Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
coffee break


__ADS_3

Ruang kebutuhan.


Pagi hari sekali sebelum kelasnya dimulai Satella mengunjungi ruang kebutuhan. Satella memaksakan Theodore untuk bangun pagi-pagi sekali. Menepuk tangan dengan kerasnya didekat sangkar untuk membangunkan Theodore dalam avatar Phoenix. Setelah bangun, Theodore pun menemui Satella dengan wujud avatar manusianya.


"Ada apa master, pagi-pagi gini." Keluh Theodore.


"Malam ini aku bakalan istirahat lebih awal. Kamu mau melakukan sesuatu untuk aku?" Tanya Satella.


"Tanpa ditanya pun pasti akan Theodore lakukan master." Kata Theodore.


"Aku mau kamu mencarikan aku benda lagi." Kata Satella.


"Yes master." Theodore tanpa ragu mengiyakan apapun permintaan Satella.


"Green apple village, dirumah tua yang biasa itu. Benda yang harus kamu cari adalah peta relic yang mengungkap keberadaan mahkota ratu penyihir Helene." Satella pun memberi perintah.


"Kamu bisa tidur lagi kalau kamu masih mengantuk, pastinya kamu harus kerjakan hari ini." Satella mewanti-wanti.


"Yes master." Sahut Theodore.


"Sekalian bereskan rumah tua itu nanti, habisnya sudah lama sekali tidak berpenghuni jadi debunya sangat banyak." Kata Satella.


"Akan ku kerjakan semuanya itu masterku." Ujar Theodore.


"Udah ya, aku mau pergi menuju kelas." Satella segera putar badan untuk melangkah ke pintu keluar ruangan ini.


Sambil melangkah ia pun menoleh kearah dewi Eris seraya tangannya melambai.


"Dadah goddess." Seru Satella.


"Dadah juga." Sahut dewi Eris.


Satella meninggalkan ruangan.


Skip...


Point of view.


Satella menjalani third semester dengan suka ataupun tidak suka. Tanpa terasa sebulan berlalu dan kelas third semester pun sudah setengah jalan. Dibulan pertama berfokus pada pendalaman teori tentang dunia sihir. Awalnya itu pengetahuan yang sangat ringan dengan tingkat kesulitan praktik relatif mudah. Pada bulan kedua pendalaman teori mulai sulit.


POV end...


Didalam kelas.


Instruktur mengajar di kelas, ialah pengajar yang biasa. Ia mengakhiri pembahasannya untuk pergantian kelas berikutnya. Ini beda dengan kelas biasa. Semua murid berusaha berlomba untuk rapih dan tertib dikelas. Mereka pun mengeluarkan terbaik demi disorot oleh penilai, mereka pun berharap bisa bekerja ditempat yang paling bergengsi bagi mage manapun.


Satella duduk manis dengan raut wajahnya yang masam dan sebal.


"Halah.. cari muka, biasanya juga tidak serajin ini mereka para mage amatir." Gumam Satella dengan bernada pelan yang setara bisikan.


"Jangan banyak kritik Stella, aku tersindir juga nih!" Bisik Emili.


Satella menoleh kearah kiri lalu memandang teman sebangkunya, memberi gestur mengolok-olok.


"Aku benci kalian semua, benci orang-orang dikelas ini!" Satella bergumam dengan nada kecil.


Emili mengerutkan keningnya mengukir wajah cemberut.


Suara meja diketuk..


Instruktur mengetuk meja untuk mengambil atensi kelas. Setelah ia yakin bahwa murid-murid sangat memperhatikan maka instruktur memulai pembicaraan.


"Kalian boleh istirahat sebentar sebelum kelas berikutnya." Kata instruktur, tanpa lama ia segera melangkah kearah pintu keluar.


Saat instruktur tiba di depan pintu keluar ia balik badan. Memandang kearah murid-murid.


"Empat puluh menit." Katanya.


Kelas berakhir.


Skip..


Kafetaria.


Sekarang jam istirahat sebelum kelasnya mulai lagi. Beda dengan ruang perjamuan yang bukanya hanya dua kali sehari, yaitu jam makan siang dan makan malam. Kafetaria buka setiap saat untuk bersantai barang sejenak. Satella terduduk sejenak sebelum teman sebangkunya menyapa dan ikut duduk semeja kafe dengannya.


"Hai." Emili melambaikan tangan sebelum duduk.


"...." Satella balas melambaikan tangan saja.


"Kamu jenuh gak?" Tanya Emili.


"Iya." Satella mengangguk.


"Kamu aja jenuh apalagi aku yang malesan ini." Kata Emili, sambil ia memasang wajah yang cemberut.


"Kita punya waktu empat puluh menit, ayo hibur aku!" Kata Satella dengan nada lesu beserta ekspresi lumayan suram.


"Maksudmu, ayo saling menghibur huh?" Emili sebel.


"Iya itu maksudnya." Satella pasang wajah bete yang lesu.

__ADS_1


Satella duduk dengan wajah yang tanpa cahaya, menopang dagunya dengan kedua tangan. Sikunya jelas menyentuh meja sementara dagu bersandar pada telapak tangannya.


"Biasanya cuma belajar dari jam delapan sampai jam dua, sekarang dari jam delapan sampai jam lima sore." Curhat Satella.


"Aku juga gak tahan kalau harus belajar terus." Jawab Emili.


"Saling menghibur apanya Emili payah, dari tadi kamu sama sekali tidak menghibur!" Satella mulai memberi nada mengolok-olok.


"Ya ampun." Keluh Emili.


Tudak lama munculah seseorang dengan aksen paranormalnya tuk bergabung dimeja ini.


"Aku meramalkan bahwa ada dua pecund*ng sedang mengeluh, ya." Seorang dengan aksen paranormal datang dengan tampang lesu yang khas darinya.


Rambut ungu panjang menutupi salah satu matanya.


"VIOLETTA!" Satella bernada sebal


"Salam kembali Stella." Violetta menutupi bibirnya tuk menutupi tawa tanpa suaranya.


"Emangnya kamu gak jenuh apa cewek paranormal yang gak ada gairah hidup." Balas Satella, sebal.


"Apa maksudmu aku cewe gak ada gairah, hidupku dipenuhi motivasi oke!" Kata Violetta.


"Yang ku maksud adalah tampang juga nadamu yang lesu seperti gak punya gairah saja." Satella mulai memberi olok-olokan.


"Bacot mu jadi lebih toxic dari si jenong Isyana." Violetta membalas olok-olokan Satella.


"Amit-amit, jangan samakan aku dengan si jenong itu. Aku hanya ngatain biasa aja, sementara Isyana sangat mirip bawang merah tau." Balas Satella.


"Aku meramalkan Isyana segera menuju kemari." Kata Violetta, ia sedikit menyeringai.


"Panjang umur." Kata Satella.


Awalnya Satella minta Emili tuk menghibur Satella. Alih-alih memberi penghiburan, justru Emili lah yang dihibur Satella.


Emili ketawa ngakak...


Satella pun menoleh kearah Emili dengan wajah sebal.


"Malah aku yang hibur kamu ya ketombe sial*n!" Omel Satella.


"Aku meramalkan." Violetta baru memulai ucapan tapi Satella sudah memotong dengan sebalnya.


"APA LAGI!" Satella sebal.


"Aku meramalkan hari ini kamu mendapat instruktur yang kurang cocok denganmu." Kata Violetta.


"Aku meramalkan kalau kamu bisa bikin instruktur marah, kelas mu akan kosong selama satu pemateri." Kata Violetta.


"Apa katamu?" Satella kaget.


"Maksudku kelas selanjutnya yaitu habis istirahat ini." Kata Violetta.


"Yes." Satella mengepal tinjunya dengan senyum berseri-seri.


Mendapat kelas kosong adalah sesuatu yang diharapkan Satella untuk meredakan jenuh.


"Aku meramalkan bahwa hal yang sama akan terulang satu kali lagi." Kata Violetta.


"Bagus deh." Satella mengukir raut penuh kelegaan.


"Kamu dimusuhi siswi cewe tapi dijadikan pahlawan siswa cowo seluruh kelas." Kata Violetta.


"Ramalan macam apa itu?" Balas Satella sambil mengedutkan alis.


"Yang tadi bukan ramalan tapinya prediksi." Balas Violetta.


"Kenapa siswi cewe memusuhi ku padahal harusnya mereka merasa senang kan kelas jadi kosong?" Kata Satella, mengangkat bahu.


Dengan wajah datar ditambah satu senyum tipis minimalis dibibirnya Violetta, iya menanggapi santainya.


"Karena mereka bucin." Violetta tertawa tanpa suara.


"Bucin?" Satella bingung.


"Budak cinta." Ucap Violetta.


"Maksudku, apa itu budak cinta?" Tanya Satella.


Violetta menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian memberikan gestur berbisik kearah Satella tapi masih terdengar orang lain.


"Perilaku Theodore kepada kamu disebut budak cinta." Kata Violetta.


"Eh?" Satella terkejut sesaat.


"Gimana kamu bisa tahu tentang hal-hal semacam itu sementara belakangan ini kamu jarang ada diruang rahasia kan?" Kata Satella dengan nada kelepasan kerasnya.


Dengan santai Violetta menjawab dengan.


"Aku meramalkannya." kata Violetta.

__ADS_1


"Gila deh, sampai-sampai hal seperti itu diramalkannya." Batin Satella.


Menatap Violetta yang bercitarasa minim ekspresi.


[Satella : ini cewe mukanya sangat datar juga kaya gak ada gairahnya banget. Seolah Violetta kekurangan energi hidup. Aku jadi penasaran, siapa sorang yang dimasa menyukai cewe seperti Violetta ini huh?] 😅


"Aku tau kamu memikirkan apa?" Kata Violetta, datar.


"Eh?" Satella resah.


"Gini-gini aku sangat cantik loh, saking cantiknya sampai-sampai pasangan lelaki Satella dimasa depan diam-diam selingkuh dengan ku." Violetta mengukir senyuman bernada puas.


"Eh.. kamu berani!" Satella kaget sekaligus shock.


"Aku meramalkan." Kata Violetta.


Seketika Satella menyenderkan kepalanya diatas meja.


"Biar gimanapun Violetta itu lebih cantik tiga kali lipat daripada aku." Batin Satella, dengan nada suram yang bikin Emili terbahak-bahak.


Satella mengangkat kepalanya lalu menatap Emili.


"Apa-apaan ini, aku ditertawakan gadis kampung ini!" Umpat Satella kearah Emili.


Emili mengukir wajah konyolnya akibat rasa takut karena dipelototi oleh Satella.


"Oke kembali ke topik!" Ujar Satella.


"Para siswi dikelas memusuhiku karena aku bertengkar dengan pemateri yang berikutnya?" Tanya Satella kepada Violetta.


"Soalnya pemateri yang baru saja tampil pertama itu muda banget, tampangnya tampan seperti duke ataupun pangeran." Kata Violetta dengan wajah minim ekspresinya.


"Benarkah itu?" Tiba-tiba Emili menjadi heboh.


Satella pun menengok kearah Emili sambil memelototi. Emili mengukir wajah ciut karena dipelototi Satella.


"Aku mau tanya?" Satella sambil mengangkat tangan.


"Apa Emili itu bucin?" Tanya Satella.


Sekilas Violetta menatap dengan tatapan konsentrasi kearah Emili sambil menggerakkan tangannya ala-ala paranormal.


"Permisi." Emili dengan raut wajah resah.


"Mau kemana?" Satella menahan Emili, menarik tangannya.


"Jadi penurut supaya gak beku." Ancam Satella dengan raut wajah penuh senyum buatan setengah jengkel wajahnya.


"Aku menerawang banyak sekali kebucinan pada diri Emili." Violetta menyeringai dengan tatapan yang membuat Emili dipermalukan.


Satella menunjuk kearah Emili.


"Emili kamu bucin, dasar bucin!" Satella mengumpat kecil.


"Eh?" Emili memasang raut suram karena tersindir telak.


"Kamu menyindir ku dua kali loh." Kata Emili, menatap Satella dengan wajah suramnya.


"Iya kah?" Satella dengan wajah polosnya, seakan tanpa dosa.


Melihat Satella memiringkan kepala sambil terpejam dengan bibir yang tersenyum sok imut bikin Emili jadi merasa sebal sendiri.


Memakai jarinya tuk menghitung detail, sambil wajahnya mengeram Emili menjawab.


"Pertama kamu sebut aku murid pemalas yang cari muka didepan instruktur. Kedua kamu sebut aku cewe bucin." Protes Emili dengan mimik wajah teraniaya.


Satella hanya terkikik saja atas penderitaan Emili yang dianggap sangat lucu.


Tak lama datanglah Isyana.


"Hai.. hai..." Sapa Isyana.


Kedatangan Isyana membuat Satella jadi muram, sementara itu Violetta yang minim ekspresi cuek saja. Emili gak terlalu kenal sama Isyana sehingga masih canggung.


"Halo semuanya." Isyana kembali menyapa saat tak ditanggapi.


Semua masih diam.


Isyana menarik napas panjang kemudian mengulang tegur sapa dengan nada lebih keras.


"Aku bilang halo semua!" Isyana mengerutkan keningnya, terlihat sangat jengkel.


"...." Violetta memandang cuek pada Isyana.


"Hehe.. aku dengar kok." Satella dengan wajah suram.


"Halo." Seru Emili dengan nada sangat canggung.


"Aku duduk." Seru Isyana dengan energi hidup yang masih banyak.


Satella mulai kusut.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2