Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
semua melupakan ku


__ADS_3

Adu bacot terjadi antara Minerva dengan Snape.


Bagi Minerva yang seorang cewe sangat wajar buat ngebacot keras, sampai urat disisi kening atau urat ditenggorokan terlihat. Kekuatan perempuan memang ada disana.


Sementara Snape memprovokasi dengan candaan berbau seksual. Menggoda Minerva dengan cara mengomentari bodinya Minerva. Membuat Minerva jadi merasa ditelanjangi dalam alam imajinasi lawan bicaranya itu.


Percekcokan terjadi..


Minerva ditantang untuk mampu mengalahkan Snape dalam sekali giliran. Maksudnya Snape bersedia menyimpan kartu as, mungkin itu sangat berbahaya. Kalau Minerva mampu mengalahkan Snape maka kartu as itu tak akan jadi hal yang perlu dikhawatirkan.


Dengan kata lain Snape berniat memakai kartu as dalam giliran kedua. Minerva dipaksa menjadi seorang spesialis one hit kill.


"MATILAH!" Minerva berlari tanpa perasaan takut, ia menerobos jauh kedepan.


Minerva pun berlari kearah Snape dengan kecepatan yang membabi buta kencangnya.


Berhadapan satu meter didepan fragmen jiwa pangeran kegelapan yang menembak sihirnya, yang dianggap enteng oleh Minerva.


Paling-paling sihir petir yang akan resist, bakalan geli. Itulah pikiran Minerva saat ini, merasa sedang diatas angin beserta emosi pribadi terhadap Snape yang berapi-api.


Merentangkan kedua tangannya kedepan, siluet hitam melesatkan sihir petir yang lebih kuat lagi.


Forked lightning !!


Sebuah lintasan petir berasal dari tangan siluet hitam. Lintasan petir tersebut terbelah jadi beberapa bagian menjadi cabang. Petir yang bercabang seperti akar. Petir nya mengenai banyak orang sekaligus. Bahkan orang yang membeku ikut tersambar petir nya. Membuat dampak shock hingga health point siapapun jadi tiris, sisa sedikit.


Minerva resist terhadap sihir itu karena dialiri sihir defensif yang dialiri element tanah. Yang dirasa Minerva hanya luka yang geli saja. Karena saya serangnya tak terasa sakit bagi Minerva, maka dia pun hanya fokus berlari kearah Snape.


Arghh...


"Kya... Uh sakit." Jerit Satella.


Health point Satella tinggal segaris saja. Dipukul dengan tongkat kayu sekali juga pasti mati.


Brukk...


Satella terjatuh sebelum tergeletak dilantai. Satella pun terjatuh dalam keadaan terlentang. Ia tergeletak, melihat kesamping lehernya tidak digerakan melainkan berada pada posisi itu sendiri. Satella melihat korban jiwa, mereka yang terlanjur beku jadi pecah berkeping-keping.


Dalam keadaan beku sesuatu jadi lebih mudah dihancurkan dengan sihir lightning.


Sementara Minerva terus berlari kearah Snape. Minerva berada di jarak sangat dekat dengan Snape bersiap memukul. Sambil berlari Minerva mengepal tangan dengan dipenuhi aliran sihir tanah pada tangan kanan. Dua langkah jarak mereka, Minerva akan memukul.


Tapi...


"Lihat mereka!" Seru Snape.


Minerva mengerem ayunan tangan kanannya hingga tidak jadi untuk memukul Snape. Menatap dengan sorot mata penuh kemarahan.


"Mereka sekarat!" Ujar Snape.


Minerva melompat kebelakang sebanyak dua kali. Lalu menoleh kebelakang melihat temannya tergeletak lemah dilantai semua. Hanya Minerva yang resist akan element lightning.


"Jadilah slave ku, layani aku tiap waktu akan ku ampuni nyawa teman-teman mu." Ancam Snape.


"Eh?" Minerva mengangkat lagi tinjunya.


"Curang!" Minerva murka campur frustasi.


Minerva bertindak gegabah lalu berlari satu langkah, Kemudian melompat. Dalam satu lompatan Minerva menjangkau Snape dan hampir pasti meninju keningnya.


Snape terlanjur mengirim pesan lewat jalur telepati kepada siluet hitam, untuk melepas petir lagi.


Brukk..


Tinju Minerva yang berkekuatan element tanah mengenai kening Snape dengan telak. Tengkorak kepalanya Snape pecah hingga ia muncrat darah dari keningnya. Banyak darah mengalir dikening Snape, sudah pasti kematian telah sampai untuk Snape.


Tapi perintah telah terlanjur dia berikan. Siluet hitam menembak sebilah petir dengan jalur lurus terbelah bercabang. Satella kena lightning untuk kali kedua, itu membuat health pointnya habis.


Minerva berhasil mengalahkan penjahatnya. Tapi karena Satella tewas kala itu, sage diary aktif sehingga kejadian terulang lagi.

__ADS_1


Satella mati...


RESTART !!


Perulangan terjadi lagi untuk kali kedua.


Time loop.


Satella mulai terbangun, awalnya seperti bangun tidur. Tapi bukan seperti bangun tidur dari ranjang melainkan terbangun dari duduk melamun. Ketika kesadaran mulai pulih, yang ada dibenak Satella.


"Kya... SAMBER GELEDEK!" Jeritan histeris Satella, terasa seperti baru bangun dari mimpi yang buruk.


"Fuh.. fuh.. sesak napas." Gumam Satella sambil mengusap dadanya supaya sesak napasnya mereda.


"Aku takut mati." Ucap Satella.


Rasa takut kini terukir didalam dadanya.


Pertama, dibakar saat loop waktu pertama hingga merasakan panas yang bikin mati rasa setelahnya. Kedua, disambar petir dibuat jatuh dan kejang-kejang, pikiran sangat shock dan jantung jadi melemah karena efek listrik tegangan besar.


"Aku gagal lagi." Ucap Satella seraya mengacak-acak rambut peraknya hingga jadi kusut tidak beraturan.


"Aku bisa mati dalam dua serangan saja." Pikir Satella.


Loop pertama disambar petir lalu dilempar api, artinya terhitung dua serangan. Begitu juga loop kedua, bedanya ini kena petir dua kali.


"Tapi."


Satella mulai melihat sisi baik dari loop waktu kedua.


"Aku tahu balisik bisa dijalankan tanpa Phoenix, tapi butuh party."


Party berisi kelompok Eris order memanglah kuat dari segi keahlian individu. Kesanggupan Minerva sebagai role carry team. Alih-alih bertarung sebagai magic caster, Minerva malah terlihat seperti seorang figther. Violetta berguna dengan bakat third eye miliknya.


"Walaupun bakat sihir es milikku overpower, tapi menghadapinya sendirian itu mustahil. Sulitnya itu sungguh tak terkira." Keluh Satella.


"Benar kan! Segalanya terulang kembali ke hari pertama. Aku di putaran ketiga dari loop waktu sekarang." Ucap Satella.


Masih bicara sendiri, Satella jadi bertambah banyak melamun. Ia berpikir keras mencari cara untuk menangkan pertarungan dengan putaran waktu yang ketiga.


"Bagaimana cara mengalahkan penjahatnya? Snape itu agak susah untuk dikalahkan." Masih bicara sendiri, Satella mencari solusi.


"Yang kuat itu siluet hitam, aku sampai mati dua kali karena dia!" Keluh Satella dengan wajah sedih.


Satella menggerakan tangannya menjadi gestur berhitung.


"Pertama aku bisa pakai observer ward, kemudian butakan matanya ular balisik dengan baut ice. Tapi setelah buta dia bakalan keluarin semprotan bisa korosif yang amat berbahaya." Ucap Satella.


Setidaknya Satella sudah hapal dengan combo ular balisik.


"Tunggu dulu! Bukankah dewi Eris punya keahlian penyembuhan. Kok aku gak ditolong? Mungkin situasi terlalu kacau." Pikir Satella.


Istirahat sejenak..


Melupakan betapa kecewa Satella setelah kegagalan di dua putaran waktu. Meski memiliki kekuatan restart, bukan berarti kita mampu merubah kekalahan dalam sekali restart. Jelas semua tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Istirahat cukup lancar, tingkat kenyamanan meningkat.


Berjalan di lorong.


Satella memulai dengan berjalan di lorong sekolah. Sekalipun putaran waktu belum sanggup mencapai kemenangan, tapi banyak rahasia yang telah terbongkar dan hanya Satella satu-satunya orang yang mengetahuinya, termasuk apapun yang akan terjadi kedepannya.


"Aku pengen merubah alurnya kali ini." Gumam Satella.


Yang Satella lakukan kali ini adalah memajukan ketepatan waktu, yang dimaksud adalah pertemuan Satella dengan kelompok. Loop sebelumnya Satella terlalu lama bersiap-siap. Sekarang Satella menuju ke lantai 9 satu jam lebih cepat daripada saat putaran waktu ke dua, sebelum ini.


"Kira-kira apa yang terjadi kalau ku datang satu jam lebih cepat?" Ucap Satella, bicara sendiri.


"Lalala." Bersenandung, Satella mengekspresikan keriangannya saat berjalan di lorong sekolah.

__ADS_1


Lantai sembilan.


Satella berdiri didepan dinding dengan permadani gambar Shrek dipaku didinding. Satella urung memasuki ruang kebutuhan.


"Jangan-jangan kalau aku sampai disini satu jam lebih cepat, Iota sepertinya belum sampai." Pikir Satella, berdiam disisi tembok.


"Cegat ah." Satella bersembunyi melalui wujud merpati hitamnya.


Setengah jam kemudian..


Benar dugaan Satella, dia sedang berdiam di sudut yang tak dilihat orang. Benar saja karena sosok perempuan remaja bertubuh bocil melintas di lorong. Rambutnya berwarna hijau, tubuhnya mungil seperti bocil walau mentalnya itu sudah dewasa. Tubuh bocil ini orangnya udah paham sesuatu berbau dewasa, misalnya tentang cerita percintaan yang agak erotis.


Burung merpati hitam mendarat dibelakang little Iota. Ia berubah menjadi wujud manusia setengah elves berambut silver, iris mata hitamnya bikin orang kesel tapi sekaligus mau cubitin orangnya. Ketika berubah ke wujud manusia, Satella berjongkok. Satella dengan cepat langsung berdiri dan lari dengan cepatnya kedepan, lalu."


"Duar!"


"Kya.. APA tuh?" Iota melompat karena kaget.


"Ku.. ku.. ku.. lucu." Menutup bibir dengan tangan lentiknya, Satella menahan gelak tawanya. Tawanya tidak mampu dibendung sehingga Satella tertawa terkikik-kikik.


"Kikikik."


Ketawa kuntilanak..


"Huh.. kamu!" Remaja bocil marah hingga menolak pinggang kearah Satella, melotot yang lucu dengan mata besar dan hidung kecilnya.


"Maaf.. maaf." Satella terpejam dan tersenyum, mengayunkan tangan lentiknya meminta maaf yang asal.


"Maaf DENGKUL MU!" Umpat Iota, masih sangat marah.


"Habisnya jalan di lorong sambil bengong." Jawab Satella.


"Huh.. jawab aja, ya! Kuntilanak berambut silver." Iota membalas dengan cemberut.


"Gitu aja marah.. ntar aku traktir cokelat." Bujuk Satella.


"Serius? Hei Tella." Tanya Iota.


"Iya lah.. uang jajanku unlimited, uang jajanku belum habis aku tuh dilarang pulang." Jawab Satella.


"Serius ya.. orang aneh." Balas Iota.


"Sensi banget sih? Kita kan sering ngumpul bareng." Jawab Satella.


"Kapan ya? Aku gak ingat.. yang ku tahu kita gak terlalu akrab banget waktu dikelas, yang kamu bilang sering ngumpul bareng aku tidak ingat, ya.. kapan tepatnya?" Iota menjawab dengan juteknya.


"Ingatan semua orang tentang aku! Kembali ke nol." Satella mengigau.


Ingatan semua orang tentang aku kembali ke nol..


Itulah suara-suara yang berputar berulang kali didalam kepalanya membuat shock. Bergetar matanya menjadi tatapan kosong. Kemudian Satella terjatuh kelantai dengan ekspresi yang frustasi dan lelah.


"Hei kenapa? Kamu oke?" Seru Iota terkaget, mendorong-dorong tubuh ringkih Satella.


Semuanya melupakan aku..


Tatapan kosong.


Satella hanya menatap atap lorong dengan tatapan kosong. Perlahan pandangan mulai buram dan jadi gelap gulita, suarabpun hampa.


"Ha.. berat."


Sepertinya little Iota berusaha tuk membawa tubuh Satella.


"Tolong aku.. dewi Eris, ada yang pingsan disini." Seru Iota.


Itulah kata yang tau-tau terdengar dalam gelap, sebelum semuanya kembali hampa tanpa suara lagi.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2