Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
cara alternatif


__ADS_3

Ruang kebutuhan.


Minerva berjalan mondar-mandir dengan raut gelisah. Ia menunggu kepulangan Satella. Iota dan Isyana malah bermain permainan kartu dengan asiknya. Bermain kartu bersama Violetta yang cuek, terus dewi Eris yang tenang sekali.


"Lama banget sih." Keluh Minerva dengan tidak sabaran.


Setelah beberapa kali memutari bagian paling tengah dari ruangan ini. Satella datang secara tiba-tiba, mengejutkan Minerva dengan raut wajah yang menjadi senang.


Suara gemuruh angin muncul tanda seseorang memasuki ruangan yang tersembunyi itu. Minerva menoleh kearah pintu masuk ruang rahasia.


"Hei.. kamu kembali." Seru Minerva.


Satella berjalan cepat, setengah berlari menuju sofa.


"Hei sudah.. sudah! Main kartunya sudah dulu. Satella pulang, ayo kita bahas rencana." Ujar dewi Eris yang menepuk tangan. Meminta semua segera duduk manis.


"Kita sudah tahu caranya melawan ular balisik!" Seru Minerva dengan antusias.


"Oh yeah?" Sahut Satella.


"Itu Violetta yang menemukan cara counter nya." Ujar dewi Eris.


"Kok bisa?" Satella terkejut.


"Saat kamu ngebahas tentang ular balisik tempo hari, aku memeriksa catatan ku yang dulu. Aku ketemu catatan tentang ular balisik dan juga catatan lain yang berhubungan." Violetta ngejelasin, Satella mengkerutkan keningnya akibat dibuat bingung.


"Intinya?" Pinta Satella.


"Counter untuk ular balisik adalah burung Phoenix." Ujar Violetta.


"Wo~~woah burung berbulu emas itukah maksudmu. Aku terkejut, burung Phoenix sama seperti ular balisik yaitu sama-sama mahluk myth. Melawan mahluk myth menggunakan mahluk myth juga! Kenapa aku tidak memikirkan itu." Satella menanggapi.


Prokk...


"Dengar!" Eris goddess menepuk tangan sekali, meminta perhatian untuk didengarkan.


"Ada dua jalur menuju itu. Tuk dapatkan Phoenix! Kita bisa meminta agar dewi Aqua memberi pinjam Phoenix peliharaannya kepada kita. Kedua, kita bisa beli sebutir telur gacha! Telur yang berisikan pet secara random dan untuk mendapat Phoenix kita membutuhkan telur grade S itu. Karena telur gacha grade S isinya adalah berbagai mahluk myth." Penjelasan dewi Eris.


Minerva berdeham. Mengangkat tangannya, bersiap berkomentar.


"Kalau masalah gacha aku berani kalau bergantung pada dewi eris! Soalnya dewi Eris memiliki level keberuntungan sekelas dewa. Sang dewa keberuntungan ada ditangan kita semua." Ujar Minerva.


"Aku itu orangnya demokrasi, ya. Sekarang kalian putuskan! Kalian pengen jalur yang mana?" Pilihan diberikan dewi Eris.


Satella mengangkat tangan.


"Mendengar ucapan Minerva yang cantik ini, sudah jelas kan.. bahwa telur gacha adalah pilihan paling menguntungkan. Sebab kalau kita meminjam Phoenix peliharaannya dewi Aqua, bukankah itu adalah pertolongan yang menuntut balas budi dikemudian hari." Pilihan yang diambil Satella.


"Eh.. cantik. Em ya.. maksudku iya setuju aku dengan pemikirannya Satella itu." Minerva vote pilihannya, jadi berbunga-bunga raut wajahnya karena dibilang cantik.


"Membiarkan dewi keberuntungan bermain gacha adalah pilihan yang paling masuk akal. Aku seratus satu persen percaya kita pasti mendapat burung Phoenix." Violetta memilih vote jalur yang sama dengan yang dipilih Satella dan Minerva.


"Iya aku pilih permainan gacha. Soalnya yang main gacha itu dewi keberuntungan sih." Isyana telah melakukan vote.


"Aku vote jalur gacha." Ujar Iota.


"Oke terimakasih semua. Sekarang destinasi kita adalah menara plaza, disana kita pergi ke toko yang jual telur gacha." Seru dewi Eris yang telah berdiri dan mengangkat dua tangannya ke atas.


[Note : disetiap kota besar terdapat menara plaza. Fungsinya seperti market, tapi khusu kalangan elit.]


Skip..


Menara plaza.

__ADS_1


Akhirnya tiba dilantai delapan dari menara plaza. Toko ini umumnya menjual aneka item sihir, lalu telur gacha adalah salah satu item yang dijual didalam toko. Mereka baru keluar dari elevator. Ini adalah elevator yang sama dengan lift ala abad ke-18. Elevator kuno yang berjalan lambat dengan tralis besi yang mirip tralis jendela sebagai pintu lift. Persis hampir mirip lift barang pada abad modern. Alih-alih digerakan dengan tenaga hidrolik, elevator digerakan dengan bebatuan sihir bertenaga uap api.


Klenteng.. klenteng..


Bunyi lonceng terdengar ketika pintunya dibuka. Adalah ciri khas yang umum digunakan toko yang terdapat di kota-kota. Toko ini dalamnya cukup lega, terdapat banyak etalase kaca yang berisi berbagai item sihir yang umum.


"Selamat datang ditoko kami." Sambutan karyawan penjaga toko.


Setelah dewi Eris mendekati meja kasir, karyawan toko menjalankan tugasnya. Tugas yang umumnya karyawan toko lakukan.


"Butuh item sihir apa? Biar saya bantu carikan." Kata karyawan.


"Saya mencari telur gacha berisi mahluk myth." Pinta dewi Eris.


"Baiklah." Karyawan toko berjalan kearah satu etalase.


Etalase iru rupanya seperti lemari kaca pada umumnya. Membuka mengambil lima kotak, ditumpuk kemudian diangkut terlihat enteng dibawa. Menaruh kelima box kayu tersebut dimeja kasir kemudian karyawan toko mempersilahkan.


"Ini dia.. untuk mendapat mahluk myth sebagai pet kalian itu butuh telur gacha grade S, ya. Telur gacha grade S ini harganya lima puluh koin emas." Kata karyawan toko.


Masing-masing box berisi dua puluh empat telur gacha. Kelima box kayu berisi telur gacha grade S. Sekarang dewi Eris sedang dipersilahkan tuk memilih telur yang mau diambil.


"Silahkan memilih dengan santai, tidak ada batasan waktu dalam memilih telur ini. Namanya juga gacha jadi kalian bebas memilih dengan cara kalian."


Perlahan dewi Eris memilih telur dengan cara melihatnya satu demi satu. Beberapa menit pun berlalu sampai karyawan toko bersuara.


"Mahluk myth seperti apa? yang disukai oleh nyonya cantik ini." Karyawan toko membuka obrolan.


"Kami mencari Phoenix." Jawaban dewi Eris.


"Sayang sekali.. mohon maaf tapi, karena aku orangnya jujur aku akan memberitahu. Dua hari yang lalu sudah ada yang mendapatkan Phoenix dari telur gacha grade S ditoko kami itu. Aku percaya seratus persen tidak ada Phoenix lainnya ditoko kami, sebab Phoenix adalah mahluk myth yang paling langka. Jadi mustahil ada Phoenix lainnya lagi." Ujar karyawan toko.


"Sangat disayangkan." Seru dewi Eris.


Skip..


Ruang kebutuhan.


Semua Kembali, pulang dengan tangan hampa. Duduk di sofa, semuanya pasang wajah yang kurang happening.


"Kita datang ke lima toko yang berbeda. Semua khusus item sihir, felling ku sama seperti saat sedang menatap telur gacha ditoko yang pertama. Artinya tidak ada telur berisi Phoenix di lima toko yang sudah kita datangi. Maafkan aku." Menjelaskan ketidaksanggupannya dalam menemukan Phoenix, dewi Eris memohon maaf.


"Mau gak mau kita harus datang ketempat DEWI AQUA itu." Ujar dewi Eris sambil menghela napas.


"Eng.. anu, kalau boleh tahu aku pengen tanya. Kenapa dewi Eris terlihat frustasi saat menyebutkan Dewi Aqua?" Tanya Satella.


"Eh? Ada benarnya juga. Kenapa begitu Dewi Eris." Minerva ikut menanggapi.


"Pasti ada suatu yang buruk terjadi dimasa lalu." Violetta berkomentar.


"Itu benar." Jawab Dewi Eris yang menunduk muram.


"Sebenarnya, dewi Aqua adalah seniorku. Kami tinggal di Asgard awalnya, kemudian kak Aqua mengajak aku tinggal di dunia manusia. Sebagai ras dewa kami diberkati keabadian dari apple of idun. Disana kami adalah dewa minor, seiring berjalannya waktu kakak Aqua menjadi dewi angkuh menyebalkan." Curhat dewi Eris.


"Yasudah.. yasudah.. kita coba dulu meminta pinjaman pet Phoenix punya kak Aqua itu." Sahut Satella.


"Sebagai dewi minor dengan daya supranatural yang kuat, dewi Aqua punya palace yang tidak bisa untuk dimasuki sembarang orang. Yang dimaksud palace adalah dimensi supranatural dari dunia yang kita tempati ini." Ujar dewi Eris.


"Makannya teleport tidak belaku, tempat kak Aqua tinggal adalah dimensi supranatural." Dewi Eris menambahkan.


"Menurutku Phoenix tidak kita butuhkan." Seru Violetta.


"Loh?" Satella bengong.

__ADS_1


"Lihat.. lihatlah wajah dewi kita tercinta kalian lihat wajahnya menjadi lesu saat tadi membahas dewi Aqua." Violetta ngejelasin.


"Em.. iya ada benarnya sih." Satella menunduk dan merasa bersalah.


"Aku sih Serterah kalian." Minerva melirik.


"Iya gak ada hati sih kalau sampai kalian gak peduli tentang betapa muramnya dewi kita waktu harus membahas tentang berkunjung ke tempat dewi Aqua." Isyana bilang.


"Berarti kita skip aja rencana buat mendapatkan Phoenix sebagai kartu as kita." Balas Minerva.


"Masalahnya ada dua. Avatar dari pangeran kegelapan dan ular balisik dengan kutukan pembatuan. Kalian tahu cara atasi ular balisik?" Satella.


"Aku sih pusing, ya.. kalau disuruh cari solusi tentang cara bertarung tanpa menatap mata target. Kalau lawan manusia sih bisa, tapi kalau ular kan bagian terbesarnya adalah kepala. Dengan kepala sebesar itu mustahil kan gak natap matanya?" Minerva menepuk jidatnya yang sedikit jenong itu.


"Ah.. kenapa gak kepikiran." Secara mendadak Violetta berteriak agak kerasnya. Mengagetkan semua yang ada diruangan.


"EH.. COPOT!" Teriak Satella yang merasa shock pada jantungnya.


"Ye.. ngagetin aja cewe jangkung kurang gairah!" Protes Isyana.


"Gess.. SEKALI LAGI! jantungku bakalan kejang-kejang." Minerva ikutan mengomel.


"Hihihi." Tawa manis dewi Eris.


"Aku tau guys." Seru Violetta.


"APA!" Sentak Minerva sambil menolak pinggang.


"Kalian bisa skill sight?" Violetta.


"Itukan sihir tingkat satu yang kita pelajari di tahun pertama, ya aku bisalah." Jawab Satella.


"Itu doang sih gampang." Minerva.


Violetta menoleh ke Isyana dibalas anggukan. Begitupun saat menoleh kearah little Iota. Setelah mendapat jawaban pasti dari semua kelompok, Violetta memulai penjelasannya.


"Dengar ide ku! Ada item sihir yang namanya observer ward. Bentuknya seperti tongkat kayu dengan mata semu dibeberapa sudut, fungsinya sebagai alat sihir pengawas, kalau memakai observer ward kita tidak menatap mata balisik melainkan mata semu. Berarti kita bisa lihat balisik tanpa kena stone curse kan." Violetta ngejelasin idenya.


"Dimanakah kita bisa dapatkan item sihir tersebut?" Tanya Minerva.


"Anu.. ditoko tadi." Jawab Violetta sambil terkekeh-kekeh.


"Eh! Cewe jangkung gak bergairah, dengar ya! Kalau gitu kenapa gak kasih tahu dari tadi? bolak-balik jadinya kan." Protes Minerva, amat sebal dengan Violetta.


"Hehe.. maaf gak kepikiran." Balas Violetta, terkekeh.


"Fuh." Minerva membuang napas. Minerva melangkah kearah Violetta.


Minerva mengambil koran yang kemarin lalu dilipat hingga bentuk koran menjadi seperti kipas. Lalu memberi selotip dibagian gagang kipasnya agar kuat untuk dipegang.


"Ini akibat poni nutupin mata! Makannya melek jadi orang, biar otaknya kebuka." Minerva bersiap meluapkan kekesalannya.


Minerva memakai kipas koran tadi untuk men smash wajah Violetta dengan keras. Men smash wajah Violetta, Minerva teriak kesalnya.


"MELEK DONG.. MELEK DONG.. MELEK DONG!"


Plak.. plak.. plak..


Minerva yang dibuat darah tinggi segera men smash wajah Violetta bolak-balik hingga seratus kali dengan kipas koran yang dibikin sekeras mungkin.


"Kya.. perih nih Minerva!" Keluh Violetta. Lumayan menjerit.


"Pedes." Violetta mengusap bagian yang dipukul bolak-balik.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2