Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
naik darah


__ADS_3

Terjadi perdebatan alot diantara Minerva dan kepala sekolah tentang titik tengah siapa yang harus jadi tertuduh. Atas laporan beberapa orang saksi menetapkan Satella. Sementara itu Minerva bersikeras menuduh Jason, karena memang dialah pelakunya.


"Yang orang-orang lihat itu bukan Satella, tapi pangeran kegelapan! Apakah saksi anda mengkonfirmasi bahwa sang caster memiliki kuping elves atau manusia?" Minerva pun menahan lagi emosinya, memberi argumen kepada kepala sekolah.


"...." Kepala sekolah terdiam dengan raut muka yang bermasalah.


"Jason adalah sumoner yang telah memanggil pangeran kegelapan! Menggunakan horcrux cincin agar bisa membangkitkan sang pangeran kegelapan." Minerva ngejelasin.


"Kenapa anda mudah menuduh Satella! Tetapi sulit menuduh Jason sebagai pelakunya?" Minerva kian geram karena tak direspon.


"Ini bukan wewenang ku, kasus ini sepenuhnya otoritas polisi militer kerajaan." Jawab kepala sekolah menunduk pasrah.


"Jadi yang bersembunyi dibalik rak buku adalah KACUNG KERAJAAN!" Seru Minerva, saat memberi julukan pada aparat, Minerva teriak dengan nada meninggi layaknya singa.


"Eh? Loh.. kamu tau?" Bisik Satella terbengong atas keahlian Minerva dalam mengungkap sosok yang bersembunyi dalam ruangan.


"Keluar kalian! Amatiran atau aku runtuh kan pijakan kalian, bukan hanya itu. Alas kalian terjatuh akan aku sihir menjadi tombak tanah." Minerva bernada keras memberi ancaman tegas.


"Tapi melawan aparat adalah satu pelanggaran hukum bukan." Satu personil polisi militer keluar dari tempat persembunyiannya. Panggil saja yang paling senior.


"Tapi, main tangkap seenaknya itu adalah kesalahan." Balas Minerva.


"Keluar kalian dua orang! Atau aku runtuh kan pijakannya." Minerva memberi ancaman.


"Maaf tapi kami harus menangkap terduga pemantra." Kata kru polisi militer yang paling senior.


"Silahkan." Jawab Minerva.


"...." Satella menelan ludah dengan perasaan pasrah setelah Minerva bilang demikian.


Tapi saat polisi militer melewati Minerva, gadis pirang atletis itu bergeser kesamping menghalangi aparat. Saat posisinya berhadapan, Minerva mendorong tubuh polisi.


"Silahkan.. kalau bisa!" Minerva melawan.


Plak..


Polisi militer bertindak represif, menampar Satella. Minerva pun mengangkat tinjunya, mengaliri energi sihir kepada tangannya.


Minerva butuh satu langkah untuk meninju telak. Polisi militer kaget karena tau-tau Minerva meninju dadanya. Entah bagaimana tinjuan tinju Minerva menghasilkan efek gelombang kejut. Polisi militer itu terhempas sampai menabrak pintu keluar walaupun pintu itu jauh jaraknya. Bukan hanya itu, pintu sampai terlepas dari temboknya. Kuningan besi yang memaku pintu pada tembok pun sampai pecah.


Efeknya adalah kru polisi militer langsung terkapar, tak bertenaga bahkan tidak bisa bangun lagi malahan tersedak batuk darah. Sebelum pingsan dia memakai semacam benda sihir berbentuk liontin. Item itu mengkonfirmasi kalau target melawan.


Meanwhile.


Persimpangan jalan. Sekumpulan polisi militer dengan pedang dua tangan dipunggung, flintlock pistol dipinggangnya.


"Semuanya ayo ke TKP! Terduga melakukan perlawanan." Polisi militer menerima sinyal melewati peralatan sihir, memberi perintah untuk pergi ke lokasi.


Sekumpulan polisi militer dengan jumlah dua regu bergegas menuju lokasi ruang kepala sekolah.


Ruang kepala sekolah.


Dua anggota lainnya kalang kabut kemudian mengeluarkan flintlock pistol. Menodong Minerva dengan senjata api.


"Senjata api lebih cepat daripada mantra sihir!" Polisi militer itu menodong Minerva.


"Iyakah?" Minerva mengangkat bahunya.


"Tolong kerja samanya." Ujar kru polisi militer, terus menodong.

__ADS_1


Tiba-tiba Minerva sudah megang bebatuan sihir. Melempar bebatuan sihir kearah polisi militer, dua kali ayunan tangan Minerva melempar batu sihir kearah dua kru polisi militer tersebut. Minerva berhasil melempar dengan akurat, dengan sukses meledakan flintlock pistol polisi militer. Dua pucuk flintlock pistol hancur dan tidak bisa lagi digunakan, mereka panik.


"...." Polisi militer menelan ludah akibat kengerian Minerva.


Ternyata itu bebatuan sihir yang berisi sihir ledakan.


"Amatir." Umpat Minerva.


Kedua polisi militer itu langsung menarik pedang dua tangan yang panjang dari punggung. Kembali menodong pada Minerva, kali ini menodong dengan pedang.


"Jangan melawan!" Gertak polisi militer, menodong pedang.


"Ayo.. tangkap terduga nya, kalau berani!" Tantang Minerva.


"Kita ini polisi militer, kita tidak boleh takut, ayo maju!" Satu orang menyemangati. Mereka berdua pun maju dengan beraninya.


Maju secara barbar dan tanpa skill juga pengalaman yang mumpuni pada bidangnya, mereka seperti keroco. Minerva tak berniat untuk membunuh, tapi mereka ceroboh.


Minerva menghentakkan kakinya kelantai. Mengakibatkan dampak gelombang kejut pada pijakan yang membuat mereka terpeleset. Dua personel tersungkur dilantai begitu saja. Minerva langsung menginjak punggung mereka masing-masing sekali, berarti tiga polisi militer dilumpuhkan dalam sekejap saja.


"Satella ayo ikut!" Seru Minerva.


Tanpa bertanya pun Satella sudah tahu mau dibawa kemana. Satella berlari mengikuti Minerva dari belakang. Tapi kepala sekolah tak membiarkan itu terjadi. Tau-tau kepala sekolah menyulap tembok tanah pada celah dipintu yang telah dijebol oleh Minerva.


"Hentikan itu!" Seru Minerva yang mengepalkan tinjunya.


Minerva mengalirkan energi sihir kepada kepalan tangan. Pukulan berkekuatan sihir tanah pun siap untuk dilepaskan oleh Minerva. Minerva meninju dinding tanah penghalang. Sempat memunculkan retakan, dengan cepat retakannya pulih kembali. Minerva putar arah kemudian menatap sinis kearah kepala sekolah itu sendiri.


"Apa? YANG ANDA LAKUKAN!" Sentakan Minerva, menumpahkan rasa murkanya.


"Anda tidak boleh melawan hukum karena itu berbahaya dan sangat tidak baik." Kepala sekolah telah berdiri berhadapan dengan gadis pemarah, murka dihadapannya.


"Maaf, saya harus membantu kerja aparat kerajaan. Ada hukuman yang menanti anda." Balas kepala sekolah.


"Kalau aku seorang kepala sekolah, takkan kubiarkan murid diserang ataupun jadi tertuduh tanpa bukti yang jelas." Ujar Minerva.


"Sudah jelas kan! Bukti yang telah didapat polisi militer itu, semua ini keputusan yang diambil sendiri oleh polisi militer. Bukan kehendak ku." Ujar kepala sekolah.


"Berarti anda ber-pengecut!" Umpat Minerva, menghempaskan tinjunya kearah samping.


"Permisi?" Ucap Kepala sekolah.


"Menjadi kepala sekolah berarti harusnya melindungi setiap murid. Apa anda pasrah saat murid anda ditangkap oleh polisi militer? Meski itu tindakan tangkap sembarangan? Harusnya melindungi, tapi karena anda tidak punya keberanian jadi mengalah saja walau benar." Ujar Minerva, menyerang melalui urat syarafnya yang telah mendidih.


"Kalau begitu anda saja yang jadi kepala sekolahnya." Balas kepala sekolah.


"Jawaban yang tidak bermutu! Tapi kalau seandainya aku kepala sekolah maka akan kulakukan yang lebih, bukan tapi jauh lebih baik daripada tindakan pengecut mu itu!" Hanya cacian yang dilontarkan Minerva.


Minerva meninju pintu penghalang berkekuatan sihir tanah, tapi gagal menjebol. Mengumpulkan kekuatan sihir jauh lebih kuat dan jauh lebih terkonsentrasi lagi. Memukul dan menghasilkan gelombang kejut yang sangat besar, bahkan itu membuat semua rak buku rubuh. Tapi tetap gagal. Apapun yang ditinju Minerva akan dibentengi sihir tanah oleh kepala sekolah. Ini seperti mengadu kekuatan sihir tanah dengan tanah.


"Minerva.. afinitas sihir tanah mu adalah sepuluh." Kepala sekolah.


"Satella.. afinitas sihir es milikmu adalah tiga belas." Kepala sekolah kembali bicara. Telah berdiri dan perlahan mendekati mereka.


"Kalian adalah bakat tertinggi yang ada di akademi sihir, mana bisa aku membiarkan kalian melawan hukum kerajaan dan jadi buronan nantinya." Kepala sekolah bilang.


"BERISIK!"


Minerva akan meninju dinding berkekuatan sihir tanah kembali. Tangannya terhenti, dia menarik tinjunya yang tak jadi dilepaskan kemudian putar badan. Dengan cepatnya Minerva berlari satu langkah kemudian memegangi tangannya Satella.

__ADS_1


"Tua bangka!" Minerva menendang lantai dengan kekuatan sihir yang berelement tanah. Kepala sekolah ditipu oleh Minerva sehingga tidak sempat membentengi apa yang diincar Minerva. Lantai pun rubuh kelantai bawahnya sehingga mereka berhasil loloskan diri.


Melangkah menuju kelubang yang ada dilantai. Melihat kebawah dan sudah tak ada kedua murid yang pembangkang lagi. Dinding tanah yang memblokir jalan keluar ruang kepala sekolah telah dituntaskan durasi sihirnya.


"Lolos." Ucap Kepala sekolah.


Skip...


Lantai enam.


Berhasil kabur setelah menjebol lantainya. Minerva dan Satella pun berlari kearah tangga dengan niat menuju lantai sembilan. Mereka tak menduga sama sekali kalau beberapa regu akan datang kearah mereka.


Regu polisi militer berada dilantai lima saat Satella dan Minerva baru tiba dilantai lima. Mereka berdua baru akan naik kelantai tujuh.


"Hei itu dia tersangkanya!" Ujar ketua regu.


Minerva menarik tangan Satella supaya menjauhi anak tangga dulu untuk saat ini. Dua regu mengejar mereka disepanjang lorong hingga terjebak di lorong yang buntu.


"Oh tidak! Salah jalan." Seru Minerva.


"Hei tunggu!" Seru polisi militer.


Sesuatu tak terduga dilakukan oleh Satella untuk merubah jalannya alur situasi. Dengan kekuatan Minerva yang cukup superior, bisa saja dia mengalahkan regu polisi militer itu sendirian. Setidaknya mereka itu hanyalah knight biasa yang tidak memiliki grade setingkat perwira.


Tapi..


"Biar aku saja." Gumam Satella.


Satella membekukan Minerva. Iya semua itu dia lakukan secara tidak terduga. Kemudian Satella mulai dengan gertakannya.


"Mundur kalian! Atau aku bunuh siswi ini." Ancam Satella.


"Lepaskan sanderanya! Kami akan menahan mu tanpa tindak represif. Kamu punya hak untuk tidak melawan supaya tidak disakiti." Tegas ketua regu polisi militer kerajaan.


Satella pun sukses membuat aparat mengira Minerva sebagai sandera sehingga ia tak dijadikan tersangka penyerangan terhadap polisi. Lalu Satella menyerahkan dirinya supaya Minerva aman. Walaupun masuk penjara lagi, tapi Satella bisa saja keluar dari sana kapanpun dia mau.


Skip..


Ruang kebutuhan.


Yang berada diruang kebutuhan adalah lima orang. Minerva sedang dipulihkan oleh dewi Eris, sedang menggigil disofa memeluk selimut.


"Apa yang terjadi?" Tanya dewi Eris.


"Cewe naif itu mengorbankan diri supaya aku gak terlibat. Aku hampir terlibat hukum karena membantu meloloskan Satella yang saat ini jadi tersangka. Aku gagal mengantarnya kabur kesini." Ujar Minerva sambil menggigil kedinginan.


"Akulah yang salah karena tidak mengambil tindakan apapun." Seorang goddess tertunduk sambil merasa bersalah.


"Jangan menyalakan diri sendiri goddess." Minerva membela.


"Sekarang apa rencana kita?" Tanya Violetta.


"Aku hanya ngeri kalau-kalau nanti Satella diinterogasi, aku gak kuat ngebayangin anak itu disiksa oleh penyidik polisi militer." Minerva terbaring disofa, sedikit gelisah.


"Aku tau dimana dia berada! Kalian ingin aku menerawang lokasi itu, tidak?" Tanya Violetta.


"Lakukan Violetta!" Pinta Minerva dengan tidak sabaran.


Apa yang terjadi di fase interogasi versi loop waktu kedua ini? Mari lihatlah...

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2