
Malam hari.
Terbaring dikasur, Satella sedang memejamkan matanya. Semula ia terlentang kemudian tubuhnya berbalik ke kanan-kiri. Tidak lama matanya terbuka kembali. Selimut sampai tersingkap dari tubuhnya, memperlihatkan gaun tidur cantik.
"Hu.. gak bisa tidur!" Keluh Satella dengan nada merengek.
Ternyata dari tadi dia terpejam itu belum tentu tidur.
Satella bangkit dari ranjang secara tidak imut, seolah tomboi. Satella menendang angin dengan kakinya sebelum menghentak lantai. Lalu duduk dimeja rias berkaca untuk bercermin sejenak. Diatasnya ada buku yang tadi sore dibacanya.
"Mungkin kalau baca buku akan mengantuk." Pikir Satella yang wajahnya kusut karena tidurnya sangat becicilan.
Membuka halaman yang terakhir dibacanya.
Kali ini bukan lagi pengetahuan tentang lycan, tapi buku tentang ramuan sihir.
"Vio itu hebat, dia kepikiran untuk menemukan resep baru yang belum pernah ada dibuku pelajaran ilmu ramuan." Gumam Satella, ia mulai membaca satu demi satu kata.
Empat puluh menit kemudian...
Satella terlihat mengacak-acak rambutnya sendiri, terlihat cukup frustasi. Bukannya tidak paham tentang teknik ramuan tingkat lanjutan, tapi karena ia kesulitan dalam mengantuk. Ia berharap mendapat kantuk agar bisa tidur terlelap, tapi insomnia nya sulit.
Memandang dirinya sendiri yang terpantul di cermin. Memandang sampai dia merasa rileks.
"Untung saja Violetta meramalkan kesulitan ku dimalam ini." Batin Satella.
Satella mengeluarkan potion yang didapat dari Violetta. Itu adalah obatnya, tanpa pikir panjang lagi Satella menenggaknya habis. Obat racikan Violetta langsung bereaksi bahkan sebelum potion sihir itu menyentuh lambungnya. Satella menatap cermin dan mendapati pelipis matanya semakin rapat.
"Jadi obat ini bikin mata ku secara ajaib memproduksi lem dimata." Gumam Satella.
Satella berdiri, melangkah hingga menjatuhkan tubuhnya keranjang. Tubuh bagian atasnya menyentuh ranjang sementara lutut sampai keujung kakinya menggantung saja.
Suara napas yang sedang tidur terdengar jelas.
Satella terlelap.
Skip...
Kafetaria.
Satella duduk di kafetaria untuk sarapan pagi. Beda halnya dengan ruang perjamuan yang dibukanya hanya saat jam makan siang dan malam saja. Sementara sarapan maupun berkumpul santai seraya mengemil tepatnya di kafetaria.
Menu sarapan sudah dipesan sejak awal, roti bakar strawberry dan segelas susu esktra malt. Ceria raut wajahnya menikmati sajian yang rasanya sungguh lezat itu. Hingga Violetta muncul dihadapannya.
Secara kebetulan Satella melihat kedatangan Violetta. Ia menatap kearah yang tepat, adalah wujud kabut hitam Violeta versi sihir transfigurasi. Awalnya ia belum menyadari kalau itu perwujudan transfigurasi Violetta, sampai ia menyaksikan kabut hitam kian mendekati kearahnya. Tau-tau kabutnya berubah menjadi sosok aslinya saat didepan matanya.
Satella tersentak kaget.
"Kya... Copot!" Jerit kaget Satella.
"Uhuk.. uhuk." Terbatuk-batuk tersedak roti bakar.
Violetta menutupi bibir dengan tangannya, tawanya tanpa suara hanya mengeluarkan suara napas. Violet menepuk-nepuk punggung Satella supaya tidak tersedak lagi.
"Keluarkan.. ayo keluarkan." Seru Violetta, bibirnya tertekuk kearah menahan tawa.
Skip...
Menara astronomi.
Mereka ada di menara astronomi pada siang hari. Ruangan sangat luasnya, berada diruang astronomi pada pagi hari rasanya tak tepat.
"Kamu kesini mau apa?" Satella menguap, jadi kantuk seketika.
"Waktu yang pas untuk baca buku tentang astronomi, tapi kita kesini bukan untuk ini kok." Ujar Violetta, menertawakan wajah tidak senang diwajahnya Satella.
"Jangan pernah remehkan ilmu astronomi itu! Bisa saja suatu saat terjadi fenomena yang membuat Medan antariksa labil lalu terjadi keretakan dimensi." Ujar Violetta.
"Kita harus mengerti fenomena diruang antariksa." Ucap Violetta.
"Sekarang kepalaku pusing dan berasap!" Keluh Satella.
Violetta tertawa.
"Ikut aku!" Seru Violetta.
__ADS_1
Violetta melangkah kearah ujung ruang astronomi. Menuju jendela ventilasi setinggi empat meter dan lebarnya dua meter. Itu terbuka sehingga awan terang terlihat lalu udara segar memasuki ruangan.
Kini Violetta berdiri disisi jendela tersebut, Satella tepat dibelakang Violetta. Sejenak menghirup udara segar, Violetta menoleh kesamping.
"Bisa terbang kan?" Tanya Satella.
"Iya tentu." Jawabnya.
"Balapan ke ibu kota." Violetta.
"Eh?" Satella bengong.
"Mumpung libur kan." Violetta.
"Ada benarnya juga sih." Satella cengengesan.
"Balapan!" Tantang Violetta.
"Em." Satella mengangguk.
"Yang kalah ditampar pantatnya." Violetta tertawa tanpa suara.
"ITU LAGI!" Satella ngambek.
Mendapati ekspresi Satella yang terpancing kesal, Violetta datang dengan mengolok-olok. Memberi olok-olokan tanpa sepatah kata.
Berdiri sambil mencondongkan tubuhnya sedikit menungging seolah-olah memamerkan pantat didepan Satella.
"Ngeledek banget ya!" Satella kesel.
Kali ini raut wajah Violetta amat tersenyum bahagia, seolah mimik wajah seperti ini hanya satu kali dalam seumur hidup.
"Aku pengen tendang itu!" Omel Satella, sangat berasap kepalanya.
"Boleh saja, kalau kamu menang." Violetta terkekeh.
"AYO!" Satella pun menerima tantangan itu.
"Garis finis nya yang mana Vio?" Tanya Satella.
"Oh, alun-alun kota." Sahut Satella.
"Oke!" Satella sepakat.
Violetta dengan sihir transfigurasi andalannya, merubah tubuhnya menjadi berwujud kabut hitam. Kabut hitam mengepul itu terbang dan berputar-putar diudara seolah meminta Satella memulai start.
Dengan sihir transfigurasi yang dikuasainya, Satella merubah wujudnya menjadi merpati hitam. Seorang yang mage amatir akan mendapat transfigurasi dengan movement speed yang lambat.
Setelah merpati hitam itu melesat menuju kearah barat, yaitu kearah ibu kota maka kabut hitam segera menyusul.
Kabut hitam melesat cepat dengan wujud seperti tombak kabut hitam. Bagian depannya runcing dengan bagian belakang melebar ataupun meluap. Dilihat dari wujud yang meruncing, kabut hitam itu punya sifat membelah udara. Setidaknya wujud transfigurasi Violetta lebih aerodinamis dari wujud Satella.
Kedua sosok mengudara tau-tau kabut hitam menukik ke darat, merpati hitam pun mengekornya sampai ke darat. Merpati hitam terbang lurus untuk sampai ke satu titik. Sementara dengan sombong, kabut hitam bisa terbang secara memutar berbelok tajam ataupun zig-zag karena merasa ia lah yang tercepat. Kabut hitam cepat sekali.
Merpati hitam dan kabut hitam runcing yang membelah angin sama-sama melaju cepat. Mereka mengebut, berlomba-lomba tuk menuju ke ibu kota kerajaan.
Merpati hitam sengaja berposisi dibelakang kabut hitam supaya mencuri efek aerodinamis. Sebab kalau merpati hitam memakai jalurnya sendiri, movemen nya jelas-jelas kalah cepat. Violetta diuntungkan lewat aerodinamis.
Merpati hitam menempel ketat, jikalau tidak mengekor di jalurnya sudah jelas tertinggal jauh. Tapi mencuri keuntungan aerodinamis membuat mereka sama cepatnya.
Kabut hitam itu sengaja terbang rendah, seolah sengaja membuat kacau. Menabrak orang sampai terhempas jatuh, menabrak kereta naga hingga terjungkal, menabrak sepasang kekasih yang berjalan di taman hingga pakaian mewah nya menjadi compang-camping akibat dampak gelombang kejutnya.
Sang kabut hitam meruncing dan terus menjadi momok bagi warga yang dengan malang dibuat sial.
Penjaga dinding sedang duduk dan meminum wine di botol. Mereka tidak menduga apa yang terjadi itu, tapi gelombang kejut melintas saja didepan mereka. Kabut hitam yang runcing melintas tanpa menabrak sedikitpun, tapi udara sekitar yang terbelah berbuah gelombang kejut. Rambutnya menjadi berdiri bagai sapu ijuk, seperti rambut orang terkena setrum pada umumnya.
Gelombang kejutnya membuat botolnya pecah. Botol pecah lalu memuncratkan isinya deras dan membasahi wajah dan tubuh.
Kabut hitam dan merpati hitam sudah melesat melewati beberapa sudut Geffenia. Kini ada diarea Padang rumput, area field bebas.
Mungkin Violetta tak hentinya menertawai penduduk yang jadi korban keusilannya. Tiba di field, mereka memilih jalur angkasa. Terbang mengangkasa diudara menghindari jalur darat.
Langit terlihat cerah dan terlihat bersahabat.
Ada seekor burung elang didepan dengan panjang tubuh sekitar satu meter. Elang predator yang cukup besar tubuhnya. Secara malang ia tertabrak kabut hitam yang melaju super cepat. Karena lajunya sangat cepat, kabut hitam itu membuat dampak gelombang kejut. Seketika tubuh elangnya berputar-putar diudara seolah masuk kedalam gelombang twister. Elang jatuh ke darat dengan kondisi instan dead.
__ADS_1
Bukan hanya itu, tubuh elangnya menderita luka sayat di sekujur tubuhnya, sayapnya pun rontok.
Saking cepatnya kabut hitam itu, sampai menabrak merpati hitam Satella dari belakang. Ujung kabut menyundul ekor merpati hitam.
Gelombang kejut dari kabut hitam terbelah oleh wujud transfigurasi Satella. Wujud transfigurasi milik Satella tidak kalah daya magisnya kalau dibanding milik Violetta.
Satella terprovokasi.
Terprovokasi oleh tindak-tanduk kabut hitam itu. Munculah kabut salju dari merpati hitam menuju sekitar nya. Kabut hitam itu jadi melambat karena kena uap salju.
Kepekatan uap salju membuat movement kabut hitam menjadi berkurang 40% kira-kira. Pada akhirnya kabut hitam menjauh supaya bebas dari perlambatan.
Sementara Satella memiliki nilai keuntungan sebagai snow elves mampu membelah badai salju. Violetta menjadi lambat lajunya.
Kini pemegang keuntungan poin aerodinamis adalah Satella, bukan Violetta lagi.
Merpati hitam menembak bola pusaran angin salju. Tembakan tersebut menyebabkan twister bermuatan badai salju. Sehingga kabut hitam melambat sekali.
Kabut hitam pun nyaris tersedot kedalam twister salju. Akhirnya Violetta memilih putar arah agar tidak sejalur lagi dengan Satella. Mengambil jalur memutar jauh bukanlah masalah, sebab kabut hitamnya lajunya sangat cepat.
Skip...
Las Castella.
Tiba di ibukota las Castella, yang letaknya paling tengah dataran Aluscia. Dari Geffenia haruslah melewati Ivalice city terlebih dulu barulah sampai di las Castella.
Merpati hitam mengudara lalu menukik ke darat. Dalam jarak pandang merpati hitam, Violetta sudah berdiri dititik finis nya.
Satella pun menonaktifkan sihir transfigurasi. Melangkah kearah Violetta dengan mimik jengkel.
"Aku menunggu belasan menit tau!" Violetta memberi mimik sombong.
Satella tambah jengkel.
"Huh.. nyebelin." Satella membuang muka, memanyunkan bibirnya.
"Kamu berhutang satu tamparan pantat." Violetta terkekeh.
Satella mendesis.
"Gess.. iya, bawel!" Satella sebal.
"Sekarang aku akan memberitahu alasan membawamu kesini!" Ujar Violetta.
"Nah kalau ini aku jadi penasaran." Sahut Satella.
"Ramalan cinta part kedua loh ya." Seru Violetta.
"Wah.. seru tuh." Sahut Satella.
"Kamu tahu ini?" Violetta sambil memegang pedang batu.
"Sebuah justice sword." Satella.
"Kamu tau siapa pemilik pedang tersebut?" Tanya Violetta.
"Pahlawan dalam buku dongeng anak-anak. Pedang batu ini sudah berada disini sejak empat ratusan tahun lalu, tapi orang yang akan menggunakan pedang ini belum muncul juga." Jawab Satella.
"Mau ramalan?" Tanya Violetta.
"Ramalan cinta?" Kata Violetta.
"Boleh." Jawab Satella.
"Baiklah bersiaplah untuk ramalan cinta part dua." Ujar Violetta yang memberi gestur amat meyakinkan.
"Kesatria pedang justice ini akan muncul dua tahun lagi, ditambah pasangannya adalah kamu." Seru Violetta.
"Serius?" Sahut Satella.
"Aku meramalkan dia berjodoh dengan kamu." Ujar Violetta.
"Seriusan?" Tanya Satella.
"Istirahat dulu." Violetta malah mengacuhkan Satella, ia berjalan menuju kursi di taman ini.
__ADS_1
~bersambung~