Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Arc 1 | Akademi sihir


__ADS_3

Pagi hari.


Murid yang sekelas dengan Satella sedang berada diruang inap sekolah. Kebanyakan dari mereka meriang atau demam, ada yang flu saja. Otomatis kelas kosong untuk sementara waktu, Satella tak berani menjenguk ke ruang inap karena takut dimarahi teman-teman.


Masih duduk manis diruang tengah asrama putri, minum teh. Beberapa biskuit manis tersaji di toples kaca. Mungkin hanya dia sendirian siswi yang tidak pergi menuju kelas. Meski begitu, Satella mengenakan seragam sekolahnya dengan rapih.


"Apa mungkin?" Gumam Satella.


Satella membuka buku Sage diary berisi kertas kosong. Satella memakai sihir es untuk membentuk belati es. Mengiris jari telunjuk kanan dengan belati es yang dibuatnya. Tetes tetes darah membasahi kertas buku.


"Sakit ... ah ... sakit, aduh sakit." Keluh Satella karena jari lentiknya teriris belati es tajam nan dingin.


Sesaat setelah beberapa tetes darah Satella membasahi kertas dengan halaman kosong, munculah tulisan dengan tinta merah darah. Itu tidak ditulis atau bukan tinta tak terlihat yang hanya diungkap dengan mantra tetapi seolah buku menyampaikan sebuah pesan dari akalnya.


[Note : garis miring adalah tulisan dari bukunya, tanpa nada suara.] 📝


Hello....


"Bisa bicara?" Satella pun tersentak kaget, dengan napas yang terhisap disertai nada yang heboh.


Iya, tentu, aku bisa !


"Eng ... anu, aku." Satella menaruh telunjuk didagu sambil menatap kearah atas, Suara Satella nampak lugu.


Tulis namamu, Ini sebuah kontrak !


"H-hah apa, kontak apa?" Satella dengan jerit kaget.


Pengguna kekuatan restart !


"Eh ... restart?" Satella bengong.


Kemampuan kembali dari kematian dan mengulang dari save point....


"Seperti itu ... kah, em ... re ... start?" Ucap Satella, terdiam dengan mimik merenung.


"Baiklah!" Seru Satella, menjentikan jari lentiknya yang tidak ada bunyi keretak nya.


"Sa ... te ... la ... Oke sudah!" Mengeja nama sendiri, menulis dengan tinta darah dibuku restart.


Titik simpan telah diperbaharui !


"Okai...." Seru Satella, tersenyum heboh sendiri.


Skip...


Perpustakaan.


Kini Satella berada di perpustakaan sekolah. Duduk manis, konsentrasi dengan aktifitas psikometri. Karena pergi ke perpustakaan hanya kedok saja, aslinya adalah aktivitas untuk menerawang kedalam objek. Alasan memilih perpustakaan adalah suara yang hening, jarang orang yang menggangu.


Psikometri !!


Tahun 396, tahun merpati.


Penerawangan kali ini letaknya di desa. Bahkan Satella hanya fokus menghapal ciri-ciri desa sepanjang penerawangan. Desanya dikelilingi ladang jagung dan banyak kandang peternakan sapi. Sementara daerah komplek perumahannya letaknya ditengah, dikelilingi ladang jagung di seluruh sisinya. Dalam penglihatan Satella ia melihat pemilik benda yang diterawang sedang menyusuri jalan setapak disepanjang ladang.


Sambil menyusuri jalan setapak menuju ke tengah, meninggalkan ladang. Sosok itu berjalan sambil bersenandung ria dengan riangnya. Satu yang diyakini oleh Satella.


[Satella : Eh ... suaranya kok mirip denganku, ya?] 🙄


Satella fokus menerawang, semua inderanya terkunci. Apapun yang dilihatnya dalam penerawangan, bibirnya tidak bisa berucap apapun kecuali bicara dalam hati. Kuping lancipnya tidak bisa mendengarkan apapun diruang perpustakaan, yang ia dengar hanya suara di lokasi ingatan. Matanya sedang terpejam didunia asli. orang yang berada diperpustakaan mungkin mengira Satella sedang ketiduran. Bahkan Satella bisa mencium ladang jagung dan udara segar pedesaan nan asri daripada bau udara perpustakaan yang tak sesegar udara luar, yaitu ladang jagung nan luas.


Melewati setapak, keluar dari area ladang jagung. Kini mulai memasuki komplek pemukiman penduduk di desa. Beberapa pohon setinggi tiga meter terasa asrinya.


"Hai ... Bellatrix." Seru penduduk memanggil.


"Hai ... hai ... iya aku kesana." Sahut orang dengan suara mirip dengan Satella.


"Apa Ronald?" Balas Bellatrix.


"Sudah mau pergi?" Tanya Ronald.

__ADS_1


"Ya.. tentu." Jawab bellatrix.


"Baiklah hati-hati." Orang desa melambaikan tangan. Bellatrix berjalan lurus saja, agak cuek.


Melewati jalanan komplek rumah penduduk, disana ada papan kayu bertuliskan.


Desa green Apple.


Tiba disebuah taman kecil yang terletak dibagian paling tengah perumahan desa tersebut. Ada pagar batu yang tingginya selutut disekitar taman. Air mancur kecil terletak ditengah sebagai dekorasi taman kecil itu. Tepat ditumpukkan bunga tulip ia mulai menggali, dekat dengan air mancur. memasukan benda kedalam peti kayu kecil. Berdasarkan desain, itu dinamakan kotak pandora.


Benda itu adalah....


Sebuah liontin, rantainya sangat tebal dari. Rantai besi dari liontin itu tebalnya 2 inci. Dibagian tengahnya adalah jimat emas berbentuk segi delapan. Dengan permata ukuran besar ditengahnya. Permata segi enam berwarna hitam.


Bellatrix memasukkan liontin itu kedalam kotak pandora. Pandora dilempar kedalam lubang ditanah yang telah dia gali. Dalam proses penerawangan, Satella membaca suara dalam hatinya bellatrix.


[Bellatrix : ini adalah horcrux pertama ku. Setelah ini aku akan mendirikan kultus pengikut ku, huhuhu....] 😁


Kemudian bellatrix mengubur peti kayu pandora. Beberapa saat Satella menunggu, akhirnya dalam penerawangan ia melihat bellatrix telah selesai mengubur artefaknya. Bellatrix berdiri lalu berjalan meninggalkan taman kecil itu.


Disepanjang jalan bellatrix acuh kepada penduduk yang dia temui dijalan. Berjalan cuek lurus saja kedepan, kecuali kalau ada penduduk menyapa duluan maka bellatrix akan menoleh dan melambaikan tangannya terhadap mereka. Pada akhirnya bellatrix masuki rumahnya.


Setelah memasuki rumah, sampai dikamar. Bellatrix memandang cermin, ini membuat Satella agak kaget. Sebab yang ditatapnya adalah cermin yang menampakkan wajah yang mirip Satella. Yang dilihat Satella itu seseorang yang wajahnya identik dengan dirinya sendiri.


[Satella : apa ... mirip aku?] 😲


Penerawangan berakhir. Satella pun mulai mendapat indra nya kembali secara bertahap. Matanya terbuka, awalnya hitam gelap berubah jadi buram dan pelan-pelan kian jelas.


Pendengaran Satella awalnya mirip orang tuli. Perlahan ada suara yang terdengar kecil, volume suara makin lama makin besar. Pada akhirnya suara terdengar sejelas dan sekeras aslinya. Tetapi yang paling ganggu bagi Satella adalah.


"Eh ... loh ... eh?" Satella latah.


Kuping Satella gerak-gerak sendiri. Setelah indera perasa dikulitinya mulai peka.


"Geli, loh ... kok geli?" Satella sedikit menggelinjang.


Saat semua inderanya pulih yang membuatnya kesal adalah ketika menoleh kesamping.


"Udah ... oy!" Satella melotot kepada siswa usil yang dari tadi menaruh bulu burung ditelinga lancip yang bagi elves adalah ultra sensitif.


Tidak mengindahkan protes dari Satella, dia kembali menggesekkan bulu burung di telinga ultra sensitif milik Satella. Spontan Satella mulai menutupi kedua telinga lancipnya dengan kedua tangan kecil lentik.


"Hei.. stop!" Protes Satella, dengan nada sedang dan mata besar yang melotot. Dipelototi oleh mata besar yang lucunya seperti anak kecil usia tujuh tahun membuat siswa yang berada didepannya ketawa ngakak.


"Kenapa loh.. ketawa sih?" Satella kian cemberut.


Siswa menaruh tangannya keatas pertanda menyudahi keusilan yang dia perbuat. Dan setelah Satella melepas tangan di kuping elves nya, kata-kata yang didengar adalah.


"Maaf."


Siswa bertubuh jangkung dengan rambut ikal cokelat yang gak terlalu keriting, agak lurus. Dengan masih berdiri disana dia cengar-cengir. Satella menyadari dia adalah salah seorang teman kelasnya, Satella membuat kesimpulan yang keliru.


"Hei.. kamu teman sekelas aku kan." Ucap Satella.


"Katakan.. kamu kesini mau kasih pembalasan padaku kan? Baiklah cepat lakukan, dan pergi!" Satella dengan ketusnya berterus terang tanpa banyak basa-basi.


"Apa.. apa katamu?" Siswa bingung.


"Kamu marah karena sudah aku bekukan. Iya kan?" Ucap Satella.


"Beku.. apa? Kamu nih bicara apa?" Tanya siswa jangkung tersebut.


"Pura-pura lupa lagi." Ucap Satella dengan nada menggerutu.


"Kemarin waktu praktis sihir aku membekukan satu kelas. Em ya.. bukan kesengajaan tapi. Kamu ikut ujian praktik kan." Satella bilang.


"Gak." Jawab siswa jangkung.


"Eh?" Satella kaget.


"Aku dispensasi karena ijin pergi menuju kampung halaman. Setelah itu aku telat kembali kemari dan sepertinya harus mengikuti ujian praktik susulan." Siswa jangkung menjelaskan.

__ADS_1


"Eh ... beneran, jadi kamu gak ikut praktik kemarin?" Satella terkejut.


"Apa yang terjadi pada ujian praktik sihirnya?" Tanya siswa jangkung.


"Diundur." Jawab Satella.


"Yes.. ini menguntungkan ku, aku selamat." Ujar siswa jangkung.


"Hu ... dasar Jack nyebelin. Tapi aku lega dengernya." Balas Satella.


"Lega?" Tanya Jack.


"Lega karena ternyata kamu bukan termasuk siswa yang bakalan marah dan bales aku. Jujur aku gak sengaja kok, jadi jangan salahkan aku." Ucap Satella, bernada curhat.


"Aku sih gak tahu detail kejadiannya, jangan terlalu dipikirin. Pertanyaannya, bagaimana dengan kelasnya? Kita bukan membolos bersama kan?" Jack mengalihkan topik.


"Bolos huh ... gak kok Jack, tetapi kelas diliburkan. Habisnya seluruh siswa-siswi kena demam dan flu. Mereka diruang inap sekarang." Satella menjelaskan.


"Huh, kelas diliburkan ya? Kalau begitu gak ada yang bisa dilakukan sekarang." Komen Jack yang kini duduk dengan mimik seolah sedang merenung.


"Ya, benar, gak ada yang bisa kita lakukan. Tidak, sampai kamu datang mengganggu diriku disini!" Omel Satella.


"Yang kamu lakukan cuma duduk sepanjang waktu sambil terpejam, apakah kamu lagi kurang kerjaan?" Tanya Jack, dengan mimik menahan tawa.


"Bukan urusan kamu ya!." Melipat tangan lentiknya, Satella membuang muka.


"Dari pada melamun, lebih baik ikut aku jalan-jalan dikota." Ajak Jack.


"Huh, bisa-bisanya jalan-jalan diwaktu yang seperti ini." Jawab Satella, terlihat acuh.


"Aku sih mau berkunjung ke toko peralatan sulap, mencari alat tuk menjahili orang-orang." Ujar Jack.


Tau-tau mata Satella menjadi berwarna kehijauan.


"Eh, jahil, wah ... aku suka itu." Ujar Satella, mimiknya berganti menjadi senang sekarang.


"Tapi, aku baru saja sampai disini pagi tadi. Badan pegal karena perjalanan, mataku kurang tidur." Keluh Jack.


"Yah ... Jack." Satella kecewa.


"Besok bagaimana?" Usul Jack.


"Oke deh." Balas Satella.


"Besok ketemu disini! Aku juga gak tahu bisa bangun jam berapa, siap jam berapa tapi tunggu aja disini." Ujar Jack.


"Oke ... Jack." Jawab Satella dengan riang.


Akhirnya Jack berjalan keluar ruangan perpustakaan. Dia hendak menuju asrama siswa untuk tidur karena ia kurang tidur, badannya lelah karena perjalanan jauh. Sementara Satella menuju ruang rekreasi.


Skip..


Malam hari.


Sebelum tidur Satella terdiam di hadapan meja riasnya. Menatap pantulan wajahnya sendiri yang seputih salju.


"Kenapa bisa mirip dengan aku wajahnya gadis itu?" Gumam Satella.


Yang Satella pikiran adalah sosok gadis didalam penglihatan 400 tahun lalu lewat psikometri. Kalau gadis tersebut tidak bercermin, gak akan mungkin Satella tahu. Paling cuma sebatas tahu kalau suaranya mereka saja yang mirip.


"Tunggu ... tunggu dulu." Terdiam, Satella hendak memikirkan hal lain. Yang terlintas didalam kepalanya adalah perkiraan bahwa.


"Gimana kalau ada siswa lainnya? Kalau ternyata ada yang gak masuk ujian praktik selain Jack, masih mungkin." Pikir Satella.


Berjalan menuju ranjang dan duduk disisi ranjang seraya menatap kearah jendela. Menatap bintang-bintang terang dari balik jendela kamarnya yang terbuka. Beberapa menit pun berlalu hingga mata Satella kian merapat seperti setengah menutup.


"Ya.. sudah, kurasa."


Telekinesis !!


Satella memakai telekinesis hanya karena malas berdiri dan berjalan untuk menutup jendela kamarnya. Kemudian berbaring dan segera menutup tubuh mungilnya dengan selimut gambar kelinci lucu.

__ADS_1


"Selamat malam."


~bersambung~


__ADS_2