
Menyebrang jalan raya besar.
Seorang gadis kecil dari akademi sihir takut menyebrang. Berjalan bersama disisi jalan raya bersama temannya si siswa akademi sihir yang jangkung. Jalanan sangat ramai dengan naga darat yang melaju kencang bolak-balik di jalur dua arah ini.
"Jangan bilang, kamu merasa takut hanya karena menyebrang jalan raya?" Sindir Jack.
"Em." Satella mengangguk dengan sorot mata menyimpan rasa malu.
"Aku belum pernah menyebrangi jalan raya Jack. Habisnya aku selalu diantar dengan kereta naga pribadi kalau kemana-mana saat dirumah." Ujar Satella.
"Dasar orang kaya." Ucap Jack.
"Gak nyebrang aku tinggal nih." Jack mengancam.
"Jack!" Satella melotot kesal.
"Bye ... Stella." Dengan nekat Jack berlari menyebrang jalan ninggalin Satella yang phobia jalan raya.
"Hei ... no, tunggu Jack!" Satella menjerit.
"Dasar, awas aja! Ku pukul nanti! Awas saja Jack aku pukul! Nanti kupukul Jack! awas saja pokoknya, aku pukul!" Umpat Satella, bicara dengan tempo cepat menggerutu sendiri dan mengepal tinju Satella merasa sebal karena keusilan Jack. Pertama, Satella takut nyebrang tapi malah ditinggal lari oleh Jack.
Tiba-tiba Satella kepikiran.
"Oh iya aku kan mage." Ucap Satella.
Tiba-tiba Satella berjongkok saja ditanah, tubuhnya berubah wujud menjadi burung merpati berwarna hitam. Alih-alih menyebrang jalan, Satella melewatinya dengan cara terbang dalam wujud merpati.
"Terobos saja lah." Seru Jack yang berlari menyebrang jalan raya.
Berlari sambil menatap kesamping agar bisa mengantisipasi naga darat yang datang tiba-tiba. Menghindar dari diseruduk naga darat, hampir sampai Jack segera menatap kearah tapi tiba-tiba.
"Duar ... Kaget!" Satella dengan jahil muncul tiba-tiba didepan Jack dan berteriak sekeras-kerasnya. Dengan begitu Jack kena serangan jantung.
"Duar ... Kaget!"
"Gah ... Buaya darat, Kaget!" Jack tersentak kaget sekaligus berteriak keras, mengelus dadanya yang agak sesak karena jantungnya dipaksa senam ringan.
"Ku ... Ku ... Ku, syukur." Satella mengerang saat menahan tawanya yang tak kuasa ditahan. Hingga akhirnya terkikik-kikik.
"Kik ... kik ... kik, hu ... hu ... wahahaha puas aku puas." Dengan sangat ngakak Satella menertawakan Jack.
"Nakal, Aku hampir saja kena serangan jantung!" Protes Jack.
"Habisnya, kamu duluan yang memulainya." Balas Satella.
"Ya sudah. Aku gak akan mencari masalah lagi sama kamu." Kata Jack dengan muka pasrah.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Satella dan Jack agak senjang tingginya, seolah itu anak kecil jalan bareng orang dewasa. Ketika mereka jalan bareng secara berdampingan, tubuh Satella hanya setinggi dagu Jack. Itu sedikit lebih tinggi dari bahu Jack.
Si jangkung Jack tingginya 185cm kurang lebih. Sangat beda dengan Satella yang sedikit mungil.
"Kta sudah sampai di persimpangan jalan." Ujar Jack, sambil sesekali melihat kesegala etalase kaki lima yang dibongkar pasang.
"Persimpangan jalan ini namanya Elevenia street." Ucap Jack.
"Iya ... kah, Jack?" Sahut Satella.
"Kamu gak pernah kesini waktu liburan semester?" Tanya Jack.
"Gak." Satella.
"Dasar nolep." Sindir Jack.
"Aku pasti langsung pulang Setiap liburan semester, Jack." Balas Satella.
"Tapi, sesekali kamu harus bermain kesini bareng teman-teman. Memangnya gak bisa ya? Sehari saja jatah liburan semester buat dipakai main kesini bareng teman kelas, apakah tidak bisa?" Tanya Jack.
"Gak bisa Jack! Aturan didalam keluarga ku itu ketat. Ayah selalu nyuruh aku langsung pulang saat liburan semester tiba. Sekarang aja aku baru bisa karena kebetulan aja kelas lagi meliburkan diri." Jawab Satella, bicara dengan nada pelan tetapi temponya ngebut.
"Pff...." Tersentak menahan tawa Jack memuncratkan tawanya.
"Gak ada yang lucu tau, Jack!" Satella menatap ketus kepada Jack.
"Itu namanya anak manja yang disayang papih mamih, makanya overprotektif deh." Komentar Jack.
__ADS_1
"Apa boleh buat." Ucap Satella dengan nada lesunya.
"Apa boleh buat?" Sahut Jack.
"Apa boleh buat. Tapi kamu ada benarnya juga, suatu hari nanti aku akan kabur dari rumah." Satella bilang.
"Wah ... nanti bisa repot." Sahut Jack.
"Habisnya...." Gumam Satella.
"Ini dia Elevenia street, silahkan lihat-lihat." Seru Jack.
"Em." Satella mengangguk.
"Ada aneka makanan tradisional sampai cemilan yang aneh-aneh. Tujuan awal kita adalah alat-alat sulap untuk jahil. Tapi, gak ada salahnya kalau mau cari yang lain-lain." Jack bilang.
"Iya ... Iya, aku tahu kok Jack." Sahut Satella, dengan gestur yang sedikit mengolok-olok cara Jack memandu perjalanan.
"Apa itu Jack?" Satella menunjuk kearah pengamen yang mencari recehan dengan menggelar aneka pertunjukan.
"Itu pertunjukan sulap." Jack bilang.
"Per ... per-pertunjukan sulap." Seru Satella dengan antusias menatap kearah panggung sekadarnya.
"Mau lihat? Apa kamu bawa koin perungu sebagai receh? Tega sih, kalau kamu tidak berbagi koin perungu pada seniman jalanan itu." Karena tukang main, dengan hapalnya Jack ngejelasin segala detailnya.
"Em ... ada kok." Satella mengangguk.
"Mau nonton dulu?" Tanya Jack.
"Iya mau." Jawab Satella.
Akhirnya sejenak berdiri disebuah emperan yang ada pesulap. Sekitar enam orang lainnya ikut nonton pertunjukan sulap jalanan. Bagi Jack yang hapal trik sulapnya sih agak biasa saja. Tapi bagi Satella yang pertama lihat sulap itu terkesan mengagumkan. Hingga penghujung pertunjukkan, pesulap mengira bahwa Satella adalah orang yang sangat menyukai sulap.
"Kosong, kosong, lihat ini kosong bukan!" Pesulap menunjukkan topi sihirnya kearah penonton.
"...." Jack yang sudah hapal trik sulap, jadi menampakkan wajah datar.
Pesulap tau-tau mengeluarkan kelinci kecil dari dalam topinya. Wajah polos dan imut Satella menampakkan mimik yang terkesan. Rona ceria ditampakkan dari wajah seputih salju itu.
"Wah ... kelinci kecil." Satella gembira riang melihat kelinci itu.
"Iya aku suka." Jawab Satella, mengangkat kelinci kecil yang ada diatas kedua tangan lentiknya.
Matanya berkaca-kaca melihat satu kelinci imut seputih salju. Dengan usilnya Satella memegang-megang kuping kelinci dengan jari lentiknya. Satella mengelus bulu putih kelinci kecil dengan tangannya. Sesekali diangkat keatas dan diturunkan kebawah badan kelinci kecil itu.
"Sudah puas?" Tanya pesulap, menagih kelincinya dikembalikan.
Satella mengangguk lalu mengembalikan kelinci kecil itu kepada pesulap.
"Baiklah, pemirsa!" Seru pesulap, bersiap untuk trik berikutnya.
Pesulap memasukan kelinci kecil kedalam topi sulap. Merapal mantra sulapnya, dalam waktu lima detik kemudian. Dengan gerakan tangan yang meyakinkan dia keluarkan beberapa burung parkit super kecil sebanyak tiga ekor. Dilihat dari ukuran tubuhnya itu seekor anak.
"Topi besar itu cukup muat untuk menyimpan beberapa hewan kecil. Membodohi anak itu, yang tak pernah lihat sulap." Gumam Jack dengan nada dan gestur berbisik kepada diri sendiri.
"Yeay ... hebat!" Seru Satella merasa puas.
Kemudian pesulap menunjukkan trik sulap lainnya. Merubah warna air digelas lalu trik kartu. Singkat cerita pertunjukan selesai dan pesulap menagih receh dengan topinya.
"Ayo koin mu." Bisik Jack kepada Satella.
"Em, iya tentu Jack." Satella mengangguk sambil mengambil beberapa koin perungu. Saat pesulap datang dengan topinya, Satella memasukan keping koin perungu.
Begitupun dengan Jack.
"Oke, lanjut!" Seru Satella.
Mereka berdua melanjutkan perjalanannya. Disisi kiri jalan ada semacam bangunan tiga lantai semacam ruko yang agak luas.
"Di sana, Kenapa mereka malah mengantri?" Tanya Satella.
"Itu adalah teater pertunjukan." Jawab Jack, Satella melihat spanduk yang bergambar lukisan cover drama.
"Teater?" Sahut Satella.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu belum pernah nonton pertunjukan teater." Jack menahan tawa.
"Tidak, aku belum pernah." Balas Satella.
"Hahaha." Jack ngakak, sambil nutupin mulut pake ujung jarinya.
"Jangan ngatain!" Satella melotot sambil mengangkat telunjuknya. Menggelengkan telunjuk memberi nada protes.
"Iya, maaf." Jack.
"Awas!" Satella mengepal tangan sambil menggeram kesal terpejam, sangat bete.
"Apa kamu pernah membaca buku cerita bergambar?" Tanya Jack.
"Pernah dong." Semula terpejam, Satella membuka sebelah matanya yaitu satunya.
"Didalam teater ada panggung dan aktor." Kata Jack.
"H-huh?" Satella nyimak dengan wajah diam yang lucu. mata bulat besarnya sesekali berkedip-kedip.
"Didalam ruangan ada banyak kursi dimana para penonton duduk manis menghadap panggung. Ketika tirai dibuka, panggungnya melihatkan pementasan drama.
"Misalnya buku cerita Romeo dan Juliet, panggungnya bisa bangsawan lalu adegan berikutnya tirai ditutup dan panggung dirubah jadi kastil. Aktor memerankan pertunjukan disana, dialog bisa sesuai dengan buku cerita asli. Ada adegan aksinya, ada adegan tarian dan ada adegan yang romantis.
"Dan sebagainya...."
Jack masih terus menjelaskan.
"...." Satella nyimak.
"Aktor pemeran utama biasanya cantik atau tampan. Figuran biasa saja tampangnya. Tapi tokoh yang penting biasanya orang terkenal."
Sekian Jack menjelaskan kepada kepada Satella. Kemudian tak ada komentar, Jack menatap kearah Satella yang terdiam. Jack habis kata-kata saat melihat mata Satella berkaca-kaca akibat ngebayangin pertunjukan teater.
"Be-begitu yah." Gumam Satella, terdiam sambil membayangkan.
"Kalau kamu mau nonton teater harusnya datang lebih awal supaya gak ngantri. Jadi bisa duduk santai didalam selagi panggung di setting." Kata Jack, dengan mimik membeku.
"...." Satella menyimak.
Parahnya tatapan wajah diam Satella amat imut, hingga Jack gemetaran.
"Jangan nunjukin wajah seperti begitu! Kamu bikin aku membeku tau." Protes Jack, reaksi Satella membuat Jack canggung. Adalah karena keimutan wajahnya ketika suasana hatinya riang, terkesan.
"Eh beku? Jangan ... nanti aku dimarahi kepala sekolah. Aku kan tidak memakai sihir es lagi?" Ucap Satella dengan nada kaget.
"Bukan, bukan, bukan membeku seperti itu yang dimaksud. Aku jadi tambah canggung." Koreksi Jack.
"Oh...." Satella menghela napas bertambah lega.
"Tapi," Satella menatap Jack dengan mimik antusias yang riangnya bisa bikin putra bangsawan manapun cemburu karena ekspresi yang imut itu mengarah ke Jack. Bahkan sang pengeran akan menyingkirkan Jack untuk merebut tatapan senyum imut yang Satella tampakkan itu.
Satella memotong dengan kata, tapi.
"Kisah dibuku cerita bergambar menjadi nyata Jack. Bukankah itu keren." Komentar Satella dengan mimik tercengang.
"Iya itulah akting." Jack bilang.
"Jadi itu hanya berpura-pura?" Satella, mengendurkan wajahnya.
"Tapi mereka seperti asli. Itu seolah buku cerita bergambar jadi nyata hingga bisa dilihat langsung dengan mata. tak sebatas melihat dari kertas berwarna saja." Jawab Jack.
"Iya juga," Balas Satella, mimik wajah Satella pun kembali semangat dan antusias.
"Ada benarnya." Satella melebarkan senyumnya.
"Jadi maunya kemana?" Tanya Jack.
"Nonton teater." Pinta Satella.
"Gak bisa lah! Kalau sekarang baru ngantri, nanti bisa kehabisan tiket. Lalu waktu untuk mengantri tiket kursi, terbuang sia-sia." Balas Jack.
"Kita ke toko sulap deh, cari alat untuk menjahili." Jawab Satella.
"Oke." Jack dengan gestur jari, ok.
__ADS_1
Mereka lanjut jalan di sepanjang Elevenia street, sambil melihat-lihat apa-apa yang dipajang di sana.
~Bersambung~