Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
putaran waktu


__ADS_3

Panas..


Itulah yang dikatakan Satella saat terduduk diruang tengah asrama putri. Dampaknya seperti habis terbangun dari mimpi buruknya.


"Panas.. panas! Panas sekali." Jerit Satella, masih mengigau.


"Eh.. kok ada apinya?" Dengan nada pelan, mulai mendapat kesadaran ketika menatap tangannya dan tidak ada api seperti sebelumnya.


"Harusnya kan aku mati?" Satella menaruh telunjuk didagu sambil menatap keatas, iris matanya agak condong keatas.


"Eh? Inikah yang dinamakan alur perulangan." Satella terdiam saat menerka keadaan. Tentang kenapa dirinya bisa ada di asrama putri setelah dibakar mantra api yang harusnya dia telah mati.


Kemudian..


Satella berdiri dihadapan kalender.


"Terulang lagi?" Gumam Satella.


Ini adalah hari dimana Satella telah menulis namanya didalam sage diary dengan tinta darahnya. Titik simpan adalah hari pertama, maka Satella mengulangi waktu ke hari pertama dimana Satella akan mati pada hari keempat dimalam hari.


"Inikah rasanya terjebak didalam putaran waktu? Kembali lagi dari kematian." Gumam Satella dengan nada berbisik.


"Pantesan aja.. polisi militer nuduh aku dalangnya. Ada sosok siluet yang sangat mirip dengan aku." Satella menerka kejadian sebelum loop.


"Oke.. jadi ini urutannya." Satella bersiap dengan jarinya. Membuat gestur berhitung.


"Hari ketiga Minerva akan terkena stone curse. Hari keempat aku jadi tertuduh, malamnya aku terbunuh oleh siluet hitam yang wujudnya mirip denganku." Satella menerka kejadian sebelum putaran waktu.


"Apa yang harus kulakukan!" Satella mengacak-acak rambut panjangnya sendiri, merasa tak berdaya.


"Ah.. aku tahu." Menjentikan jari lentiknya. Satella mengangkat jari telunjuk saat mendapat ide segar.


"Akan ku percepat perkenalanku dengan kelompok Eris order lalu dengan cepat bikin akrab. Terus selamatkan Minerva dari kutukan pada malam hari, hari ketiga."


"Pada putaran kali ini aku takkan membiarkan diriku dijebloskan ke ruang tahanan! Habisnya aku harus selamatkan Isyana dari kena gores taring ular balisik."


Satella bertekad.. dengan mimik wajah yang meyakinkan.


Skip..


Satella POV.


Pada putaran waktu sebelumnya diriku pergi ke perpustakaan dan melakukan psikometri. Waktu itu bertemu Jack yang gak guna itu. Karena gak ada gunanya bertemu dengan Jack, aku akan menuju ke lantai tujuh sekarang juga. Putaran waktu yang sebelumnya memberi tahuku bahwa malam hari ketiga balisik akan menyerang, membuat beberapa murid kena stone curse.


Fakta bahwa aku dituduh sebagai dalangnya.. pertanda siluet juga muncul di hari ketiga. Masalahnya adalah bagaimana caranya hadapi siluet hitam itu? Akankah aku bisa menang kalau bertemu siluet lagi.


Pertama, siluet jauh lebih sulit dari ular balisik. Meski begitu.. belum tentu juga aku bisa kalahkan ular balisik satu lawan satu. Kenapa sih laki-laki di akademi ini gak ada gitu yang guna! Jadinya lebih enteng aja ngelawan vilainya. Minimal cowok yang bisa bantu nge tank dong.


Banyak siswa sihir laki-laki masa harus cewe Lang melawan balisik juga siluet hitam itu. Kalah ada seseorang yang bisa nge tank, aku mudah nge caster vilainya. Untuk sekarang gak ada rencana tapinya berkat time-loop aku tahu apa aja yang bakalan terjadi nanti.


POV end..


Koridor.


Satella sudah siap dengan sarapan paginya. Setelah mandi, wewangian sampo dan sabun mandi tercium menyengat ala bunga-bunga. Kini berjalan dengan riangnya seolah melupakan bahwa dirinya telah mengalami dibakar hidup-hidup belum lama ini. Karena dijadwal semua sedang ujian praktik maka tidak banyak yang berkeliaran di lorong kecuali Satella.


Lorong lantai tujuh.


Berjalan sambil melompat-lompat sambil sesekali memutar tubuhnya layaknya pemain teater drama yang menari-nari India. Atau mungkin tarian ala Perancis atau Italia.


"Ya.. ampun!" Batin Satella, yang terlihat seperti shock sendiri.


"Ini kan tempat aku bertemu ular balisik! Pada loop waktu pertama, ngebayangin nya bikin trauma tau." Gumam Satella, diam ditempat dengan mimik bengong.


Memutar badan kearah kiri lalu berhadapan dengan tembok yang dipasang permadani gambar Shrek sedang menari balet. Satella pun melakukan ritual mengelilinginya sebanyak tiga kali sambil bayangin ruangan tempat bolos. Munculah pintu rahasia, maka Satella masuk ketempat tersembunyi itu.


Ruang kebutuhan.


Dan ketika Satella masuk yang ada didalam Iota dan dewi Eris berdua saja. Karena waktu terulang lagi makanya dewi Eris belum kenal Satella. Iota bingung lantaran dia merasa gak pernah memberitahu Satella tempat rahasia ini. Satella melewati karpet biru panjang dan berjalan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Kok kamu bisa." Iota baru bicara sedikit, Satella langsung memotong.


"Kenapa aku bisa tahu kan?" Ucap Satella, memotong.


"Aku mau bicara sama dewi Eris." Satella menunjuk kearah sang dewi.


"Loh.. kok kamu bisa tahu kalau aku dewi Eris?" Tanya Eris, bercampur dengan rasa bingung.


Kini Satella berdiri didepan meja panjang, berhadap-hadapan dengan Iota dan dewi Eris. Atas pertanyaan dewi Eris, Satella menunjukkan sesuatu kepada mereka berdua.


"Anda tahu ini?" Kata Satella.


Satella menaruh sage diary diatas meja panjang, dengan maksud mau nunjukin ke dewi Eris barang kali sang dewi mengerti yang Satella maksud. Kemudian Eris menaruh telapak tangan diatas sage diary dengan maksud menerawangnya.


"Item apraisal!" Ucap dewi Eris.


"Oh.. ya.. ampun! Seru dewi Eris bernada kaget.


"Ada apa, dewi Ilis?" Tanya Iota.


"Ka.. kamu punya otoritas untuk restart?" Dewi Eris masih terkejut.


"Em." Satella mengangguk.


"Oh astaga, ka.. ka.. katakan! Tolong katakan padaku apa yang terjadi?" Tindak-tanduk dewi Eris mendadak tidak setenang biasanya.


"Dimalam hari. Pada hari keempat kastel akademi diserang oleh ular balisik dan siluet hitam." Satella menjelaskan kejadiannya.


"Ular balisik? Ini gawat." Dewi Eris kehilangan ketenangan.


"Tapi," dewi Eris menarik napas kemudian mendapat ketenangan untuk berkata, "kita harus bikin rencana, kalau usaha pasti bisa."


"Malam hari ketiga juga mereka muncul, tapi puncaknya dimalam hari keempat loh." Ujar Satella.


"Gimana cara mendeteksi kedua sosok tersebut?" Tanya Satella.


"Muncul tiba-tiba lalu hilangnya secara tiba-tiba juga. Susah kalau berhadapan sama yang seperti itu." Balas dewi Eris.


"Hari ketiga, malamnya kita harus patroli." Ujar dewi Eris.


Kemudian Satella lanjut dengan berkata..


"Jadi." Satella mengangkat tangan.


"Apa aku sudah resmi nih, menjadi anggota Eris order?" Tanya Satella.


"Eh? Loh tau dari." Ketika dewi Eris bertanya-tanya tentang bagaimana Satella bisa tahu, tau-tau dewi Eris menemukan jawabannya.


"Oh iya, kamu kan bisa restart ya.. pasti pada loop waktu sebelumnya kita mengajak kamu bergabung ke grup ini kan... Namamu?" Ucap dewi Eris, yang belum kenal Satella.


"Namaku Satella."


"I~~ya Satella, senang bisa kenal denganmu." Ucap dewi Eris.


"Ini aneh! Aku udah jalanin waktu bersama kalian dalam waktu agak lama, tapi bagi kalian ini pertama kalinya aku gabung ke grup ini." Keluh Satella, dewi Eris yang hapal betul kondisi Satella menanggapi.


"Iya itu salah satu resiko pemegang otoritas restart." Balas dewi Eris.


"Tolong untuk baik padaku ya.. semuanya." Bujuk Satella.


"...." Senyum hangat nan tulus diberikan oleh dewi Eris.


"Mau kubuatkan teh?" Kata dewi Eris, nawarin.


"Ya.. enak tuh." Jawab Satella


Skip...


Karena dewi Eris sudah paham situasinya, Satella pun merumpi bareng Iota dan dewi Eris. Saling mengakrabkan diri sampai trio cewek-cewek datang. Mereka itu adalah trio Minerva, Violetta dan terakhir itu Isyana. Yang paling menentang fakta bergabungnya Satella adalah Minerva.

__ADS_1


"Apa! Ini serius?" Minerva dengan nada sewot.


"Aku tahu.. aku tahu.. pasti begini jadinya." Satella memejamkan mata sambil menghela napas berat saat kejadian yang memang semestinya telah dua kali terjadi.


"Diam dulu deh! Dasar siswi tukang bikin masalah." Potong Minerva.


"Iya.. aku tau aku salah. Tapi, apa yang bikin aku tidak disukai kaya begini? Sih." Balas Satella.


"Iya bener tuh Minerva.. emang Satella punya salah apa sih?" Ucap Iota, ngebela Satella.


"Diam deh! Kamu dasar loli." Balas Minerva, melotot kearah Iota.


"Hei.. hei.. jangan begitu sama Iota kamu! Minerva." Protes Isyana.


"Habisnya dia ngebela anak itu." Protes Minerva.


"Wajar saja.. mereka satu kelas." Isyana bilang.


"Percaya deh.. Satella orang baik." Ucap dewi Eris.


"Kalau dewi Eris bilang demikian akupun sama, ya." Kata Violetta.


"...." Minerva melipat tangan sambil buang muka kesamping dengan raut wajah cemberut.


"Si galak ini pipinya lucu kalau lagi cemberut." Canda Isyana.


"Pff.. apa?" Tanpa sengaja Satella sedikit tertawa.


"Jangan ketawa ya! Dasar kuping lancip." Protes Minerva.


"Kamu gak boleh rasis hanya karena ras nya.. bukan manusia, itu gak baik loh Minerva." Protes dewi Eris.


"Gak sengaja." Minerva kesal lalu membuang muka, cemberut lagi. Pipinya menggembung memberi kesan imut pada sifat galaknya.


"Yasudah.. yasudah.. akusih gak apa-apa kalau kalian belum bisa menerima aku aku gak apa-apa." Satella mengayunkan tangannya.


"Mungkin butuh adaptasi." Kata dewi Eris, tertawa hambar.


Memecah kebekuan suasana, Isyana mengomentari..


"Jangan marah-marah terus Minerva, kalau darah tinggi kamu naik pasti kepalamu sakit lagi." Kata Isyana.


"Pff.. apa? Minerva punya penyakit darah tinggi." Tanpa sengaja Satella ketawa kecil untuk kedua kakinya. Walau bibirnya ditutup oleh ujung jarinya dan tenggorokannya ditahan tapi tetap ketauan kalau dia sedang tertawa atas ucapan Isyana.


"Jangan ketawa! Ya.. kamu." Protes Minerva, sambil memukul meja.


Bruk...


"Eh.. copot." Satella kaget, sedikit menjerit latah kemudian mengelus dada yang terasa gak enak dibagian jantung yang kagetan.


"Ya.. ampun kamu orangnya kagetan ternyata." Isyana pun menertawakan Satella dengan wajah yang nyebelin.


"Diam, ya!" Protes Satella.


Itu sukses mengukir senyum tipis dibibir Minerva selama dua detik, membuat sejuk wajah cantik jelita dengan rambut emasnya. Sukses mengurangi sedikit rasa keki pada hatinya. Setelah suasana hatinya membaik Minerva berkata.


"Iya nih kepalaku pusing, gara-gara darah tinggi ku naik lagi." Minerva memejamkan mata sambil sender disofa dengan sangat condongnya.


"Tolong pijat aku, atau aku akan memarahimu! Isyana." Minerva masih terpejam. Ekspresikan saat terpejam sangat cantik dan manis.


"Ya.. ampun Minerva." Ekspresinya shock, Isyana berjalan kebelakang sofa yang diduduki Minerva, setelah itu memijat pundak kekarnya yang jadi nilai plus tubuh atletisnya.


"Ya.. makasih.. bagus.. ya.. begitu, enaknya." Minerva mulai rileks, memejamkan mata kian menikmati sentuhan tangan lentik Isyana.


"Ya.. ampun.. ini pundak kekar sekali." Komentar Isyana.


"Ngomong apa kamu!" Minerva mengedutkan alisnya, masih dalam keadaan terpejam.


"Maksudku.. aku akan memulai dengan pijatan kepala." Isyana dengan nada bergidik.

__ADS_1


Beberapa orang termasuk dewi Eris dan Satella menahan tawa karena kompilasi lucu antara Minerva dan Isyana. Hari pertama dalam putaran waktu berjalan dengan damainya.


~bersambung~


__ADS_2