Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
winter blessing


__ADS_3

Secara alamiah, snow elves amat menyukai winter. Sangat senang perasaan Satella, sampai-sampai ia merasa dapat melakukan apapun. Disaat winter tiba, Satella tidak seperti anak kecil lemah lagi tapi terlampau seperti manusia super.


Merasa memiliki kekuatan seperti manusia super, dengan tangkasnya Satella kecil memanjat pohon.


Terkadang, dikala Satella kecil lagi merasa nakal, ia melompat dari pohon ke pohon. Bahkan sampai melakukan gerakan salto hingga gerakan akrobatik lainnya. Satella kecil melompat dari pohon yang tingginya empat meter, melompat hingga mendarat ditanah. Tidak sedikitpun luka yang ia rasakan. Dampak winter benar-benar bikin Satella menjadi manusia super.


Bayangkan....


Diusia enam tahun. Kalau bukan karena dampak musim winter, fisiknya bakalan selemah anak berusia anak kecil tentunya. Ada energi alam terserap kedalam tubuhnya, otomatis dikonversi menjadi buff kekuatan fisik. Tapi semua yang berlaku untuk anak dengan ras snow elves.


Melompat dari pohon ke pohon, penduduk yang sedang menebang pohon mengiranya sebagai hewan kecil dan berusaha menangkapnya.


Skip....


Desa Alechia.


Di desa biasanya anak-anak lagi bermain perang bola salju. Mereka telah dibekali mantel hangat yang tebal sebagai atribut musim winter. Manusia manapun akan mati kalau nekat keluar saat winter tapi tidak pakai pakaian khusus musim salju.


Penduduk desa merasa aneh saat melihat seorang anak yang usianya enam tahun sedang memakai gaun tipis dan bertelanjang kaki.


"Lihat itu, anak itu apakah tidak kedinginan?"


"Kamu belum pernah dengar ras snow elves ya?"


Itulah obrolan yang terdengar oleh kuping runcing Satella.


Satella melewati alun-alun desa. Dekorasi air mancurnya membeku menjadi es.


"Begini, air mancur saat winter." Gumam Satella.


Kakinya sama sekali tidak merasa hawa dingin. Kulitnya tidak peka dengan udara dingin kala winter. Seolah winter adalah suhu yang sangat ideal bagi tubuhnya. Dikala manusia menyukai musim gugur sebagai suhu ideal karena sejuknya. Snow elves menyukai suhu musim salju sebagai suhu ideal. Sejuknya musim gugur yang disukai manusia adalah 20 sampai 23 derajat Celcius. Sementara suhu ideal bagi ras snow elves adalah 7 derajat Celcius hingga minus derajat Celcius. Makin besar minusnya maka snow elves pun semakin bergairah dan bertenaga.


Hanya merasakan tajamnya suhu musim salju, membuat kepalanya Satella dipenuhi sensasi ekstasi.


Akhirnya sampai ditempat yang anak-anak gunakan sebagai sarana bermain bersama.


Arena perang bola salju.


Seorang anak dengan niat usilnya, melempar bola salju kearah Satella. Bola salju yang menuju Satella pun pecah, seolah salju tidak mampu melukainya.


"Wah, mengagumkan." Komentar anak tersebut.


Satella mendekat kearah anak-anak desa.


"Wah, lihat itu putri salju. Ia tidak kedinginan, soalnya dia itu putri salju." Ucap Artha.


Lagi-lagi anak yang kurang Satella sukai, mengganggunya. Itu hanya upaya dekat-dekat, tetapi Satella menganggapnya sebagai hal yang sangat mengganggunya.


"Kamu tidak kedinginan?" Tanya bocah lainnya.


"Tidak, bagiku ini terasa sejuk loh." Jawab Satella kecil.


Yang lain dibuat tercengang.


"Putri salju ... hei putri salju, ayo bermainlah bola salju bersamaku." Seru Artha.


Satella pada awalnya mengerutkan keningnya dengan raut wajah bete. Alih-alih kesal, Satella membuat sebuah senyum palsu. Satella pun mengambil bola salju dari tanah.


"Baiklah." Satella pura-pura tersenyum.


Tau-tau Satella melempar bola saljunya ke wajah Artha. Tenaga lemparannya lebih sadis lagi dari tenaga orang dewasa. Artha pun dibuat terjatuh ketanah dengan hidungnya berdarah. Tetapi Artha hanya terlentang sambil ia terus cengengesan seolah baik-baik aja.


"Seharusnya kamu jangan begitu kepada Artha!" Protes Rain.


Sebagai teman yang paling akrab, tentu Rain membela Artha hingga demikian. Satella menanggapi Rain dengan cara yang paling halus.


Satella melangkah hingga sangat dekat posisinya. Mereka kini saling berhadap-hadapan. Satella segera tersenyum dengan raut wajah yang paling manis dan indah. Satella memiringkan wajah, membentuk ekspresi sok imut dan paling imut.


"Kalau begitu aku minta maaf yah." Ucap Satella, tersenyum manis.


Rain tidak dikasari, tetapi dampak senyuman Satella sungguh telah memberi serangan kritikal kepada Rain. Tanpa tindak kekerasan Rain dibuat tumbang oleh Satella.


Hidung Rain mimisan, Rain pun senyam-senyum sendiri seolah ia sedang terkesima. Dikala hidung semakin deras mimisan, Rain pun terjengkang kebelakang hingga ia terlentang dalam posisi bahagia.

__ADS_1


"Surga...." Rain mengigau.


Satella terkekeh.


Kemudian Artha bangkit, berposisi duduk. Rain pun berposisi duduk, ketika Artha berdiri begitu juga dengan Rain. Entah bagaimana ada aura permusuhan dari diri Artha.


Artha mencengkeram kedua bahu milik Rain.


"Apa-apaan ini, kamu mendapat senyuman tapi aku tidak!" Artha memprotes teman karibnya.


"Itu bukan keinginanku ya." Jawab Rain.


Kecemburuannya Artha berbuah konflik diantara Artha dan Rain.


"Eh, loh ... kok begini?" Satella pun dilanda kebingungan.


Kemudian terjadi satu kehebohan. Seekor kelinci dengan bulu seputih salju pun muncul. Anak-anak pun berlarian histeris.


"Apa yang terjadi?" Tanya Satella.


"Menjauh lah, itu adalah kelinci karnivora!" Seru anak-anak yang menyuarakan aura ketakutan.


"Inikan cuma kelinci?" Ucap Satella, memiringkan wajahnya dengan ekspresi bingung.


"Aku suka kelinci." Seru Satella.


Tanpa basa-basi Satella memeluk kelinci karnivora. Dipeluknya erat sambil diusap bulunya penuh rasa kasih sayang.


"Apa ... tidak mungkin, kelinci itu tidak mengigit nya?" Anak desa memberi nada bingungnya.


Binatang sihir salju tak menyerang Satella.


"Ibuku pernah bilang, binatang sihir musim salju tidak akan menyakiti diriku karena aku itu snow elves." Kata Satella.


Anak-anak desa menelan ludah. Kebanyakan dari mereka takut dengan kelinci karnivora.


Skip....


Satella berjalan menuju arah jalan pulang, sambil menaruh kelinci karnivora diatas kepalanya. Entah bagaimana, ditangan Satella sosok kelinci karnivora pemangsa warga desa berubah menjadi kelinci jinak. Seolah kelinci itu adalah herbivora bukannya karnivora lagi.


Tiba didepan pagar....


"Om penjaga, buka pintu dong!" Seru Satella.


Penjaganya kebingungan setengah ****** karena anak majikannya bisa ada didepan pagar. Tetapi tak ingin ambil pusing, langsung saja membiarkannya masuk. Melihat Satella kecil menaruh kelinci salju yang lucu diatas kepalanya, tentu bikin penjaganya menahan tawa.


"Tunggu dulu, bukan itu kelinci karnivora?" Penjaga menepuk jidatnya lalu geleng-geleng kepala.


Meanwhile.


Nyonya Shiela berniat tuk sekadar menyapa putri tercintanya. Tetapi yang dilihatnya hanya satu putri, lantas putri lainnya kemana. Ada Starla yang duduk ditepi ranjang dengan ekspresi muram. Tapi lucu juga melihat Starla kecil sampai memanyunkan bibirnya. Tidakkah membuat siapapun pasti tak kuat menahan tawanya, karena melihat keimutan Starla kecil yang sedih.


"Selamat pagi...." Sapa ibunya.


Starla kecil duduk ditepi ranjang sambil menunduk kebawah lantai. Kemudian menoleh kearah ibunya sebelum menjawab tegur sapa.


"Pagi ibu." Jawab Starla kecil yang memanyunkan bibirnya.


Ibunya terkekeh melihat putrinya yang lucu. Betapa manyun bibir putrinya membuat sang ibu tidak kuasa menahan tawanya.


"Ada apa sayang?" Tanya ibu.


"Gak kenapa-kenapa kok." Jawab Starla kecil, masih dengan ekspresi sedihnya yang lucu.


"Sini peluk ibu." Nyonya Shiela merentangkan tangannya pada putrinya.


Starla kecil pun menghampiri sang ibu tercinta.


"Ibu...." Seru Starla kecil, bernada sedih.


"Apakah Starla sayang ibu?" Tanya ibunya.


"Em, iya, Stalla sayang ibu." Jawab Starla kecil, dengan nada sedihnya yang terdengar lucu.

__ADS_1


Nyonya Shiela terkekeh sambil mengusap punggung Starla kecil.


Melepaskan pelukan hangat penuh kasih, nyonya Shiela pun menatap wajah sendu Starla kecil.


"Kenapa sedih?" Tanya ibunya.


"Aku gak sedih." Bantah Starla, meskipun ekspresinya memang kelihatan sedang bersedih.


"Yaudah, ibu tinggal dulu ya nak." Kata sang ibu.


"Em, iya buk." Starla mengangguk.


Skip....


Tidak lama setelah ibunya pergi, datanglah Satella. Satella datang dengan penuh keceriaan, Satella membawa kelinci yang ia pungut. Kelincinya hinggap diatas kepala Satella dengan lucunya. Bahkan adiknya pun tahu, ada suara nada nyanyian yang ceria dari jauh dan berasal dari kakak kembarnya.


"Kakak...." Seru Starla kecil, seolah pilunya mereda.


Tau-tau Satella muncul dari balik pintu.


"Ta ... da...." Seru Satella sambil memamerkan kelinci yang telah dipungutnya.


"Kakak...." Seru Starla dengan raut wajah senang campur rindu.


"Aku bilang ta da...." Seru Satella, sambil memamerkan kelincinya.


"Kakak...." Seru Starla kecil yang berlari kearah kakaknya.


Starla kecil memeluk erat tubuh kakak kembarnya. Lutut Starla menyentuh lantai, sementara itu tangannya memeluk erat lingkar pinggang Satella. Starla kecil pun memanifestasikan rasa rindunya.


"Maafkan aku kak, jangan marah sama aku lagi." Ucap Starla kecil, bernada lirih memeluk pinggang Satella terlalu erat.


"Eh, kamu kenapa?" Satella malah bingung.


"Jangan tinggalin aku sendirian lagi kak, temenin aku main kak." Starla kecil merengek sendu.


Dengan santai Satella menjawab.


"Aku gak kemana-mana kok dik Stalla." Balas Satella kecil


"Aku gak bisa kalau tanpa kakak." Keluh Starla kecil, dengan gestur sangat lucu dan imut.


Satella kecil jadi terkekeh.


"Cup ... cup ... cup, jangan sedih ya jangan nangis ya dik Stalla." Ucap Satella, mengusap rambut atasnya Starla kecil yang lagi memeluk erat lingkar pinggangnya.


Disaat Starla kecil menoleh keatas menatap Satella, sementara Satella menoleh kebawah menatap Starla. Lucunya, yang dilihatnya adalah wajah Starla kecil yang bibirnya sangat manyun jadi terkesan lucu.


"Lucunya...." Seru Satella sambil mencubit pipi adik kembarnya.


"Sekarang mau main apa?" Tanya Satella kecil.


Mendengar pertanyaan seperti itu, seolah Starla mendapatkan angin sejuk. Starla tersenyum lagi seolah sedang merasa bahagia. Rona ceria Starla sungguh berseri-seri. Starla segera berdiri dan tersenyum.


Mereka pun berjalan kelantai yang digelar karpet. Satella duduk manis dikarpet sambil mengelus bulunya kelinci salju. Starla kecil pun riang melihat kelinci saljunya. Dimatanya kelinci salju, manusia adalah sosok mangsa. Sementara snow elves itu dipandang sebagai majikan oleh kelinci salju. Sejatinya kelinci salju adalah binatang sihir yang biasa dibasmi kala sarangnya ditemukan.


"Hei, dik Stalla...." Seru Satella.


"Apa kak?" Sahut Starla.


"Pergi ke dapur dan ambilkan aku wortel!" Satella menyuruh adiknya.


"Bukannya kakak males makan wortel?" Tanya Starla.


"Bukan untuk aku, untuk memberi makan kelincinya!" Omel Satella.


"Iya kak." Balas Starla.


"Cepat ambilkan, atau aku akan segera marah!" Ancam Satella.


"Jangan kak...." Seru Starla kecil bernada ketakutan.


Starla bergegas ke dapur untuk mengambil wortel.

__ADS_1


Tapi apakah kelinci karnivora itu memakan wortel? Entahlah, kita saksikan saja nanti.


~bersambung~


__ADS_2