersiap untuk menerangkan.
"...." Terlihat semua menyimak.
"Berjalan mondar-mandir keliling permadani aneh ini, sambil mikir tentang ruangan VIP yang kalian inginkan untuk bolos." Ujar siswa tersebut. Kemudian memberikan contoh pada siswa yang lain.
Tiba-tiba orang yang memberikan contoh berjalan menembus tembok. Lalu seorang siswa yang berjalan ke tembok tanpa meniru arahan siswa tadi. Siswa itu pun benjol saat kepala nabrak tembok. Berakhir ditertawai yang lainnya.
"Makanya, ritual mondar-mandir dilakukan dulu!" Komentar seorang siswa yang masih ngakak.
Kemudian siswa yang penglihatan telah menyatu dengan Satella itu manjadi yang kedua mempraktikkan. Mondar-mandir sebanyak tiga kali di permadani aneh itu. Kemudian melihat pintu besar muncul, sepasang pintu kanan kiri dua arah yang tingginya tiga meter. Siswa itu segera masuk kedalam pintu ghaib. Mungkin saja kalau tidak melakukan caranya, itu akan tetap menjadi tembok. Satella pun tercengang sendiri dalam hati.
[Satella : Sihir yang seperti ini gak diajarkan di kurikulum sekolah.] 🙄
[Satella : Keren ... sangat hebat.] 😁
Setelah memasuki ruang rahasia. Nama lainnya, kamar kebutuhan khusus. Ini adalah ruang untuk bersantai dan rekreasi. Ruangan berwujud vila tanpa jendela, ada karpet biru selebar dua meter itu membentang dari pintu masuk sampai dalam. Yang paling tengah adalah kumpulan sofa panjang nan empuk. Meski tanpa jendela tapi diterangi banyak lampu kamar.
Ini dunia latar abad pertengahan, listrik kan belum ada ?
Lampu penerangan memakai batu sihir bercahaya yang butuh sumber mana saja sebagai daya.
Selain itu ada beberapa pintu tanpa dinding. Menerawang itu Satella gak begitu tahu fungsi pintu itu. Siswa berikutnya datang, mereka lakuin banyak hal santai disana. Ngelihatin mereka Satella jadi merasa envy.
Satella komentar dalam hati.
"Bisa banget ya wedus! Aku pusing dengerin guru ceramah, sementara kalian enak-enak tidur disofa pakai bantal. Membaca buku cerita yang bergambar dan juga berwarna. Terusnya main permainan kartu anak-anak. Aku juga kan mau bolos tapi malah percuma, soalnya sebentar lagi aku lulus dari akademi sihir."
Hingga tiba-tiba....
Sesuatu terjadi di dunia nyata telah mengganggu proses penerawangan yang dilakukannya.
Pendengaran perlahan beralih ke dunia asli. Penglihatan hilang dan berganti ke dunia asli. Semua indra meninggalkan penerawangan yang sedang disaksikan.
Awalnya gelap dan tanpa suara.
Perlahan mata gelap gulita mulai melihat cahaya. Lalu masih buram, perlahan masih remang-remang. Perlahan kian jelas hingga indera penglihatan kembali kedalam ruang perpustakaan. Ketika mata mampu melihat keruang perpustakaan tapi indera pendengaran masih tuli.
Pendengaran tuli perlahan mulai mendengar suara yang sangat kecil dan perlahan makin jelas semakin keras. Indera penglihatan dan juga penglihatan pulih, dan kini indera peraba mulai merasakan bahwa seseorang meremas bahu mungil Satella. Bahkan kini tubuh Satella didorong kedepan kebelakang.
"Sadar ... oy, Apa kamu kerasukan? Jangan melamun saja oy! Apakah kamu baik-baik saja?" Suara yang mencoba mengusik ketenangan penerawang.
__ADS_1
"Eh ... aku disangka kerasukan." Batin Satella.
~bersambung~