Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
seni restart, mengubah alur..


__ADS_3

Pukul sebelas malam..


Kali ini tidak ada gadis remaja ras half elves, berambut silver, remaja setengah matang. Loop sebelumnya dia disini melakukan clairvoyance, sekarang gak ada. Kemana Satella? Didalam kafetaria juga tidak ada.


Waktu terus berjalan...


Kafetaria sekolah.


Seorang guru yang duduknya satu tempat dengan Rika segera ambil sesuatu dari saku. Kemudian itulah korek api gas. Dinyalakan korek itu untuk menyalakan lilin angka 18.


"Tolong buat pengharapan Rika." Sosok guru muda itu bicara pada siswi pembuat pesta ini.


Rika sambil berdiri menaruh dua tangannya rapat dengan telapak saling menyatu. Rika dengan gestur berdoa, memejamkan mata seolah membayangkan keinginan dalam hatinya. Setelahnya Rika membuka matanya dan meniup lilin. Setelah lilin tertiup padam, ramai-ramai suara tepuk tangan terdengar jelas.


Rika menampakkan rona gembira karena gemuruh tepuk tangan itu didengarnya. Tak lama beberapa pegawai kafetaria mendatangi satu demi satu meja untuk menanyakan pesanan orang-orang yang datang.


A few moments later..


Tibalah momen pada saat Jason memberi sebuah cincin unik kepada Rika. Tapi entah kenapa ada yang janggal dari sosok siswi sihir yang sedang berulang tahun tersebut.


Rika menaruh kedua tangannya untuk menutupi bibir. Sejenak ia terlihat akan meluapkan gelak tawanya. Seperti menertawakan sesuatu, bahkan hal yang bodoh.


Tapi apa...


"Ku.. ku.. ku... Lucu, sangat lucu." Kalau dilihat dari cara tertawaan Rika, ini Seperti familiar.


Menahan gelak tawa, akhirnya tawa lepas juga.


"Kikikik.. dasar kikikik hu.. hahaha." Tertawa lepas yang melengking sampai setengah kelas memberi perhatian tak biasa pada Rika.


Tapi...


Rika melepas cincin itu kemudian ditaruh disaku. Tidak lama setelah tawanya reda iya melakukan proses sihir entah apa itu.


"Ta~~tada!" Ujar Rika, tau-tau ada gumpalan asap yang mengepul disekitar tubuhnya itu, saat asap hilang sungguh tak terduga.


"APA!" Jason merasa kesal, tetapi kenapa demikian.


Ternyata yang dilihatnya sekarang bukanlah Rika yang ia kenal, tetapi sosok gadis remaja berambut silver dengan kuping elves. Adalah sosok yang dia kenal sebagai pangeran kegelapan, tapi bukan karena sosok yang dia lihat adalah seorang siswi yang mirip rupanya, yang nantinya akan dia jebak. Kekuatan restart menggagalkan segala rencananya.


"Bye~bye Snape!" Satella langsung melarikan diri dari kafetaria.


"BAGAIMANA BISA!" Jason kesal.


Jason berupaya mengejar Satella tetapi saat sampai dipintu keluar kafetaria, belokan lorong Satella menghilang. Yang Jason lihat hanya merpati hitam terbang didalam koridor sekolah. Tidak sedikitpun terlintas untuk mencurigai kenapa merpati hitam terbang didalam koridor sekolah, dia tak mengira.


Korban dari putaran keempat ini adalah nol.


Besoknya...


Ruang kepala sekolah.


Pagi hari Satella sudah datang ke ruang kepala sekolah. Mengetuk pintunya entah apa yang Satella rencanakan diputaran waktu yang keempat ini tapi. Ketukan pintu kelima baru mendapat tanggapan.


"Silahkan masuk!"


Satella pun masuk kedalam ruang kepala sekolah. Satella segera ambil duduk menghadap kepala sekolah.


"Ada apa?" Tanya kepala sekolah.


"Saya ingin lapor." Jawab Satella.


"Silahkan bilang." Balasnya.


"Jadi begini." Satella memberi jeda barang sebentar sebelum memberi aduan kepada kepala sekolah.


"Saya sudah berbuat salah pak! Saya akan ngaku." Ucap Satella dengan nada sedikit keras.


"Well.. menarik, baru kali ini lihat murid mengakui kesalahannya." Kepala sekolah tercengang barang sebentar, lanjut mendengarkan.

__ADS_1


"Saya merusak pesta orang tadi malam. Saya mencuri cincin itu hanya untuk usil, saya nge prank tapinya saya sadar salah. Pengen kembalikan tapi saya takut kena omelan, bisa saya titipkan kepada bapak?" Tanya Satella, pada akhir penjelasannya itu.


"Well.. aku baru kali ini bertemu maling yang ngaku." Kata kepala sekolah sambil menyisir janggut.


Satella bernada berjerit latah..


"Bukan! Aku bukan mencuri pak, tapinya aku cuma prank, buktinya aku ngaku loh.. dan memulangkan kembali. Untuk apa aku mencuri barang murah begini? Aku putri ningrat kan, tindakan yang seperti begitu gak bermanfaat." Ujar Satella.


Satella memanyunkan mulutnya sambil mengangkat telunjuk.


"Ingat loh... AKU PRANK DOANG!" Satella terlihat sebal.


Entah ini akting atau bukan, tapi pembawaan Satella terlihat natural seolah itu beneran nyata. Seolah Satella benar-benar marah ataupun wajah menyesalnya juga original.


"Nih pak! Aku kembalikan, titip ya! Habisnya aku gak berani balikin langsung." Satella menaruh cincin horcrux kepada kepala sekolah.


"Tapi aku harus dihukum." Satella membuang muka kesamping sambil memanyunkan bibirnya.


"Kupikir aku tidak bisa melakukan seperti itu! Mengakui kesalahan itu adalah tindakan baik, aku tidak bisa menghukum murid yang cukup baik dan berani untuk mengaku salah." Ujar kepala sekolah.


"Satu lagi." Kata Satella.


"Topi sulapnya, boleh aku pinjam?" Tanya Satella.


"Maksudmu magician hat?" Kepala sekolah sedikit bingung.


"Iya itu, apapun itu, topi yang telah diwariskan turun temurun kepada kepala sekolah." Pinta Satella.


"Untuk apa?" Tanya kepala sekolah.


"Mau coba trik sulap?" Kata Satella.


"Apa kamu pikir ini alat sulap?" Kepala sekolah menampakkan ekspresi bermasalah.


"Sebentar, cuma mau pegang itu sebentar." Paksa Satella.


"Baiklah." Kepala sekolah segera mengambil magician hat yang ia simpan di lemari kaca.


"Ini dia."


Tanpa basa-basi Satella nunjukin bahwa dia mengeluarkan pedang keramat didalamnya.


"Aku sudah pak, sekarang topinya tidak ku butuhkan." Satella segera menyimpan Griffin sword miliknya kedalam magic bag.


"Astaga.. itukan pedang keramat pendiri sekolah sihir ini! Kok kamu bisa?" Sejenak kepala sekolah pun geleng-geleng kepala.


"Apapun itu, kamu dikonfirmasi sebagai pemilik Griffin sword." Terang kepala sekolah.


"Hanya aku yang bisa memakainya kan pak! Orang lain gak bisa, sudah tahu aku, baiklah aku ngerti pak." Jawab Satella dengan mimik yang bangga, mengangkat dagunya.


"....." Kepala sekolah tercengang karena ucapannya bisa didahului.


"Oh iya.. hampir lupa! Barang yang kuambil milik Jason loh. Aku tidak mencuri, aku cuma iseng aja, ingat pak! Cuma nge prank loh." Satella segera pergi meninggalkan ruangan tanpa dipersilahkan.


"Akan ku kembalikan ini kepada Jason." Gumam kepala sekolah.


Satella meninggal ruangan. Lalu waktu telah berlalu semenjak saat Satella mengembalikan horcrux. Waktu pun bergeser ke siang hari tepatnya pukul sebelas siang.


Tapi apakah.. itu cara menunda kekacauan dimalam ketiga. Tetapi tetap mengulang kekacauan hari keempat dengan maksud untuk memancing deklarasi perang dari penjahatnya? Disini jelas Satella inginkan penjahat buka kedok dan tidak mengkambinghitamkan.


Pada loop waktu sebelumnya Jason  mengkambinghitamkan Satella. Itu karena sosoknya mirip dengan sang pangeran kegelapan, Bellatrix. Dan cara itu selalu berhasil baginya.


Skip...


Ruang kebutuhan.


Disini semua berkumpul kecuali Satella, di loop waktu ini Satella belumlah sepenuhnya bergabung dalam kelompok mereka. Mereka sedang santai-santai, ada beberapa perbedaan di loop waktu kali ini dimana ujian praktik masih terus berlanjut tanpa diliburkan. Karena Satella sukses mengakali loop ini maka ular balisik ditunda untuk dimunculkan, sebab dia tak bisa menuduh Satella hanya karena ia mirip dengan siluet hitam, yaitu wujud doppelganger Bellatrix.


"Teh nya sudah bisa diminum nih." Ujar dewi Eris setelah mengetes ternyata gak panas lagi, kini sudah mendingin jadi hangat.

__ADS_1


Semuanya mengambil cangkir dan minum teh tawar hangat dengan santainya.


"Enaknya.. dewi Ilis emang terbaik dalam menyeduh teh." Puji Iota setelah menyeruput teh hangatnya.


Cangkir ditaruh dimeja.


"Kalian tau tidak?" Seru Minerva memulai.


"...." Semuanya menoleh kearah Minerva, meski tanpa jawaban jelaslah kalau semua minta agar Minerva meneruskan.


"Stella.. masa datang ke acara pesta teman kelasku Rika. Parahnya dia menyamar sebagai Rika cuma buat mengolok-olok guru Jason tau gak." Ujar Minerva, sedikit heboh.


"Rika, ya." Seru Isyana.


"Bodo amat lah." Respon Violetta.


"Sumpah ya, aku gak kenal Tella meski kami satu kelas, fuh!" Iota melipat tangannya, memanyunkan bibirnya agak sebal.


"Kupikir orang yang kalian sebut, adalah gadis baik." Kata dewi Eris.


"Semua boleh berpendapat. Untuk dewi Eris, bukan berarti aku beri penilaian buruk kepada Satella, ya. Menurutku tindakannya juga gak merugikan siapapun." Minerva melipat pinggang, terpejam saat membahas tentang Satella.


"Tadi pagi, sebelum ujian praktik dimulai aku tanya Rika. Aku tanya kenapa gak jadi datang ke pestanya sendiri. Terus dia jawab, kemarin diajak ngobrol sebentar sama cewe rambut silver dengan kuping elves, terus dia mendadak tidur kaya lagi dihipnotis gitu. Apa mungkin anak setengah matang itu melakukan ini semua hanya untuk nge prank?" Terang Minerva dengan herannya.


"Entahlah.. hanya tuhan yang tahu." Isyana dengan gestur cuek.


Lorong sekolah.


Lorong masih terlihat seperti hari sebelumnya. Beberapa siswa lagi membaca panduan sihir, ini buku membahas tentang cara menaikan peluang sukses atas penguasaan teknik sihir tertentu. Ada orang membaca sambil mengeluarkan kobaran api kecil dari tangannya.


"Tinder!" Seru siswa itu, api kecil seukuran obor kayu keluar dari tangannya.


Kemudian dia menyulap kerikil  hitam muncul ditengah-tengah kobaran api. Lalu menembakan apinya ke tanah liat berbentuk boneka goblin kecil sebagai bidak sasarannya. Ini adalah sihir yang damagenya setara proyektil batu ketapel api, sangat melukai dan sangat irit konsumsi mana point.


Lightning bolt!" Seorang murid mencoba menembak baut petir kekuatan ringan dari telunjuk. Mengenai hamster putih yang dijadikan bidak sasaran.


Ada siswa yang hanya bisa sihir sederhana, tapi ada yang mampu memakai sihir sulit nan mewah.


Beberapa murid mencoba untuk menguji sihirnya sebelum ujian nantinya. Tau-tau seorang dengan sapu ditangan kanan dan tongkat pemukul sipir ditangan kiri datang.


"Bubar kalian.. Dilarang memakai sihir di lorong!" Penjaga sekolah membubarkan paksa murid yang berkumpul tadi itu.


Intinya lorong sekolah masih terlihat jelas beberapa murid berlatih sihir. Artinya ujian praktik masih berlangsung, tidak diliburkan seperti tiga putaran sebelumnya. pada hari keempat selalu berlangsung dengan diliburkan.


Satu hal yang pasti. Rencana yang diberikan Bellatrix sungguh pintar. Satella merasa seperti siswi yang mendapat contekan ujian tertulis, bahkan contekannya benar semua.


"Lalala.. mencontek itu baik untuk mu."


Itu adalah suara Satella yang riang gembira. Tapi dimana dia, sebab hanya suaranya saja yang terdengar.


"Hei tunggu!" Seorang guru sihir menegur seseorang.


Ternyata itu Jason berpapasan yang dengan Satella. Dibalas oleh Satella dengan berbalik badan dan memberi gestur mengolok-olok. Deklarasi tuk perang dilancarkan, Satella berlari dibelokan lorong. Jason kian kesal mengejar Satella yang berlarian.


Setelah sampai dibelokan lorong hanya merpati hitam yang dilihat Jason. Tapi kali ini dia menyadari kalau itu sihir perubahan wujud, biasanya jenis sihir yang dipakai penyihir type pengintaian.


Mengarahkan telunjuknya untuk menembakkan sihir ringan..


Lightning bolt !!


Kilatan petir dengan lintasan yang sebesar benang dilesatkan menuju merpati hitam.


Tapi...


Entah ini olok-olokan atau apapun itu, tetapi merpati hitam itu menukik tajam secara tiba-tiba. Ia sukses melakukan elakan dengan wujud merpati hitamnya dengan level movement speed yang tidak masuk akal untuk ukuran merpati hitam. Merpati hitam yang lebih cepat dibanding naga wyvern.


Kali ini Satella mulai menguasai..


Menguasai seni restart!

__ADS_1


Memakai pengetahuan yang telah didapatkan di loop waktu yang sebelumnya. Memanfaatkan untuk merubah alurnya.


~bersambung~


__ADS_2