Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
awal yang baik


__ADS_3

Green Apple village.


Satella dibikin balik lagi ke desa karena Bellatrix memintanya tuk mengunjungi ruang bawah tanah perpustakaan menemukan buku pembuat ramuan. Pada jaman ini ramuan tersebut ilegal karena fungsinya berpotensi merugikan untuk yang ditiru wujudnya tanpa izin. Satella dibuat capek karena harus pulang pergi keluar kota.


Untungnya mode perubahan wujudnya Satella menjadi hewan merpati sihir itu lebih cepat dari wyvern movement speed nya.


Jangankan wyvern, menaiki naga darat saja membuat fisik Satella kelelahan. Tentu sihir perubahan yang dikuasai Satella amat terasa manfaatnya. Perjalanan antar kota secara bolak-balik pun jadi enteng.


Satella masih ingat dimana rumah Bellatrix. Satella tahu dari pecahan memori yang didapat psikometri. Satella melangkah dan sedikitnya dikejutkan oleh kondisi rumah.


"Oh goddess! Penyihir jaman dulu tahu betul cara memperpanjang ketahanan bangunan." Itulah yang diucapkan Satella saat rasa takjub keluar setelah melihat rumah kayu Bellatrix setelah empat abad.


"Tapi!" Satella mengerutkan alis setelah menyadari.


"PASTI BANYAK DEBUNYA! AKU JIJIK." Batin Satella.


"Putri ningrat seperti ku dipaksa bersih-bersih?" Bisik Satella yang disertai mimik wajah kacau.


Belum melangkah, seseorang pun menyapa Satella.


"Ketemu lagi! Putri kecil." Sapa penduduk desa.


Satella menoleh..


"Paman yang tadi? Lagi." Satella bengong.


"Sedang apa kali ini." Tanya warga.


"Em, ya... itu, bisakah bantu aku bersih-bersih rumah ini." Satella menunjuk kerumah tua bekas kepunyaan Bellatrix.


"Sejujurnya aku ngeri, sebab ini rumah angker." Kata warga itu.


"Tolong.. aku paman." Bujuk Satella yang merajuk bagai anak manja.


"Baiklah.. tapi aku harus meminta tolong beberapa orang. Ingat ini tidaklah gratis loh." Jawabannya.


"Aku tahu, tenang saja." Satella.


Skip...


Tiga orang dipekerjakan via paruh waktu. Ini semua supaya rumah dibersihkan dari pekatnya partikel debu. Sebab kalau masih berdebu maka Satella bisa amat bermasalah pernapasannya saat masuk ruang perpustakaan bawah tanah rumah Bellatrix ini.


Seseorang membersihkan Poto didinding dengan bulu ayam..


"Astaga." Kata mbak tukang bersih-bersih.


"Ada apa?"


"Ternyata dialah pemilik rumah tua angker ini."


"Tidak bukan! Dia pasti cucu atau cicitnya, sebab kutahu rumah ini sudah tidak dihuni dalam waktu teramat lama."


Pekerja sewaan ngobrol beberapa waktu. Merekapun berlanjut lagi bersih-bersih rumah tua. Satella bernapas lega karena tidak ada dugaan buruk apapun terhadap dirinya itu. Apalagi kalau dicurigai sebagai inkarnasi Bellatrix maka segalanya jadi tambah kacau.


Sementara tiga orang sibuknya bersih-bersih. Satella menunggu didepan rumah tua itu.


Satella memasuki pintu depan rumahnya.


"Masih kotor." Bisik Satella, lalu kembali keluar.


Hingga saat ini Satella kembali menunggu diluar.


Satu jam kemudian..


Satella mengintip dari balik pintu ruang tamu.


"Sudah lebih baik, lumayan." Pikir Satella, menutupi mulut dan juga hidungnya dengan telapak tangan dengan maksud agar bisa tahan dengan debunya.


Berjalan mengitari ruangan agar menemukan jalan rahasia menuju ruang bawah tanah. Mata bulat dan besarnya yang imut dipaksa untuk mencari detailnya kalau-kalau menemukan pintu rahasia atau apapun itu. Masih menoleh ke kiri menoleh ke kanan mencari-cari.


Ternyata matanya gagal mencari lokasi pintu rahasia.


Suara berdenyit muncul ketika kakinya menginjak sesuatu.


"Ah apa ini?" Dengan cepat Satella melonjak mundur, agak kaget.


"Dasar mudah kaget." Satella pada dirinya sendiri.


Mengetes lagi dengan menekan lantainya dengan satu kaki.


"Apakah jangan-jangan? Ada tombol atau semacamnya itu." Gumam Satella, menaruh telunjuk didagu.


Satella mencoba memakai sihir telekinesis untuk mengangkat lantainya. Alhasil plate kayu itu terangkat setengahnya sementara satu bagian menempel dengan engselnya. Pintu ruangan bawah tanah yang simpel juga rahasia ditemukan. Cukup rapih caranya menyembunyikan jalan masuk ini.

__ADS_1


Didalamnya sangatlah berdebu..


"Hei.. kalian, bisa bantu aku?" Seru Satella.


Mereka datang.


"Bisa bersihkan ruang bawah tanah dari debu-debu?" Pinta Satella.


"Iya nyonya kecil." Jawab mbak tukang bersih-bersih.


"Tolong pasang penerangan juga." Pinta Satella.


Menyadari ruang bawah tanah itu masih lama dibersihkan nya, Satella memilih meninggalkan rumah itu untuk saat ini. Kembali nanti kalau rumah sudah lebih bersih dari debu.


Bagi penduduk desa, pekerjaan sederhana seperti ini yang butuh tenaga seharian, koin perak yang didapat bisa untuk biaya hidup selama sepuluh hari atau lebih.


Sementara putri ningrat seperti Satella uang sakunya tidak ada habisnya. Bahkan sesekali Satella memutar ulang ingatannya.


"Silahkan jalan-jalan, jangan dulu pulang kalau uang jajan mu belum habis, ya nak." Pesan dari ayahnya Satella terekam dalam pikiran anaknya yang paling dimanja itu.


Mengingat kata-kata itu sukses membuat Satella cengar-cengir sendiri.


Entah bagaimana Satella dibuat bolak-balik hari ini.


Kamar mandi asrama.


Satella tiduran didalam bath up berisikan air hangat. Matanya terpejam menikmati jeda santai.


"Badanku penuh debu jadinya." Satella sedikit berkeluh kesah.


Suara air disapu oleh tangannya Satella terasa tenangnya suara air.


"Berendam itu enak." Satella makin nyaman dan santai.


Kemudian..


Satella berjalan di lorong mencoba menuruti apa kata Bellatrix untuk memperhitungkan mendapat pet berupa Phoenix. Untuk mendapat peliharaan rare yang amat langka seperti Phoenix, salah satu caranya adalah gacha telur. Untuk mampu memenangkan gacha kita butuh seorang dengan tingkat beruntung setara dewi Eris. Dengan stat luck setingkat dewa, bermain gacha  menjadi cheat yang menyenangkan.


Tapi Satella kembali ragu setelah membayangkan apa yang terjadi sebelumnya. Loop waktu ketiga tentunya membuat Satella sedikit menutup diri terhadap temannya. Setelah terdiam dalam waktu agak lama, Satella melangkah lagi.


Terus berjalan di lorong , telah ada dilantai sembilan.


Tiba-tiba Satella agak kaget.


Ternyata mereka bertiga sedang berjalan di lorong. Mungkin akan memantapkan lagi penguasaan mereka terhadap sihir, karena mereka harus ujian praktik tidak seperti Satella yang diliburkan.


"...." Wajah Satella entah kenapa terlihat shock. Fakta bahwa kini Satella berada dihari pertama loop waktu, yang artinya relasi kembali restart ke waktu dimana baru saja jadi bahan buly trio mage cantik. Begitulah prespektif mereka, hanya Satella saja yang tahu mereka dan dirinya pernah sangat akrab pada putaran waktu sebelum restart yang sekarang ini.


Kini Isyana dengan gen mulut toxic nya yang komentar.


"Ya.. ampun ya.. ampun, lihat tuh wajahnya shock. Kamu sih pake membuly Stella waktu kemarin itu Minerva." Komentar Isyana.


"Apa? Kok aku! Kan kita semua, yasudah." Minerva sedikit kesal.


"Emang kamu kan." Balas Isyana menjulurkan lidah kearah Minerva.


"Serterah!" Minerva melipat tangan dengan wajah galaknya yang cantik.


"Sudah.. sudah.. jangan bully Stella lagi." Kata Isyana, dengan nada yang mengolok-olok.


"Ayo." Minerva mengiyakan, mereka berjalan meninggalkan Satella, tapi entah kenapa Violetta masih diam saja ditempat.


Mereka berdua melangkah, Isyana berhenti saat menyadari.


"Tunggu ada yang ketinggalan." Isyana bilang.


"Bukan diperiksa dari tadi! Waktu masih, Gess.. kesel, bikin lama deh!" Minerva mendesis kesal.


"Bukan maksudku." Isyana.


Minerva melihat apa yang Isyana tunjukkan.


"Kenapa diam saja disana Violetta.. Luciana! Kamu gak mau ikut ya bilangnya dari tadi dong." Minerva mengomel kesal.


Violetta melangkah kearah Satella kemudian berhenti. Posisi Violetta sekarang sangat dekat hingga bisa saja orang mengira mereka mau berciuman, andai saja beda gender.


Violetta mengendus kearah Satella sampai hidungnya berada dekat dengan tubuh Satella. Mengendus dekat bahu dan daerah leher dan sampai dada. Setelah selesai yang Violetta katakan sudah bisa Satella tebak, tapi bikin kaget dua lainnya.


"Kamu bau miasma penyihir, bau busuk mu sangat pekat amat busuk sampai-sampai membuatku sangat jijik." Violetta blak-blakan secara tajam kepada Satella.


Sementara Satella menunduk, arah tatapan kebawah dengan kepalanya sedikit condong kebelakang seolah ingin menghindari Violetta.


"Astaga!" Reaksi Minerva.

__ADS_1


"Aku no komen." Isyana bilang.


Minerva maju empat langkah saja kearah mereka. Sementara setiap Violetta menatap tajam, Satella mundur sedikit-sedikit. Ia terus sampai menabrak seorang yang berada dibelakangnya.


Satella dibuat risih.


"Jangan seperti itu, aku merasa terganggu, kumohon." Satella pun dibuat mundur dikit demi sedikit sampai tak sadar dibelakangnya seorang melangkah maju.


Satella menabrak, punggungnya menabrak dada Minerva.


"Aduh sakit." Keluh Minerva.


"Maaf." Satella spontan sedikit menjerit minta maaf.


"Kamu bikin barang ku jadi sedikit tersakiti!" Menolak pinggang seraya melotot galak, kemudian Minerva sedikit berbisik.


"Posisinya jadi gak enak kan, aku mesti ke toilet tuk membenarkan posisi penyanggahnya." Minerva berbisik pelan, tanpa sadar Satella mendengarkan nada bisikan itu.


"H~~hah geser." Karena kagetan tanpa disadari Satella agak keras waktu mengatakan itu, Minerva sedikit tersinggung.


Sementara Isyana mendapat celah untuk ngatain.


"Apa geser? Habisnya gunung mu kebesaran sih." Sindir Isyana.


"Berisik! Jenong." Minerva kesel, tetapi Isyana malah nambahin.


"Penyanggah gunung mu itu terlalu kecil. Makannya geser sedikit bikin gak nyaman posisinya karena pasti mengganjal. Punyamu terus tumbuh jadi belilah yang ukurannya lebih besar." Isyana tersenyum sarkastik.


"Isyana diam! Atau aku peloroti punyamu." Minerva melotot galak kearah Isyana.


"Kya.. ampun mamah tiri." Isyana menjerit kaget. Mundur selangkah dengan mimik ketakutan.


Pandangan Minerva dialihkan menuju Violetta.


"Apa maksudmu Violetta!" Minerva pada Violetta.


"Apa.. apanya?" Balas Violetta.


Isyana membisiki Minerva.


"Tadi dia bilang kalau Satella itu baunya busuk." Bisik Isyana.


"Apa benar?" Minerva menaruh telunjuk didagunya merasa sedikit penasaran.


Kebetulan Minerva cukup dekat dengan Satella. Karena penasaran Minerva mengendus kearah tubuh mungilnya Satella.


"Jelas-jelas wangi aroma sabun mandi." Bisik Minerva.


"Bisa jelaskan! Alasan kamu sebut Stella bau busuk." Minerva sambil menolak pinggang memandang Violetta dengan sedikit marah.


"Sudah jelas kan." Jawab Violetta.


Isyana ikut komentar.


"Aku kira Violetta itu orangnya pendiam ya. Ternyata dia punya mulut toxic sepertiku." Komentar Isyana.


"Tidak bukan itu yang ku maksud." Bantah Violetta.


"Bisa jelaskan!" Tagih Minerva.


"Bau miasma." Jawab Violetta.


Ekspresi Satella tambah muram setelah Violetta menjawab.


"Huh.. miasma? Apa katamu." Minerva bingung.


"Bau busuk seorang wicth yang menggunakan sihir gelap, baunya pekat sekali, aku mau muntah." Violetta bilang.


"Sihir gelap?" Gumam Minerva.


Sekilas Minerva menatap Satella hingga membaca raut muram yang ada diwajahnya. Perubahan pada garis wajah Minerva nunjukin kalau kali ini Minerva simpati kepada Satella. Wajahnya masam dan juga cemberut saat membaca perasaan Satella lewat mimik wajahnya.


"Hentikan itu! Jangan menghina Stella." Minerva yang berubah jadi simpati, memberi pembelaan pada Satella setelah Violetta mencium aroma bau sihir gelap dari tubuh Satella. Miasma itu asalnya dari kekuatan sihir sage diary dengan kekuatan sihir restart nya.


"Eh?"


Awalnya kaget, Satella mengukir senyum tipis dibibirnya setelah ia tahu kalau Minerva memberikan pembelaan.


Minerva menepati janjinya yang ia buat di loop waktu sebelum. Minerva membelaku, melindungi aku sesuai dengan janjinya di loop ketiga.


Pikir Satella amat gembira..


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2