
Satella murung..
Semenjak makan siang, ia hanya berdiam diri dikamar dengan murungnya. Wajahnya kelihatan sangat cemberut, bahkan bibirnya terlihat seolah akan jatuh.
Hari ketiga.
Ini adalah hari dimana penjahat memunculkan diri. Tapi Satella sedikitpun tidak berselera untuk menangkis penjahat. Yang Satella pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar bisa dipersatukan kembali dengan teman-temannya.
Bermula ketika Satella memasuki pintu kamarnya.
"Baiklah.. aku penasaran." Gumam Satella.
Terduduk dimeja cermin yang ada dikamarnya. Menaruh item sihir miliknya, sage diary diletakkannya dimeja. Satella memakai gemstone warna hijau yang fungsinya bisa melihat sihir menghilang ataupun kabut hitam miasma dark magic.
"Harganya sangat mahal." Gumam Satella, memakai gemstone hijau.
"Pers*tan lah.. dengan harga aku adalah putri bangsawan." Satella tersenyum masam, senyum yang dipaksakan.
Satella menatap kearah sage diary, melihat kabut hitam yang persis dengan yang tertulis dibuku atau yang kepala perpustakaan bilang.
"Ternyata memang benar, ini ada kabut hitamnya." Seru Satella.
Satella mengetahui secara pasti bahwa sage diary adalah item sihir kegelapan...
"Tidak kusangka benda hebat ini dibuatnya dengan cara keji yang disebut alkimia kegelapan. Berapa banyak orang dikorbankan untuk membuat item sihir ini, ya?" Ucap Satella, dengan wajah diamnya.
"Aku pergi ke plaza bukan hanya membeli gemstone hijau, tetapi membeli item untuk nanti malam." Untuk kali kedua Satella tersenyum masam.
Training ground.
Satella sudah berada di halaman belakang kastel akademi, tempat khusus latihan murid. Tempatnya dipenuhi rerumputan yang telah dipotong sangat pendek. Training ground nampak sepi karena para murid sedang ujian praktik, kelas yang Satella tempati itu libur.
Satella memasuki sarana khusus latihan sihir...
Tersusun boneka kayu berbentuk manusia, itulah sarana latihannya. Satella memasang observer ward (totem) ditanah, akarnya langsung menembus tanah.
Satella melatih akurasinya dalam menembak baut es apabila Satella pakai mode third person shooter. Yaitu melihat melalui mata palsu observer ward. Ini dilakukan agar tidak mempan akan stone curse.
Ice bolt !!
Satella mulai menembak baut es tetapi tidak mengeluarkan banyak baut es. Melatih akurasi apabila menembak satu per satu baut es. Memakai persepsi third person shooter sangat sulit bagi Satella karena tak biasa. Secara teori itu mengurangi akurasi real. Pada percobaan pertama banyak mised.
"Meleset teros!" Satella berteriak kesalnya.
Percobaan demi percobaan terus berlangsung, akurasi bertambah sedikit demi sedikit.
Satella mulai lelah..
"Cara lawan waktu ular balisik mengeluarkan bisa korosif! Aku Belum tahu cara counter itu."
Satella berpikir, kepalanya pun acak-acakan..
"Ah.. positif thinking aja! Kan dia bilang."
Satella berdeham, bersiap untuk menirukan nada dan cara bicara seseorang.
"Ini bagus! Ular balisik itu lemah terhadap ice." Satella menirukan suara Violetta dan gesturnya.
"Begitu katanya." Satella dengan suaranya yang asli.
"Tembak saja dengan baut es, ditembakkan beruntun pasti deh ularnya mati sendiri." Pikir Satella.
Satella kembali menembak bau es sampai akurasi meningkat lagi.
Empat puluh menit kemudian..
Satella mencabut observer ward ditanah, akarnya nampak tercabut dari tanah. Satella memasukan observer ward ke magic bag dan secara ajaib masuk kedalamnya.
"Sudah.. ah." Satella segera pergi meninggalkan training ground.
Skip..
Lorong sekolah.
Satella berjalan di lorong sekolah sambil mencari petunjuk.
"Aduh.. maaf pak." Suara seorang siswa laki-laki.
"Iya bukan apa-apa." Suara kepala sekolah.
Satella penasaran kemudian dia berlari kearah sumber suara dan ternyata. Ia datang kearah Satella sambil membawa magician hat.
"Jack?" Ucap Satella, spontan.
Jack datang kearah Satella sambil membawa magician hat.
"Hai.. Satella." Sapa Jack.
"Jack." Sahut Satella dengan senyum masam.
"Kenapa? Kok terlihat kurang oke." Kata Jack.
"Huh? Oke." Gumam Satella.
"Maksudku murung." Kata Jack.
"Tidak.. bukan apa-apa." Balas Satella.
Mereka saling diam sepuluh detik kurang lebihnya..
__ADS_1
"Apa katamu? Topi sihir yang bagus.. tolong jangan kecewa, ini hanyalah topi sulap." Kata Jack.
"Hai.. aku tidak bilang? Dasar aneh kamu Jack!" Satella cemberut.
"Mau lihat?" Tanya Jack.
"Maksudmu trik sulap?" Tanya Satella.
"Sudah jelas kan." Balas Jack.
"Em." Satella mengangguk.
"Tolong hibur aku, aku baru saja ditolak." Satella bilang.
"Apa ditolak? Gadis secantik kamu, serius siapa orangnya." Jack heboh.
"Violetta.. lalu Minerva, terus yang terakhir Isyana." Jawab Satella.
"Apa? Serius." Jack masih heboh.
"Em." Satella mengangguk.
"Sekarang aku tahu!" Kata Jack, sambil mengangkat tangannya.
"Kamu cewe yuri." Jack menunjuk kearah Satella.
"Apa?" Satella bengong.
"Kamu lesbi." Jack bilang.
"Eh? Eh... Apa katamu! Aku bukan, gess... Jack t*lol!" Satella mendesis kesal kepada Jack.
"Kok marah?" Jack.
"Aku bukan lesbi, ya! Aku normal!" Sentak Satella.
"Canda." Balas Jack.
"MANA TRIK SULAPNYA!" Satella marah-marah.
"Iya tunggu sebentar." Jack bersiap.
"Lihat ini! Kosong kan." Kata Jack, nunjukin isi topi sulap.
"Iya tau, PASTI KOSONG!" Satella menatap kesal, bibirnya cemberut dan seperti mau jatuh kebawah.
"Jangan marah-marah dong, ntar imutnya ilang." Canda Jack.
"Habisnya.. gimana lagi, aku baru ngalamin kejadian buruk." Satella bilang.
"Lihat." Seru Jack.
Jack melakukan gerakan ala tukang sulap jalanan..
"Kenapa Jack?" Satella jadi bosan.
"Kok gak ada kelincinya? harusnya ada disini." Jack menggaruk bagian belakang kepala.
"Jangan bohong Jack!" Satella yang dibuat boring jadi tambah kesal dan merebut topi sulapnya.
"Lihat.. lihat... Lihat! Disini ada tempat tersembunyi." Satella pun merasakan hal yang sama.
"Loh.. kosong?" Satella bingung.
"Tuh kan." Jack bilang.
"Kupikir disini ada tempat rahasia yang menyembunyikan binatang berukuran sangat kecil." Satella bertambah murung.
Satella menarik tangan lentiknya kemudian, ketika Satella menarik tangan dari topi sulap itu.
Jreng.. jreng..
Sebuah pedang berwujud keren nan artistik muncul dengan tangannya yang lentik menggenggamnya erat.
"Eh? Loh gini." Satella heran.
"Kok bisa?" Jack ikut bingung.
"Astaga.. Ya Ampun!" Jack seperti sangat bermasalah.
"Baru kusadari! Ini topi kepala sekolah." Kata jack.
"Apa katamu? Maksudnya tadi itu topinya tertukar." Satella memberi penegasan.
"Iya benar. Tapi aku tak sengaja, mungkin pas tabrakan dibelokan koridor tadi." Jack bilang.
"Masukan pedangnya!" Gumam Satella, mencoba memasukan lagi pedangnya kedalam topi sulap.
"Eh? Gak bisa." Satella panik.
Tidak mau menenteng pedang didalam lorong sekolah, Satella memasukan pedang itu kedalam magic bag miliknya.
"Cepat pulang kan! Sebelum kena hukuman loh." Paksa Satella.
"Iya aku tahu." Balas Jack.
Mereka pun melangkah keruang kepala sekolah.
Skip..
__ADS_1
Ruang kepala sekolah.
Kemudian Satella bersama Jack berada di ruang kepala sekolah. Disediakan dua meja, mereka dipersilahkan duduk.
"Ada apa ini?" Tanya pak kepala sekolah.
"Begini pak." Satella bicara dengan nada kaget, gugup ketakutan.
"Kenapa kamu panik begitu? Biasa saja, tolong." Balas kepala sekolah.
"Bukan begitu." Satella masih nada kagetan.
"Kami mengembalikan ini." Satella menaruh topi di meja.
"Kupikir aku tidak meminjamkan kamu magician hat?" Tanya kepala sekolah, merasa bingung.
"Bukan seperti itu." Satella masih bernada kagetan, ketakutan.
"Topi anda tertukar dengan punya Jack.. itu topi trik sulap." Kata Satella.
Kepala sekolah pun mengerutkan keningnya. Berdiri lalu membuka semacam lemari kaca, didalaminya terdapat jubah, sepatu boot tapi kepala sekolah mengambil sebuah topi sulap. Kembali berjalan kearah meja, terduduk lagi kemudian.
"Maksud mu yang ini?" Kepala sekolah bilang.
"Ya.. ya.. ya.. itu!" Satella dengan sangat tidak sabaran.
"Kamu bilang ini topi sulap?" Kata kepala sekolah, mengambil topi pesulap yang dia ambil tadi.
"Iya itu benar.. masukan tanganmu kedalamnya! Lalu keluarkan kelinci yang lucu, aku suka kelinci." Satella dengan nada heboh yang setengah teriak yang bukan marah.
"Maksudmu.. begini?" Kepala sekolah memasukan tangannya kedalam topi lalu dikeluarkan lagi.
Saat tangan kepala sekolah keluar dari dalam topi, kelinci kecil yang lucu dikeluarkan.
"Wah.. lucunya." Gumam Satella.
"Aku suka kelinci kecil." Gumam Satella, secara latah. Wajahnya semringah kesenangan.
"Tapi!" Kepala sekolah bidang dan seketika Satella shock lagi, dengan mimik yang panik.
"Apa lagi." Satella menjerit latah.
"Tapi, gimana kamu tahu bahwa benda ini topi milikku, bisa saja bapak pengen tahu." Kata kepala sekolah.
"Iya logikanya kalau itu bukan topi sulap berarti tertukar dengan topi sihir." Jawab Jack.
"Kalau kamu tak menyadarinya lalu menukarnya kembali, topi ini gak berfungsi tolong tukar dengan topi sulap lainnya, begitu gimana? Kan bisa saja kejadian." Balas kepala sekolah.
"Oh iya." Gimana Satella.
"Aku hanya ingin dengar jawaban dari Satella." Kepala sekolah bilang.
"Pas Jack gagal dengan sikapnya kan giliran ku mencoba, terus aku coba triknya kan, ternyata." Satella pun terhenti disini.
"Teruskan!" Pinta kepala sekolah.
Satella pun mengambil magic bag miliknya itu. Memasukan tangan kedalam magic bag, kemudian ia mengeluarkan pedang yang tadi.
"Aku mengeluarkan ini pak! Aku sumpah! Aku tidak mencurinya." Memegang pedang dengan nada ketakutan, melempar kemeja.
"YA AMPUN." Kepala sekolah pun terkejut, setengah teriak.
"Kya.. apa itu, jangan ngagetin dong bapak.. aku shock." Satella mengelus dada kirinya, menyenangkan irama jantungnya yang seperti habis lari maraton karena efek dikagetin.
"Jantungku kedutan." Keluh Satella sambil mengusap dadanya.
"Gimana bapak gak kaget coba! Pedang keramat Griffin sword kini sudah bisa di sumoned." Ujar pak kepala sekolah.
"...." Satella terdiam dengan wajah diamnya yang imut.
"Putri ketiga dari keluarga Charlotte yah." Gumam kepala sekolah sambil menaruh telunjuknya didagu.
"Ku pinjam kan Griffin sword ini sampai batas waktu yang tidak ditentukan." Ujar kepala sekolah.
"Eh?" Satella bingung.
"Maksudnya itu dipinjamkan pada kamu sampai kepada sekolah yang minta dikembalikan." Kata Jack, mempertegas.
Satella menoleh kearah Jack dan menatap dengan raut yang amat kesalnya, Satella melototin Jack.
"Aku tau Jack! Maksudku kenapa dipinjamkan padaku? Aku bingung deh." Balas Satella.
"Iya soalnya bapak gak mungkin memakai pedang ini karena bapak tidak dikonfirmasi sebagai user Griffin sword." kepala sekolah pun menjawabnya.
"Huh.. apa? Dikonfirmasi apa? Aku makin bingung." Balas Satella.
Kepala sekolah memegang erat pedangnya, kemudian dia pukul kemeja kayu diruangan nya.
Brukk..
"Kya.. kaget, LAGI!" Jerit Satella karena efek shock jantung.
"Jangan marah pak! Saya kan gak bandel loh." Satella nge-gas karena kesal dibikin kaget.
"Huf.... Adudu." Satella mengerang seperti mau marah.
"LAMA-LAMA AKU JANTUNGAN, HATI-HATI SAMA JANTUNG ORANG DONG." Satella meluapkan.
"Duduk dulu." Kepala sekolah anehnya tidak bernada marah.
__ADS_1
Selanjutnya adalah..
~bersambung~