
Ruang kebutuhan.
Keakraban semakin terjalin antara Satella dan teman-temannya.
"Permisi, aku pergi dulu." Violetta pamitan.
"Hem..." Satella merasa janggal.
"Dasar wanita jangkung berwajah minim ekspresi dan minim gairah." Sindir Isyana.
Violetta pergi meninggalkan ruang rahasia ini.
"Hei.. Isyana." Seru Satella.
"Ya?" Sahut Isyana.
"Ramuan yang tadi, tujuannya itu untuk apa sih?" Tanya Satella
"Untuk pura-pura mati, biasanya digunakan oleh pengintai. Violetta bilang ramuannya belum cukup sempurna untuk mengelabui skill sense miliknya, hawa keberadaan dariku masih tercium dan esensi hidupku masih terasa oleh sense Violetta." Jawab Isyana.
"Oh begitu." Satella paham, sambil membentuk ekspresi yang imut.
Tak lama kemudian Theodore pun datang.
"Aku menemukannya master."
Satella sedikit kaget dan langsung bangkit, awalnya duduk dikarpet karena lagi main ular tangga.
"Sungguhan?" Satella dengan raut wajah merona seperti anak kecil dibelikan sebuah boneka lucu.
"Helena charlotte diadem." Jawab Theodore, tersenyum bangga.
"Kamu emang terbaik." Satella pun sumringah.
"Apa sekarang master sudah suka padaku?" Theodore dengan raut wajah penuh kebanggaan.
"Kamu sudah sangat berguna, aku jadinya senang." Satella tertawa gembira, membuat Theodore jadi sedikit geer sendiri.
"Kalau begitu mana?" tagih Satella.
"Sebentar." Theodore merogoh kantung sihirnya.
Kemudian..
Satella meletakan mahkota milik nenek moyang klan nya itu diatas kepalanya. Memakai cermin yang dikeluarkan dari kantung sihirnya. Cermin yang seukuran genggaman membuat Satella senyam-senyum dengan sendirinya.
"Seperti ratu kerajaan saja huhu." Satella cengar-cengir.
Skip...
Kamar asrama.
Satella duduk sendiri dimeja rias dalam kamarnya. Membaca buku tentang lycan, sambil memakai mahkota putri Helene charlotte.
"Ternyata mahkota berpengaruh kepada diriku. Waktu aku belajar sambil memakai item sihir ini, kemampuanku dalam memahami pengetahuan jadi meningkat pesat." Ujar Satella.
"Item sihir mahkota Helene punya efek sihir yang meningkatkan stat intelektual kayaknya." Ucap Satella.
Satella membalik halaman lagi dan lagi, dilihat dari wajahnya ia sangat mudah memahami. Satella sesekali menguap karena ngantuk, tetapi masih terlihat enjoy membacanya.
"Hoam.. aku butuh kopi." Satella menguap lagi dan lagi.
Satella menyimpan mahkotanya didalam magic bag.
"Mahkotaku jangan sampai dicuri orang, ini artefak sihir bertuah loh." Ujar Satella.
Meninggalkan buku materi diatas meja, Satella melangkah menuju kearah pintu kamar. Ia membuka pintunya, hendak keluar asrama. Satella ingin pergi menuju ruang kafetaria sekolah. Yang Satella butuhkan adalah secangkir kopi.
Lorong sekolah.
Satella berjalan santai dengan kantung mata setengah menutup, merasa kantuk. Berjalan dilorong sambil sesekali menguap kantuk.
"Yang aku butuhkan adalah satu cangkir kopi." Gumam Satella.
Satella menguap, merentangkan kedua tangannya keatas. Satella menikmati sensasi peregangan tubuhnya.
Kafetaria sekolah.
Satella mengambil duduk sendiri disana. Melihat kartu menu kafe, berbagai minuman atau makanan ringan sampai berat. Dengan mata yang kengantuk Satella melihat-lihat menu yang tersedia.
"Pelayan!" Seru Satella.
Tak lama pelayan pun datang lalu Satella memberi kertas menu yang sudah ia ceklis.
"Mohon tunggu!" Kata pelayan kafe, hendak memberikan pesanan pada pembuat kopi dan kudapan.
Satella terdiam seperti bengong karena memang sedang tak ada temannya. Kantung matanya itu setengah menutup.
"Aku seperti mudah sekali dalam memahami buku pengetahuannya. aku tak percaya menyelesaikan halaman sebanyak itu dalam satu waktu. Helene diadem itu seolah membuat kecerdasan intelektual diriku menjadi berlipat ganda, ini keren." Pikir Satella.
__ADS_1
Tak lama kopi pesanan datang lalu Satella meminumnya agar energi kembali dan rasa kantuk mereda.
Sudah empat seruput kopinya diminum.
"Panasnya."
Satella melakukan gestur tangan seolah menghitung.
"Kalau tidak salah, aku berhasil dapatkan lima horcrux sekarang. Berarti tinggal tiga horcrux untuk membebaskan Bella." Pikir Satella.
Duduk sambil mengisi energi dan mood. Lalu menyeruput kembali cangkir kopinya. Memejamkan matanya mencari sensasi rileks.
"Apa yang bisa kulakukan dengan kecerdasan Helene charlotte ya?" Gumam Satella sambil sesekali ia menyeruput cangkir kopinya lagi.
Zat kafein dari bubuk hitam yang berkualitas segera beraksi, kafein terlarut dalam sel otak. Sel kelabu didalam kepala Satella bereaksi. Jutaan titik sel otak tersambung, garis-garis putih menyambungkan titik-titiknya hingga itu menjadi berbagai garis simpul di sel otak.
Satella menjentikan jarinya.
"Ah.. aku tahu!"
Satella memikirkan sesuatu ide didalam kepalanya.
"Aku ingin menyempurnakan lagi ramuan milik Isyana!" Seru Satella.
Menghela napas panjang ia duduk tenang, mencicil seruputan pada cangkir kopinya.
Skip..
Lorong sekolah.
Berada di lorong lantai enam dan hendak menuju lantai sembilan. Satella berobat menuju ke ruangan kebutuhan. Belum sampai ditempat yang dituju, bertemu Violetta.
"Hei.. Stella!" Sapa Violetta.
"Hai.. Vio." Sahut Satella.
"Mau kemana, huh?" Violetta pun berkedip dengan garis senyuman dibibir yang ekstra minim.
"Keruang kebutuhan." Jawabnya.
"Mau apa?" Tanya Violetta, dengan nada suara yang cukup lesu.
"Mau ketemu si jenong kampret dengan bacot paling toxic." Ujar Satella, sedikit jengkel setelah ia terbayang-bayang.
Violetta mengukir senyum tipis.
"Biar ku terawang!" Kata Violetta, mengulurkan tangan kearah wajah Satella sambil digerakan.
Beberapa detik kemudian Violetta mendapatkan hasilnya. Dengan senyuman lebih lebar dia berkata.
"Sudah kuduga." Kata Violetta.
"Kamu menduga apa Vio?" Tanya Satella, keningnya mengkerut.
"Sebenarnya sejak berada diruang kebutuhan aku sudah meramalkan hal ini. Makanya aku pamit duluan lalu mempelajari lagi buku tentang ilmu ramuan sihir." Kata Violetta.
"Pantesan." Satella menekuk garis bibirnya.
"Pasti kamu berniat untuk bikin penyempurnaan untuk ramuan pura-pura mati kan." Violetta pun menebak, memiringkan kepalanya sambil mengangkat garis senyum.
"Kok tau?" Satella salut.
"Aku sudah meramalkan." Jawab Violetta.
"Mari ikut aku!" Seru Violetta.
Satella mengikuti Violetta.
Skip...
Perpustakaan.
Berjalan memasuki pintu ruang perpustakaan yang tingginya itu sekitar empat meter, lebarnya pun sudah pasti dua meter. Tinggi dari lantai hingga atapnya sekitar tujuh meter kurang lebih. Tetapi tinggi ruangannya masih kalah kalau dibandingkan ruang perjamuan.
Meja baca.
"Buku yang ku taruh disini belum diletakan lagi ke rak." Violetta pun membuang napas, dengan wajah sedikit lega.
"Dasar pemalas." Komen Satella.
"Karena aku tahu kita akan datang kesini, jadi bukunya aku siapkan sejak tadi." Kata Violetta.
"Ramuan pura-pura mati?" Tanya Satella.
"Ramuan pura-pura mati realnya tidak pernah ada! Aku melakukan modifikasi dari ramuan pelumpuh yang dicampur dengan ramuan penghilang aura keberadaan, lalu dicampur dengan ramuan yang membius jantung." Ujar Violetta.
"Itu bahaya tau! Kamu gak boleh sembarang dengan jantung orang." Protes Satella.
"Sudah aku atur supaya diakhir durasi jantungnya berdetak lagi." Violetta bilang.
__ADS_1
"Kamu nih bahaya banget, Vio! Komentar Satella.
"Aku sudah melakukan percobaan sebanyak tujuh kali!" Kata Violetta.
"Kamu dengar aku gak!" Satella terlihat kesal.
"Percayalah!" Violetta menatap dengan tatapan serius.
"Aku meramalkan bahwa ramuan dengan efek sihir seperti itu akan sangat berguna saat dimasa depan nanti." Ujar Violetta.
"Dari tujuh percobaan yang kamu lakukan, mana ramuan yang efek sihirnya paling sempurna?" Tanya Satella, percaya ucapan Violetta.
"Relatif!" Jawab Violetta.
"Relatif, aku kurang paham deh maksudmu ya Vio." Balas Satella.
"Hasilnya beda-beda! Misal yang pertama durasi mati suri nya lama tapi aura kehidupan masih bisa tercium dengan skill sense. Lalu kedua, aura kehidupan berhasil disamarkan tapi durasi mati suri menjadi singkat. Yang ketiga aura kehidupan disamarkan kemudian durasi mati suri lebih lama, tapi subjeknya masih memiliki detak jantung layaknya orang hidup." Violetta menjelaskan.
"Sekarang aku ngerti." Satella pun memejamkan mata lalu menarik napas panjang.
Violetta memberi secarik kertas kepada Satella.
"Ini tujuh kali percobaan! Setiap percobaan tertulis formula dari resepnya." Kata Violetta.
"Setelah mendengar penjelasan darimu, aku jadi tertarik dalam mengembangkan formula." Kata Satella.
"Sudah ku ramalkan kamu akan terlibat juga dalam proyek ini." Violetta memasang wajah yang menyebalkan. Matanya terpejam, mengangkat dagunya setinggi mungkin sambil mengibarkan rambutnya.
"Aku tau kamu tengil, tapi aku gak pernah lihat Vio sangat ekspresif seperti ini." Komentar Satella.
"Ini aku yang lagi bahagia tau!" Violetta menyisir sisi poni yang biasanya menutup satu matanya. Dengan kedua mata yang tidak tertutup, Violetta mengedipkan matanya pada Satella dengan satu ekspresi paling centil.
Untuk pertama kalinya Satella melihat Violetta dalam kondisi sepasang matanya terlihat utuh keduanya.
"Gila kamu secantik ini ya kalau sepasang matamu gak tertutup rambut. Kalau begini caranya, bakalan kalah telak aku." Satella memasang wajah cemberut.
"Tentang apa, maksudmu ramalan tentang cinta ya?" Seru Violetta, wajahnya meledek setengah mati.
"Kupikir tanpa perlu menjawab, jawabannya sudah kamu terawang kan." Ucap Satella, cemberut.
"Cantik itu relatif." Ucap Violetta.
"Huh?" Satella bingung.
"Ruby dan sapphire lebih cantik mana?" Tanya Violetta.
"Mereka sama-sama cantik, kalau disuruh memilih aku akan pilih keduanya." Jawab Satella.
"Itulah kita, kalau disuruh untuk memilih siapapun akan memilih dua-duanya." Ujar Violetta.
"Tapi." Satella muram.
"Mau ku hibur?" Tanya Violetta.
"....." Satella bengong, ia menatap Violetta sambil menyimak fokus.
"Aku ini minor." Ucap Violetta.
"H~~huh apa, minor?" Seru Satella, bingung.
"Aku itu tipe minor romantis, aku cuek terhadap lawan jenis tetapi jangan samakan aku dengan cewe belok!" Ujar Violetta.
"Maaf ya Vio, aku masih belum paham." Balas Satella.
"Jangan terlalu dipikirkan oke!" Violetta tersenyum, mengukir lekukan tipis dibibir tapi dengan tatapan mata yang sangat sejuk.
"Besok temui aku lagi!" Violetta.
"Pembahasan barusan pasti akan bikin kamu sulit tidur." Violetta.
"Aku meramalkan itu, makannya kubuatkan obat tidur dari bahan tanaman sihir." Ujar Violetta, lalu memberikan obat tidur.
"Dadah!" Satella pamit.
Violetta pergi duluan.
Sekarang Satella memiliki dua side quest. Pertama membantu Ernest menjalankan kelas materi tentang lycan. Side quest keduanya adalah membantu Violetta tuk melakukan eksperimen terhadap resep ramuan sihir.
Bukan sesuatu yang mudah bagi Satella, sebab ramuan yang akan dikerjakan itu ramuan sihir yang belum pernah ada sebenarnya.
Tak semudah menyempurnakan efektivitas dari efek ramuan yang pernah ada sebelumnya.
Untungnya Satella memiliki harta pusaka yaitu Helene diadem.
Relic tersebut dapat menaikan intelektual pemakainya ketingkat sangat tinggi. Kalau awalnya saja intelektual Satella mampu untuk mencapai nilai teori tertinggi di akademi sihir, apalagi setelah ia didongkrak oleh relic pusaka ini.
Dengan benda relic peningkat level intelektual, semua bisa tercapai.
Satella membaca buku panduan ramuan yang Violetta pilihkan.
__ADS_1
Tergeletak di atas meja, Satella pun mempelajarinya terlebih dulu.
~bersambung~