Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
keluyuran dimalam ketiga


__ADS_3

Violetta memberikan panduan pada Satella tentang cara menggunakan bakat Esper nya. Awalnya Satella hanya tahu bahwa telepati gunanya hanya untuk komunikasi. Tapi kini Satella tahu bahwa itu bisa untuk menerawang pemikiran orang lain juga. Violetta memandu Satella tuk mempraktikkan teknik Esper nya. Mempraktikkan pada dua subjek pertama aman-aman saja. Tetapi ketika mencoba pada subjek yang ketiga, suatu ketegangan terjadi.


"Akan aku bikin kamu masuk ke rumah sakit sekolah!" Satella jalan cepat kearah Jack. Tapi tangannya dipegang oleh Violetta dan ditarik.


"Jangan ikut campur!" Ujar Satella dengan kesalnya.


"Satella tatap aku! Tolong dengar! Karena aku mau bicara, ya." Ucap Violetta memegang kedua bahu Satella dengan erat.


"Tatap mataku! Dan kamu akan segera tertidur! Kamu akan segera mengantuk." Violetta memberikan sugesti kepada Satella.


Hipnosis !!


Violetta memberi sugesti hipnosis kepada Satella. Itu adalah teknik dengan afinitas Esper lainnya, dan dalam sekejap Satella seperti mulai pingsan dan ambruk. Violetta pun sigap menangkap tubuh Satella.


Violetta cukup jangkung untuk melakukan gendongan pengantin kepada Satella. Violetta posturnya diatas 180cm, tubuh Satella dia angkat begitu saja dengan mudah seakan itu enteng. Seperti sedang menggendong seorang pengantin.


Skip..


Ruang kebutuhan.


Tau-tau Satella tersadar diruang berkumpul kelompok Eris order, tempat tersembunyi. Dibangunnya dengan cipratan air yang kecil.


"Bangun.. cepat bangun." Yang menarik-narik lengan baju dari seragam Satella adalah litle Iota.


"Em.. uh." Satella melenguh dalam setengah sadar. Merenggangkan tubuhnya.


"Eh? Itu tangan minta digigit apa, sepertinya ya!" Nyenggol kepalaku seenaknya." Protes Iota.


"Eh? Iota.. maaf aku gak sengaja." Satella perlahan membuka mata.


Satella berusaha bangkit tapi masih tubuhnya masih kaku. Violetta dan dewi Eris memegang tangan Satella untuk membantunya bangun. Kini Satella telah duduk sempurna.


"Merasa mendingan?" Tanya Violetta, dengan wajah minim ekspresi.


"Anehnya aku udah gak emosi lagi sekarang." Gumam Satella.


Begitulah kira-kira. Tak banyak kejadian yang penting sampai keesokan harinya.


Besoknya..


Ruang perjamuan.


Kini seluruh murid dan guru-guru berada diruang perjamuan. Adalah ruangan besar yang dipakai makan bersama-sama, ruang pesta hajatan. Seperti biasa para siswi yang ada dalam kelompok Eris order selalu bersama Satella. Satu antara lainnya dalam kelompok saling akrabnya.


"Oh.. iya, nanti malam kalian mau pergi kemana?" Tanya Satella.


"Tidur lebih awal dong." Iota yang pertama menjawab. Langsung saja dikomentari oleh Minerva.


"Iya dong, jelas ya.. litle Iota si loli berisik ini kan baru jam sembilan udah ngantuk aja." Balas Minerva dengan ekspresi wajah jutek yang dibuat-buat.


"Juteknya natural banget! Dasar mamah tiri." Balas Iota.


"Apa? Mamah tiri." Satella ketawa cekikikan. Minerva berdeham tapi Satella tak berhenti hingga Minerva kembali berdeham beberapa kali hingga Satella berusaha berhenti.


"Maaf." Satella tak berani menatap Minerva dengan wajah galaknya.


"Beritahu dia! Iota." Seru dewi Eris. Kemudian Iota sempat tertawa sebentar sebelum menjelaskan.


"Ahem," Iota berdeham, menaruh kepalan tangan super lentik pada mulutnya dengan gestur pura-pura batuk. Iota mulai, "kamu tau Tella.. Minerva itu sering mentas di acara seni drama, diatas panggung teater. Peran langganan Minerva adalah sebagai ibu tiri yang galak loh.. iya benar, sangatlah.. galak."


Ketika menyebabkan kata galak dan sangat galak, Iota membuat gestur berbisik walau suaranya bukanlah suara bisikan. Satella tertawa lagi dibuatnya, terkikik-kikik sampai hampir terbatuk-batuk dibuatnya. Iota pun sampai menepuk-nepuk punggung Satella karena tersedak tertawaan nya sendiri.


"Iya~~ iya bener tuh. Minerva kan sangat galak, makannya cocok tuh buat jadi ibu tiri di teater drama." Satella berkomentar.


"Pake banget." Iota menanggapi. Sementara dewi Eris menutupi bibirnya dengan ujung jari seraya bertahan sekuat tenaga agar tak mengeluarkan suara tertawa.


"Bagus! Ya.. kalian." Umpat Minerva seraya melotot galak. Saat menolak pinggang, memperlihatkan bulatan yang menonjol dibalik dadanya itu. Ukuran yang disukai para cowok sebagai bagian kewanitaannya nan menarik. Tatapan melotot mata galaknya berpindah dari Satella kepada Iota lalu Satella lagi setiap empat detik sekali. Seakan banyak asap mengepul diatas kepalanya.


"Maaf mamah. Kya.. maksudku mamah tiri. Ups.. maaf maksudku Minerva." Satella mengangkat dua tangannya, dengan mimik takut dimarahi.


"Iya maafkan Yota.. juga ya Neruva, eh.. maksudnya mamah tiri, iya.. uh Neruva maksudnya hehe." Iota pun ikutan salah tingkah saat dipelototi oleh kegalakkan Minerva.

__ADS_1


"Awas nanti berdua akan ku balas diruang kebutuhan." Ujar Minerva, menyeringai penuh kekesalan.


"Aku perkosa kalian!" Kata Minerva.


"Kamu cewe oy?" Tanya Iota.


"Aku ikat kalian dengan ikatan tali simpul dengan pose memalukan. Terus.. dalam posisi diikat ku paksa kalian saling mencium bibir satu sama lainya." Ujar Minerva seraya menyeringai sebal.


"Kya.. ngerinya." Satella bergidik ngeri, menyilangkan tangannya menutupi tubuh bagian atasnya.


"Apa? Mau aku perah susumu hei nyonya!" Minerva dengan gestur menerima bisikan, lalu tersenyum jahat setelahnya.


"Kya.. astaga.. kejamnya." Jeritan Satella.


Atas perilaku Satella yang berisik, mendapat respon tidak suka dari beberapa siswa didekatnya.


"Astaga! Ya.. AMPUN, jangan jerit~ jerit gitu kenapa sih." Protes siswa yang duduk ditempat yang tak jauh.


"Maaf." Bisik Satella.


"Hihihi," dewi Eris tertawa manis setelah melihat reaksi Satella lalu meredakan kehebohannya dengan cara, "Minerva hanya bergurau kok Satella.. dia gak setega itu kok, iya.. kan Violetta."


"Aku merasakan aura keibuan yang penyayang dalam diri Minerva." Itu jawaban Violetta.


"Heh.. keibuan? Hehe.. ibu tiri nya ternyata peduli." Iota meledek lagi.


"Iota.. stop!" Minerva mengerutkan alisnya.


"Oh.. iya. Ngomong-ngomong kalian belum jawab pertanyaan aku yang tadi itu loh." Satella mengalihkan pembicaraan yang melenceng agak random tadi itu.


"Aku sih diruang kebutuhan." Jawab dewi Eris.


"Aku mau tidur lebih awal." Jawab Violetta.


"Ibu.. tiri." Seru Satella.


"...." Minerva melototi Satella.


"Eh.. iya~ya uh ya.. maksudnya itu Minerva hehe. Maaf." Ucap Satella dengan gagap dan bergidik ngeri.


"....." Wajah galak Minerva perlahan mereda, ketika sejuk lagi Minerva mulai memberikan jawaban.


"Aku mau ke kafetaria karena nanti malam akan ada traktiran dari siswi yang berulang tahun. Pastinya ramai deh." Jawab Minerva.


"Oh y~~yeah jam berapa itu?" Tanya Satella.


"Jam sebelas malam sih." Minerva bilang.


"Kenapa larut malam sekali?" Tanya Satella.


"Entahlah." Jawab Minerva.


"Boleh aku ikut?" Bujuk Satella, berniat mencegah Minerva dari dikutuk ular balisik di time-loop kedua, kali ini.


"Emang kamu diundang?" Tanya Minerva dengan mimik keki.


"Eng.. itu, enggak sih, tapinya aku boleh datang bersama mu?" Tanya Satella.


"Ya.. ampun, jangan pasang wajah sedih ala anak-anak begitu dong! Akunya jadi kasian kan." Minerva menampakkan wajah malu-malu.


"Kamu harus baik dengan Satella." Bujuk dewi Eris.


"Minerva! Jangan begitu." Violetta ikut-ikutan.


"Iya udah! Ya.. aku tunggu di lorong dekat kafetaria sekolah." Mendengus kesal, Minerva terpejam pasrah saat memperbolehkan.


Akhirnya Satella mendapatkan satu kesempatan untuk mencegah ular balisik mengutuk Minerva. Apakah putaran waktu kali ini Satella bisa merubah keadaan. Setelah ini tidak ada obrolan yang penting, hanya candaan saja dan sesi makan siang yang damai nan tenteram.


Skip..


Jam sebelas malam..

__ADS_1


Satella berjalan di lorong kelas di dekat kafetaria. Satella melihat ada perempuan berambut emas disana dengan tubuh atletis yang menarik sedang duduk. Daya tarik terbesar adalah ukuran bukit kembarnya itu yang jadi idola banyak anak cowok. Tapi sayangnya para cowok takut dengan sifat galaknya itu. Siapa lagi kalau bukan Minerva si blonde.


"Hai.. hai." Seru Satella melambai kearahnya dari kejauhan, Satella terus mendekat kearah Minerva.


"Hai." Satella menyapa lagi sosok perempuan yang cuek itu.


"Siapa ya?" Canda Minerva dengan wajah cueknya yang memancarkan kejutkan natural, seolah itu adalah bawaan lahirnya.


"Hai.. Minerva?" Satella mulai menampakkan wajah masam.


"Iya aku Minerva, kamu siapa ya?" Tanya Satella.


"Eh... Eh? Loh gitu sih." Satella pun mengerutkan keningnya.


"Maksudmu Minerva yang lain kali?" Canda Minerva.


"Aku kan Satella, apakah aku salah orang?" Satella dengan wajah yang bermasalah, keningnya semakin mengkerut saja.


"Iya benar. Kamu salah orang." Minerva menutupi bibir dengan ujung tangannya.


"Em." Satella berbalik badan sambil tertunduk bete.


"Hei.. tunggu." Seru Minerva.


"...." Satella putar badan.


"Aku bercanda." Kata Minerva.


"Em.. iya." Satella bete.


Tak ada yang spesial hari ini selain Minerva dengan rambut kuncir satu dengan tanpa poni yang melihatkan keningnya. Itulah penampilan yang biasa ditampakkan Minerva, bahkan sejak pertemuan waktu itu. Dimana Satella belum menulis nama dibuku sage diary berkekuatan restart.


"Hai duduk dulu sini." Minerva menepuk sisi kursi disebelahnya.


"Terimakasih." Satella tersenyum tipis.


"Kenapa tidak kedalam?" Tanya Satella.


"Nanti dulu." Kata Minerva.


"Ya." Satella nurut.


"Hai.. aku mau tanya." Minerva dengan senyum tipis nan sejuk. Kejadian langka karena wajahnya yang punya karakter garis wajah galak itu tersenyum tulus dengan penuh kesejukan. Adalah sesuatu yang terbilang langka.


"Kamu kelihatan senang?" Sahut Satella.


"Kalau seandainya kamu seorang cowok, bagian mana dariku yang kamu anggap menarik?" Minerva mengawali pertanyaan dengan senyuman yang merekah di pipi.


"Oh.. itu." Satella terdiam sesaat sambil menaruh telunjuk didagu menatap keatas dengan gesturnya yang imutnya kelebihan gula. Iris matanya menengadah kesisi yang paling atas pada pelipis matanya.


"Ah aku tahu." Satella menjentikan jarinya, berekspresi se lugu anak berusia sepuluh tahun.


"Kening mu, aku suka kening mu." Jawab Satella.


"Huh? Emang kenapa loh jidatku?" Minerva terbengong terheran-heran.


"Iya kening mu nampak cantik dan gemesin, kalau saja aku punya adik perempuan berusia sepuluh tahun dengan kening sepertimu, aku akan mengecup kening adik perempuan aku itu." Ujar Satella.


"Jawabanmu tepat! Aku suka kok dengan jawaban ini, kalau boleh kamu akan kuberi nilai 100. Tapi karena kamu bukan cowo maka kuberi 90 untuk kamu." Minerva menyatakan dengan tulus kepada Satella tentang tanggapannya.


Tau-tau Minerva menanggapi ini dengan cerewet.


"Soalnya dari kecil aku suka pakai model rambut yang bikin tengkuk juga keningku menjadi sorotan. Waktu aku masih kecil saudara-saudaraku yang lebih tua selalu mengecup keningku seraya berkata, adek kecil kamu menggemaskan." Begitulah Minerva bilang, memperagakan tingkah orang-orang. Lalu Satella menanggapinya dengan ketawa terkikik-kikik.


[note : Minerva memakai model rambut ini sejak kecil hingga sekarang.]


Alih-alih marah karena ditertawai Satella, Minerva malah makin asik dalam merumpi dengannya.


"Serius loh.. tapi, aku terkejut kamu pilih jawaban itu. Sebab kalau kamu bilang oppai lah bagian yang paling mempesona dariku. Maka laki-laki yang seperti itulah yang akan aku tampar! Aku kesel dengan laki-laki seperti itu. Memandang cewe hanya dari lekuk tubuhnya, dan mereka menatap dengan liar. Kita kan bisa merasa risih."


Mereka semakin akrab merumpi sampai Minerva berdiri, menarik tangan Satella menuju kafetaria sambil tersenyum semringah.

__ADS_1


Akankah Satella bisa selamat dari hari ketiga pada loop waktu yang kedua ini?


~bersambung~


__ADS_2