Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Survive


__ADS_3

Yang Satella tau, ia baru saja pergi tidur.


Barang kali sesuatu yang terlihat seram adalah mimpi. Satella baru mengalami sebuah mimpi yang lumayan mengerikan baginya itu.


Alih-alih terbangun dalam kondisi terbaring, Satella tersadar dalam keadaan duduk. Satella terduduk disaat makan malam. Saat pemilik memberitahu bahwa penghuni penginapan akan diselidiki adalah sore hari tadi. Awalnya kupingnya terasa tuli tanpa ada suara sekecil apapun. Awalnya penglihatannya terasa sangat buram dan kabur.


Satella mulai mendapatkan semua indera miliknya.


Satella tahu pasti.


"Aku mengalami restart?" Ceracau Satella.


Lantas Satella langsung berdiri dan bergegas mencari Reiner. Satella menyadari bahwa yang diserang werewolf dihari pertama adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.


"Hei ... Reiner. Dimanakah kamu Reiner...." Seru Satella sambil terus mencari-cari keberadaan pengawalnya.


Dimana sang penjaga? Satella terus mencarinya.


Meja makan tidak penuh karena sebagian orang telah usai dengan makan malamnya.


Skip....


Berada di suatu lorong. Satella pun berlari pelan kearah sang penjaga sambil memanggil namanya secara berulang dengan perasaan cemas.


"Hei, Reiner...." Seru Satella.


Reiner sedang mengobrol dengan salah seorang penghuni. Menoleh kearah Satella karena kedatangan Satella. Mengulurkan tangannya kearah Satella sebagai responnya.


"Ada apa, Stella?" Tanya Reiner.


"Cepat ikut!" Satella pun menarik tangan Reiner.


Kamar.


Mereka langsung berinteraksi kala mereka baru sampai.


"Werewolf akan mengingatkanku malam ini!" Ujar Satella dengan perasaan cemas.


"Benarkah?" Tanya Reiner.


"Tolong kawal aku! Penjaga tolong aku!" Satella dengan nada seperti merengek.


Reiner pun mengerutkan keningnya sambil menggaruk belakang kepala.


"I-iya tentu, aku akan berpatroli didepan pintu kamar anda Stella." Balas Reiner.


"Jangan! Bukan seperti itu caranya! Kamu akan terjaga disini kala aku tertidur malam ini. Lindungi aku dimalam pertama!" Satella dengan cemas menarik-narik lengan sang penjaga. Reiner kian canggung.


Reiner gagal paham.


"Malam pertama?" Reiner malah menampakkan senyum bermasalah.


"Aku akan mati, selamat kau. Buat aku hidup sampai esok hari. Tolong aku penjaga!" Satella dengan nada merengek, meminta bantuan pada penjaganya.


"I-iya, jadi, aku harus bagaimana?" Tanya Reiner.


"Kamu diam disitu! Berjaga sampai esok hari!" Ujar Satella, sambil ia menunjuk kearah sudut ruangan.


"Baik." Reiner dengan gugupnya.


Akhirnya Satella menjaga Reiner terjaga sampai pagi. Satella mulai memejamkan matanya dan tidur.


Hingga suara benturan kayu yang sangat-sangat keras terdengar lagi. Suara yang sama dengan yang ada dimalam lalu. Awal yang serupa dengan sebelum perulangan waktu.


Spontan Satella membuka matanya setelah suara kayu dipukul dengan sangat kerasnya.


Mata mulai terbuka walaupun itu terasa rapat. Mulai mengucek-ucek matanya. Kala mata belum terbiasa terbuka, suara yang didengarnya adalah suara penjaga nan lantang.


"Siapa disana?" Seru Reiner.


Satella dapat mendengar suaranya, tapi belum mampu melihat secara biasa. Satella masih mengucek-ucek matanya. Perlahan tenaga untuk membuka mata dan menggerakkan pinggulnya mulai muncul. Satella mulai menggerakkan pinggulnya untuk bangkit dari posisi tiduran.


Suara besi bertabrakan dengan sesuatu. Dari suaranya itu seperti sebuah besi dipukul oleh sesuatu.


Persis suara besi dipukul kayu.


Slash....


Terdengar suara daging ditebas sebilah pisau daging.


"Oh tidak, tersangkut!" Seru Reiner.


Satella yang berada dalam posisi terduduk diranjang, pelan-pelan menoleh ke sumber suara. Dikala Satella melihatnya secara penuh.

__ADS_1


Yang dilihatnya adalah.


Reiner memegang sebuah perisai dengan dua tangan. Pedang yang semula dipegangnya tertancap di bahu sang werewolf. Yang dapat dilakukan Reiner hanya bertahan. Pedangnya tersangkut di tubuh werewolf. Kala Satella melihatnya, Reiner sedang berada didalam keadaan antara hidup dan mati.


Werewolf mengayunkan tangan kanannya. Reiner menahan cakar werewolf dengan perisai besinya.


Setiap kali werewolf mencabiknya, Reiner menangkis dengan perisai. Setiap Reiner menangkis serangan werewolf, perisai memuncratkan darah segar. Ternyata cakarannya menembus perisai beserta pelat armor di pelindung tangannya lalu kulit dan dagingnya ikut terkoyak.


Werewolf melolong.


Beberapa petugas polisi militer mungkin mulai terbangun, tetapi mungkin saja belum berani tuk mengambil tindakan apapun.


Werewolf mulai mencabik Reiner beberapa kali, tapi ditahan oleh perisainya. Perisai dan armornya mulai hancur secara perlahan.


Luka sayat yang diderita Reiner semakin parah.


Satella semula diam mematung karena gemetar, perlahan mulai mengumpulkan keberaniannya.


Satella bangkit dari sisi ranjangnya.


"Cepat lari!" Seru Reiner.


"Diam, diam, diam, diam, diam, gak punya otak...." Satella menjerit.


Satella memakai sihir telekinesis untuk menarik pedang Reiner yang tersangkut di tubuh werewolf. Kala pedangnya mulai tercabut, sosok werewolf mulai melolong seolah mampu merasakan rasa sakitnya.


Akhirnya pedang berhasil dicabut dengan bilah yang kotor karena dilumuri darah werewolf. Pedang tergeletak dilantai, spontan Reiner berusaha menggapai pedangnya.


Reiner telah memungut pedang miliknya.


Tak hanya bertahan dengan perisai saja, kini Reiner dapat menyerang balik werewolf.


Satella mulai membentuk balok es berbentuk kubah segi delapan yang cukup besar. Kecil pada awalnya, perlahan semakin membesar saja.


"Tahan dia Reiner!" Seru Satella.


Reiner sempat menoleh kearah belakang. Melihat penyihir sedang melakukan proses sihir, Reiner merasa diatas angin dan sekuat tenaga menahan werewolf agar penyihir menyelesaikan sihirnya.


Werewolf mencabik, lalu mencabik lagi. Tujuh kali werewolf mencabik Reiner. Dua kali elakan berhasil, sisanya harus memperbanyak lagi luka-luka sayatan ditangan sampai bahunya. Tangan sebelah kanan ikutan tercabik. Walau memakai pelindung lengan dengan besi nan tebal tapi tetap terkoyak sampai ke serat dagingnya. Perisainya tidak cukup tebal untuk menahan cakar werewolf yang sangat kuat.


Tendon rusak memperlemah otot tangan dalam mengangkat perisai miliknya.


Tangan Reiner kini gemetaran kala mengangkat perisainya.


"Tahan dia, Reiner!" Seru Satella.


Reiner tersenyum optimis dikala melihat betapa kuatnya kubah es yang sedang di sihir oleh Satella.


Werewolf meraung keras. Cakar kerasnya mencabik Reiner sekali cakaran lagi. Kala Reiner sukses menangkis untuk kesekian kali.


Perisainya terbelah menjadi dua.


"Tidak, Reiner...." Satella menjerit dikala merasa cemas.


Setelah perisainya pecah dua, sang werewolf mencabik nya lagi. Cakar selanjutnya bersarang diperutnya. Perut Reiner tercabik secara fatal.


Critical !!


"Kya ... tidak...." Satella menjerit histeris.


Darah bercucuran kelantai dengan derasnya.


Reiner terjatuh. Satella melepas sihirnya.


Frost shock !!


Kubah es melesat kearah werewolf yang secara refleks mencabik sihir kubah es nya. Kubah es terbelah menjadi dua bagian sebelum jadi ledakan tingkat menengah. Lalu serpihan nya berterbangan secara acak, merusak seisi ruang kamar.


Satella resist akan ice.


Satella mendapatkan keuntungan rasial sebagai snow elves. Ledakan sihir es yang menghantam dirinya, dirasanya immune saja. Kamarnya kini seperti kapal pecah.


Werewolf mendapatkan luka lagi.


Satella memakai sihir telekinesis untuk mengangkat werewolf agar melayang diudara. Lalu werewolf segera dibanting kearah tembok. Alih-alih merintih, werewolf kebal terhadap benturannya. Satella pun paham, dibenturkan ke tembok tak akan membuat werewolf kesakitan.


Tak ada efek stunt yang diderita werewolf.


Malah werewolf semakin liar dan berlari kencang kearah Satella tuk menerjang.


Ice wall !!


Werewolf menabrak dinding es. Dindingnya langsung retak parah dalam sekali benturan. Dengan terpaksa Satella mengeluarkan senjata pamungkasnya. Sebuah pedang mistis pembunuh balisik.

__ADS_1


Balisik saja terbunuh, apalagi itu hanya werewolf.


Begitulah pikir Satella.


Bilah Griffin sword pun terhunus kedepan.


Dinding es pecah menjadi keping sebesar batu pondasi. Sementara Satella langsung melesatkan bilah Griffin sword. Griffin sword pun diterbangkan dengan telekinesis, menusuk tubuh werewolf, tetapi bilah nya gagal menusuk jantung.


Werewolf menatap Satella dengan tatapan serius. Sorot mata yang benar-benar mirip tatapan mata manusia yang menyimpan sebuah dendam. Mungkin sisi manusia werewolf telah bereaksi. Seolah merasakan gejala magis, werewolf melarikan diri dengan pedang tertancap ditubuhnya. Satella pun mengejarnya dengan langkah kaki yang pendek ini.


"Hei, tunggu! Pedangku...." Satella berteriak seperti perempuan yang paling cerewet.


Walau selamat dari pembunuhan, tetapi Satella kehilangan senjata pamungkasnya.


Saat keluar pintu kamar dan baru berbelok kelorong, ia kehilangan jejaknya. Werewolf terlalu cepat untuk Satella kejar. Andai Satella mengetahui werewolf belok nya kearah mana, sudah pasti Satella mengejar dengan transfigurasi.


Satella berlari kecil untuk kembali menuju kamarnya.


Satella mengecek kondisi Reiner.


"Hei ... bangun, hei ... bangun...." Satella dengan nada resah.


Sejenak Satella menoleh kearah jam berbentuk lemari kayu. Waktu pun menunjukkan pukul dua malam.


Pukul 2.20 AM.


Skip....


Fakta yang baru terungkap yaitu, salah seorang penghuni adalah seorang tabib. Reiner kini sedang dirawat dikamar milik sang tabib.


"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Satella, bernada resah.


"Tenang saja. Walau ia kehilangan banyak darah, lukanya berhasil ditutup. Aku telah menjahit luka sayatan dikulit pemuda ini. Secara berkala akan kupikirkan dengan kekuatan sihir air penyembuh ku. Kemampuan sihir airku tak terlalu menonjol, jadi butuh waktu lama untuk memulihkannya." Itu yang tabibnya bilang.


Tidak lama kemudian datanglah seseorang.


"Permisi." Seseorang masuk saat pintunya terbuka karena memang pintunya sudah rusak.


Satella dan juga tabibnya menoleh kearah seseorang yang baru datang.


"Ada yang bisa saya bantu?" Sahut tabibnya.


Orang yang masuk kedalam pintu segera menutup pintunya. Sebelum menutup pintu, ia melihat ke sudut kanan dan kiri lorong penginapan. Atas tindak-tanduknya Satella agak menaruh rasa curiga padanya. Iris mata Satella sedikit bergetar, sorot mata Satella mengunci pada tamu.


"Permisi." Sang tamu mendekat.


Tamu memakai semacam pakaian formal penduduk kota.


"Jangan khawatir! Aku orang baik." Kata sang tamu.


"Em." Satella membuang muka.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya tabibnya.


"Satu pertanyaan!" Sang tamu pun mengangkat tangannya.


Baik Satella dan tabib sama-sama mengangkat bahunya.


"Bagaimana cara kalian selamat?" Tanya sang tamu.


Semua masih bungkam.


"Tenanglah, harap jangan khawatir ataupun curiga! Aku adalah seer, semalam aku menerawang kamu. Hasilnya kamu adalah orang baik, makanya aku ngasih tahu tentang identitas ku padamu." Tukas tamu.


Semua masih diam.


"Aku bilang, aku adalah peramal!"


Dengan sedikit kesal, sang tamu mempertegas.


"Peramal?" Ceracau Satella.


"Iya, benar. Setiap malam aku bisa menerawang satu orang. Aku akan menerawang lagi sampai identitas werewolf terungkap." Kata tamu.


"Bagus deh." Jawab Satella dengan singkatnya.


"Perkenalan namaku Climbt." Sang peramal memperkenalkan dirinya.


"Aku Satella, panggil Stella saja ya." Balas Satella.


Mereka berjabat tangan.


Keheningan masih berlangsung.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2