
Prologue.
Kereta naga berhenti disebuah jalan berbatu. Dilihat dari desainnya, adalah kereta mewah kebangsawanan. Logo klan bangsawan yang berbahan pelat besi yang dilapisi emas. Gadis yang memakai gaun hitam segera turun dari kereta naga kebangsawanan.
Ini adalah padang rumput di field Geffenia. Ada dua kastil besar yang terpisah tapi kalau berdiri disalah satu kastil maka bisa melihat kastil yang lainnya.
"Perlu diantar sampai kedalam ... nyonya kecil?" Tanya seorang yang berpakaian pelayan.
Sejak awal ada dua orang yang duduknya dikursi kusir. Seorang dengan seragam butler, satunya berseragam zirah besi layaknya seorang knight.
"Tidak usah, saya bisa bawa ini sendiri." Gadis berambut silver menenteng kopernya menuju ke gerbang kastil besar ini.
Seorang butler dan penjaganya meninggalkan gadis itu dengan memacu keretanya.
Menenteng kopernya melewati jalanan batu dengan kontur yang mulus dan datar. Menuju kearah gerbang kastil yang dijaga oleh penjaga dalam jumlah kecil. Kru penjaganya memakai baju zirah seperti kesatria pada umumnya.
"Surat pengenal?" Tagih penjaga gerbangnya.
Gadis berambut silver memberi gulungan surat kepada penjaga gerbangnya. Sekilas penjaga pun membacanya. Tak lama gulungan suratnya dikembalikan lagi.
"Selamat datang di institut, Miss Satella Charlotte." Sambut penjaga sambil membuka gerbang dinding kastilnya.
Satella berjalan menenteng koper menuju kedalam bangunan kastil yang disebut institut. Jalanan nya terdiri dari batu bata berwarna abu-abu. Ini disebut stepping blok.
Terus menyusuri jalannya.
Melihat ke kanan dan kiri adalah dinding tinggi sejauh pandangan mata. Kastil institut itu lebih tinggi dan luas dindingnya. Halaman depannya sangat luas, ini mirip taman alun-alun kota malahan.
Melihat kedepan adalah gedung utama dari kastilnya. Dilihat dari megahnya, sepertinya terdiri dari belasan lantai. Ada gedung utama kemudian sebuah menara yang terpisah dari gedung utamanya.
Satella berjalan terus menuju ke bangunan utama.
Beberapa orang berpakaian bebas seperti Satella. Mereka pasti sama seperti Satella, yaitu murid tahun pertama. Entah bagaimana hanya Satella yang dibicarakan beberapa mahasiswa senior di institut ini.
"Kalian lihat orang itu." Mahasiswi berbicara dengan suara yang tidak terlalu keras tapi masih terdengar oleh Satella.
Kuping lancip tapi pendek milik Satella sampai berkedut.
Satella menolehkan irit matanya tanpa menolehkan lehernya.
"Kalian lihat kupingnya, gadis itu memiliki kuping manusia yang ujungnya lancip." Desas-desus para akademisi.
Mulai mengerutkan kening, Satella menoleh. Tujuh orang mahasiswi yang lebih senior daripada Satella.
Satella diam sejenak.
"Mungkinkah itu yang dinamakan perkawinan silang antara manusia dengan kaum elves." Mahasiswi itu masing-masing masih ngomongin Satella dan tertawa.
"Hai elves hibrida." Seru seorang mahasiswi.
"Hei diam ... nanti dia tersinggung loh." Ucap temannya.
Satella mendesis sebal.
"Apa orang-orang disini memiliki budaya rasis?" Pikir Satella.
Satella melangkah lagi.
Tau-tau ada seorang mahasiswa berada dihadapan Satella.
"Permisi, jangan menghalangi ya!" Protes Satella.
Mahasiswa itu adalah pria yang bertubuh jangkung, rambutnya pendek dan berkacamata. Karena memakai almamater institusi kementrian sihir, berarti ia adalah akademi senior pada tahun kedua.
"Ahem." Orang itu berdeham.
"Institut hanya menerima manusia saja, kurasa tempat ini tak pernah menerima bukan manusia." Ujar mahasiswi tersebut.
"Minggir ya!" Satella memberi peringatan, wajahnya marah.
"Pertama perkenalkan namamu?" Tagih mahasiswa itu.
"Namaku Satella Shiela Charlotte." Satella memperkenalkan dirinya.
"Huh, charlotte." Mahasiswa itu seperti terkejut, ia tercengang.
"Kalau tidak salah kepala keluarga Charlotte, Eduard Charlotte." Ucap mahasiswa itu, mengingat-ingat.
"Itu nama ayahku ... ayah memang terkenal." Kata Satella.
"Itu artinya tuan Eduard menikahi slave elves nya." Mahasiswa tadi berkomentar.
"Tidak masalah kalau kamu rasis kepada ras elves. Tapi kamu jangan ngatain ibu aku juga!" Satella pun mengangkat tinjunya.
"Kamu kok nyolot gitu mahasiswi baru!" Mahasiswa itu menodong telunjuknya.
[Note : disini mahasiswa sebutan untuk pelajar kementerian sihir.]
__ADS_1
Mahasiswa itu kelepasan dalam melepaskan sihir. Ia menembak berondongan baut api mengarah kepada Satella. Tapi baut apinya seperti sangat geli.
Baut apinya lenyap saat terbentur perisai es.
"Sekarang giliran ku!" Satella amat jengkel kala itu.
Telekinesis !!
Mahasiswa itu tubuhnya terbang melayang diudara. Ia berada pada ketinggian tujuh meter diatas tanah dan tubuhnya terbalik. Kepalanya dibawah sementara kakinya ada diatasnya. Beberapa detik dibalik seperti itu membuat kepala sangat pusing baginya. Ia meronta-ronta.
"TURUNKAN AKU!" Ia berteriak ketakutan.
Akhirnya Satella mendaratkannya diatas tumpukan lumpur.
"Bye bye ya ... dasar orang rasis!" Satella mengolok-olok.
Satella melanjutkan langkahnya menuju ke gedung utama.
Kini tiga mahasiswa lain datang memberi nada rasis.
"Minggir ya!" Gertak Satella.
"Kita beri pelajaran!" Seru leader diantara tiga mahasiswa itu.
Ketiganya melesatkan sihir secara serentak. Tiga sihir berelement beda-beda. Satella pun terjatuh ke rumput, mendapatkan luka berat.
"Gawat kalau sampai dia mati ini pelanggaran berat." Seru leader diantara tiga mahasiswa senior.
Tubuh Satella terlentang, entah bagaimana tubuhnya menguap.
"Menguap?" Semua heran.
"Kalian ngapain?" Tanya Satella sambil menguap kantuk. Tau-tau Satella muncul dari sisi kiri dari mereka.
"Yang tadi cuma sihir ilusi!" Seru mereka, panik.
Sihir ilusi Satella berasal dari gemstone hitam meteor yang dikenakannya dijari lentiknya.
"Sekarang giliran ku!" Satella pun memberi pelajaran.
Frost driver !!
Pusaran bola es meluncur kearah mereka. Beberapa detik, mereka semua membeku.
Orang-orang yang menikmati pertempuran dengan cara jadi penonton, berseru kaget.
Umumnya sihir yang Satella pakai hanya mampu membekukan satu target saja.
"Walah ... siap-siap." Ucap Satella, seolah tahu kalau sihirnya akan meluap kesegala penjuru.
Setelah tiga orang tadi dibekukan, pusaran bola es nya masih meluap kesegala penjuru. Hampir seperti vortex salju percobaan yang akan meluap menjadi sihir badai salju.
Ice absorption !!
Satella membuat lubang berwarna putih salju. Lubang yang dibuatnya menghisap semua partikel saljunya. Kalau saja partikel saljunya tidak dihisap maka seisi halaman depan institut akan membeku.
Satella melanjutkan langkahnya.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang berambut hitam panjang seperti membuntuti. Iris matanya kuning nyaris seperti mata ular. Disaat menyeringai ujung lidahnya pun keluar, seolah lidahnya panjang seperti lidahnya ular. Tetapi tidak sepanjang itu aslinya.
"Hai mau apa kamu!" Sadar sedang diikuti, Satella menyapanya dengan amat ketus.
"Aku adalah Lexus, salam kenal." Mahasiswa senior lainnya ikutan terganggu oleh uniknya Satella.
"Kamu mau apa?" Tanya Satella.
"Seperti itukah kehebatan ras persilangan manusia dan elves?
"Aku ingin lakukan eksperimen terhadapmu. Jadi biarkan aku membedah mu!" Tiba-tiba saja mahasiswa itu melemparkan bilah belati sebanyak tujuh. Dilihat dari ukuran dan bentuk, itu adalah poisoning knives.
Ice wall !!
Satella membentuk dinding es berukuran kecil tuk menghindari lesatan belatinya. Ketebalan dari dinding es juga hanya sebanding dengan tebal sebuah pintu kayu.
"Kalian kurang waras ya!" Umpat Satella.
Satella berlari sambil menenteng kopernya.
Skip....
Berjalan dilorong, menenteng kopernya.
Satella membaca sebuah peta denah bangunan.
"Sepertinya asrama mahasiswi jurusan es angkatan baru disini." Satella memasuki ruangan.
Skip....
__ADS_1
Ruang kepala jurusan.
Satella memasuki sebuah ruangan seperti kantor. Sepertinya Satella sudah menaruh kopernya diruang semacam asrama. Membaca tanda tulisan ruang kepala jurusan es, Satella memasuki ruang tersebut.
Satella mengetuk.
"Masuk!" Seru seorang wanita dari dalam sana.
"Kepala jurusanku seorang wanita ternyata." Pikir Satella.
Satella memasuki ruangan.
"Selamat datang anakku." Sambut kepala jurusannya.
Satella duduk dikursi berhadapan dengan kepala jurusan.
"Apa kamu mahasiswi baru yang memilih jurusan sihir es?" Tanya kepala jurusannya.
"Iya benar." Jawab Satella.
"Nama?"
"Satella shiela charlotte."
"Kalau begitu selamat datang di jurusan sihir es, Satella.
"Dan perkenalkan namaku adalah Aurora felicia." Ibu kepala jurusan menyambut Satella.
"Salam kenal buk." Satella senyum.
"Mahasiswa baru yang memilih jurusan sihir es, tahun ini ada tiga puluh empat orang saja. Sihir es memang bakat yang paling langka diantara element sihir lainnya.
Setelah ini Satella kembali menuju asrama untuk jurusan es angkatan baru. Asrama institut kementerian sihir, lima kali lipat lebih besar dari asramanya di akademi sihir.
"Hai ... hai...." Sapa mahasiswi yang duduk disofa.
"Hai juga." Satella tersenyum tulus karena mendapat penerimaan yang hangat.
"Ayo, kemari...." Sambut mahasiswi tersebut.
Satella melangkah mendekati. Lalu duduk disofa panjang, ia duduk disebelahnya.
"Namaku Elsa." Kata mahasiswi berambut blonde dengan bergaya kepang Perancis.
"Hai Elsa, nice to meet you. Namaku Satella." Balas hangat dari Satella. Sehingga mereka pun berkenalan.
"Kita semua mahasiswa junior, semoga bisa saling akrab." Elsa menegur sapa dengan hangat.
Beberapa mahasiswi yang ada di asrama putri mahasiswi jurusan es segera bergabung. Satu demi satu memperkenalkan diri mereka.
"Namaku Yuliana."
"Namaku Edelfelt."
Tidak butuh waktu lama untuk mereka saling akrab. Tidak ada suasana canggung sedikitpun.
Skip....
Point of view.
Kegiatan belajar di jurusan es baru berjalan dua bulan. Kepala jurusan yang mengurusi jurusan sihir es pun takjub atas bakat sihir es dari salah satu siswinya yang unik. Malahan Satella diberikan kelas akselerasi sehingga bisa langsung ada dikelas senior. Tapi apakah jalan Satella dikelas senior akan mulus? Kalau memang iya, mungkin perjalanan Satella untuk jadi mage pahlawan penyihir kerajaan pun akan tiba.
Satella sedang berada diruangan kepala jurusan es dan membahas tentang kelas akselerasi. Selain itu, masih ada hal lain yang diobrolkan.
Yaitu tentang permintaan khusus untuk Satella.
Satella mendapatkan main quest setelah dua bulan neraka di institut kementerian sihir.
Tapi kenapa harus Satella?
Bukankah banyak Sorcheror yang senior. Mungkin bakat unik milik Satella yang menjadi perhitungan.
POV end....
"Permintaan khusus?" Satella agak sedikit kaget.
"Hanya untukmu. Karena tingkat kesulitannya hampir sama dengan personil Sorcheror senior, kamu diperbolehkan menolak misinya karena kamu masih mahasiswi ditingkat junior. Walaupun secara pribadi, ibu sangat takjub dengan bakat sihir es mu." Kata kepala jurusannya.
Satella yang duduk berhadapan dengan kepala jurusan. Juga boleh dianggap seperti wali kelas yang sudah memberikan pelajaran sihir tingkat lima keatas. Satella masih terduduk dan mempertimbangkan.
Empat menit kemudian.
"Aku siap, buk." Jawab Satella.
Sebuah main quest yang tingkat kesulitannya hanya bisa dihadapi penyihir elit pun diambil Satella.
Akankah Satella mampu?
__ADS_1
~Bersambung~