Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
sendiri lagi..?


__ADS_3

Satella sedang mendengar kepala perpustakaan, yang kini menjawab semua pertanyaannya. Tentang apa penyebab bau pekat miasma, yaitu aroma akibat sihir gelap.


"Syarat agar bisa mencium aroma pekat miasma adalah afinitas yang tinggi dari bakat Esper." Kepala perpustakaan bilang.


"Lantas kalau seorang tidak dapat mencium aromanya padahal punya afinitas Esper yang tinggi?" Satella memberi pertanyaan lain.


"Iya memang seperti itu, aroma itu tidak bisa dicium oleh diri sendiri tetapi oleh orang lain." Jawabnya.


"Oh." Satella dengan muka suram.


"Sekarang saya akan memulai dari pertanyaan tentang, kenapa bisa tercium aroma miasma sihir gelap yang pekat, padahal tidak memakai sihir gelap."


Kepala perpustakaan melanjutkan..


"Syarat untuk terciumnya aroma miasma pekat selain penggunaan sihir gelap tingkat tinggi adalah... Penggunaan item sihir kegelapan." Jawab kepala sekolah.


"Item sihir kegelapan?" Gumam Satella, bernada bingung.


"Iya benar, item sihir dengan efek sihir yang menakjubkan. Item itu memiliki efek sihir yang hebatnya diluar nalar! Tapi, dalam proses pembuatannya mungkin sangatlah jahat. Proses pembuatan item sihir kegelapan biasanya disebut alkimia kegelapan." Perlahan-lahan kepala perpustakaan menjelaskan apa yang dia pelajari dari buku-buku.


"Alkimia kegelapan?" Satella nada bertanya.


"Biasanya sebuah huruf rune yang tidak dikenal ditulis di batu, huruf tersebut disebut recipe. Biasanya beberapa manusia diberikan naskah huruf rune untuk membuat equip ataupun item sihir. Nenek moyang orang kerajaan bilang mereka itu membuat senjata pusaka kerajaan dari recipe (rune) yang diberikan dewa dunia lain. Tapi ada beberapa orang mendapatkan recipe tersebut dari raja iblis atau raja Undead."


[Note : yang dimaksud dewa dunia lain oleh Kepala perpustakaan itu dewa yang tinggalnya di Asgard.]


Kepala perpustakaan mengambil napas barang sebentar..


"Untuk merakit recipe menjadi item sihir dibutuhkan proses, itu disebut alkimia kegelapan! Prosesnya butuh pengorbanan. Dulu ada penguasa jahat menangkap orang satu desa untuk ditumbalkan dalam proses alkimia kegelapan. Semua pusaka peninggalan yang ada sekarang itu asalnya dari sana."


Penjelasan kepala perpustakaan membuat Satella penasaran.


"Pantas saja item sihir itu punya aroma miasma pekat." Gumam Satella.


"Item sihir mengeluarkan aroma miasma pekat kalau efek sihirnya bekerja saja, kalau tidak bekerja sihirnya maka baunya tidak akan tercium." Balasnya.


"Jangan-jangan!" Satella baru saja menyadari.


"Eng.. ya.. begini, cara kita untuk mengkonfirmasi bahwa item sihir adalah item sihir kegelapan, yang dibuat lewat alkimia kegelapan itu, gimana cara untuk cari tahunnya?" Tanya Satella, sedikit antusias.


"Ada item sihir, gemstone warna hijau. Item itu agak langka juga, fungsinya membongkar identitas pengguna sihir menghilang."


Begitulah jawabnya, lalu Satella menanggapi dengan.


"Jadi kita bisa melihat orang yang memakai sihir menghilang?"


"Kita gak biasa pakai gemstone tersebut setiap saat, karena itu mengkonsumsi mana kita setiap detiknya."


"Dan satu lagi, menurut dibuku aroma miasma jahat itu terlihat seperti kabut hitam. makin jahat sihirnya semakin pekat warna kabutnya. Penggunaan item sihir yang berulang-ulang membuat miasma makin pekat, walaupun aroma saat penggunaan pertama tidak tercium. penggunaan yang pertama mungkin tak tercium seorang Esper, tapi kedua, ketiga hingga seterusnya makin tercium. Baik item sihir kegelapan ataupun sihir kegelapan, sama saja, kurasa."


Tambah kepala perpustakaan..


"Apa ada cara untuk menutupi miasma pekat ini?" Tanya Satella.


"Agar tidak tercium? sayangnya aku telah melupakannya, sebagai sosok manusia biasa aku tak bisa untuk mengingat apapun. Tapi, aku akan meminjamkan kamu buku tentang pengetahuan kegelapan." Kepala perpustakaan bilang, dia berjalan menuju rak buku dan mencari.


Satella hanya duduk sendiri dan merasa bosan disana..


Beberapa saat kemudian kepala perpustakaan datang kembali membawa buku yang dia bilang.


"Ini dia." Kepala perpustakaan memberikan sebuah buku.


"Terimakasih." Satella menerima buku itu.


"Jangan lupa dikembalikan." Kata kepala perpustakaan.


Satella mendapat buku pengetahuan tentang ilmu kegelapan dasar..


Satella pergi meninggalkan ruang perpustakaan..


Skip..


Point of view.


Setelah menerima buku yang pas dengan hal yang ingin dicari tahu olehnya, Satella pergi dari ruang perpustakaan dan kembali lagi ke kamarnya di asrama putri.


Sesampainya disana Satella duduk dikursi rias yang ada cerminnya dimana dia biasa merias dirinya disana. Ketika menoleh kesamping, Satella melihat pemandangan kota dari kendalanya yang ada dilantai atas. Lantai tiga lumayan nyaman untuk melihat pemandangan kota. Jalan-jalan besar terlihat dengan kereta naga lalu lalang dengan ruas jalan besar tapi masih padat. Ada banyak bangunan tinggi dan yang hanya satu sampai dua lantai tapi cukup indah arsitekturnya. Itulah perspektif kalau melihat kebawah.

__ADS_1


Disitu Satella duduk dimeja cermin sambil membaca buku yang baru ia pinjam diperpustakaan. Saat sudah jenuh Satella menaruh pita sebagai tanda halaman yang telah sampai dibaca, kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah jendelanya.


Satella menikmati pemandangan..


Tempat Satella memandang alam cukup tinggi. Walau itu lantai tiga tetapi lantai satunya telah diuruk menjadi tinggi. Bangunan lantai satunya itu dua meter lebih tinggi daripada jalan raya ataupun tinggi tanah pada umumnya. Ini seperti memandang dari lantai empat.


Menutup bukunya..


Satella berdiri, melangkah kearah jendela kamar sebagai sarana tuk merefresh Kepala. Pertama rasa pilunya dari ditolak teman yang terlanjur akrab di time-loop kedua.


Bernapas lega...


Puas melihat kearah bawah, kini Satella menatap sedikit kearah atas yaitu tengah. Perspektif pun jadi berubah setelah menatap ketengah.


Yang bisa dilihat ketika menatap ketengah adalah dinding yang mengelilingi kota. Geffenia sangat aman karena punya infrastruktur berupa dinding kota besar yang kerasnya cukup kuat tuk menang didalam pertempuran melawan mesin pengepungan juga meriam.


Sedikit melihat keatas, yang bisa dilihatnya adalah perbukitan di dataran Geffenia. Diatasnya lagi terdapat perhubungan yang lebih tinggi lagi yaitu dataran Juno.


Nama Juno diambil dari nama seorang dewa mitologi..


Didunia ini keberadaan dewa baru sampai pada dongeng anak, belum sampai pada petualangan manusia menuju ke alam mitologi dewa.


Puas merefresh kepala..


Satella menghabiskan sepanjang waktu untuk mempelajari buku pengetahuan dasar kegelapan.


Besoknya...


Hari kedua.


Satella sudah rapih, tapi kali ini memilih tidak keluar dari kamar tidurnya. Membaca buku tentang pengetahuan kegelapan, ia duduk manis mencerna pengetahuan.


Satu jam kemudian...


"Pengen pipis."


Satella segera berdiri, ninggalin bukunya dimeja sambil berlarian kecil menuju luar kamarnya.


Satella hendak ke toilet sekolah.


Kemudian..


Keluar dari bilik toilet perempuan sambil membuang napas yang lega.


"Leganya.. fuh."


Berjalan ke wastafel.


"Aku suka air es di dataran tinggi seperti ini, tapi kalau daratan Juno kayanya gak kuat deh, dinginnya tidak terkira." Komentar Satella.


Menatap cermin.


Satella memutar keran airnya perlahan, memakai kedua tangan lentiknya untuk menampung air keran yang dingin. Membasuh wajahnya yang seputih salju itu dengan air yang sedingin es ini.


"Kya.. segarnya." Menatap lagi wajahnya di cermin.


Kemudian..


Lorong sekolah.


Berjalan di lorong, ia melamun dengan wajah cemberut. Karena melamun terus Satella tidak tahu kemana dia menuju, jangankan tempat tujuan niat saja ia belum punya. yang dilakukan adalah.


"Kenapa Isyana yang awalnya gak banyak ngomong, komentar banyak tentang aku kemarin. Apa Isyana selama ini hanya berpura-pura menerimaku lalu kemarin adalah kesempatan buat terus terang, ya?" Pikir Satella, saat ia memikirkan semua itu wajah Satella menjadi cemberut masam, bibirnya seolah akan jatuh kebawah.


"Sakitnya tuh disini." Batin Satella.


"Lalu bau pekat miasma wicth." Satella menaruh telunjuk dijari.


"Ah.. aku tahu!" Menjentikan jari, Satella mengangkat telunjuknya.


"Bau pekat miasma wicth belum terlalu tercium oleh Violetta. lalu memasuki loop ketiga bau pekat miasma wicth terendus Violetta dengan skill Esper nya yang amat tajam." Satella berspekulasi.


"Sage diary itu adalah item sihir kegelapan yang pembuatannya disebut alkimia kegelapan! Setiap restart terjadi maka, aroma pekat miasma kabut kegelapan tercium jelas oleh mage type Esper." Bisik Satella, dengan mata yang menjadi besar tiba-tiba.


"Karena aku pengguna item sihir tersebut, makanya aku tidak bisa mencium aromanya." Pikir Satella.


Bicara sendiri sepanjang lorong..

__ADS_1


"Eh?" Satella kaget.


"Kenapa aku kesini?" Satella dengan raut wajah bermasalah.


Melamun disepanjang lorong tak disadari Satella tiba dipintu masuk ruang kebutuhan. Tempat paling tersembunyi di kastel akademi sihir hanya kelompok Eris order saja diperbolehkan berdiam didalam.


"Waktunya kembali." Satella pun berlari kecil disepanjang lorong sampai diruang asrama putri


Putar balik.


Skip..


Kamar asrama.


Berdiam diri, Satella melanjutkan rutinitas membacanya. Pada loop waktu ketiga ini Satella mendapat banyak pemahaman tentang ilmu sihir gelap. Iya mungkin berkaitan dengan lawawanya suatu saat.


Duduk membaca..


Fokus mencerna isi buku, mulai membuka lembar demi lembar pengetahuan.


Satu jam kemudian..


"Jenuhnya." Keluh Satella.


Kepalanya menengadah ke atas merasakan kejenuhan.


"Istirahat sebentar." Pikir Satella.


Selanjutnya Satella mencicil lagi pengetahuan yang iya baca hingga jam istirahat tiba.


Ruang perjamuan.


Tidak seperti putaran waktu yang sebelumnya dimana Satella selalu makan siang bersama. Kini Satella menyendiri, pura-pura gak lihat.


Seseorang melewati Satella yang sedang duduk dimeja yang kosong karena Koji sekolah belum datang untuk menyajikan makan siangnya.


"Bau miasma jahat." Ucapnya.


Satella menoleh.


"Violetta?" Satella dengan wajah sedikit shock.


Bagaimana tidak...


Orang-orang yang dekat dengan dirinya di loop yang lalu tau-tau berubah membencinya sekarang, pada loop waktu Ketiga.


Satella melirik, entah bagaimana teman-temannya kini mengambil duduk diposisi yang jauh dengan posisi duduknya.


"Aku dijauhi." Batin Satella yang tertunduk dimeja makan ruang perjamuan sekolah.


Beberapa saat kemudian...


Makan tersaji.


Mnyendok dan mengunyah amat lambatnya. Satella memakannya dengan cara yang tidak berselera makan sedikitpun.


Skip...


Kamar asrama.


Duduk dimeja yang biasa dipakai untuk membaca pengetahuan akan sihir gelap. Pengetahuan tak lagi membuatnya tertarik sekarang. Pemandangan diluar tidak terasa indah lagi bagi Satella sekarang ini.


Diam, melamun...


Satella POV.


Mungkin seperti ini aku yang dulu selalu menyendiri. Meskipun begitu, dulu aku nyaman aja, semenjak aku kenal nyamannya pertemanan itu, bersama mereka. Rasanya pengen seperti itu terus bersama mereka.


Dulu aku terbiasa sendiri, sangat nyaman. Setelah kenal rasanya bersama mereka, aku jadi gak biasa lagi rasanya menyendiri.


Udah gak ada kenyamanan lagi untukku menyendiri.


POV end..


Meratapi.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2