Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Di interogasi [1]


__ADS_3

Terjatuh bersama kursi kayu yang didudukinya, meringis kesakitan ditendang telak kena bahu. Walau mage dengan kekuatan penghancur setara monster, tapi tubuhnya itu rapuh seperti kaca, rentan akan kekerasan. Bahkan sebagai putri charlotte, Satella tak sekalipun dia mendapat perlakuan kasar begini.


"Kejam, kalian kejam!" Umpat Satella yang masih meringis tiduran dalam posisi menyamping.


"Sudah kubilang, ini takan sulit apabila kamu mau bekerja sama dengan kami." Kata penyidik.


"Bekerja sama apanya?" Satella mengumpat kesal.


Penyidik melangkah kearah Satella, mendekatinya. Tau-tau menariknya keatas. Memaksanya duduk kembali bahkan dengan tubuh masih sakit.


"Maaf, harusnya aku membiarkan dirimu meredakan sakit. Tapi, aku tidak memiliki banyak waktu, jadi harus memaksa." Ujar penyidik.


"Em, uh ... huh." Enggan meladeni, Satella merespon dengan berdeham.


"Lihat aku!" Kata penyidik.


"Um." Satella perlahan menolehkan kepalanya mengarah ke penyidik.


"Mohon kerjasamanya!" Penyidik bilang.


"Kerjasama apanya? Jelas-jelas aku tidak bersalah!" Umpat Satella.


Bruk....


Penyidik memukul meja, Satella spontan menunduk ciut.


"Aku tidak ada di lokasi waktu kejadian, sudah jelas kan!" Satella kelihatan geram.


"Tapi saksi mata bilang kamulah pelakunya!" Penyidik bersikeras.


"Saksi mata apanya?" Satella kesal.


"Murid yang berjalan di koridor dan lolos dari kutukan berantai itu!" Kata penyidik.


"Loh ... gitu?" Satella putus asa.


"Hu ... huhu ... hu, dituduh itu rasanya tidak enak." Satella mulai tersedu-sedu, buah keputusasaan yang dirasakan.


Bruk....


Meja digebrak.


"Jangan nangis!" Penyidik memukul meja.


Satella mulai terbiasa dengan penyidik yang galak. Raut sendu Satella berganti wajah takut.


Bagaimana tidak....


Menangis saja dilarang, berbuah peringatan. Pada akhirnya dibuat tidak jadi menangis, berganti wajah ketakutan. Ibarat kata hampir saja klimaks tapi sendunya dipaksakan untuk gagal klimaks. Keputusasaan pun mulai dirasakannya.


"Hu ... huhu ... huhh, biarkan aku pulang ... biarkan aku pulang!" Sendu Satella kian terisak-isak.


Bruk....


"Diam sebentar!" Penyidik amat hilang kesabaran.


Kali ini meja dipukul keras dengan jarak terlalu dekat dengan Satella memberi efek shock. Pada akhirnya Satella dibuat ciut lagi dengan cita rasa shock.


"Dengar penyihir! Jangan pakai trik untuk mengulur-ulur waktu! Aku ini tidak punya banyak waktu. Kamu telah menghabiskan waktuku!" Penyidik memberikan caci maki bernada keras yang memberikan shock terapi.


"Tapi aku bukan penyihir, aku tuh murid akademi sihir." Ujar Satella.


[Note : Penyidik memanggil Satella dengan kata wicth.]


"Makannya, tolonglah untuk realistis sedikit! Tidak becus ungkap kasus malahan pake jalan pintas. Saksi bukan satu-satunya cara untuk mencari pelaku tau!" Ujar Satella, menceramahi penyidik.


"Mana ku tahu? Tugasku hanya bertanya kepada terduga!" Penyidik pun memarahi Satella, lagi.


"Inilah kenapa menjadi terduga itu sungguh tidak enak rasanya." Ujar Satella.


"Jangan banyak bicara!" Penyidik memarahi lagi Satella.


Tentu saja penyidik itu haruslah galak.


"Anda yang membuat ini menjadi lama." Protes Satella, tidak kalah galaknya.

__ADS_1


"Ayolah ... aku mencoba selamatkan kamu dari penyidik lain yang lebih tak manusiawi. bantu aku dengan berikan informasi." Keluh penyidik.


"Iya, apa! Cepat ... lakukan dengan benar! Masuk akal dong sedikit!" Balas Satella.


"...." Penyidik diam.


"Mana mungkin kan, aku bilang akulah pelaku mantra kutukan padahal aku telah tertidur di jam sepuluh malam." Tambah Satella.


"Diam ... kamu diam! Cih, itu lagi!" Penyidik geram.


"Masuk akal dikit dong!" Satella mengumpat.


Penyidik melangkah mendekati Satella.


Plak....


Satella kena tampar lagi, dua detik kemudian perutnya kena tendang penyidik itu. Satella terjatuh lagi bersama kursinya.


Bruk....


"Hu ... uhuk ... huh ... sakit." Satella pun terisak-isak dilantai, mengeluhkan sensasi kesakitan.


"Sudah cukup! Kamu akan segera ditangani penyidik lain." Penyidik tersebut geram. Ia meninggalkan ruangan.


Penyidik pergi meninggalkan Satella dalam posisi terbaring dilantai. Proses interogasi berjalan buntu. Dua kali ditampar, dua kali tendangan. Bagi Satella, ini kali pertama dirinya dianiaya. Cukup aneh rasanya kalau putri bangsawan di perkusi oleh penegak hukum. Keluarga bangsawan sanggup memakai jasa pengacara hebat manapun. Ruang interogasi hanya ada Satella yang meringis sakit dan butuh beberapa menit untuk meredakan kesakitan.


Apa ada yang lebih gila lagi ?


Menit demi menit perasaan pilu dirasakan. Satella mampu untuk bangkit kembali. Tapi, mentalnya sakit akibat tindakan represif itu. Nama baik rusak karena jadi tertuduh juga dipertontonkan para murid saat petugas menjemputnya.


Satella membenarkan kursi yang terjatuh.


"Sakit ... sakit." Keluh Satella.


Satella duduk.


"Kenapa jadi begini?" Batin Satella.


Satella duduk dikursi, kepalanya bersandar dimeja tanpa semangat. Matanya sayu. Ia beberapa menit terdiam seperti itu diruang interogasi. Sampai beberapa penderitaan berikutnya datang ketika penyidik lain itu datang. Bahkan lebih gila lagi.


"...." Satella semula kepalanya bersandar mengangkat kepala lalu menatap pintu masuk.


"Pagi." Ucap Satella bernada cuek.


"Pagi? Kamu bercanda?" Penyidik mengerutkan kening.


"Ha ... bodo amat lah." Balas Satella.


"Jadi, Satella," Panggil penyidik. "Aku ini sadistik loh."


Penyidik menyeringai kearah Satella.


"Heh, bodo amat lah!" Sahut Satella.


Penyidik kedua jauh lebih muda daripada yang pertama. Rambut cepak cokelat, memakai seragam polisi militer pada umumnya.


Almamater cokelat kulit dipadukan dengan jubah hijau tua. Mereka unit infanteri taktis dengan armor ringan. Mereka hanya memakai seragam cokelat dari kulit monster yang memberikan sedikit defense beserta chain mail ringan didalam seragamnya.


"Baiklah aku akan kembali. Aku ambilkan instrumen penyiksaan." Penyidik menyeringai menatap Satella yang cuek.


"Eh ... instrumen apa? Penyiksaan!" Satella menampakkan wajah resah.


Duduk dalam posisi siaga. Satella tidak bisa tenang untuk kali ini. Beberapa menit berlalu hingga penyidik tadi datang lagi. Ialah sang penyidik kedua yang lebih muda.


"Saya kembali nyonya muda." Ucap penyidik yang datang membawa seutas tali. Juga beberapa alat yang disimpan dalam kantung kecil.


"Heh ... Mau apa kamu!" Sentak Satella, menjerit ketakutan.


"Sudah saya bilang! Apapun akan dilakukan untuk menginterogasi." Kata penyidik.


"Ta ... ta ... tapi?" Satella sangat ketakutan sekaligus mulai resah.


"Aku belum terbukti bersalah kan?" Satella ketakutan.


"Tapi saksi mata jelas melihat anda yang melakukannya." Kata penyidik.

__ADS_1


"Apa boleh buat." Keluh Satella dengan raut wajah bermasalah.


Kacaunya penyidik berjalan kearah Satella, membawa seutas tali untuk mengikatnya. Menyeringai dengan niat yang jahat. Penyidik melangkah kearah belakang, Satella menelan ludahnya ketika itu.


"Silahkan tegang semaunya!" Ujar penyidik, lalu tertawa jahat.


"Jangan melawan atau saya bisa menjadi lebih kasar." Ucapnya.


Satella kian panik dan bersuara dengan nada menjerit-jerit.


"Tunggu dulu! Langsung saja ke intinya petugas! Tidak perlu sampai seperti ini kan?" Satella panik.


Tak mengindahkan perkata Satella, penyidik menarik sepasang tangan lentik Satella. Sorot mata Satella dipenuhi rasa takut dan mati rasa.


"Percuma saja, lagi pula kamu tak mau mengaku." Kata penyidik yang sedang mengikat sepasang tangan lentik Satella kebelakang tubuhnya.


"Sakit! Pelan-pelan dong petugas! menyakiti pergelangan tanganku!" Protes Satella.


Penyidik mengikat tubuh Satella dibagian atasnya. Membentuk simpul pada bagian tubuh atasnya. Ikatan menyiksa dadanya, mengekang aliran napasnya. Tindakan yang bermaksud mengurangi pasokan oksigen dengan menjerat tubuh bagian dada dengan jeratan simpul tali pengekang. Tali sudah terikat kemudian penyidik menarik untuk mengencangkan jeratannya.


Untungnya penyidik tidak melecehkan nya dengan merobek atau melepas busananya Satella.


"Kya ... tidak! Sakit, ini sakit!" Keluh Satella, menjerit panjang.


"Diam, atau aku pererat jeratan simpul talinya!" Ancam penyidik.


"Napas ku jadi berat." Keluh Satella.


Penyidik mengambil duduk dikursi yang bertatapan dengan posisinya Satella. Lima detik napas Satella semakin berat saja bagai penderita penyakit asma. Otot leher dan dada menarik banyak udara, tetapi oksigen yang dapat dihisap hanya sedikit sekali karena efek simpul tali penjerat. Jenis penyiksaan ini menguras fisik Satella. Tiap waktu tenaga Satella habis hanya untuk memaksa otot dada menarik napas panjang-panjang. Tapi oksigen yang bisa dihisap sangat sedikit sekali.


"Aku tau kamu suka mengulur-ulur waktu. Penyidik sebelumnya telah memberitahukan aku." Penyidik pum mengambil korek gas.


penyidik menyalakan cerutu tembakau yang dituang kedalam pipa kayu.


"Aku benci asap rokok." Keluh Satella dengan napas beratnya.


"Mendengar napas berat seorang gadis remaja yang dijerat oleh tali penjerat, membuatku merasakan kebahagiaan aku jadi bergairah ditambah rasa tegang." Penyidik menyeringai, sesekali menghisap tembakau dari pipa kayu.


"Hentikan itu! Aku bilang hentikan itu.. kamu tidak boleh melakukan yang seperti itu, itu merendahkan diriku sebagai seorang wanita dan sangat melukai harga diriku sebagai perempuan." Protes Satella walau bersuara menyiksanya. Semakin berusaha memperkeras nadanya semakin paru-parunya kehilangan banyak oksigen.


"Hah.. apa kamu gak cape karena bernapas? Udara telah dihambat menuju paru-paru mu loh." Ujar penyidik, sangat santai merokok.


"Aku melakukan ini sebagai cara supaya kamu gak kuat mengulur waktu loh." Kata penyidik.


"Langsung saja! Semakin kamu berlama-lama semakin tersiksa dirimu dengan napas dihambat." Penyidik tertawa jahat.


"Mau ku juga begitu! Tapi malah dipaksa mengakui apa yang tidak kulakukan." Balas Satella.


"Masih belum mengaku juga huh!" Penyidik tidak puas dengan respon dari terduga.


"Kamu super menyebalkan!" Sentak Satella.


Satella bereriak sekuat yang paru-parunya mampu. Napas terhambat oleh jerat tali didada, sungguh menyiksa.


Mengeluarkan benda dari dalam kantung hitam kecil. Gelang yang terbuat dari kulit hewan dengan warna hitam. Gelang itu kebesaran jika dipakai dipergelanhan tangan. Terlalu besar untuk gelang tangan karena itu adalah kalung leher. Ini metode berikutnya untuk membuat korban merasa direndahkan dan mengemban luka psikologi berupa rasa malu tak terbayangkan.


"Kya ... tidak! Benda apa lagi itu! Bentuknya mirip kalung anjing peliharaan." Satella pun menjerit. Satella bernada protes.


"Tugasku hanya membuatmu mau bersaksi." Tegas penyidik muda.


"Kya ... tidak! No, no, tu ... tu... tunggu dulu! Bend apa itu?" Ucap Satella bernada protes, dengan mimik yang ketakutan.


"Ini adalah choker. Fungsinya mengurangi pasokan oksigen dari pihak yang dijajah." Kata penyidik sambil tertawa jahat.


"Kya ... tidak! Apa katamu? Kamu, menjajah aku? Kamu telah membuatku jadi merasa direndahkan oke. Ini tidak baik, hentikan itu!" Satella dengan nada keras yang dipaksakan. Pada akhirnya tenggorokannya tersiksa. Ia dipaksa berteriak dengan pasokan napas yang pendek juga tersendat-sendat.


"Diam!" Penyidik memukul meja.


Tangan Satella terikat kebelakang dengan simpul tali perbudakan menghambat aliran napasnya. Prlahan penyidik memasangkan kalung leher penyiksaan kepada Satella. Itu lebih menyiksa lagi.


Penyidik hanya bertujuan supaya Satella bersedia bersaksi bahwa dialah pelaku mantra kutukan itu.


Akankah Satella bersaksi atau malah akan menentang? Apa yang terjadi kalau Satella memutuskannya? Cobaan apa yang akan menanti? Saksikan.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2