Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
terluka


__ADS_3

Sekolah sudah berakhir.


Violetta datang menjenguk Satella. Margareth yang baru menamatkan sekolah di akademi militer Trost pulang kerumah klan. Margareth berupaya menghibur Satella, lalu datanglah Theodore menjenguk.


Setelah tahu bahwa Phoenix tidak punya kemampuan membalikkan kematian, Satella makin depresi.


Mau tidak mau Margareth harus membiarkan Satella menyendiri beberapa waktu. Rumah utama keluarga charlotte letaknya di ibu kota. Tapi kali ini Satella sedang menetap di mansion klan bagian Ivalice city. Meski bukan rumah utamanya klan ini, tetap megah.


Halaman belakang.


Dihalaman belakang Margareth sedang melakukan latihan pedang memakai pedang kayu. Margareth sedang mengayunkan pedangnya dengan tempo tinggi. Ada dua kru penjaga mansion yang kelelahan akibat menjadi teman latihannya. Sementara yang sedang dilawannya mungkin juga akan kewalahan.


Pletak....


Margareth membuat pedang kayu lawannya terlepas.


Margareth menajamkan inderanya.


Tau-tau Margareth melakukan satu tebasan kearah belakang.


Pletak....


Ternyata ada seorang menyerang secara tiba-tiba dari belakangnya. Orang tersebut berkepala plontos dengan wajah ditafsir empat puluh tahunan lebih.


"Kemampuanmu mengesankan Margareth." Puji orang itu.


"Ayah?" Seru Margareth, heran.


"Bagaimana pendidikan mu?" Tanya ayahnya.


"Lulusan terbaik akademi militer Trost peringkat satu teratas, ayah." Jawab Margareth, wajahnya ceria.


"Sekarang aku bawakan kamu seorang ahli pedang sebagai teman latihan mu!" Kata ayahnya.


Seorang dengan seragam yang biasanya dipakai latihan bela diri. Orang itu rambutnya panjang, di kuncir satu kebelakang. Orang itu pegang pedang besi bukan kayu.


"Guru Zen?" Seru Margareth yang bernada heran.


"Iya, benar, aku gurumu. Aku yang mengajarkan Margareth kecil yang berusia delapan tahun sampai ia berusia lima belas tahun. Aku hanya ingin tahu, Margareth kecil sudah menguasai teknik pedang ataukah belum." Itulah yang ia katakan.


Padahal gurunya membawa bilah pedang besi, tetapi Margareth amat pede menghunuskan pedang kayu yang dibawanya.


"Teknik pedang, materialisasi!"


Tiba-tiba didalam struktur kayu terdapat garis-garis sirkuit sihir. Struktur pedang Margareth telah berubah menjadi keras.


Tanpa basa-basi gurunya langsung menebas Margareth dengan bilah besinya itu. Yang terdengar adalah benturan besi dengan kayu, efek suaranya seperti pohon yang lagi ditebang oleh kapal. Pedangnya Margareth tidak terbelah, hanya goresan sedalam dua centimeter.


"Bagus." Ucap guru pedangnya.


"Teknik pedang, aura blade!"


Kulit pedang kayu Margareth jadi dialiri energi yang berbasis element netral. Kemudian guru pedangnya mengayunkan bertubi-tubi. Tetapi Margareth menangkis semuannya. Totalnya ada belasan baku hantam dengan pedang kayu dan bilah besi.


"Teknik pedang, pisau angin!"


Walaupun hanya pedang kayu, tapi mata pisaunya dialiri sihir berbasis element angin. Lapisan angin pada mata pisau di pedang kayu, punya ketajaman yang sangat tipis. Sihir tersebut hampir mirip seperti pisau pneumatik pada industri modern, dimana air yang ditambah udara bertekanan tinggi dapat memotong besi yang sangat keras.


Kini Margareth yang memulai tebasan nya. Tiga stack dari buff penguatan senjata telah ditumpuk oleh Margareth yang penuh tekad.


Truang....


Suara besi pecah.


Ayahnya terkejut melihat bahwa putrinya mampu mematahkan satu pedang asli bermodalkan pedang kayunya.


"Hebat Margareth." Puji gurunya.


"Maaf guru aku harus pergi mandi dan merawat sepupu Stella dulu. Margareth mau pergi dulu ya ayah." Margareth pun tiba-tiba pergi.


Margareth mulai masuk akademi militer Trost diusia 15 tahun lalu lulus diusia 18. Akan tetapi ia telah memulai latihan pedang sendiri diusianya yang ke 8 tahun. Latihan Margareth sangat berhasil karena tangan dingin pelatih pedang Zen.

__ADS_1


Skip....


Malam hari.


Segalanya dimulai saat datangnya Theodore. Violetta masih menjadi teman yang setia menjenguknya. Margareth juga ada disana untuk memberi dukungan kepada sepupu yang mentalnya sedang terluka.


Saat Theodore baru datang.


"Apa masterku sudah mau makan?" Tanya Theodore.


"Dari tadi pagi, sampai malam ini sepupu gak mau makan." Jawab Margareth, bernada khawatir.


"Ya ampun, memikirkannya jadi ikutan pusing." Theodore menepuk jidatnya.


"Kamu mau mati?" Margareth pun menjadi tambah sebal.


Dari tadi Satella hanya baringan dengan lunglai. Tatapannya kosong tanpa mau bicara apalagi makan.


"Bisa-bisa harus diinfus lagi deh. Kayaknya kamu suka sekali ditusuk jarum ya Satella?" Violetta dengan nada datarnya. Sesungguhnya ia sangat peduli pada tempatnya ini.


Tiba-tiba Satella menyentak seolah emosinya seperti lampu tegangan tinggi yang putus karena tegangan listriknya terlalu tinggi.


"KALIAN GAK NGERASAIN SEDIH YANG KURASAKAN SIH!" Umpat Satella, sangat emosi.


"Gimana kalau trouble masalah percintaan coba." Margareth jadi memberi komentarnya.


"Aku selalu ingin menuntaskan apapun yang master hadapi loh. Kalau master aja gak mau hadapi masalahnya, maaf aku gak bisa berbuat apa-apa." Ucap Theodore.


Wajah tegang Satella kini mulai mereda.


"Bisa menyelesaikan masalahnya master adalah kesenangan bagiku. Tanpa dipuji pun aku sudah cukup merasa senang juga puas." Kata Theodore, membujuk masternya.


Maka Satella menatap Theodore. Dengan sisa-sisa tenaganya, Satella berusaha bersuara.


"Maka kalau kamu bisa membuat Starla hidup lagi, aku baru bisa senang." Jawab Satella, dengan ekspresi dan nada terlihat nanar.


"Tuanku hati dan pikirannya sudah mentok dan tidak bisa ditawar lagi." Pikir Theodore.


"Kalau gitu aku akan memikirkan bagaimana cara menghidupkan kembaran mu." Theodore segera berjalan kearah pintu keluar.


Satella bersuara, dilihat dari nada suaranya berarti hatinya sudah mengeras.


"Bila gagal kanan pernah kembali. PERGILAH OTAK BURUNG!" Umpat Satella, emosi jiwanya meledak.


Awalnya Satella bicara dengan nada lemah tanpa semangat juga sedikit frustasi. Nadanya meninggi ketika mengatai Theodore.


"Kamu sadar gak?" Protes Violetta dengan penuh kekecewaan.


"...." Satella bungkam.


"Kamu sadar gak, siapa yang kamu umpat dan hina? Orang yang selalu melayani kamu, mengurusi semua sifat manja kamu. Selalu protektif setiap ada yang mau mencelakakan kamu. Kamu gak ingat semua yang dilakukannya, apapun agar kamu merasa lebih mudah. Kamu sudah dipermudah olehnya, sejak awal hingga akhir. Bahkan dikala kamu berhadapan dengan balisik, kamu dipermudah. Ia juga yang menguras racun balisik ditubuh mu dengan kekuatan magisnya." Ujar Violetta, memprotes tindakan Satella.


Bahkan Violetta yang biasanya bernada datar, mulai menaikan nadanya.


Beberapa saat kemudian Violetta berjalan meninggalkan ruangan. Satella melihat Violetta berjalan meninggalkannya.


"Aku udah gak kuat lagi sama kelakuan kamu." Ujar Violetta.


"Sepupu." Seru Margareth.


Ketika Margareth memanggilnya, Satella mulai berlinang air mata.


"Sekarang semuanya malah pergi. Sekarang aku tambah kesepian." Keluh Satella.


"Sepupu, Stella." Margareth agak sedikit bersimpati.


"Aku udah dengar semuannya dari butler mu. Ternyata sepupu Starla masih hidup, ya." Ucap Margareth.


"Selama ini adiknya ibuku yang memisahkan kami." Jawab Satella dengan nada sendunya.


"Ketika dik Starla datang untuk mengajakku menyingkirkan adik ibuku, aku malah gagal dan adik kembarku terbunuh." Satella pilu.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak memintaku ikutan bertarung? Kalau kamu memintaku, aku akan membantu kalian berdua loh." Margareth berupaya menenangkan Satella.


"Pertama aku kehilangan Starla, kemudian temanku meninggalkan aku. Kenapa aku bertingkah buruk seperti ini sih." Satella menyesal.


"Kamu lelah fisik dan mental, ayo tidurlah dulu." Margareth terus menenangkan Satella.


Skip....


Satella terbangun dan disuapi oleh sepupunya. Karena Margareth udah bikin Satella merasa nyaman jadi Margareth lah yang bisa membujuk agar Satella mau makan lagi. Tapi masalahnya belum mau mereda.


Datanglah ayahnya Margareth.


"Bagaimana kondisimu nak?" Sapa ayahnya Margareth.


"Lumayan." Jawab Margareth.


"Aku heran sama keluarganya." Ayahnya Margareth mulai komen.


"Stt...." Margareth memberikan isyarat untuk bungkam.


"Kakak ku tidak datang kesini dan melihat keadaan putrinya. Kedua kakaknya juga tidak segera datang kesini. Apa mereka tidak ada kasih sayang untuk keluarganya?" Ujar ayahnya Margareth.


"Tidak, itu semua tidak benar kan. Aku butuh perhatian, apa kakak menganggap aku orang lain. Benar juga, dulu cuma ibu yang selalu memperdulikan ku. Jangan-jangan ayah dan kakakku tidak ada yang peduli denganku. Apa ayah hanya memandangku apabila aku bisa menikah dengan putra yang bisa menaikan kedudukan politiknya? Kalau tahu seperti ini kan aku jadi semakin kesepian." Keluh Satella.


Bahkan kondisinya, Satella sedang sangat sensitif. Perkataan sekecil apapun akan memberatkan bagi pikirannya Satella. Satella merasa terabaikan, semakin kesepian.


"Semua itu salah, mana ada sih keluarga yang gak peduli seperti anggapan mu?" Ujar Margareth, mencoba mematahkan prasangka negatifnya Satella.


"Tapi aku butuh dikunjungi oleh keluargaku sendiri. Kondisi yang seperti ini, emang mereka tidak peduli sedikitpun padaku?" Ucap Satella, Margareth tambah resah.


"Kamu tidur ya." Bujuk Margareth.


Skip....


Las Castella.


Margareth sedang ada di ibu kota kerajaan. Alih-alih menaiki kereta naga, Margareth lebih memilih menunggangi naga darat supaya ia lebih cepat sampainya. Margareth menemui kakaknya Satella.


Kini Margareth berada di ruang makan untuk menemani kakaknya Satella makan siang. Dengan cara demikian Margareth bisa minta bantuan kepada kakaknya Satella. Margareth sangat ingin membantu sepupunya yang lagi down untuk bangkit kembali.


"Seneng deh bisa makan bareng kakak sepupu lagi." Margareth memulai basa-basi nya.


"Kudengar kamu sudah selesai sekolahnya?" Kakaknya Satella mengangkat gelas isi anggurnya.


Kakaknya adalah wanita rambut silver panjang terurai. Kakaknya memiliki kuping yang sepenuhnya berbentuk kuping manusia, tidak setengah elves seperti Satella.


"Sekarang aku ini lulusan terbaik akademi militer Trost. Karena aku lulusan terbaik, aku dapat posisi di kesatuan royal guard." Margareth mengangkat juga gelasnya.


"Selamat." Ucap kakaknya Satella.


"Makasih kak Diana." Margareth tersenyum semringah.


"Biasanya kamu selalu bersama adikku. Kenapa kamu datangnya sendirian?" Tanya Diana.


"Itu dia kak masalahnya." Jawab Margareth.


"Ada masalah apa?" Tanya Diana.


"Satella lagi sakit kak." Margareth seolah menunggu tanggapan dari kakaknya Satella.


"Sungguh ... sakit apa, kalau belum sembuh juga nanti kita cari tabib terbaik. Tapi bagaimana kondisi adikku sekarang?" Tanya Diana, perilakunya mencerminkan bahwa sebenarnya Diana itu benar-benar menyayangi adiknya.


"Bukan kak, sepupu Stella sedang terluka mentalnya." Margareth.


"Apa, katamu? Siapa yang berani menyakitinya, apakah itu seorang laki-laki? Mungkinkah seseorang melakukan seksual abuse kepada adikku yang polos itu. Katakanlah kenapa dengan adikku?" Diana bertanya dengan nada cerewet.


"Syukur deh kalau kak Diana itu sangat peduli dengan Stella. Tapi dengerin aku dulu ya kak." Ucap Margareth, mulai tersenyum saat Diana menyatakan kepeduliannya kepada sosok adiknya.


Tapi pertanyaannya....


Apakah nanti Diana bersedia tuk menjenguk adiknya. Bagaimanakah kalau seandainya ucapan Diana itu hanya manis di mulut. Apa dalam praktiknya Diana bersedia datang untuk sekadar menjenguk adiknya.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2