
Ruang interogasi.
Ini adalah kali kedua Satella injak kaki di ruang interogasi. Secara real baru sekali, tapi dalam persepsinya ini adalah kedua kalinya. Interogasi yang pertama terjadi di putaran waktu yang pertama pasca restart.
Kemudian seorang penyidik yang berseragam polisi militer masuk ruangan. Orang yang sama dengan loop waktu pertama, penyidik yang pertama. Untuk kali kedua Satella harus berkata.
"Oh tidak! Ini terjadi lagi."
"Perkenalkan saya adalah seorang penyelidik." Polisi mulai bicara.
"...." Pada loop kali ini Satella pun menatap kearah penyidik.
"Apa anda saudari Satella?" Tanya penyidik.
"Iya saya sendiri." Jawab Satella, bertingkah tenang dan santuy.
"Mohon kerjasamanya." Penyidik bilang.
"Tidak.. aku tidak Sudi menuruti keinginanmu!" Jawab Satella.
"Tapi aku hanya bekerja! Disini." Penyidik sedikit marah.
"Silahkan saja bekerja! Tapi. Tidak semudah itu penyidik." Ujar Satella.
"Apa katamu!" Penyidik bertambah kesal, mengangkat tinjunya sambil melangkah kearah Satella.
Satella berencana menggunakan kekuatannya untuk menentang penyidik. Tidak berniat melukai apalagi membunuh, Satella akan memakai kekuatan bakat Esper. Kemampuan sugesti hipnosis yang memberikan elemen penyiksaan.
Alih-alih disiksa penyidik, kali ini Satella yang akan menyiksa balik penyidik di loop waktu kali ini.
Satella berdiri.
"Tolong duduk!" Tegur penyidik.
"Waktunya permainan!" Seru Satella.
"Tolong duduk!" Penyidik tambah kesal.
"Kubilang waktunya permainan!" Satella merentangkan tangannya kesamping kanan dan kiri.
"....." Penyidik bingung.
"Apa kamu takut hantu?" Satella bernada usil, nahan tawanya.
"Hantu? Mana ada." Jawab penyidik.
"Itu dia mengintip! Hantu ataupun monster, kya.. aku takut." Satella menjerit kecil untuk memainkan rencananya dengan baik.
"Mengintip?" Penyidik mengangkat tangannya.
"Itu dia mengintip di celah kaca pintunya!" Satella menjerit kecil.
Penyidik menoleh kearah pintu. Tetapi tidak melihat hantu yang Satella maksud.
"Tidak ada?" Ujar penyidik.
"Itu dia, monster itu berjalan kesisi pintu! Pasti ada disebelah kiri dari lorong itu." Seru Satella berekspresi heboh, sedikit jeritan.
"Yang benar hantu atau monster?" Balas penyidik.
"Tau deh. Bentuknya serem, mahluk tadi kulitnya warna abu-abu agak bersisik, kaya kulit reptil, wajahnya APALAGI! Dia tanpa rambut, dengan mulut dipenuhi GIGI TARING SEMUA kemudian iris matanya MERAH! Iya Semerah darah, serem deh." Satella sedikit menjerit untuk memberikan kesan yang sangat horor.
"Iya.. kah?" Penyidik menggaruk belakang kepalanya dengan gestur bingung campur ngeri.
"...." Satella memiringkan kepala, memberi gestur imut seraya dia menyeringai.
"Dipikir-pikir mahluk yang punya wujud seperti tadi itu, seremnya gak tanggung-tanggung." Penyidik pun terpengaruh sugesti Satella sampai membayangkan wujud seramnya didalam kepalanya.
"Kya.. lihat! Dia mengintip barusan terusnya ngumpet lagi." Jerit Satella.
"Mana? Beneran ada kah." Penyidik terpengaruh sugesti Satella, terus melangkah menuju pintu keluar.
Penyidik sudah memegang gagang pintunya. Tangannya gemetaran sebab, dia membayangkan wujud monster yang disugestikan Satella.
Krek..
__ADS_1
Pintu dibuka perlahan.
Penyidik belum berani melangkah keluar ruangan, tapi hanya berani mendorong pintunya. Pintu sudah sepenuhnya terbuka tapi penyidik hanya berani diam ditempat sambil termakan sugesti dari Satella.
"Kalau bisa kita harus keluar dari ruangan ini penyidik! Gimanapun monster itu menakutkan, pastinya berbahaya." Jerit Satella, berniat menakut-nakuti.
Bagaimana bisa seorang aparat kepolisian kerajaan ditipu secara mentah-mentah? Adalah sugesti hipnosis, dengan afinitas Esper berlevel sembilan. Penyidik tidak membawa pedang keruangan ini tetapi membawa flintlock pistol.
Mengeluarkan pistol dari sarung senjata di pinggang, menodongkan pistol keluar ruang. Melangkahkan kakinya perlahan keluar pintu ia dengan cepat membidik pistolnya kearah kiri lorong. Namun ketika baru saja diarahkan kesitu. Secara tidak terduga hal buruk terjadi.
Tiba-tiba sosok monster berwujud manusia, tapi dengan wajah seram seperti mayat. Giginya seperti sosok manusia kanibal, matanya seperti mata setan, kulitnya abu-abu agak bersisik seperti reptil. Menyeringai dengan pose super menakutkan.
Gah...
Penyidik berteriak hebat dengan dipenuhi rasa kaget. Dia terjatuh, diduga terkena serangan jantung. Satella tidak melakukan serangan fisik apapun untuk melumpuhkan tubuh atau bahkan membunuh. Satella hanya melakukan teknik ilusinya. Sihir ilusi memang tidak berbahaya, tetapi dengan situasi tertentu sukses membuat korban keusilan sihir ilusi menjadi kena serangan jantung seketika.
"Hihihi." Satella menahan tawa.
Melangkah menuju lorong untuk mengecek keadaan. Monster yang barusan adalah bagian dari sihir ilusinya Satella. Adalah sugesti hipnosis dengan afinitas berlevel sembilan, makanya efeknya kuat. Afinitas tingkat tinggi, membuat ilusinya terlihat sangat nyata.
"Eh? Maaf, ya." Satella menatap penyidik tergeletak kejang-kejang karena jantungnya bermasalah.
Menatap reaksi kejang-kejang dari penyidik. Satella tidak mampu lagi menyembunyikan gelak tawanya walau awalnya ditahan-tahan.
"Ku.. ku.. ku.. eh, hu~~ahaha lucu sekali.. lucu sekali. Gak kuat aku beneran gak kuat, bisa-bisa aku mengompol." Gelak tawa tak bisa dibendung lagi saat Satella melihat keadaan kejang-kejang penyidik akibat lemas jantung karena shock.
"Kikikik."
Satella ketawa cekikikan sambil berjongkok dilantai. Tangannya mengelus dada agar tawanya bisa diredakan. Wajah merahnya itu karena tawa yang terus-menerus.
"Oh goddess! Lubang meong ku rasanya kebelet pipis, aku gak kuat nahan gelak tawa ini, bawahku seperti melorot dan mau segera buang air. Jangan ketawa, jangan ketawa, jangan ketawa pokoknya jangan ketawa." Satella mulai gak tahan dengan sensasi nahan pipis.
"Ha~~ah lega." Setelah Satella bisa meredakan kegelian hingga mampu berhenti ketawa, sensasi kebelet pipisnya mampu diredakan. Kini Satella mampu nahan sensasi ingin membuang air karena Satella gak ketawa-ketawa lagi sekarang.
"Penjaga tolong! Seseorang kena serangan jantung." Seru Satella.
Skip..
Dua penjaga datang. Satu penjaga mengangkat penyidik yang kejang karena serangan jantung, penjaga satunya menjaga agar tersangka berada dalam ruangannya. Yang menjadi prioritas penjaga adalah jangan sampai tersangka kabur.
"Hei.. Satella kamu dengar?"
Suara misterius yang kedengaran familiar muncul. Suara tiba-tiba terdengar di kuping lancip Satella yang spontan gerak-gerak sendiri.
"Eh? Ada suara." Satella bengong.
"Ini aku! Violetta."
"Eh! Apa ini telepati jarak jauh? Ya, Violetta." Seru Satella.
Bruk..
Suara pintu besi digebuk memakai gagang tombak.
"Berisik! Berhenti bicara sendiri dasar tidak waras." Tegur penjaga.
"Aku kekencengan." Bisik Satella.
"Saat ini kami melihatmu melalui bohlam kristal sihir penerawang. Kami melihat keberhasilan kamu, kamu excellent." Puji Violetta.
"Satella.. cepat kamu keluar dari penjara!" Teriak Minerva.
[Note : suara yang dikirim Violetta lewat jalur telepati, langsung masuk kedalam pikiran Satella, tidak ada yang bisa dengar kecuali Satella.]
"Minerva?" Gumam Satella dengan nada sedikit sendu.
"Aku mohon.. Jangan keluar ketika makan malam nanti! Ular balisik kembali muncul ditengah makan malam, ruang perjamuan telah ditarget." Satella memberitahu.
"Benarkah?" Violetta bilang.
"Iya." Minerva yang percaya pada Satella, langsung iya saja.
"Beli makanan siap saji lalu simpan diruang kebutuhan. Nanti kalian makan didalam ruang kebutuhan yang tersembunyi saja, ya." Satella.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Satella.
__ADS_1
"Masih jam dua." Jawab Minerva.
"Aku akan menuju kesana untuk membebaskan mu. Tolong tunggu aku." Kata Minerva.
"Jangan! Kalian tunggu saja aku di sana. Bagiku sangat mudah untuk kabur dari sini." Ujar Satella.
Tak lama kemudian masuk penyidik yang kedua. Adalah orang yang sama dengan yang mengerjai Satella, tidak ada luka fisik yang membekas, tapi. Tindakannya pada loop pertama itu memberikan kekerasan verbal yang bikin Satella direndahkan sebagai lawan gender. Saat menatap kearah wajahnya, kejadian diputar ulang didalam kepala Satella.
"Kya.. tidak!" Satella menjerit.
Itu reaksi spontan dari Satella.
"Kenapa takut? Aku baru masuk. Belum melakukan apapun pada kamu." Kata penyidik kedua.
"Kamu lagi!" Satella pun menunjuk kearah penyidik itu dengan tatapan wajah yang nanar.
"Kenapa? Kita baru pertama kalinya bertemu, kurasa. Jadi apa yang buat kamu sebegitu kesalnya denganku?" Tanya penyidik kedua.
Dalam persepsi penyidik, mereka berdua baru pertama bertemu tapi dalam persepsi Satella beda. Satella yang punya kekuatan restart telah menyimpan ingatan tentang mereka berdua di loop waktu sebelumnya. Yaitu time-loop yang pertama.
"Kamu!" Satella masih berdiri dan menunjuk-nunjuk penyidik kedua dengan rasa dendam.
"AKAN AKU BALAS! yang waktu itu." Umpat Satella, wajah imutnya telah dinodai oleh sifat pendendam.
"Permisi?" Penyidik masih berdiri sambil mengangkat bahunya.
"Aku percaya ini pertama kali kita bertemu, kan?" Penyidik merasa sangat bingung dengan tersangka.
"Iya bagimu! Bagiku ini kedua kalinya." Satella bilang.
Dengan bodohnya Satella bilang seperti itu. Jelas-jelas hanya dia seorang yang tahu detail kejadian pada loop pertama. Penyidik pun menggaruk belakang kepalanya merasa sangat bingung.
"Apa kamu berhalusinasi?" Tanya penyidik yang wajahnya gelisah.
"O~~oke." Seru Satella mengangkat tangan kanan bersiap untuk.
"Waktunya permainan!" Seru Satella sambil menunjuk kearah penyidik kedua dengan telunjuk lentiknya.
"Apa?" Penyidik tambah bingung.
"Kubilang.. waktunya permainan! Sekarang silahkan duduk." Satella mulai memberi sugesti hipnosis.
"Hey.. harusnya kan!" Penyidik pun mengedutkan alisnya.
Bagaimana tidak..
Harusnya penyidik menegur Satella karena tidak mau duduk, ini malah sebaliknya. Kekesalan penyidik ada karena ulah mengulur-ulur waktu yang dilakukan tersangka yang unik seperti Satella. Mungkin Satella lah satu-satunya tersangka yang bisa seperti ini kepada penyidik. Bahkan tanpa disadari penyidik terjebak kedalam sihir ilusi sang tersangka.
Wow...
"Duduk.. dulu duduklah dulu." Ucap Satella, mengayunkan tangannya dengan ekspresi cengar-cengir.
"Iya baik." Penyidik duduk dikursi, menghela napas berat seolah dia mengasuh anak bandel ditempat penitipan anak di mall.
"Tatap aku! Dan kamu akan merasa ingin menaruh kedua tanganmu itu dibelakang pinggang." Ucap Satella.
Satella memberi sugesti yang lebih kuat lagi. Satella mempelajari teknik ini dikelas Esper, lalu meniru model Violetta dalam memberikan sugesti. Setiap mage build Esper punya ciri khas tersendiri dalam teknik ilusi, tapi sekarang Satella malah plagiat.
"Iya.. uh baiklah." Entah bagaimana tiba-tiba saja penyidik sangat ingin menaruh kedua tangan dibelakang pinggangnya.
"Oke good." Begitulah kata Satella dengan gestur mengolok-olok.
Satella bertepuk tangan dengan ekspresi wajah yang sangat amat meledak, menjulurkan lidah.
"Anak pintar." Satella pun terpejam dengan lidah menjulur kesamping dengan perasaan ingin tertawa.
"Sekarang!" Satella mengangkat tangannya.
"Lihat.. tubuhmu terikat tali dengan simpul yang mengekang pernapasan mu! Rasakan itu!" Satella menunjuk kearah penyidik.
"APA!"
Penyidik terkejut mendapati dirinya tau-tau sudah diikat. Dirinya dibuat amat shock depan sihir ilusi Satella.
~bersambung~
__ADS_1