
Hari ketiga.
Akhirnya Satella terbangun dipagi harinya. Satu hal yang bikin kaget dirinya adalah posisi tidurnya itu.
"Eh?"
Satella pun berkedip beberapa kali agak cepat. Wajahnya menampakan ekspresi tidak percaya sekaligus wajah yang bersyukur.
"Aku sudah bisa terlentang loh sekarang?"
Satella perlahan berdiri dari atas kasurnya berjalan menuju meja cermin. Satella dengan gaun tidur tipis berwarna hitam.
"Rasa linu atau nyeri sudah tidak terasa lagi." Gumam Satella.
Berdiri didepan cermin sambil mengangkat bagian bawah baju tidurnya. melihat tubuh bagian bawahnya yang tak memakai pantsu. Yang dilakukan Satella adalah memeriksa warna dikulitinya, apakah pantatnya itu masih memar biru ataukah sudah sembuh berwarna putih salju.
Satella pun memandang wajahnya sendiri di cermin. Satella mengukir ekspresi senyum selebar-lebarnya dengan rona bahagia pada pipinya. Dilihat dari ekspresi itu sepertinya Satella sudah sembuh dengan warna memar dikulit sudah menghilang.
"Tidak ada wanita yang kulitnya seputih elves salju." Ucap Satella dengan keceriaan pagi.
"Dark elves hitam manis tapi itu cantik menawan, night elves ras percabangan elves yang memiliki karakteristik nocturnal. Sementara wild elves adalah percabangan ras elves yang hidupnya dikedalaman hutan. Moon elves adalah cabang elves yang paling elite mereka itu bangsawan diantara ras elves. Lalu ras sprites adalah percabangan ras elves yang lucu dan menggemaskan, sebab berapapun usia mereka, tubuh maupun wajahnya itu selalu mirip anak-anak. Dan yang paling langka adalah aku, ras snow elves."
"Saat winter tiba stamina dan vitalitas ras snow elves menjadi sekuat, vampir."
Satella jijik ketika menyebut kata vampir.
"Aku benci vampir!"
Satella mengangkat tinjunya.
Satella bicara sendiri didepan kaca cermin. Memandang takjub sosok refleksi diri sendiri. Ialah seorang anak persilangan dari ayah yang seorang manusia dan ibu seorang snow elves. Kesembuhan mencapai kata sedikit lagi akan sembuh total.
"Ayah manusiaku itu cukup pintar untuk memilih gadis snow elves seperti ibuku itu lalu bersandingan. Kemudian hadirlah aku, manusia setengah elves yang kulitnya itu seputih salju, tentu ini ciri khas snow elves yaitu kulit seputih salju."
"Kedua kakakku lebih dominan dengan gen manusianya sementara gen elves cendrung encer. Berbeda denganku, kedua kakakku memiliki kuping ala manusia." Gumam Satella.
"Mungkin snow elves yang tersisa didunia ini cuma aku. Kalau ada selainku paling cuma hitungan jari saja, alias gak lebih dari sepuluh populasinya, kupikir." Agak sedikit centil dia pun mengibas rambutnya itu walau masih berantakan karena ia habis bangun tidur.
Satella mengendus..
Satella mencolek kulit tangan atas kemudian ditengok jari yang baru dipakai mencolek itu.
"Keringat yang mengering." Gumam Satella.
"Demi dewi.. aku belum mandi selama dua hari." Satella gusar.
Satella pun membuka lemarinya kemudian mengambil handuk dan beberapa peralatan mandi.
Skip..
Kali ini waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Satella sudah selesai dengan agenda membersihkan diri. Satella pergi menemui teman-temannya diruang paling rahasia di sekolah. Ruang kebutuhan adalah tempat dimana keberadaannya bahkan kepala sekolah dan para guru tidak mengetahuinya. Kini Satella ada dilantai sembilan dengan karpet permadani dinding dengan gambar Shrek lucu. Satella mondar-mandir tiga kali sebagai ritual masuknya.
Ruang kebutuhan.
"Hai.. hai..." Sapa Satella.
"Selamat pagi." Sambut dewi Eris bersama yang lainnya.
Satella menginjak kaki dikarpet warna biru tua. Melangkahkan kakinya menuju meja yang ada diposisi paling tengah ruang ini.
"Sudah sembuh." Iota memulai pembicaraan, tetapi diinterupsi Isyana yang resah.
Isyana yang duduk disampingnya membekap mulut little Iota.
[Isyana : kalau sampai Minerva tahu ulahku yang mencelakai Satella itu, matilah aku.] 🤯
Hmm.. mph...
Little Iota gelagapan saat mulutnya dibekap Isyana.
"Apa yang kamu lakukan!" Minerva mulai mencurigai keanehan Isyana.
"Maaf bercanda." Isyana berdalih, melepas bekapannya pada Iota.
"Kenapa Satella huh?" Minerva bertanya kepada little Iota.
"Kemaren dia." Belum sempat Iota bicara, Isyana mencubit lengannya sekuat tenaga.
__ADS_1
"Sakit!" Keluh Iota, merintih.
"Apa yang kamu lakukan Isyana?" Omel Minerva.
"Gak ada apa-apa." Isyana terkekeh.
"Tapi kamu cubit aku sampai biru begini, Sahna jahat!" Omel Iota.
"Anu.. aku emang suka usil." Dalih Isyana, sambil cengar-cengir.
"Sudah.. sudah.. jangan berantem." Bujuk dewi Eris, mererai.
"Tadi kamu bilang ke Satella, apakah sudah sembuh?" Minerva menatap kearah little Iota. Maka mimik wajah Isyana semakin kalang kabut saja dibuatnya.
"Kemarin itu aku habis kepeleset dikamar mandi." Jawab Satella.
Satella membela Isyana..
[Isyana : syukur deh ada yang bela aku, Satella kamu baik banget.] 😁
Isyana bernapas lega..
"Jenong jahat!" Iota memanyunkan bibirnya karena sakit hati setelah dicubit Isyana sampai memar biru.
"Maaf imouto ku." Isyana terkekeh menatap wajah cemberut Iota yang amat imut, manyunnya kelewatan lucu mirip anak kecil super imut.
"Hehe.. imouto, wajar sih Iota itu imut banget." Satella terkikik geli.
"Kamu baik-baik saja adik imut." Canda Satella kearah Iota.
"Baik-baik saja dengkul mu, memar biru gini juga, dasar rambut bihun!" Omel Iota.
"Jangan marah-marah dong imouto ku, kamu imut deh." Satella terlihat gemes pada little Iota.
Satella mengeluarkan kain tipis disaku nya jubahnya. Kemudian memunculkan es batu kemudian jadilah kompres es. Kemudian disodorkan kepada little Iota.
"Kompres pake ini." Satella ngasih sedikit bantuan.
Balasan little Iota adalah segera berdiri. Menaruh kedua tangan dikuping sambil menjulurkan lidahnya Iota mengolok-olok.
"Gak butuh aku, sama sekali gak berguna, huek!" Iota menjulurkan lidahnya seraya mengolok-olok dengan gestur yang sangat lucu dan imut.
Iota melangkah kearah dewi Eris kemudian dengan gestur lucunya.
"Tolong aku dewi Ilis." Pinta Iota dengan gerak-gerik yang sangat keterlaluan lucunya.
Eris terkekeh..
Lalu dewi Eris menaruh ujung jari pada bagian kulit tangan Iota yang mengalami memar. Dalam sekejap memar pulih dengan sihirnya itu.
Cleric !!
"Simsalabim, dah sembuh." Canda dewi Eris, diselingi tawa kecil.
Kemudian little Iota melangkah ke posisi duduknya Satella. Iota segera mengolok-olok Satella kembali dan terlihat lucu. Kedua tangan olehnya dipasang dikuping sambil jemari bergerak-gerak. Lidah kucing Iota berbentuk amat kecil menjulurkan layaknya gerakan lidah ular.
"Jangan sensi dong sama aku, kecil." Satella menyipitkan matanya.
Kemudian little Iota melangkah ke dekat Isyana. Setelah sangat dekat, Isyana cengar-cengir sendiri lalu mengedutkan alisnya agak resah.
Little Iota menjewer kuping Isyana sekerasnya. Kuping Isyana ditarik sampai Isyana terjerembab hingga kepalanya menyentuh meja. Suara kecil karena jidatnya membentur meja dengan lumayan keras terasa.
Jedug...
"Kya.. sakit! Bocil sakit!" Isyana pun sampai jejeritan dibuatnya.
Tangan Isyana sangat kecil amat lentiknya seperti tangan anak-anak. Saat tangan Iota memegang daun telinga Isyana, seperti tangan bayi memegang telunjuk orang dewasa saking lentiknya tangan little Iota.
"Aduh bocah kecil!" Omel Isyana, memegang keningnya yang sakit.
"Jidatku terbentur meja kan dasar cebol!" Isyana merintih rasa sakit.
"Syukurin dasar jenong!" Iota menjulurkan lidah mengolok-olok.
Suasana hening...
Untuk beberapa saat suasana jadi sangat tenang. Semua terdiam dan kegaduhan bisa di-jeda sebentar.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong apakah pet milikku baik-baik saja dewi Eris?" Tanya Satella, memecah suasana heningnya.
"Baik-baik saja." Jawabnya.
Tau-tau Violetta memotong arah pembicaraan dewi Eris dan Satella.
"Phoenix itu mampu tidak makan dalam waktu lama, ia mahluk yang abadi." Violetta dengan nada yang sangat datar ciri khas paranormal.
Satella menoleh kearah Violetta sambil ia mendengar. Satella terkejut karena Violetta sudah pegang buku pengetahuan mahluk sihir secara spontan tanpa diduga-duga.
"Loh?" Rongga mulut Satella pun terbuka karena tercengang.
"Loh kenapa?" Balas Violetta.
"Kenapa kamu tau-tau memegang buku itu?" Tanya Satella.
"Karena aku tau kamu akan bahas tentang itu." Jawab Violetta, datar.
"Sejak kapan kamu tahu aku akan bahas ini, padahal baru saja bilang tadi banget." Satella mengerutkan keningnya, jiwa paranormal milik Violetta sukses meresahkan arah pikiran Satella.
"Mudah saja!"
Violetta mengangkat telunjuknya.
"Aku punya third eyes."
"Aku meramalkan Satella akan membahas ini."
Itulah jawaban Violetta.
"Meski begitu kamu sudah siapkan bukunya sejak kapan, sementara ramalan mu saja baru keluar tadi Violetta." Satella mengkerutkan keningnya hingga mimiknya mirip model iklan obat parasetamol saja.
"Saat aku melihat sangkar burung berisi Phoenix ada disini, akupun membawa buku ini. Aku membawa buku ini karena aku memprediksi bahwa percakapan semacam ini bakalan terjadi." Jawab Violetta.
"Memprediksi dan meramalkan itu beda loh ya." Violetta yang punya wajah minim ekspresi pun sampai menutup bibirnya. Garis matanya Violetta menampakkan bahwa ia sedang tertawa. Ketika Violetta tertawa itu hampir tanpa suara.
"Oh tidak.. aku tidak mungkin bisa menang debat sama paranormal minim ekspresi ini!" Satella geram.
"Walah.. liat tuh, kamu udah bikin Satella jadi stress." Canda Minerva, terbahak-bahak seperti obat awet muda yang alami. Wajah Minerva dengan pembawaan galak sudah dibikin jadi sangat riang gembira.
Satella menghela napas..
"Bully saja aku!" Satella dengan wajahnya yang pasrah.
"Baiklah aku akan segera memberi makan Phoenix!" Ucap Satella.
Satella berjalan menuju sangkar Phoenix. Hamster semula berada dikandang kaca dilempar kedalam sangkar jeruji burung Phoenix. Langsung disisir saja hamster itu sampai jadi kerangka. Kerangka hamster langsung jadi abu kena kobaran api dari bulu Phoenix.
"Hai Phoenix, apa kamu dengar!" Dengan konyolnya Satella malah mengajak Phoenix bicara.
"Terimakasih kamu membelaku waktu itu, kamu hebat sewaktu melawan ular balisik." Satella tersenyum riangnya, tak lama ia cemberut setelah ia menyadari Phoenix tidak bisa diajak bicara.
"Sedihnya." Satella memanyunkan bibirnya.
"Tella oh.. Tella, harusnya kamu paham kalau Phoenix tidak bisa diajak bicara." Iota menertawai.
Dengan ekspresi tengil yang amat imutnya Iota pun mengolok-olok Satella.
"Dasar Tella bod*oh!" Sindir Iota.
"Little Iota.. stop!" Omel Minerva.
Iota diam..
"Syukur!" Isyana pada Iota.
Sementara dewi Eris melangkah ke dekat Satella. Dengan senyuman setulus senyum ibu dewi Eris pun mengusap punggung Satella lalu memberikan penghiburan ampuh.
"Kamu mau supaya Phoenix bisa bicara?" Tanya dewi Eris.
Satella menoleh kearah dewi Eris kemudian dengan wajah yang agak cemberut ia pun mengangguk. Melihat betapa manyunnya bibir Satella membuat dewi Eris mencubit keras perutnya sendiri karena tak kuasa menahan tawa perutnya keram.
"Oke.. aku bisa buat Phoenix jadi mampu berbicara." Ujar dewi Eris.
"Benarkah?"
Satella mengukir senyuman ceria persis wajah anak kecil yang paling ceria di dunia.
__ADS_1
~bersambung~