
Kuping lancip Satella pun memerah karena memang sensitif. Terduduk disofa sambil menutupi sepasang telinga lancipnya dengan tangannya, jaga-jaga kalau dijahili Violetta atau Iota lagi.
"Buka saja kuping lancip mu itu! Udah gak ada yang mau jewer lagi kok." Kta Iota, ia menepuk-nepuk Satella.
"Aku udahan kok." Kata Violetta sambil mengangkat kedua tangannya.
"Tuh, kan, masih berkedut kuping lancip ku." Keluh Satella, tangannya bersandar di lutut.
"Ya maaf, lagipula kamu duluan ngatain aku." Balas Violetta.
"Hora ... hora ... baikan dong." Iota.
"Iya gak apa, kita akur, ya." Satella tersenyum tipis.
"Hah, teh nya sudah dingin." Keluh Violetta, mencicipi teh nya.
"Kalian sudah tahu belum?" Ucap Violetta, memulai pembicaraan.
"...." Satella nyimak.
"Belum." Kata Iota.
"Beberapa siswa membeku." Kata Violetta.
"Eh, bukan, bukan aku kok!" Ucap Satella dengan nada kaget.
"Aku gak bilang gitu." Sahut Violetta menatap sayu.
"Gess, jangan potong dulu!" Iota mendesis pada Satella.
"Maaf." Satella dengan mimik malu sendiri.
"Disekolah kita ada kasus kutukan stone curse." Ujar Violetta, yang dengan dramatis menakut-nakuti mereka berdua dengan gesturnya.
"Jadi batu?" Sahut Satella, heboh.
"Ngeri juga." Iota.
"Sekolah dilanda kepanikan sampai kegiatan ujian praktik mendadak diliburkan." Ujar Violetta.
"Para guru sedang mencari siapa dalangnya." Violetta bilang.
"Tapi." Violetta mengangkat jari telunjuk.
"Minerva kena kutukan." Violetta menjelaskan.
"Apa...." Iota kaget.
"Dikutuk?" Sahut Satella.
"Minerva terkena kutukan ketika berjalan di lorong sekolah semalam, saat menuju ruang rekreasi." Ujar Violetta.
"Jam berapa?" Satella.
"Jam sebelas kurang lebih." Jawab Violetta.
"Ada belasan siswa siswi lain juga terkena stone curse." Ujar Violetta.
"Para tabib di rumah sakit sekolah gagal menyembuhkan kutukannya. Para guru juga gak punya cukup kemampuan untuk membatalkan kutukan itu, kutukannya terlalu kuat." Violetta menceritakannya.
"Para ahli sedang dipanggil untuk membatalkan kutukan." Violetta dengan mata sayu dan wajah yang tenang pembawaannya.
"Bagaimana Sahna?" Tanya Iota.
"Isyana baik-baik saja, dia sedang dirumah sakit sekolah menemani Minerva yang tak sadarkan diri karena kutukan." Jawab Violetta.
"Aku simpati deh." Gumam Satella.
"Habis makan siang kita jenguk Minerva." Ujar Violetta.
Semua mengangguk.
Skip....
Makan siang.
Semua berada diruang perjamuan saat makan siang. Ruangan dengan barisan meja yang sangat panjang beserta kursi kayu. Satella duduk bersama Iota, Violetta juga Isyana. Bahkan ada dewi Eris yang sedang menyamar sebagai siswi sihir dan ikutan duduk bersama kelompok.
"Anu, bagaimana Minerva?" Tanya Satella.
"Cie ... peduli." Isyana bergurau.
"Malah becanda Sahna." Omel Iota.
"Maaf." Isyana cengar-cengir pada Iota sebelum menoleh ke Satella.
"Dia terbaring dikasur ruang inap dirumah sakit sekolah. Tidak sadarkan diri seperti siswa-siswi lain yang terkena kutukan. Tubuh mereka itu membatu warna kulitnya abu-abu seperti batu." Ujar Isyana.
__ADS_1
"Kira-kira kapan pemantra beraksi yah?" Satella menaruh telunjuknya didagu, merenung.
"Menurut perkiraan ku malam hari sekitar jam 11 malam, habisnya itu terakhir kali aku ngeliat Minerva." Isyana berpendapat.
"Jam sebelas malam, di lorong ya?" Gumam Satella.
"Kasian Minerva dan semua korban kutukan." Gumam Satella.
"Mereka belum mati. Tapi, masih ada waktu untuk membatalkan kutukan itu." Ucap Dewi Eris.
"Ayo, makan." Seru Iota.
Hari masih siang.
Para murid dan guru sihir sedang santai menyantap makan siangnya masing-masing. Ruang perjamuan berkapasitas ratusan orang. Hampir semua penghuni kastel akademi tertampung saat makan bersama disini. Suara riuh orang-orang yang membicarakan teror kutukan.
Dua puluh menit kemudian....
Sebagian orang hampir selesai dengan makan siang. Sementara kepala sekolah naik ke mimbar ruangan ini.
"Mohon perhatiannya, para siswa juga guru." Kepala sekolah menyela acara makan siang yang santai.
Suara gaduh ruang perjamuan, bertambah tenang. Suara berisik dari orang-orang yang sedang mengobrol masih ada, tapi menjadi berkurang. Setidaknya ada lebih banyak mata dan telinga menyimak.
"Kemarin malam kita dikejutkan oleh teror pemantra. Terduga masih belum ditemukan dan sedang dalam penyelidikan korps polisi militer kerajaan. Tolong agar lebih tenang karena para ahli sedang dipanggil untuk memulihkan kutukan."
Kepala sekolah dengan pidatonya. Mencoba mengatur ketenangan di akademi sihir ini. Sebagian nampak cemas dan sebagian tenang-tenang saja seolah masa bodoh.
"Untuk siswi tahun ketiga yang bernama, Satella." Kepala sekolah mengumumkan, hampir semua terdiam disini.
"Bisa keruangan kepala sekolah sehabis jam makan siang." Kepala sekolah memberikan pengumuman, gemuruh suara semakin riuh setelahnya.
Semua mengobrolkan bahwa siswi tahun ketiga yang bernama Satella mungkin ada pengaruhnya dengan pemantra.
"Itu saja, pokoknya harap tenang semuanya. Segalanya sedang kita tangani." Ujar kepala sekolah.
"Sekian dan terimakasih." Kepala sekolah mengakhiri pidato.
Beberapa wali kelas menyampaikan pesan himbauan masing-masing. Untuk yang ini kurang begitu banyak yang fokus menyimak. Semua fokus dengan perbincangan masing-masing.
Skip....
Lorong lantai tujuh.
Satella berjalan bersama Dewi Eris sementara yang lain menunggunya diruang kebutuhan. Dewi Eris lah yang menyuruh anggota lain dalam kelompok untuk tak terlibat masalah.
"Ya ... ampun! Belum lama ini aku dipanggil keruangan kepala sekolah. Masa sih udah dipanggil lagi?" Curhat Satella, dipenuhi kegelisahan.
"Pasti gara-gara Jack mengadu karena tadi pagi deh. Anak cowok tapinya tukang ngadu, dasar banci dia!" Satella menggerutu, sebal.
"Tenang aja dulu." Bujuk dewi Eris seraya mengelus bahu Satella.
Menuju lantai sembilan....
Satella berjalan di lorong ditemani dewi Eris menuju ruang kepala sekolah. Dalam wujud penyamaran dewi Eris adalah siswi akademi berambut silver seleher, dengan seragam sekolah dan jubah tahun ketiga. Sesampainya disana, Eris hanya menemani sampai pintu.
"Semangat." Seru dewi Eris.
"Em, makasih." Satella dengan resah mulai membuka pintu ruangan kepala sekolah.
Kemudian.
Ruang kepala sekolah.
"Permisi." Ucap Satella dengan gugupnya, berjalan menuju pak kepala sekolah yang duduk.
"Iya, putri Charlotte. Tolong duduklah!" Pak kepala sekolah menyuruhnya untuk duduk berhadapan.
"Eng ... anu, pak." Satella lirih.
"...." Kepala sekolah diam, menatap dengan mimik galak dan diam.
"Sudah dua kali dalam seminggu dipanggil kesini. Apa saya anak yang bandel?" Satella tertunduk.
"Bapak sampai bingung mau bilang apa, tapi." Kepala sekolah memulai.
"...." Satella menyimak dengan ekspresi takut.
"Apa benar, kamu pelaku mantra kutukan itu?" Tanya kepala sekolah.
"Eh, loh ... kok aku?" Satella kaget.
"Jawab saja yang sejujurnya!" Pak kepala sekolah menatap dengan ekspresi yang marah. Walau nada bicaranya masih diatur dengan intonasi nada pelan nan santun.
"Gak lah, pak." Jawab Satella.
"Dimana kamu pas tengah malam?" Tanya kepala sekolah, nada suara sedang saja, ditambah oleh sebuah gebrakan meja.
__ADS_1
"Aku tidur jam sepuluh malam pak." Jawab Satella, dengan wajah nada yang nelongso.
"Tapi, menurut laporan dari orang polisi militer! Ciri-ciri dari pelaku mantra kutukan yang disebutkan saksi mata, serupa dengan sketsa wajahmu." Pak kepala sekolah pun memukul meja, menampakkan ketidak percayaan.
"Tapi, pak...." Satella dengan wajah frustasi dan nada pasrah.
"Kok aku?" Satella dengan nada bicaranya seperti mau menangis.
"Maaf, tapi ini bukan wewenang bapak." Ucap kepala sekolah dengan nada pelan, wajahnya pasrah saat menghela napas.
"Tugas anda selesai." Ucap seorang yang sembunyi dibalik rak buku.
Kepala sekolah terpejam dengan wajah pasrah. Suara langkah kaki terdengar dari belakang Satella.
Ada tiga orang kesatria dari korps polisi militer kerajaan dibelakang Satella.
"Saudari Satella, bisa ikut kami sekarang?" Paksa polisi militer.
"Huh?" Satella terkaget.
Tau-tau kedua tangan Satella sudah dipegang, dengan setiap satu orang memegang satu tangan. Butuh dua polisi militer memegangi tangan lentiknya Satella yang dipaksakan untuk berdiri kemudian melangkah.
"Mau apa kalian!" Satella ketakutan.
"Mohon jangan melawan!" Ancam polisi militer kerajaan.
"Tidak ... tidak! Aku tidak mau, aku tidak salah!" Satella mulai berontak.
Dua polisi menahan tangan Satella sementara satu orang berjalan kedepannya. Satella terus berontak untuk dibawa pergi.
"Kya ... tidak! Tidak ... tidak, kalian sungguh keliru! Aku tidak bersalah sama sekali! Aku tidak melakukan apapun!" Satella meronta meminta untuk dilepaskan.
"Tolong jangan melawan!" Sentak polisi yang berdiri didepan Satella.
"...." Satella ciut, tertunduk dengan perasaan takut.
Beberapa saat kemudian Satella kembali meronta.
"Tidak ... lepas!" Meronta-ronta, Satella melawan penangkapan.
Plak....
Satella mendapat sebuah tamparan keras diwajah. Pipinya memerah dalam satu kali pukulan. Tertunduk dengan mimik wajah pilu beserta sorot mata yang mati rasa setelah mengalami tindakan represif itu.
"Tolong!" Ancam polisi kerajaan.
Dengan wajah tertunduk kebawah akhirnya Satella dibawa pergi dari kastel akademi. Disepanjang jalan Satella dilihat siswa-siswi akademi sihir. Beberapa rekan korban atau bukan korban ikut mengumpat kearah Satella, menghakiminya.
"Kenapa, kenapa, kenapa?" Gumam Satella, sambil dibawa pergi oleh polisi militer kerajaan.
"Jadi itu pelakunya!" Seru murid di lorong yang menonton Satella lagi dibawa pergi polisi.
"Dasar pemantra jahat! Hukum gantung saja pak!" Seru para murid yang menonton Satella dibawa oleh polisi keluar kastel akademi.
Kerumunan siswa-siswi menyoraki Satella sepanjang jalan dia dibawa keluar kastel. Adalah kali pertama bagi Satella merasa dibenci semua orang. Disoraki penuh cacian juga makian. Mentalnya terluka karena kejadian asal tuduh ini.
Selanjutnya Satella dibawa masuk kedalam kereta naga. Dijalankan kereta naga itu menuju ketempat penahanan. Membuat Satella diam tanpa berkata-kata.
Skip....
Ruang interogasi.
Berada di kantor polisi militer kerajaan tingkat distrik. Ruangan tanpa jendela dengan dinding batu bata yang kumuh tanpa warna didinding. Ada seorang kru polisi militer yang posisinya penyelidik.
"Perkenalkan saya adalah seorang penyelidik." Polisi mulai bicara.
"...." Satella tidak merespon, diam sambil menunduk kelantai.
"Bisa lihat kesini?" Nada kru polisi mulai terdengar kesal.
"...." Satella cuek.
Polisi itu memegang dagu Satella hingga dipaksa menatap lurus kedepan. Kini Satella menatapnya dingin, tatapan kosong. Terlintas dibenak Satella adalah sorakan siswa-siswi sihir, dan caciannya.
"Apa anda saudari Satella?" Tanya penyidik.
"...." Diam.
"Jawab aku!" Penyidik kian kesal memukul meja.
Tapi Satella masih diam.
Plak....
Penyidik menampar wajah Satella hingga pipinya memerah. Tetapi hanya diam menatap beku, tanpa menghiraukan penyidik kata-kata Satella hanyalah.
"Aku tidak salah! Lepaskan aku!" Satella dengan nada dingin.
__ADS_1
Penyidik berdiri kemudian hendak berjalan menghampiri Satella, bisa jadi teknik intimidasi dilakukan untuk mencari informasi. Tiba-tiba tubuh Satella ditendangnya telak sampai terjatuh kelantai bersama kursi kayu yang dia duduk. Satella meringis sakit atas tindak represif.
~Bersambung~