Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Putaran waktu kedua


__ADS_3

Peran yang sudah diketahui.


Spell caster : Satella.


Penjaga : Reiner.


Penerawang : Marlena.


Beholder : Climbt.


Pangeran : Romane.


The ruler : Inspektur Jay.


Tim perusuh : Arsene,


Peristiwa.


Hari pertama.


1.) Werewolf menyerang Spell caster.


2.) Penjaga melindungi Spell caster.


3.) Penjaga terluka.


4.) Seer menerawang penghuni dikamar nomor 08. Hasilnya sang penghuni adalah spell caster.


5.) Spell Caster pindah ke kamar nomor 16


Hari kedua.


1.) Werewolf memangsa penghuni kamar nomor 09. Seorang tewas.


2.) Satu orang dibunuh Gunners.


3.) Penduduk melakukan vote terhadap Gunners. Gunners mati setelah dipersekusi, tembak mati.


4.) Seer menerawang penghuni dikamar nomor 04. Hasilnya ia hanyalah penghuni biasa.


5.) Semua yang mati bukanlah werewolf.


Hari ketiga.


1.) Werewolf memangsa penghuni kamar nomor 31. Dua orang mati, seorang selamat.


2.) Sistem vote ditunda sehari. Tak satupun penghuni di vote untuk hukuman mati.


3.) Seer menerawang penghuni dikamar nomor 21. Hasilnya ia hanyalah penghuni biasa.


Hari keempat.


1.) Werewolf memangsa penghuni kamar nomor 15. Seorang tewas.


2.) Penduduk melakukan vote terhadap penghuni nomor 16.


3.) Pangeran meminta voting ulang.


4.) Tidak ada yang di vote.


5.) Penerawang belum sempat tuk memberitahu magic caster tentang penghuni yang di terawang.


Hari kelima.


1.) Werewolf memangsa penghuni kamar nomor 08. Seorang tewas.


2.) Penduduk melakukan vote terhadap penghuni nomor 10. Penghuni tersebut bukanlah werewolf yang asli.


3.) Seer membuka kedoknya pada magic caster.


4.) Penerawang belum sempat tuk memberitahu magic caster tentang penghuni yang di terawang.


Hari keenam.


1.) Tabib membunuh magic caster.


2.) Dead end.


.


.


Laporan.


Semua yang ada dipenginapan dikarantina. Untuk mengungkap kedok werewolf, beberapa orang diumpankan. Tanpa adanya peran penduduk untuk dimangsa, sosok werewolf akan berusaha untuk melarikan dirinya.


Sebenarnya distrik ini dikarantina. Banyak kesatuan militer sudah ditempatkan untuk memblokade semua akses menuju penginapan. Seolah militer melingkari seluruh area penginapan. Para werewolf berniat menjadikan sang pangeran sebagai tumbal untuk meloloskan kelompoknya, apabila para warga sudah selesai dibunuh.


.


.


Kamar.


Satella terduduk dan memikirkan tentang apa yang membuat dirinya berakhir dengan restart. Terakhir kalinya ia mengantuk lalu tertidur.


Beberapa bulan sejak Satella punya kekuatan restart, ia tahu cara untuk mengusut penyebab kematian. Buku artefak sihir ini tidak sekadar hanya mengirim ingatan user kemasa lalu dengan kematian sebagai pemicu.


Satella membuka lembaran Sage diary.

__ADS_1


Melihat catatan kematian.


1.) Tewas dicabik werewolf pada bagian perut. Tubuh nyaris terbagi menjadi dua.


2.) Meminum racun.


Demikian catatan kematian dari artefak sihir, restart.


"Oh, begitu. Tabibnya ternyata!" Satella cemberut masam karena menyadari telah ditipu tim jahat.


"Kenapa?" Pikir Satella, bernada lesu.


Menoleh kearah Reiner yang lagi berdiri didekat pintu.


"Hei Reiner...." Seru Satella yang memanggil penjaganya.


"Ya, nyonya Stella." Balas Reiner.


"Kalau aku pakai kekuatan sihir, orang-orang akan tahu kalau aku adalah magic caster kan? Berarti diriku membongkar penyamaran sebagai magic caster kementerian sihir dong? Jawab aku!" Satella bersuara.


"Iya, aku rasa itu benar." Komentar Reiner.


"Hei ... Reiner, lindungi aku sampai pagi. Tolong jangan tidur sebelum datang pagi ya!" Perintah Satella.


"Siap!" Jawab Reiner.


Untuk memastikan bahwa penjaga dapat bertahan, Satella memberikan equipment mistis miliknya. Satella mengeluarkan sesuatu dari kantung miliknya. Memberinya pada Reiner.


"Ambil ini?"


Satella memberikan taring ular balisik kepada Reiner.


"Sebuah taring besar? Terimakasih untuk cenderamata antik ini, nyonya Stella." Ucap Reiner.


"Bukan cenderamata! Itu adalah senjata mistik! Nanti kamu harus menikam werewolf dengan taring ular balisik!" Perintah Satella.


"Taring ular balisik? Setajam apa benda ini?" Reiner hampir saja menggores ujung taring dengan telunjuknya.


"Tidak, tunggu, jangan! Itu sangat tajam, juga beracun! Racunnya itu abadi, walau sudah mengering. Sedikit saja menggores kulitmu itu dapat membahayakan dirimu tau!" Ujar Satella, heboh.


Satella pernah terkena gores taring balisik. Itu hanya dapat sembuh oleh efek magis air mata Phoenix. Walau pulih, ia harus mengalami koma tuk dua minggu. Kalau Satella sampai kehilangan pengawal selama itu, menjadi riskan baginya ditempat ini.


"Maaf." Reiner menaruh taring didalam kantung.


Keheningan berlalu.


Skip....


Malam berlangsung.


Satella terlelap dengan nyenyak. Sementara Reiner berjaga-jaga. Sekarang, Reiner dilengkapi oleh taring ular balisik. Waktu dimana werewolf datang, akan segera tiba.


Keheningan berlalu.


Suara hembusan angin sampai terdengar, saking sepinya.


Ada jangkrik.


Tiba-tiba.


Gedebruk....


Pintu pun didobrak. Werewolf nya segera berlari kearah sosok gadis tidur. Satella baru mau terbangun akibat suara pintu yang didobrak. Satella masih mengucek matanya, terbaring tanpa gairah. Werewolf akan menerjang putri tidur itu.


Namun....


Tau-tau Reiner muncul dari sudut dinding.


Reiner berlari sekuat tenaga dan sekencang mungkin.


Reiner menabrakkan shield nya kepada werewolf. Sedikitpun sang werewolf tidak terhentak kearah samping. Tapi, upaya Reiner yang menabrak werewolf dengan shield membuat werewolf mendapatkan dampak slow. Larinya melambat.


Selagi werewolf masih mengincar Satella, Reiner terus mengayunkan perisai besinya pada werewolf itu. Reiner yang menyadari bahwa ia akan berhadapan dengan werewolf sudah menyiapkan shield khusus.


Shield Reiner sangat tebal. Meski perisainya tebal, tidak cukup kuat untuk menahan phisical penetrasi daripada cakar werewolf. Putaran sebelumnya adalah bukti betapa kuatnya cakar werewolf itu.


Karena werewolf hanya berfokus kepada Satella, kesempatan Reiner untuk menyerang terbuka lebar.


Reiner menusuk werewolf dengan pedang satu tangan.


Pedang menancap dipinggangnya. Reiner memukuli werewolf dengan perisai, terkena punggung. Empat pukulan beruntung dilepas Reiner secara beruntun. Lima nyatanya, sementara satu pukulan diblokir tangan kanan, empat pukulannya mendarat dipunggung werewolf.


Sepertinya itu geli bagi werewolf. Minimal memberi sensasi seperti digigit serangga yang besar seperti genggaman tangan. Pukulan dari perisai memberikan efek stunt.


Setelah werewolf menangkis satu serangan terakhir, ia.mengayunkan cakarnya. Reflek, Reiner sempat melompat kearah belakang untuk melakukan dodge.


Tapi itu tidak cukup. Cakar tajam werewolf menyerempet zirah nya, mengiris dagingnya. Ia tapi karena telah melompat mundur, cakaran werewolf tak separah kalau tidak melompati sama sekali. Luka yang masih bisa ditahan oleh kesatria reguler kerajaan.


Reiner segera bangun. Memegang perisai dengan dua tangannya.


Reiner memasang defense stance yang kokoh.


Werewolf berlari, mencabik.


Kali ini dengan sekuat tenaganya sehingga perisai Reiner terlepas. Setelah Satella mengucek-ucek matanya, ia mulai mendapatkan kesadarannya.


Tanpa perisai dan pedang, Reiner mengalami mati langkah.


Werewolf mengayunkan cakarnya kearah Reiner. Dalam posisi ini ia akan tewas dengan isi perut yang terurai seperti spaghetti. Zirah besi miliknya tak akan kuat menahan cakaran werewolf.

__ADS_1


Telekinesis !!


Satella mendorong Reiner hingga punggungnya menabrak tembok. Dengan cara itu, ia selamat dari dicabik oleh werewolf. Suara dari baju zirah besi membentur tembok terdengar jelas seperti tembok yang dipukul palu Godam. Reiner pun terjatuh lemas dilantai hanya bisa terduduk tanpa daya dan tenaga.


Terkena efek stunt.


Satella tahu betul untuk sebisanya jangan meninggalkan jejak sihir. Jangan sampai ada kerusakan yang terkonfirmasi sebagai rusak yang disebabkan oleh kekuatan sihir.


Identitasnya sebagai magic caster jangan sampai terungkap diawal.


Pihak musuh memiliki Sorcheror yang harus diperhitungkan.


Bahkan sebelum munculnya sang Sorcheror, Satella mengalami dead end. Kesadaran sudah ia dapatkan.


"Ayo bangkit! Seru Satella kepada penjaganya.


Werewolf hanya fokus kepada penjaga.


Menyeringai lebar, memamerkan taringnya. Werewolf memandang Reiner seperti bahan makanannya. Melemaskan jari-jarinya taringnya dimain-mainkan sebagai gerakan pemanasan atau perenggangan.


Reiner berusaha berdiri dengan sekuat tenaga.


Reiner berdiri, langkahnya gontai.


Werewolf berlari kearah Reiner. Ia merasa kalau ia akan segera mati.


"Argh...." Reiner berteriak lantang menghadapi werewolf. Di balas raungan nya yang menyeramkan.


Telekinesis !!


Dengan pysche power, werewolf dipaksa tidak bisa bergerak. Kaki werewolf tidak menyentuh tanah. Dipaksa melayang dengan pysche power. Terkena efek disable. Tak mampu bergerak, sekalipun telah berontak sekuatnya.


"Sekarang!" Seru Satella.


Reiner mengerti apa maksudnya. Walaupun pedang dan perisainya sudah terlepas, tapi Reiner masih memiliki taring ular balisik.


Menggenggam taring balisik, ia berdiri dengan sempoyongan.


Reiner berlari kearah werewolf.


Walau werewolf dikekang oleh telekinesis, tapi ia masih sanggup melakukan perlawanan. Tangan werewolf masih mampu untuk digerakkan liar. Reiner baru akan menikam tubuh werewolf dengan taring balisik, tetapi dicegah.


Werewolf mengayunkan cakarnya kearah Reiner.


Dengan refleks Reiner melompat kebelakang. Cakar werewolf dapat bergerak lebih cepat dari gerak tubuhnya Reiner. Cakarnya akan mencabik dan mengoyak jeroan.


"Tidak...." Reiner berteriak panik.


Frost shield !!


Satella melempar sihir perisai es kepada Reiner. Perisai sihir Satella dilempar tepat pada waktunya. Maksudnya memberikan defensif barrier kepada Reiner.


Muncul secara otomatis, menahan cakar werewolf. Walau itu dapat ditembus, setidaknya mereduksi serangannya. Bagian otot perutnya hanya tergores cakar sedikit. Tidak menyebabkan luka dalam serius.


"Bangunlah!" Seru Satella, masih menahan werewolf dengan tenaga otak tengahnya.


Telekinesis terus mengekang keras dengan tenaga psikis.


Reiner merintih sebentar.


"Ayo, cepat!" Satella mengeluhkan betapa lambatnya Reiner.


Reiner pun bangkit.


Ia berlari lagi menuju werewolf. Kejadian hampir sama. Kala Reiner akan menikam werewolf, cakar werewolf lebih dulu diayunkan.


Reiner sudah memprediksi ini. Ia pura-pura akan menikam kearah werewolf, tapi sebenarnya hanya melakukan gerak tipu. Reiner pun melompat kearah belakang tanpa terkena cakar sedikitpun.


Setelah melompat kebelakang, ia melempar taring balisik.


Taring balisik menancap ditubuh werewolf.


Melolong kesakitan, werewolf kena dampak stunt.


Telekinesis terhenti, Satella segera mengatur napas karena lelah yang didapat saat memaksakan tenaga penuh dari telekinesis. Lalu Satella melemparkan perisai rusak Reiner mengunakan telekinesis. Satella mengoper perisai besi kearah Reiner.


Reiner memungut perisainya.


Werewolf masih melolong karena kesakitan. Taring balisik dengan kekuatan mistisnya memberi rasa pedih untuk werewolf.


Reiner berlari kearah werewolf. Reiner Menabraknya dengan perisai rusak sehingga taringnya masuk lebih dalam lagi. Itu membuat werewolf semakin kesakitan.


Werewolf langsung melarikan diri dari tempat tersebut.


Luka yang dialami Reiner relatif ringan bila dibandingkan putaran waktu sebelumnya.


"Kamu tak apa-apa?" Satella pun memperhatikan kondisi penjaga.


"Aku butuh kotak obat dan sedikit istirahat." Jawab Reiner.


[Satella : Apakah tabib itu bisa dipercaya?] 🙄


"Uh, eh, sebentar ya. Kamu tiduran dulu deh." Balas Satella, gelisah.


Bagaimana tidak, tabib adalah satu sosok yang membunuhnya dengan racun. Pada putaran sebelumnya sudah jelas bahwa Satella terbunuh oleh racun sang tabib. Bagaimana Satella akan percaya sekarang? Ia berpikir dengan keras.


"Tapi, aku akan menyelidiki tabib tersebut." Pikir Satella.


Dengan sihir air tingkat afinitas rendah, Satella mengobati Reiner. Luka yang diderita Reiner hanya sanggup mereda sedikit. Satella bukanlah mage type cleric tulen.

__ADS_1


Satella berusaha memperbaiki keadaan.


~Bersambung~


__ADS_2