
Suara ledakan dari bola es raksasa kembali terjadi di putaran waktu. Perulangan waktu pertama alias putaran waktu yang kedua. Dindingnya telah dijebol dan pasukan musuh berbondong-bondong memasuki gerbang dinding. Tau-tau Starla melempar tombak api yang secara ajaib disulap menjadi tornado api.
Gerbangnya dipenuhi api merah menyala. Kebakaran sempat terjadi disana. Dengan api sebesar itu tak mungkin ada yang berani untuk menerobos. Tidak sebelum sang paman elves memakai sihir badai saljunya. Dalam sekejap kebakaran dipintu gerbang dinding padam seketika. Pasukan musuh dapat menerobos masuk lagi sekarang.
Kesatria penjaga yang tugasnya menghalau musuh yang datang setelah dinding jebol itu sedang kewalahan diserang sekelompok magic caster musuh. Dibelakang dinding depan adalah satu blok perumahan. Disana ada cukup banyak rumah, terdapat sebuah gerobak berisi tumpukan jerami.
Tau-tau dari dalam gerobak tadi keluar seorang dengan jubah yang berwarna hitam. Kepalanya pun ditutup tudung jubahnya. Ia pun menyulap gerbang jebol menjadi beberapa lapis dinding es keras.
Ternyata itu Satella.
Setelah menyulap gerbang jebol dengan dinding es, ia memakai sihir tingkat satu. Setelah pasukan itu membeku, Satella kembali bersembunyi ditumpukkan jerami. Satella lagi bersembunyi didalam gerobak jerami. Cara Satella dapat melihat situasi sekitar adalah memakai skill clairvoyance yang dikuasainya. Semua rata beku.
Dengan clairvoyance, Satella pun mencoba mencari keberadaannya Starla. Baru saja Satella berhasil menemukan lokasi Starla, ia telah melompat dengan flying magic. Terbang menuju lokasi yang sama dengan di putaran waktu pertama.
"Oh tidak, terjadi lagi." Gumam Satella.
Starla kembali terkena jeratan akar belukar. Mau tidak mau Satella harus berlari kearah Starla berdiri.
Satella memakai transfigurasi tuk mencapai lokasi Starla. Satella juga kembali memakai pedang es. Pada kesempatan kali ini, Satella lebih pelan-pelan mengayun pedang es kepada akar belukar penjeratnya.
Satella tahu betul bahwa nanti punggung akan diincar kemudian ditebas oleh pamannya. Satella memfokuskan diri pada teriakan Starla yang akan datang nanti.
Starla masih terus menebas akar belukar dengan teliti.
"Kamu merusak gaunku saudari kembarku!" Omel Starla.
"Nanti ku ganti dengan yang baru." Satella memanyunkan bibirnya.
"Bukannya begitu, habisnya kalau robeknya tambah banyak. Gaunku bisa robek tau!" Omel Starla.
"Iya deh, iya, aku hati-hati." Ucap Satella.
Seolah dalam hati Satella ingin berkata 'dasar bawel' kepadanya.
Tak lama sampailah pada scene dimana Starla memperingati.
"Kya ... awas belakang!" Seru Starla menjerit heboh.
[Satella : sekarang saatnya.] 😏
Satella menumpuk empat stack perisai es dipunggungnya. Sudah diduga-duga, paman elves telah melesat dengan flying magic nya. Pamannya menebas belati ganda secara bersamaan ditangan kanan maupun kiri. Tebasan kuat paman telah diblokir oleh perisai esnya.
Bahkan satu perisai es pun tidak pecah. Walau terlihat kalau perisai esnya tergores, tapi ambang batas pertahanan perisai es nya masih tersisa banyak. Belum lagi dengan ketiga stack perisai es didalamnya.
Satella pun mengeluarkan Griffin sword. Satella menodong paman Hesper dengan pedang pamungkas miliknya, Griffin sword terhunus.
"Well ... usaha yang bagus." Ucap Paman, menyeringai dengan aura permusuhan.
Dari angkasa datang seekor Phoenix yang menukik ke darat. Dengan cepat dia berniat untuk melindungi tuannya. Paman Hesper menebas belati ganda sebanyak belasan hit dalam satu waktu. Serangan berantainya berhasil dimentahkan oleh perisai es.
Tombak es dari Phoenix melesat dengan bentuk seperti kerucut runcing. Paman Hesper mengelak dengan manuver flying magic nya. Phoenix terus menghujani paman elves itu dengan tombak api yang ditembak secara membabi-buta. Saking banyaknya hingga paman elves tak bisa menghindar lagi. Akhirnya ia memakai perisai es. Perisai es dengan mudah telah mementahkan tombak apinya.
Akan tetapi tombak apinya terlalu banyak. Daya tahan perisai es pun mencapai batasan. Mulanya paman Hesper mampu menumpuk perisai sampai lima stack. Tetapi tombak apinya dilesatkan tanpa hentinya seolah Phoenix adalah build Hero bertype DPS. Melakukan spam skill berkali-kali dalam waktu singkat.
Paman elves itu cekatan, sebelum perisai es terakhir hancur ia pun bermanuver dengan flying magic. Seolah sihirnya Phoenix hampir tanpa cooldown. Sepertinya skill Phoenix adalah yang bertipe poke.
Paman Hesper bermanuver menghindari tombak api Phoenix yang di spam tanpa henti. Paman Hesper berusaha agar perisai es miliknya selesai cooldown. Paman menginjakkan kakinya diatas atap suatu rumah. Kemudian bersiap dengan perisai esnya lagi.
Phoenix bersiap dengan sihir berkekuatan dahsyat.
Paruh Phoenix terbuka.
__ADS_1
Phoenix pun menyerap partikel mana alam diudara. Partikel mana alam itu wujudnya seperti titik-titik merah. Ini seperti seperti kunang-kunang ukuran kecil. Ketika mana alam berwarna merah diserap diudara, seolah-olah mahluk hidup disekitar tidak mampu merasakan udara hangat.
Langitnya cerah, awalnya panas matahari masih terasa hingga energinya terasa menghangatkan. Tapi setelah mana alam diserap dari atmosfer, udara kehilangan sensasi hangatnya. Panas matahari lenyap.
Banyak mana alam element api terserap paruh Phoenix. Kemudian Phoenix pun menembakan sihir api.
Super Nova !!
Phoenix menembak laser api yang super panas.
Memprediksi itu, paman Hesper menyulap dinding es keras sebagai defensif barrier. Usahanya percuma saja, laser api Phoenix dapat menembus pertahanan dinding es dengan entengnya. Kabut es pun nampak akibat api dan es bertubrukan.
Laser api Phoenix memberi dampak pada porak-porandanya rumah dalam lintasan tembaknya.
"Apa sudah mati?" Tanya Starla, dengan nada seolah berharap agar pamannya mati.
"Sebentar." Sahut Satella.
Satella memejamkan mata untuk melakukan sense. Sense biasanya digunakan oleh mage type Esper. Atau juga disebut sebagai mage type sensor.
Sense !!
Suara nada kaget terucap dari mulutnya Satella.
"Dia masih hidup, dia melepaskan sihirnya...." Seru Satella, bernada sangat panik.
Setelah melakukan sense, Satella hapal dimana pamannya sembunyi. Menoleh ke suatu atap rumah dan mempertegang pupil matanya.
Frost shock !!
Satella melihat paman berencana untuk menyerang balik kearah Phoenix. Satella berusaha mencegahnya. Satella melihat pamannya menembak kubah es berukuran besar. Satella memakai Griffin sword lalu dilesatkan bilah pedangnya dengan sihir telekinesis.
"Awas Theodore...." Seru Satella.
Phoenix selamat.
Tidak lama kemudian datanglah Violetta dan minerva.
"Stella ... Starla...." Seru Minerva, sementara itu Violetta cenderung sedikit lebih silent.
Kini mereka ada didekat Satella.
"Kalian tidak apa-apa kan?" Tanya Minerva, sambil mengatur napas.
"Napasnya biasa aja buk." Sindir Violetta.
"Maksudnya apa!" Sahut Minerva.
"Naik turun." Violetta terkekeh.
Violetta melihat kearah dadanya Minerva, dimana irama napasnya kelihatan jelas naik turun. Minerva juga menengok kearah yang dilihat Violetta. Setelah tahu apa yang lagi dilihat Violetta, Minerva pun emosi.
"Koplak!" Minerva menjitak keras kepala Violetta.
Suara batok kepala dipukul nyaring....
"Benjut deh." Keluh Violetta, mengusapi ubun-ubun kepalanya. Merasa pedes dan kesakitan.
"Lepas, sesak napas aku tuh!" Keluh Starla sambil meronta-ronta.
"Eh iya, aku gak peka." Minerva beralih fokus kepada Starla.
__ADS_1
"Tolong aku." Starla merengek.
"Tenang aja, aku mage spesialis bumi." Kata Minerva.
Minerva memegang akar belukar dengan kedua tangannya. Belukar tersebut perlahan menjadi layu. Hingga pada akhirnya belukar pun mengering seperti daun kering.
"Sekarang kamu bisa melepaskan diri." Kata Minerva.
Benar saja, Starla menggerakkan tubuhnya secara paksa, belukar tersebut kini mudah lepas. Akar belukar nya sangat kering, mudah hancurnya. Starla pun terbebas.
Paman elves berani menginjakkan kakinya di darat. Setelah dari tadi hanya kabur-kaburan pakai flying magic. Kini melangkah dengan santainya kearah Satella dan lainnya.
Menepuk tangan, paman Hesper dengan angkuh berkata.
"Kalian takan bisa melawan diriku, walau kalian bersatu untuk melawanku." Tukas paman Hesper.
"Waktunya membumi!" Paman pun menyulap medan gravitasi berat.
Gravitation field !!
Reflek Satella pun menyulap pijakan semu. Memakai telekinesis untuk melompat ke pijakan semu. Violetta dan Starla memakai sihir transfigurasi untuk menghindar medan gravitasi. Sementara Minerva yang punya afinitas sihir tanah yang tinggi pun resist terhadap sihir gravitasi. Alih-alih dipaksa mencium tanah, Minerva bisa tetap dalam setengah berdiri, hampir duduk.
Minerva merintih sakit karena terkena damage. Akan tetapi rasa sakitnya telah banyak direduksi dengan resistensinya terhadap dampak sihir bumi. Bahkan yang dirasakan tidak sampai setengah damage, mungkin seperempatnya.
Atau mungkin tingkat reduksi nya lebih besar lagi dari itu.
Menggunakan flying magic nya, paman pun bermanuver cepat kearah Satella. Dampak manipulasi medan gravitasi tak berdampak terhadapnya, ia melayang begitu saja.
Satella memunculkan lantai semu keduanya. Melompat ke lantai yang lainnya tapi tetap dapat terkejar. Bermain kejar-kejaran, lagi-lagi Satella kena tebasan dipunggung. Satella sempat memunculkan perisai es.
Phoenix mencoba menembakan tombak api untuk membantu sang tuan. Tetapi tombak apinya seperti terhisap ketanah. Tanahnya dalam pengaruh sihir gravitasi, tanahnya menjadi magnet yang mampu menghisap apinya. Lalu apinya tertarik kebawah. Apinya disedot kedalam bumi layaknya penyedot debu.
Apa yang dilakukan Phoenix seolah sia-sia.
Satella dan pamannya sedang ada diatas lantai semu. Paman terus menikam belati. Tapi perisai esnya kuat, bahkan satu perisai tidak pecah juga meski dipukul berkali-kali. Hanya ada goresan kecil dan retakan-retakan.
Satella menumpuk perisai es nya sebanyak empat tumpuk. Bahkan perisai es pertama belum pecah.
Tapi perisai es ada kelemahannya.
Forked lighting !!
Paman menyulap petir yang pada awalnya bercabang dua. Petir nya bercabang-cabang. Perisai es itu terpengaruh dengan elemen yang menyerangnya. Misalnya kalau element penyerangnya adalah api maka perisai hanya rusak sedikit. Apabila element nya petir maka perisainya sangat rentan dan juga mudah pecah. Benar saja, tiga perisai sekaligus hancur disambar sihir petir.
"Bagaimana ini!" Batin Satella.
Sihirnya masih cooldown, tetapi paman mengeluarkan sebuah item sihir. Paman mengeluarkan magic scroll, ia membakar scroll tepat ditangannya. Setelah scroll dibakar ditangannya, sihirnya pun keluar.
Forked lighting !!
Satu perisai es hancur, kemudian petir nya menembus tubuh Satella dengan fatalnya. Tubuhnya tersengat, ia mati rasa dan kena sensasi kejut. Tubuhnya kejang, setengah sadar tubuhnya Satella mundur perlahan demi perlahan kebelakang.
Mendapat celah, paman Hesper melompat dengan flying magic nya. menebas dengan belati ganda dikedua tangannya.
Tau-tau paman menebas belati diperutnya Satella. Robek parah seperti operasi sesar, kemudian Satella memegangi perutnya.
Tak kuat berdiri, Satella langsung terjengkang kebelakang dan jatuh diketinggian tiga meter dari atas tanah. Satella jatuh 'gedebuk' suara tubuh membentur tanah berbatu. Rembesan darah keluar dari perut yang telah dirobek oleh belati.
Satella mati.
Kali ini kematiannya lebih cepat. Sensasi rasa sakitnya lebih singkat.
__ADS_1
~bersambung~