
Author note.
Setelah aku baca puebi, ternyata tulisanku masih banyak yang salah. Terutama dalam penggunaan tanda baca elipsis. Malu bener ya kalau tulisan kita banyak salahnya. Nanti saya benerin part sebelum ini. 😔
______________________________________
Geffenia main road.
Duduk manis sambil melihat-lihat pemandangan kota Geffenia dari jendela kereta naga. Saat Satella mengintip jendela belakang kereta naga, bagian atas kastel akademi mulai mengecil. Lama-lama bagian menara kastel saja yang kelihatan.
Sejauh-jauhnya perjalanan mereka tidak membuat menara astronomi menghilang dari penglihatan. Jarak yang mereka tuju memang lumayan jauh, tapi tak sampai meninggalkan kotanya juga. Mungkin hanya satu kilometer lebih jarak mereka dari kastil sekolah hingga diagon alley.
"Indahnya." Gumam Violetta, nada datarnya sudah meningkat kearah sedikit kagum.
"Katanya sudah sering jalan-jalan kesegala penjuru Geffenia. Tetapi masih norak aja Vio." Komentar Satella sambil sedikit cemberut.
"Seringnya aku jalan kaki. Kalau menaiki taxi kereta naga ... aku jarang-jarang sih." Jawab Violetta.
"Oh ... begitu." Sahut Satella.
"Maklum ya ... aku ini bukan anak orang kaya." Sindir Violetta yang bernada sarkastik.
"Iya." Satella sebal.
Kereta naga pun berhenti. Kaca sebelah depan yang memisahkan antara kusir dan penumpang pun digeser. Kaca depan digeser jadi pengemudi bisa bicara kepada penumpangnya. Suara dari luar terdengar dengan lebih jelas.
"Permisi kita sudah sampai. Nanti didepan ada persimpangan jalan, papan nama jalannya tertulis ... diagon alley." Kata kusir keretanya.
"Oh ... iya pak." Sahut Satella.
Mereka berdua segera turun dari kereta naga. Satella pun membayar biaya transportasinya. Violetta pun langsung memandu perjalanan.
"Kearah sini Stella." Seru Violetta.
"Kamu sudah hapal betul ya Vio." Kata Satella.
"Jangan sampe nyasar." Violetta mengolok-olok.
"Gess ... nyebelin. Kalaupun nyasar aku bisa terbang pakai transfigurasi terus mencari-cari menara kastil sekolah." Ujar Satella, mendesis.
Dari jalan biasa, masuk kedalam jalanan gang nan sempit bernama diagon alley. Kira-kira didalam jalanan gang itu mereka tujuh kali belok kanan dan empat kali belok kiri. Pada akhirnya sampai juga di lokasi yang Violetta maksud. Tapi jajaran toko di jalanan gang yang sempit bukanlah tujuan Violetta.
"Ini tempatnya?" Tanya Satella.
"Bukan." Jawab Violetta.
Satella menoleh ke kanan dan kiri.
"Dengar ya ... jalur masuk kedalam black market itu hampir sama kaya cara masuk keruang kebutuhan. Ini dinamakan door crossing." Violetta menjelaskan.
"Apa itu door crossing?" Satella bingung.
"Door crossing adalah konsep sihir yang tidak diajarkan di sekolah." Violetta menerangkan.
"Kamu tahu dari mana?" Tanya Satella.
"Kakekku adalah mage yang dulu bekerja di kirin thor. Dari sanalah kakekku mempelajari banyak sihir yang tak umum. Aku mempelajari dari kakekku. Aku adalah orang pertama dari angkatan kita yang menemukan ruang kebutuhan dan mengkudeta ke pemilik ruang yang sebelumnya." Ujar Violetta.
"Apa itu Kirin thor?" Tanya Satella.
"Perserikatan penyihir antar ras." Ujar Violetta.
"Oh ... gitu." Gumam Satella.
"Ikut aku!" Violetta pun melangkah menuju kearah gang buntu.
Satella mengikuti Violetta dari belakang. Mereka sampai di gang buntu yang telah Violetta hapal. Tembok buntu itu bercorak bata merah tanpa warna cat ataupun diplester semen. Violetta berdiri didepan sana cukup lama.
"Perhatikan Stella!" Ujar Violetta, menunjuk kearah tembok buntu.
Satella fokus.
"Ada beberapa bata yang hampir seperti setengah menonjol keluar kalau dibanding semua bata yang sangat rata. Semua bata itu harus diketuk agar pintu door crossing terbuka." Seru Violetta.
"Jadi mekanisme nya itu persis dengan ruang kebutuhan?" Tanya Satella.
"Cara memunculkan pintunya yang beda." Kata Violetta.
Entah bagaimana ... disana tau-tau ada payung tergeletak disisi kanan mereka. Payung itu menyender di tembok kanan seolah disiapkan khusus pelanggan black market.
Violetta mengambil payung itu.
Memakai ujung payung untuk memukul bata yang tepat. Pada akhirnya semua bata dipukul.
"Lihat!" Seru Violetta.
Beberapa detik kemudian muncul sebuah gerbang dimensi ... bukan pintu seperti jalur masuk keruang kebutuhan. Besar pintu dimensi adalah sebesar tembok buntu itu.
"Pintu akan tertutup setelah lima belas detik." Seru Violetta.
__ADS_1
Violetta masuk kedalamnya disusul Satella. Yang mereka lihat bukanlah ruangan dalam sebuah toko, tetapi satu jalanan gang seperti biasa saja.
"Inilah black market!" Seru Violetta.
Black market.
Black market adalah satu block jalanan gang yang berjejer banyak toko. Bangunan ruko tokonya itu rata-rata bangunan tingkat dua sampai tiga. Tapi luas bangunan rukonya rata-rata tidak lebih dari seratus meter persegi. Dindingnya juga tidak terlalu cerah juga mulus. Tetapi inilah black market. Adalah komunitas perdagangan dimana beberapa barang yang dilarang peredarannya telah dijual bebas.
Beberapa orang berbaju preman dalam jumlah sedikit berkeliling lingkungan black market. Mereka bertugas sebagai kru keamanan diarea black market. Violetta tanpa ragu berjalan menuju kearah kru keamanan pasar gelap ini.
Satella tidak mengikuti dan tidak mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Dari tindak-tanduknya jelas terlihat kalau Violetta hendak bertanya-tanya. Itulah yang Satella lihat dengan mata nya.
Tak lama Violetta bicara kepada keamanan pasar gelap bergaya preman. Violetta kembali kepada Satella.
"Ikut aku!" Pinta Violetta dengan gestur gerakan tangan.
"Tadi kamu ngapain?" Tanya Satella.
"Aku bertanya tentang toko yang menjual ramuan kejujuran." Kata Violetta.
Berjalan menuju ke toko yang nomornya telah ditentukan.
Black market nomor 23C.
Membuka pintu ruko toko yang arsitekturnya itu ala pertengahan. Tidak seperti toko pada umumnya. Black market itu lebih sedikit yang tahu, itulah sebabnya pelanggan di pasar gelap cuma sedikit. Toko yang Violetta datangi hanya dua orang pelanggan yang sedang lihat-lihat.
Violetta berjalan kearah penjaga tokonya.
"Ada veritaserum?" Tanya Violetta.
"Ada." Jawab penjaga toko.
Penjaga toko mengambil ramuan veritaserum dari lemari etalase. Untuk menaruh dimeja kasirnya.
"Berapa?" Tanya Violetta.
"Empat puluh gold coin." Penjaga tokonya bilang.
"Mahal sekali." Keluh Violetta.
"Namanya juga barang ilegal yang dilarang peredarannya." Penjaga tokonya bilang.
"Tetap saja mahal." Kata Violetta.
"Yasudah." Kata penjaga toko.
Violetta terlihat tidak jadi membeli barangnya. Ketika Violetta hampir memegang gagang pintu, penjaga tokonya panik. Dengan cepatnya penjaga toko merevisi penawaran.
Violetta putar badan kemudian mendekati lagi meja kasirnya.
"...." Violetta hanya diam sambil menunggu penawarannya.
"Bisa ditawar." Penjaga toko bilang.
"....." Violetta masih diam.
"Tiga puluh tujuh koin emas." Kata penjaga toko.
"...." Violetta masih diam.
"Tiga puluh enam koin emas." Kata penjaga toko, menurunkan harga penawarannya lagi.
"...." Violetta geleng-geleng kepala tanpa bersuara.
"Tiga puluh lima!" Penjaga toko memukul meja.
"Kemahalan." Keluh Violetta.
"Ayolah sudah turun banyak nih." Penjaga tokonya mulai kesal.
"Tidak mau." Kata Violetta.
"Tiga puluh dua." Kata penjaga tokonya.
"Aku maunya delapan belas koin emas." Violetta menawar.
"Ya tuhan ... jauh sekali turunnya." Protes penjaga tokonya.
"....." Violetta tak komentar.
"Tiga puluh koin emas silahkan ambil." Kata penjaga toko.
"Uangku tidak cukup." Violetta.
Penjaga toko menghela napas berat. Pada akhirnya penjaga toko telah menurunkan harga ke tingkat yang telah diramalkan oleh Violetta sejak berada di kastel akademi sihir.
"Baiklah ini tawar menawar yang keras. Aku berikan harga barang termurah ... dua puluh lima koin emas." Penjaga toko pasrah.
"Tapi anggaranku hanya sembilan belas koin emas." Kata Violetta.
__ADS_1
"Tidak bisa." Kata penjaga toko.
"Baiklah ... kami akan mencarinya ditoko lain." Balas Violetta.
Penjaga toko mendesau jengkel.
"Kalau tidak dapat ditempat lain, kemari lagi dan akan ku jual ini seharga dua puluh lima." Penjaga tokonya bilang.
Violetta pun pergi keluar toko itu. Violetta berjalan-jalan disepanjang area pasar gelap itu. Pada awalnya Satella mengomentari tindakannya Violetta. Violetta menjawab santai.
"Kenapa Vio ... aku sanggup kok membayar sebanyak itu." Satella berkomentar.
"Ini adalah seni tawar menawar. Anak orang kaya sepertimu tidak mengerti." Jawab Violetta.
Mereka berjalan keujung jalanan diarea black market ini. Berjalan terus ke sudut jalan, hingga tiba sampai sebuah lorong. Lorongnya seperti dua dinding mengapit satu jalur kecil. Kedua dinding punya tinggi sekitar tiga meter persegi.
Jauh disana terdapat terowongan dimana bagian atasnya adalah batu yang menutup jalur. Tapi sebelum mereka tiba disana, ada satu fitur kegelapan yang mengagetkan.
"Sepertinya kalian tersesat!"
Suara orang menginterupsi arah perjalanan mereka. Violetta pun menoleh dan berkata.
"Kami ingin berbelanja." Violetta bilang.
Satella menoleh kearah yang sama dengan pandangan Violetta. Satella terkejut setelah melihat apa yang dilihatnya itu.
"Kya ... apa itu!" Satella menjerit.
"BERHENTI MENJERIT!" Bentaknya sangat kasar.
Sosok yang membuat Satella jadi menjerit ria adalah sosok yang menyeramkan.
Bagaimana tidak.
Dia bukan manusia. Bahkan juga bukan ras yang hidup melainkan creature yang hadir dengan ilmu gelap necromancher. Adalah sosok kepala buntung tanpa tubuh yang digantung dengan tali terikat pada tiang. Tiang yang mengikat telah dipaku ditembok. Itu adalah sosok kepala yang menyusut ukurannya. Tidak sekecil creature yang biasa disebut jenglot di Indonesia. Agak lebih besar dari itu. Kepala yang menyusut adalah kepala yang telah diawetkan. Masih terbungkus oleh kulit dan ada matanya.
Kepala manusia yang diawetkan, disusutkan. Dengan ilmu gelap necromancher itu seolah hidup.
"Apa ini tindakan si ahli hukum." Satella bernada histeris.
"Jangan aneh!" Seru kepala yang menyusut.
"Siapa namamu?" Tanya Violetta.
"Panggil saja aku Dre." Jawabnya.
"Aku ingin mencari veritaserum." Kata Violetta.
"Apa itu veritaserum ... apa yang kamu maksud adalah potion sihir ilegal." Balas Dre.
"Tepat." Sahut Violetta.
"Masuklah kedalam lorong disana dasar wanita jangkung dan lunglai. Seorang wanita paruh baya yang cerewet selalu menjual item gelap ilegal dengan murah. Wanita stw berisik itu selalu pandai dalam hal merusak harga pasar." Dre bilang.
Violetta tersenyum tipis.
"Itulah yang aku cari." Violetta terkekeh.
"Kamu serius mau masuk ke area angker ini Vio?" Tanya Satella.
"Jangan takut!" Ujar Violetta.
Satella mengangkat tangan.
"Aku mau tanya ... gimana caranya kepala dibikin hidup dan bicara?" Tanya Satella.
Dre menanggapi.
"Orang awam ya?" Tanya Dre.
"Disini banyak ilmu hitam. Kamu jangan ceritakan tempat ini pada siapapun oke!" Pinta Violetta.
"Baiklah." Jawab Satella merinding.
"Hei ... tunggu!" Seru Dre hendak menginterupsi.
"Apa?" Tanya Violetta.
"Dari siapa kamu tahu tempat ini?" Tanya Dre.
"Kakekku." Jawab Violetta.
"Siapa namanya?" Tanya Dre.
"Lucius." Jawab Violetta.
"Pantesan aja ... aku kenal dengan kakek mu loh." Kata Dre.
"Permisi ya ... waktuku itu tidak banyak." Violetta berjalan terus menyusuri lorong.
__ADS_1
~bersambung~