Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Penerawang


__ADS_3

Ketika Satella sedang bersama tabib, datanglah satu orang lainnya yang mengaku sebagai sang penerawang.


"Jadi, bagaimana kamu bertahan hidup?" Tanya Climbt.


"Aku dilindungi seorang penjaga." Jawab Satella.


"Kamu bergurau?" Climbt sampai mengerutkan kening karena tidak puas dengan jawabannya.


"Enggak." Satella mengangguk dan menatap penerawang dengan raut wajah polosnya.


Betapa polos mimik wajah Satella, membuat penerawang menyerah dalam menginterogasi.


"Aku tidak yakin seorang kesatria reguler bisa mengusir werewolf? Jangankan seorang kesatria reguler, satu regu atau tiga regu kesatria mampu dibantainya. Werewolf itu sangatlah kuat, aku tidak percaya seorang kesatria reguler mampu bertarung dengan werewolf hanya sendirian saja. Aku jadi penasaran." Climbt mengutarakan pikiran didalam kepalanya.


"Aku juga ikut bertarung." Satella membalas.


"Lalu, kamu ini apa?" Tanya Climbt.


"Aku ini seorang putri." Ucap Satella, dengan nada polosnya.


Climbt mengepal tinjunya, mata terpejam dengan kening dipenuhi kerutan. Mimiknya sangat kesal.


Climbt menghela napas panjang.


"Aku melihat TKP, ada kerusakan akibat penggunaan sihir. Apakah kamu yang menggunakan sihir?" Tanya Climbt.


Satella cengengesan.


"Em, uh." Satella mengangguk.


"Jangan bilang-bilang!" Satella berbisik.


"Jadi kamu seorang magic caster." Climbt menaruh telunjuknya didagu nya disaat ia menatap Satella.


Suasana hening sejenak.


"Dan kamu pasti tabib, tolong beri aku namamu!" Pinta Climbt pada tabibnya.


"Namaku Eric." Kata sang tabib.


"Menarik...." Ceracau Satella.


Jadi disini ada satu magic caster, seorang tabib dan penerawang. Itu yang menurutnya sebagai menarik.


"Apa kalian ingin berpartisipasi dalam upaya pencarian identitas werewolf?" Tanya Climbt.


"Aku tidak mau terlibat. Aku tidak mau mati!" Jawab tabib.


"Mau, tapi, gimana cara menyelidikinya?" Tanya Satella.


"Kamu cari tahu siapa yang mencurigakan! Kamu berikan aku masukkan tentang siapa yang akan aku terawang. Kita harus berhasil mengungkap identitas werewolf sebelum banyak yang dibantainya. Climbt memberi penjelasan, Satella menyimak.


"Baiklah." Balas Satella.


Satella menguap.


"Aku ngantuk sekali. Penyerangan werewolf, bikin aku jadi kurang tidur." Keluh Satella.


"Aku akan meminjamkan kamarku sampai besok." Kata Climbt.


"Benarkah?" Tanya Satella.


Climbt memberikan kunci kamar kepada Satella. Kunci kamarnya terdapat gantungan dengan angka yang memberitahu nomor kamar. Maka Satella langsung mengambil kuncinya, lalu bergegas keluar.


Satella keluar kamar. Climbt juga keluar kamar. Mereka berpamitan sebelum berpisah dilorong.


Berjalan sambil melihat nomor disetiap pintu.


Beberapa saat kemudian.


Masih mencari....


"Ah, ketemu!" Ucap Satella.


Menuju pintu dengan nomor yang persis dengan di gantungan kunci, Satella memasuki kamarnya. Satella menjatuhkan tubuhnya dikasur.


Baru sejenak menikmati rasa yang nyaman, Satella tersadar.


"Oh, iya, barang miliku masih ada dikamar lama." Akhirnya Satella keluar kamar dengan kondisi yang lelah. Kantung mata mulai nampak.


Sore hari.


Satella berjalan dilorong. Tau-tau melihat ada keributan yang terjadi. Pertengkaran antara dua warga penginapan. Satella kurang mampu menyimak apa yang diributkan keduanya, karena jaraknya terlalu jauh. Mereka saling dorong satu dengan lainnya. Satella diam saja melongo, melihat keduanya ribut.

__ADS_1


Hingga salah satu menodongkan sebuah senjata api.


Adalah pistol revolver. Laras nya panjang dan besar bila dibanding revolver standar. Meski ia telah ditodong, satu penghuni itu masih tetap membentak lawan bicaranya.


Teriakan semakin riuh terdengar sampai-sampai.


Dor....


Tembakan dilepaskan dari pistol revolver yang apabila dilihat dari ukuran laras nya maka itu sejenis magnum. Daya ledak dari bubuk asapnya sangat tinggi. Proyektil pelurunya sangat besar dan keras.


Darah pun berceceran dalam satu tembakan. Bagian tubuhnya jadi berlubang. Pelurunya juga tembus sampai menyasar tembok yang berada dibelakangnya. Dilihat dari lubang didinding, proyektil peluru sangatlah besar.


"Mengerikan." Ceracau Satella, ia masih melongo melihat kejadian.


Setelah kelepasan menembak lalu gunners pun kian panik. Satella melihat tindak-tanduknya seperti ingin melarikan diri. Awalnya ia menoleh kesegala sudut hanya tuk memastikan bahwa tidak ada saksi mata yang melihatnya.


"Hai, kamu!" Seru Satella.


Pria gunners itu menatap Satella. Tidak butuh waktu lama sampai ia memutuskan berlari kearah Satella dengan aura pembunuh. Sementara Satella kian resah dibuatnya. Sang pembunuh itu masih memegang senjata api jenis magnum revolver.


"Jangan mendekat!" Seru Satella.


Ia terus berlari.


"Jaga jarak!" Satella kian resah.


"Jangan dekat-dekat." Satella kian heboh dalam menjerit.


Pengguna senjata terus berlari.


Lama-lama jaraknya pun kian dekat. Ketika jarak tembak sudah ideal, ia menodong revolver kearah Satella. Sementara Satella menyulap empat stack perisai es. Pengguna revolver telah menembak senjata apinya.


Proyektil menembus perisai yang pertama dan kedua, tapi tersangkut pada perisai ketiga. Si pembunuh masih menembak magnum secara membabi-buta. Sehingga peluru didalam silinder revolver habis.


Satella memegang pundak kirinya dan melihat basah darah.


Pengguna senjata hendak mengisi ulang revolver nya. Satella berniat  menghalanginya, memakai tenaga telekinesis andalannya. Pengguna revolver diterbangkan lalu dibuat terhempas jauh kebelakang.


Sempat membentur tembok lalu terjatuh dilantai. Pistol revolver terlepas dari tangannya ketika ia terjatuh, kesakitan. Selang suara letupan senjata api yang terjadi, sekumpulan orang pun datang.


Terutama instruktur Jay dan tiga personil polisi militer lainnya.


Satella menyenderkan tubuhnya ditembok. Peluru menyerempet bahunya tidak bersarang, tapi itu tetaplah perih baginya. Selain rasa perih, dampaknya membuat fisik Satella kehilangan banyak tenaga.


"Panggil tabib!" Seru Satella.


Skip....


Satella kembali ke kamar yang ia pinjam dari Climbt. Sementara itu seorang tabib yang ia kenal sedang merawat lukanya. Lumayan parah untuk membuat Satella mendapat perban tebal di bahunya. Di sana terdapat penerawang juga. Sang penerawang sebagai sekutu utama bagi Satella dalam mengungkapkan kedok werewolf yang sebenarnya.


"Belum juga satu hari, sudah ada kejadian." Komentar penerawang.


"Aku harap, kalian bermain lebih aman lagi." Kata tabib sambil ia berfokus memulihkan luka Satella dari dalam dengan sihir airnya.


"Aku tidak tahu! Waktu aku jalan dilorong, ada dua orang bertengkar. Salah satunya mengeluarkan pistol lalu menodong yang lain. Setelah salah satu menodong pistol, mereka semakin keras bertengkar. Hingga puncaknya, pengguna senjata api menembakan pistolnya. Orang itu tewas oleh senjata api. Kemudian pembunuhnya melihatku, ia pun berlari ke arahku. Tanpa basa-basi pembunuh menembak ku dengan senjata apinya. Kalau saja aku ini bukan pengguna sihir, aku sudah pasti mati." Satella menjelaskan.


"Istirahat dulu disini!" Kata tabib.


Satella diam dan mengangguk.


Meanwhile.


Sementara Satella diobati oleh sang tabib. Para penghuni sedang ramai diruang aula ruangan. Ada seorang pemilik penginapan, inspektur Jay, pangeran keempat dan pengawal pribadinya. Semua penghuni sudah berkumpul, kecuali Satella dan juga beberapa orang lainnya.


Pelaku penembakan diborgol oleh petugas polisi militer.


"Mohon perhatiannya!" Si pemilik tempat hendak memulai.


Hampir semuanya telah duduk rapi dikursi masing-masing.


"Sore ini kita mendapatkan pelaku pembunuhan dengan senjata api. Pelaku membunuh seorang warga penginapan ini, melukai seorang penghuni bergender wanita. Apa diantara kalian ada yang curiga kepadanya?" Tanya pemilik tempat.


"Curiga apa?" Seru seorang yang penghuni yang tak diketahui.


"Curiga kalau ia ada hubungannya dengan werewolf!" Jawab pemilik tempat penginapan.


Suasana kian hening.


Beberapa lagi memperbincangkan tentang kemungkinan itu.


"Ahem!"


Pangeran berdeham, mengangkat tangannya untuk berpendapat.

__ADS_1


"Bagaimana teori dari inspektur?" Sang pangeran memberi usulannya untuk mendengar pemikiran dari inspektur polisi secara langsung.


Inspektur berdeham, diam sejenak sebelum berpendapat.


"Alasan ia membunuh penghuni penginapan belum jelas dan belum begitu kuat. Tetapi alasan pelaku menembak gadis itu sudah pasti untuk menghilangkan saksi mata. Tetapi, ada baiknya kita berkenan untuk mendengar alasan si pelaku memberikan tindakan demikian." Itulah pendapat instruktur polisi.


[Satella : Semakin menegangkan.] 😏


Satella mengintip forum, melalui sihir clairvoyance.


"Untuk pelaku penembakan, bisa jelaskan alasan anda melakukan tindakan ini?" Tanya inspektur Jay.


"Saya menduga korban sebagai werewolf dalam kedok manusia." Begitulah alibi sang pelaku.


Kemudian seseorang yang tidak dikenal siapa namanya, tau-tau bersuara gaduh.


"Jangan-jangan kamu werewolf nya!" Seorang menuduh.


Inspektur mengebrak mejanya sekeras-kerasnya.


"Tolong perkenalkan diri, sebelum memberikan pendapat!" Tegas sang inspektur polisi.


Suasana menjadi hening.


Inspektur Jay menatap serius pada pelaku penembakan.


"Atas dasar apa, anda menuduhnya sebagai werewolf?" Tanya inspektur.


"Karena," Belum usai berkata-kata, inspektur polisi sudah mengebrak mejanya lagi.


Pelaku bungkam.


"Bisa perkenalkan diri dulu!" Pinta inspektur polisi.


Pelaku menyetujui.


"Nama saya, Roger, pekerjaan saya adalah seorang pemburu hadiah. Sekarang, bisakah saya bercerita tentang alasan saya?" Tanya Roger.


"Silahkan." Balas inspektur.


Inspektur memperkenalkan. Roger bersiap untuk memberi argumen miliknya di forum.


"Soalnya saya melihat sang pelaku berkeliaran disaat malam kemarin. Beberapa saat sebelum werewolf muncul, ia berada di lorong dekat tempat kejadian." Ujar Roger.


"Jangan-jangan kamu adalah sosok werewolf yang sebenarnya!" Tuduh seorang penghuni penginapan.


Sekali lagi, inspektur memukul mejanya.


"Tolong, perkenalkan diri sebelum memberikan pendapat!" Inspektur menegaskan aturan dalam forum.


"Permisi." Seorang wanita dewasa berpakaian seksi itu mengangkat tangannya.


Dengan pede wanita itu memakai gaun berenda warna hitam. Gaun yang ia kenakan sedikit tembus pandang saking tipisnya. Apalagi bagian punggungnya yang sangat memamerkan kulit punggungnya yang sangat mulus seputih susu.


Gadis itu memiliki rambut warna cokelat yang panjang. Pada ujung rambutnya bergelombang.


"Sebenarnya semalam, sang korban hendak mencari saya. Sang korban adalah kenalan saya, namanya itu Rudy. Rudy itu salah satu teman kencan saya." Kata wanita seksi itu.


Beberapa penghuni berbisik satu dengan yang lainnya.


"******* kelas atas." Bisik seorang penghuni dalam forum.


Dari ekspresi senyum bermasalah inspektur, sudah jelas bahwa sang inspektur paham. Inspektur tahu yang terjadi semalam antara sang korban dan seorang harlot.


Inspektur Jay bernapas berat, lalu berdeham.


Inspektur menampakkan gestur membenarkan kerah baju.


"Bisa anda perkenalkan siapa nama anda?" Tanya inspektur.


Wanita tersebut tersenyum dengan ekspresi yang nakal.


"Nama saya, Caroline." Ujar wanita berperawakan idaman itu.


"Baiklah," Inspektur hampir pasti mencapai kesimpulan.


"Setelah mendengarkan kesaksian dari Caroline, kita mendapat satu kesimpulan! Sekarang sudah jelas kalau korban bukanlah seorang werewolf. Kemudian sang pelaku penembakan, mungkin hanya salah tuduh saja." Ujar inspektur Jay.


"Jadi bagaimana forum?" Pemilik penginapan berbicara satu sama lainnya.


Bagaimana keputusan yang akan terjadi dalam forum?


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2