
Setelah mengobrol dengan Historia, Satella mulai berani bicara dengan batu bertuah miliknya. Walau agak merinding, Satella memberanikan dirinya berada dikamar. Memegang batu bertuah merah miliknya.
"Hai, batu." Sapa Satella, memegang batu bertuah dikedua telapak nya.
"Hai juga, dan namaku Ruby, ingat!" Protes batu bertuah.
"Iya deh, Ruby...." Seru Satella.
"Ada apa, cewe kecil?" Tanya Ruby.
"Sebenarnya kamu ini apa?" Tanya Satella.
"Aku batu bertuah, aku juga bisa digunakan seperti tongkat sihir." Jawab Ruby.
"Tongkat sihir?" Satella bernada bertanya.
"Mau praktik sihir?" Tanya Ruby.
Satella bengong.
Skip....
Berada di halaman belakang untuk praktik sihir. Di sana ada beberapa boneka kali mekanis yang biasanya dipakai untuk berlatih sihir. Satella akan mencoba apa yang bisa batu bertuah lakukan. Satella memegang Ruby dengan kedua telapak tangan.
"Masih memegang ku dengan cara seperti itu?" Komentar Ruby.
"Eh ... salah ya, memang harusnya seperti apa?" Tanya Satella.
"Aku juga bisa berfungsi sebagai tongkat sihir, kubilang!" Kata Ruby.
Tau-tau muncul seberkas cahaya membentuk gagang tongkat sihir. Walau sifatnya semu dan dapat menghilang lagi, gagangnya cukup padat saat digenggam.
"Maksudmu aku harus memakai dirimu seperti tongkat sihir, ya ... Ruby?" Ucap Satella.
Satella memegang Ruby layaknya tongkat sihir.
"Aku akan menunjukkan kekuatan terkecil ku." Ujar Ruby.
"Kamu bisa menembakkan seberkas sinar laser. Sinar laser adalah sihir berelement white magic. Sihir sinar laser bisa ditahan oleh benda keras seperti perisai, tapi masih memberi efek knock back." Kata Ruby.
"Jadi aku bisa memakai mantra sihir yang belum pernah aku pelajari ya?" Tanya Satella.
"Arahkan tongkat sihirmu kearah boneka kayu!" Perintah Ruby.
"Baik." Balas Satella.
Satella mengarahkan tongkat Ruby kearah boneka kayu. Tau-tau batu ruby bercahaya lalu menembakan seberkas cahaya laser berbentuk bulatan cembung. Proyektil cahaya menabrak boneka kayu hingga itu batang kayu penyangga yang telah tertanam ketanah pun terlepas.
"Hebat...." Seru Satella.
"Ini baru sebagian kecil kekuatan miliku, kubilang." Kata Ruby.
"Bisa apa lagi, bisa apa lagi, bisa apa lagi?" Satella dengan nada antusias.
"Yang tadi itu namanya auto cast, walaupun kamu tidak mempelajari sihir itu tapi kamu bisa memakai sihirnya saat memakai aku.
"Sekarang aku tanya apa kau bisa melakukan flyng magic? Aku tahu kamu tidak bisa. Sekarang dengan kekuatanku kamu bisa melayang diudara." Ujar Ruby.
"Aku bisa terbang?" Tanya Satella, dengan rona senyum diwajah dan matanya berkilauan.
"Kamu hanya harus bayangin aja kalau kamu bisa terbang." Ruby memberikan pelajaran.
"Bayangin, bayangin, bayangin, bayangin, bayangin, bayangan." Satella memejamkan matanya.
Tiba-tiba Satella melayang diatas tanah.
"Aku bisa terbang...." Seru Satella, merasa gembira.
"Tapi movement speed mu ketika terbang terbatas. Kecepatan kamu ketika terbang hanya sedikit lebih cepat dari wyvern atau Griffin. Tapi kamu akan merasa lelah saat kamu terlalu banyak pakai flyng magic." Kata Ruby. Satella mendaratkan kakinya ditanah.
"Ada lagi?" Tanya Satella.
"Aku tidak bisa meregenerasi mana point ku. Tetapi mana point ku itu sangat banyak kapasitasnya. Kamu bisa memberi cicilan transfer mana kepadaku sedikit demi sedikit demi satu pertempuran dahsyat nantinya." Ujar Ruby.
Satella mengangguk.
"Aku bisa membuat perisai yang berbasis white magic, melesatkan gelombang serang sabit cekung berbasis white magic." Kata Ruby.
"Keren...." Seru Satella.
"Mau coba?" Tanya Ruby.
Satella mengangguk.
Skip....
__ADS_1
Beberapa hari telah berlalu sejak Satella memegang batu bertuah berwarna merah. Starla melihat kehebatan Ruby dan Sapphire.
Sementara itu Starla sedang ada di lapangan khusus memanah. Adalah fasilitas yang digunakan penduduk untuk belajar memanah. Umumnya penduduk pemukiman field yang asalnya dari luar dinding maupun dalam dinding memakai fasilitas latihan memanah ini. Mereka yang belajar memanah biasanya untuk berburu hewan atau monster yang berada di field. Bagi penduduk yang miskin, mendapat rusa atau kancil sebagai buruan dapat menghidupi keluarga untuk tetap makan.
Starla memegang busur panah yang pendek disebut short bow. Starla mulai melakukan tarikan sambil membidik papan target. Tangannya Starla menarik busur panah seolah berat tarikannya sangat ringan.
Seperti hal nya Margareth yang mempelajari teknik pedang sejak berusia delapan tahun, Starla juga belajar teknik memanah diusia delapan tahun. Setelah ia belajar teknik memanah, Starla menjadi sangat terampil sebagai archer.
Starla menembak anak panahnya.
"Kena...." Seru Starla, gembira saat sasarannya kena.
Datanglah seseorang kearah Starla. Seperti seorang pelatih panah dari seragamnya. Starla tidak mengenal orang yang baru datang itu.
"Aku suka bakat mu dalam bermain panah." Ucap orang itu.
Starla menoleh sejenak.
"Makasih." Sahut Starla.
"Anak seusia mu, pastinya akan bersekolah di akademi sihir kan?" Kata orang itu.
"Ya, tahun depan." Balas Starla.
"Apa kamu tertarik dengan magic archer?" Tanya orang itu.
"Belum pernah lihat." Jawabnya.
"Kalau begitu perkenalkan namaku adalah Revi. Aku ini seorang pelatih sihir untuk build magic archer. Aku akan menunjukkan betapa hebatnya build magic archer." Kata orang itu.
Pelatih yang bernama Revi segera menunjukkan teknik magic archer. Revi mulai menarik tali busurnya. Ujung anak panahnya bercahaya seolah itu menyerap partikel tenaga sihir. Kemudian Revi melesatkan lesatan anak panah sihirnya.
Anak panahnya melesat lebih cepat daripada anak panah biasa tanpa kekuatan sihir. Penetrasinya pada papan target tiga kali lipat lebih dalam daripada anak panah biasa.
"Mengesankan...." Seru Starla yang wajahnya nampak kagum.
"Apa kamu suka?" Tanya pelatih.
"Aku suka." Jawab Starla.
"Aku menerima jasa kursus privat yang dipanggil kerumah, satu kali latihan dianggap trial atau gratis. Ngomong-ngomong, kapan latihan dimulai?" Tanya pelatih.
"Saat ini juga." Jawab Starla.
Skip....
"Bukan hantu kan kak." Historia dengan ekspresi polosnya.
"Iya, bukan." Balas Satella.
"Hei ... Historia...." Panggil Satella.
"Apa kak?" Tanya Satella.
"Kamu nurut aku atau nurut Starla?" Tanya Satella.
"Keduanya kak, kak Stella dan kak Starla aku tua kan." Balas Historia dengan wajah polosnya yang imut.
"Kalau kami berdua bermusuhan kamu mau bela siapa, huh?" Tanya Satella memasang wajah judesnya.
"Aku akan mendamaikan kalian berdua kak." Balas Historia.
"Tapi aku tuh pengen kamu lebih belain aku! Kalau kamu membela Starla, aku bakalan jahat kepada Historia loh." Ancam Satella, yang dikatakannya sungguh tak sesuai dengan wajahnya yang begitu lugu.
"Aku lebih berpihak kak Stella loh. Habisnya kak Stella adalah yang tertua diantara kita bertiga." Jawab historis, dengan wajah tanpa ada ekspresi dan begitu polosnya.
"Bagus...." Satella puas.
Antara Historia kecil mengidolakan sosok Satella, atau hanya mencari aman saja. Yang pasti Historia cukup pandai dalam menurunkan tensi lawan bicaranya, padahal wajah Historia cenderung agak Kuudere.
Meanwhile.
Sementara itu dikerajaan pamvire sang raja duduk dikursi tahta. Raut wajah sang raja pamvire sungguh tidak bahagia. Wajah yang suram.
Itulah wajah yang dipenuhi oleh dendam kesumat. Ambisi dalam mengalahkan generasi prang suci.
Bagi ras pamvire manusia adalah mahluk lemah yang layak untuk ditaklukkan. Akan tetapi adannya generasi pedang suci membuat pamvire tidak dapat menaklukkan kerajaan manusia. Digagalkan oleh generasi pedang suci dari tahun ke tahun telah mematikan kebanggan bangsa pamvire sebagai entitas terkuat di planet ini. Pedang suci terlihat seperti anjing penjaga yang melindungi sekumpulan domba dari serigala pemangsa.
Seperti itulah pedang suci di mata raja pamvire. Dari waktu ke waktu kerajaan manusia dan pamvir itu pernah berperang beberapa kali.
Dari waktu ke waktu raja pamvire selalu kalah dari generasi pedang suci.
"Mohon maaf paduka raja, bolehkah saya mengganggu?" Tanya penasihat.
"Ada apa penasihat?" Tanya raja.
__ADS_1
"Hamba punya solusi lain untuk mengatasi masalah anda. Rencana untuk mengalahkan pedang suci." Penasihat mengaku punya solusi paling jitu.
"Benarkah?" Balas sang raja.
Semula wajahnya sangat suram sekarang menjadi bercahaya, raja pamvire tercerahkan. Harapan datang ketika penasihat datang membawakan sebuah solusi.
"Saya punya dua rencana." Jawab penasihat dengan ekspresi yang meyakinkan.
"Apa itu?" Tanya raja pamvire.
"Yang pertama adalah menculik keduanya. Kita ada ramuan sihir penghilang ingatan. Kita cuci otak mereka berdua. Kalau gagal, aku memiliki solusi lain untuk dapat kalahkan generasi pedang suci." Penasihat menjelaskan.
"Bagus...." Respon raja pamvire.
"Wahai penasihat, persiapkanlah segalanya!" Perintah raja pamvire.
Raja pamvire mengukir senyuman penuh ambisi.
Kembali ke mansion Charlotte.
Kamar Satella.
Satella berjalan memasuki pintu kamarnya. Entah bagaimana ada seorang didalamnya.
"Kenapa main masuk saja!" Omel Satella.
"Walah ... maaf, aku hanya ingin menunggumu." Jawabnya.
"Menunggu, untuk apa?" Tanya Satella dengan juteknya.
Sosok yang ada dihadapan Satella adalah seorang anak perempuan ras demi-human kucing.
"Untuk memperlihatkan sesuatu." Balas manusia kucing.
"Apa itu Riko?" Tanya Satella.
Tunggu dulu.
Kenapa namanya Riko, padahal ia perempuan.
"Namaku Rika, tuan majikan harap panggil aku dengan benar." Balas manusia kucing itu. Ia tersenyum dengan ekspresi wajah yang nakal.
"Iya, Rika." Satella judes.
"Nya ... asik." Rika senang.
"Mau nunjukin apa?" Tanya Satella.
"Aku bisa sihir penyembuh." Rika tersenyum bangga.
Sejenak Satella bergumam.
"Wajar aja sih, ras manusia kucing punya berkah lahiriah yaitu punya afinitas tinggi terhadap sihir air." Satella pikir.
"Mau lihat?" Tanya Rika.
"Gimana cara lihatnya?" Satella bertanya balik.
"Iris kulit tuan pake silet, aku bisa sembuhkan lagi." Kata Rika.
Satella membentuk es runcing tuk mengiris kulit tangannya. Diusianya yang sekarang ia belum bisa untuk membuat belati es apalagi pedang es.
"Sakit, sakit...." Keluh Satella.
"Nya ... aku akan sembuhkan, aku akan sembuhkan." Ujarnya.
Seperti ada gumpalan air kecil pada goresan lukanya. Hanya lima detik, kulit Satella jadi mulus kembali.
"Apa sekarang Rika sudah berguna untuk tuan Stella." Tanya Rika.
Satella menanggapi dengan diam sejenak seolah berfikir.
"Em...." Satella berpikir keras.
Hingga Satella menjentikan jari.
"Ah, aku tahu!" Seru Satella dengan ekspresi riangnya.
"Tuan Stella?" Seru Rika.
"Mulai sekarang kamu harus giat berlatih. Habisnya cita-citaku itu menjadi penyihir hebat. Pasti aku bakalan butuh kepala kesatria yang setia dan hebat. Ku minta jadilah kesatria hebat, agar kelak menjadi kesatria ku." Kata Satella kecil.
Lantas siapa manusia kucing itu berserta asal-usulnya.
~Bersambung~
__ADS_1