Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Ulah dua anak bandel


__ADS_3

Meskipun berada di universe dengan pedang enchantmen dan sihir, anak yang berusia 16 tahun takkan mungkin menghancurkan satu desa.


Anak berusia 16 tahun manapun tidaklah mungkin cukup kuat tuk meluluhlantahkan satu desa.


Tidak, kecuali magic twin ataupun generasi pedang suci. Hanya orang dengan bakat langka dan dihitung dengan jari jumlahnya.


Tanpa disadari desa sudah rusak parah. Akan tetapi keduanya masih bernafsu beradu sihir untuk saling mendapatkan pengakuan. Adalah kakak kembar yang tak mau adik tercinta meremehkannya. Lalu adik kembar yang mencari perhatian kakak kembarnya. Starla butuh pengakuan kakak kembarnya, tapi satella tidak mau diremehkan oleh adik kembarnya.


"Akak ... dimana kamu kak...." Seru Starla sambil menatap kesegala penjuru, kakak kembarnya sedang bersembunyi dengan rapih.


Satella bersembunyi di suatu sudut bangunan, berlindung. Lalu Starla menyadari adanya kejanggalan.


"Kok mendung?" Starla heran.


Kemudian Starla menatap kearah awan. Langitnya cerah tanpa ada mendung nya. Akan tetapi dibawah malah redup cahayanya. Starla pun menjentikan jarinya, tersenyum.


Senyuman penuh arti.


"Pasti sebentar lagi pengen nembak sinar laser deh." Pikir Starla.


Dengan cepat Starla mencari-cari posisi Satella. Mencari letak dari gumpalan mana alam diudara yang dihisapnya. Starla memutuskan melesat ke atas, untuk mencapai ketinggian. Dari atas terlihat sudut yang paling terang dimana tempat dihisapnya mana alam. Starla pun kian lega setelah menemukannya.


Kembali ke bumi, menginjakkan kakinya ditenteng.


Starla mengambil puluhan anak panah sekaligus. Tangan kirinya menggenggam bagian tengah dari badan busur sambil memegang puluhan anak panah. Jari telunjuk tangan kanan jadi fisir pembidik. Tangan kanan mengambil tujuh anak panah dari tangan kirinya. Tujuh anak panah ditarik ditali busur dalam sekali bidikan. Magic archer telah memperkuat ujung anak panahnya.


Arrow shower !!


Tujuh ledakan magic arrow secara beruntun terdengar keras. Ledakan membuat debu dari dinding bata berhamburan. Debu melambung tinggi, genteng dan temboknya jadi rusak. Tidak berhenti sampai disini, Starla membidik lagi tujuh batang anak panah. Magic arrow dilepas.


Ledakan terjadi lagi.


Temboknya bolong, hamburan debunya seolah seperti dindingnya kena tembak meriam bola bundar sebesar genggaman tangan.


Rentetan magic archer dilesatkan sebanyak lima kali. Meski terkesan menghamburkan anak panah, tapi amunisi arrow masih saja banyak.


"Kalau kakak sampai menembak dengan laser lagi, aku bisa kalah." Pikir Starla.


"Waktunya nge burst damage!"


Starla memakai sembilan anak panahnya. Akan tetapi sekarang serangannya lebih kuat lagi. Anak panahnya Starla dialirkan banyak energi magis. Jauh lebih banyak.


Ledakannya setengah kali lipatnya serangan tadi. Rumah yang menjadi tempat berlindung Satella sudah sangat rusak. Starla pun menghela napas karena sudah terlalu banyak memakai sihirnya. Dadanya terasa sesak, gerbang sihirnya kelelahan.


Tangan Starla mengalami gejala gemetar tak terkendali. Starla telah memaksa circuit sihirnya melebar.  Jaringan pseudo syaraf bermasalah karena terlalu deras daya magisnya.


"Tidak mungkin!" Starla melihat kedua tangannya yang tidak mau berhenti gemetaran.


Beberapa saat kemudian Satella keluar dari tempat persembunyian untuk menyerang balik. Sambil ia terbang, mana alam pun terhisap kedalam tongkat permata ruby.


Starla menembaki Satella dengan rentetan magic archer berkekuatan rendah kali ini. Sambil menghisap mana alam, Satella bermanuver menghindari serangannya Starla.


"Sekarang giliran ku!" Seru Satella.


Menembakan laser membuat adik kembarnya terpeleset dan terjatuh ketanah setelah berguling jatuh di genteng rumah. Genteng dan batu puing-puing diterbangkan karena serangan sinar laser berkekuatan dahsyat itu. Starla berdiri secepat mungkin, memakai flyng magic nya untuk kabur. Starla berlindung dibalik bangunan rumah warga.


Duel sihir terjadi sangat alot.


Skip....


Jari kejauhan masing-masing dari mereka mengibarkan bendera yang berwarna putih. Kemudian saling melangkah kesatu titik. Bertemu, cengar-cengir seolah permusuhan diantara mereka jadi reda dengan instan. Satella meninju bahu Starla sambil tertawa kecil sementara itu Starla membalas dengan memukul punggung Satella dengan gemas.


"Hehehe ... kakak." Starla memberi gestur ingin memeluk.


"Manja ya adik." Satella menjawab gestur hangat adik kembarnya.


Saling memeluk dan mengusap punggungnya.


Ketika membalikkan badan mereka telat menyadari.


"Walah...." Satella mengedutkan alisnya.


Sekumpulan warga desa sangatlah marah. Mereka membawa kapak kemudian garputala dan cerurit.


"Hehehe ... kubilang jangan pakai sihir bola api, kan jadi kebakaran. Kamu sih bandel, dik Starla." Ucap Satella, cengengesan.


"Akak sih, jangan pake sinar laser soalnya itu tidak ramah lingkungan. Kakak sih ... pakai sinar laser, jadi bangunannya rusak deh." Starla pun hanya bisa cengar-cengir.


Skip....


Mansion Charlotte.


Duduk dimeja makan, ini adalah acara makan siang keluarga. Ada ayahnya duduk, sementara kedua putri kembarnya duduk manis. Mereka bersebelahan, duduknya menunduk kelantai seolah mereka sedang merasa takut. Kemudian datanglah Diana yang ikut makan.


"Adik adik ku...." Seru Diana yang mulai duduk dan mengambil garpu dan pisau pemotong daging steak.

__ADS_1


Diana melihat ayahnya membaca sebuah koran.


"Sedang baca koran ya ayah?" Tanya Diana, sebagai tegur sapa.


"Diberitakan dua desa hancur dan terbakar karena ulah dua remaja berusia 16 tahun." Kata ayahnya dengan nada sarkastik.


Diana masih mengiris daging steak.


Diana usianya telah menginjak dua puluh tahun. Sementara Satella dan Starla sudah enam belas. Awalnya Diana hanya menanggapi santai saja sambil menikmati makan siangnya.


"Kurang kerjaan tuh dua orang." Komentar Diana.


Diana menelan makanan, Diana terkejut saat menyadari.


"Mana mungkin baru berusia 16 tetapi sihirnya sudah sudah kaya begitu. Siswa tingkat tiga, bahkan seorang guru sihir aja gak sampai segitu kekuatannya." Diana pun memberikan komentarnya.


"Kalau begitu tanyakan saja pada adikmu!" Balas ayahnya.


Diana masih mengiris daging steak lalu mengunyah. Diana menoleh kearah dua adik kembarnya terus bertanya kepada mereka berdua.


"Apakah iya, adik adikku? Masa ia, anak berusia 16 tahun sudah bisa hancurkan satu desa?" Tanya Diana.


"Gimana ini kak?" Starla hanya mampu memasang raut tegang.


Alis Starla berkedut saat merasa kurang tenang. Sementara Satella mengerutkan keningnya pertanda sangat tidak tenang juga.


"Eng ... anu kak. Sebenarnya yang meluluhlantahkan desa itu adalah kami berdua kak." Kata Satella.


Diana masih mengunyah dan lagi mengambil gelas. Setengah sadar, Diana mengomentari.


"Oh ... kalian, hebat yah." Kata Diana yang setengah sadar.


"Eh, apa...." Diana kaget.


Setelah sadar ayahnya menasihati Diana.


"Kamu sih gak becus ngajarin adik kembar mu." Omel ayahnya.


"Dasar anak set*n!" Omel Diana.


"Maaf kak." Satella dan juga Starla kompak bersuara.


"Untung saja kita keluarga ningrat. Kalau ayah kalian hanya bangsawan sekelas baron, kita bisa auto miskin karena mengganti kerusakan satu desa!" Omel Diana, mengepalkan tinjunya penuh emosi.


"Maaf kak, kami kelepasan." Ucap Satella, tertunduk.


Diana berjalan kearah Satella dan Starla.


Pletak....


Kepala mereka pun dijitak Diana dengan keras.


"Aduh, sakit kak." Keluh Satella.


"Pedes...." Starla memegangi kulit kepalanya.


"Maafkan kami kak, maafkan kami ayah." Satella dan Starla kompak bersuara.


Skip....


Malamnya.


Satella sedang diganggu manusia kucing peliharaannya. Satella lagi membaca buku pengetahuan sihir. Tau-tau datang dan ganggu dengan cara ngajakin Satella main kartu.


"Kalah terus deh." Keluh Satella.


"Aku kan sering main, makanya menang terus." Kata Rika.


"Udah ah, ngantuk." Kata Satella.


"Baru jam delapan?" Rika kesal.


"Kalau aku bilang ngantuk, artinya aku mau tidur!" Satella mengomel.


Satella mengusir Rika. Akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan.


Suara ketukan....


"Apa lagi?" Bentak Satella.


"Kak, ini aku kak." Seru Starla.


"Oh, Starla, masuk adik sayang." Satella pun meminta Starla masuk kedalam ruangannya.


Biasanya Satella bertanya jutek kepada Starla. Bertanya tentang alasannya mampir ke tempatnya.

__ADS_1


Tapi kini Satella enjoy aja seolah membebaskan Starla untuk lakuin apapun bersamanya.


"Kak...." Seru Starla terlihat senang.


"Apa dik Starla?" Tanya Satella.


"Kak aku senang kak, tadi itu asik." Kata Starla.


"Terus?" Tanya Satella.


"Anu ... itu loh, sebenarnya." Starla malu-malu.


"Apa dik Starla?" Seru Satella yang bernada lebih ramah dari biasanya.


"Sebenarnya aku cuma caper sama kak Stella. Dua tahun kebelakang kakak selalu diemin aku. Makanya aku cari-cari alasan buat caper kak. Waktu di desa aku nantang kakak, sebenarnya cuma mau ditanggapi. Starla gak mau dicuekin terus kak." Curhat Starla.


Satella pun menoleh kearah Starla dengan senyum yang paling lebar.


"Apa kamu senang?" Tanya Satella.


"Aku gak pernah sesenang ini kak." Balas Starla.


"Aku juga senang." Balas Satella.


"Sungguh?" Starla amat girang.


"Aku senang hubungan kita bisa membaik. Walau kerusakan desa bayarannya. Mau desa hancur atau kota hancur aku gak peduli. Biar dibayar dengan apapun aku akan membayarnya agar hubungan kita bisa membaik." Curhat Satella.


"Beneran kak?" Starla dengan raut wajah yang berbunga-bunga.


Satella mengangguk.


"Kami tidur disini aja, gak perlu lagi tidur terpisah." Ujar Satella.


"Asik kak...." Starla girang.


Satella menguap.


"Ngantuk nih." Keluh Satella.


"Aku akan bawa bantal guling dan tidur disini, tunggu kak." Starla pun meninggalkan kamar dan kembali lagi nantinya.


Starla kembali.


"Kak aku datang." Seru Starla.


Satella terbaring dikasur, Starla membaringkan diri disamping kembarannya itu.


"Apa kamu mau Ruby?" Satella bertanya.


"Maksudnya kak?" Tanya Starla.


"Kalau kamu suka, ambil saja. Itu milikmu sekarang." Kata Satella.


"Seriusan?" Tanya Starla dengan ekspresi riangnya.


"Punyaku punyamu juga." Jawab Satella.


"Iya kak." Balas Starla.


Beberapa menit berlalu.


"Kak...." Seru Starla.


"Em?" Sahut Satella.


"Aku mau cerita." Ucap Starla.


"Yaudah, cerita." Sahut Satella.


"Waktu itu, dihari kematian ibu kita kak. Aku diantar kesini sama orang dewasa, mereka dua orang. Seorang yang mirip kakak, ia seusia dengan kakak Diana. Satu lagi seorang yang mirip sepupu Margareth, tapi juga seusia dengan kakak Diana." Curhat Starla, rasa kantuk kian berat.


"Kok bisa, ya." Satella menanggapi.


"Orang yang mirip kak Stella yang usianya sebaya dengan kak Diana, memberikan sesuatu padaku kak." Starla bercerita.


"Hadiah?" Sahut Satella.


"Sebuah cincin batu sihir, seperti itulah kak. Orang itu bilang padaku untuk menjadikan itu hadiah ulang tahun untuk kakak." Ujar Starla.


"Terus...." Balas Satella.


"Orang itu menyuruhku memberi hadiahnya diulang tahun yang ke sembilan belas kak." Tukas Starla.


"Oh, gitu. Dah ah ngantuk." Balas Satella.

__ADS_1


Tak lama, keduanya pun tertidur.


~Bersambung~


__ADS_2