Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
janji tetaplah janji


__ADS_3

Mengalahkan dua vilain sekaligus sendirian. Menegaskan bahwa ia berada pada level dimana jumlah pengalamannya sangat impresif.


Kekuatan restart, sangat terasa manfaatnya. Hanya dengan dua perulangan maka seorang yang mustahil mengalahkan monster, Menjadi matang untuk kalahkan monster itu. Trial and eror punya peranan disini dalam manipulasi level pengalaman.


Ada yang janggal saat durasi skill mediumship berakhir begitu saja tanpa kehendak Satella sendiri.


"Tenggorokan ku terasa panas! Ada apa ini?" Pikir Satella.


Semua masih gelap gulita, dalam gelap pendengaran Satella yang terlebih dahulu pulih.


"Hei.. Satella! Bangun." Suaranya Minerva terdengar, itu masih agak kecil suaranya, perlahan mulai mengeras.


Mendengar namanya dipanggil beberapa kali. Indera penglihatan mulai pulih. Awalnya kegelapan pandangan mulai terang tetapi perlahan mulai remang-remang dengan sedikit cahaya. Perlahan cahaya bertambah kontras lalu remang-remang penglihatan itu bertambah tajam tidak rabun lagi.


"Satella.. kamu masih hidup?" Seru Minerva berupaya untuk membuat Satella terbangun.


"Apa.. apa?" Satella berucap.


"Kamu masih hidup?" Minerva dengan ekspresi terkejut.


[Satella : apa ini? Apa aku disangka sudah mati?] 😲


Entah kenapa bersuara dalam hati terasa lebih mudah tuk dilakukan Satella. Saat pertama berucap ia terasa agak berat.


"Ma.. m~~mati?" Satella berusaha keras untuk berucap.


[Satella : apa ini? Tenggorokan ku rasanya sakit! Seperti terbakar.] πŸ€•


"Sebelum kabur, sibajing*n tengik tersebut melempar belati dengan bilah dioles oleh bisa ular balisik. Kukira kamu akan mati, syukur ternyata selamat." Ucap Minerva.


"Ha.. arg.. ah.. apa?" Satella masih merasa sakit ditenggorokan, juga kepala sangat pusing dan tenaga menghilang.


[Satella : ya ampun! Jadi aku kena bisa ular balisik, ku kapok mati.] 😞


"Bertahanlah! Bertahanlah oke, kubawa kamu unit kerumah sakit sekolah oke." Minerva mendekap Satella erat, cukup kokoh untuk Minerva menggendongnya. Lalu Satella dibawa dengan gendong pengantin ataupun bridal style.


[Satella : ya ampun, digendong ala pengantin oleh sesama cewe? Ya ampun ini aib banget bagiku.] 😱


Satella kini digendong bridal style oleh Minerva. Tangannya terjuntai kebawah juga kedua kakinya rapat dikunci tangan kekarnya Minerva.


Kini keluar pintu kafetaria..


"Ini benar-benar gila, tapi kalau disana gak ada kamu aku sudah terkena stone curse." Minerva membawa Satella keruang rawat sekolah. Terus menggendong.


[Satella : aku senang dengarnya.]


Minerva mulai bicara sementara Satella merasa tenggorokan sakit hingga suaranya sulit dikeluarkan. Satella yang sulit bersuara lebih memilih berkata dalam hati saja.


"Aku udah lama mau ngomong ini karena ganjel banget dipikiran aku, jadi kubilang sekarang. Aku nyesel atas segala ucapan ku dua hari yang lalu itu jadi, maafkan aku." Minerva bicara dengan tulus.


Minerva melanjutkan..


"Kamu benar! Ternyata kamu itu bukan Bellatrix, buktinya tadi dia muncul dan kamu melawannya. Sekarang kan jelas kalau kalian itu dua sosok berbeda. Temen-temen sudah keterlaluan menuduh kamu, aku bakalan paksa mereka untuk minta maaf ke kamu. Kalau mereka sampai gak mau, akan aku kunci mereka dengan gerakan beladiri bergulat supaya sendi mereka jadi terasa linu! Liat aja." Tegas apa yang dikatakan Minerva, keningnya pun mengkerut, sungguh pembelaan paling membela yang pernah ada.


[Note : yang dimaksud Minerva dengan bergulat itu semacam ilmu beladiri yang kita kenal sebagai thaiboxing atau MMA.]


[Satella : apa? Minerva main gulat, wah ini cewe manly banget.] 😬


Lorong demi lorong telah terlewati, lurusan juga belokan. Sepertinya hampir sampai di unit rumah sakit sekolah sihir ini. Bahkan hingga saat ini Minerva masih mengoceh.


"Tentang waktu itu, kamu bilang, maukah berteman denganku, kamu bilang begitu. Well... Aku sedikitnya kaget sih, kesan kita sebelumnya itu kan.. kamu ingat tindakanku dihari sebelumnya lagi, kok kamu kuat untuk mengatakan itu." Minerva tertawa kecil, mimik gembira pun terukir diwajahnya sangat manis.


Satella memakai sisa-sisa tenaga untuk mengatakan..


"Kalian tidak mengingatnya, aku mengingat segala tentang kalian semua, tapi kalian tak mengingat tentangku." Satella memakai sisa tenaganya untuk bicara ditengah racun ular balisik yang sedang menggerogoti tubuhnya.

__ADS_1


Satella mengeluarkan hembusan napas ala orang sekarat, Minerva mendengar suara napas yang tak biasa dari Satella jadi kian panik.


"Oh.. goddess! Jangan dulu banyak bicara dong." Omel Minerva dengan gestur ala ibu memarahi anaknya yang malas makan.


"Tenang kamu akan oke, aku janji bakalan menjaga kamu mulai saat ini." Kata Minerva.


[Satella : tepati janjimu oke.] ☺️


"Kamu tahu.. betapa nyebelin nya." Kata-kata Minerva berakhir disini, indera pendengaran Satella lenyap jadi blank. Alih-alih hilang indera penglihatan jadi gelap gulita, indera penglihatannya malah putih blank sangat silau seperti mata tikus yang baru saja diracun manusia.


Kematian datang lagi...


RESTART !!


Perulangan terjadi untuk kali ketiga..


ruang tengah asrama putri.


Satella mulai terbangun, awalnya ia seperti bangun tidur. Tapi bukan seperti bangun tidur dari ranjang melainkan terbangun dari duduk melamun. Ketika kesadaran mulai pulih, yang ada dibenak Satella.


"Romantis banget." Sumringah wajahnya, pipinya merah Satella senyam senyum sendiri.


"Eh! Ngaco." Satella mendapatkan kesadaran penuh, terkaget sambil merasa malu sendiri dan menjitaki kepalanya sendiri saking merasa tindakannya tadi itu memalukan.


"Maksudku."


"Ahem."


"Hangatnya perlakuan dari cewe stundere galak satu itu." Satella cengar-cengir. Menjatuhkan diri disofa jadi tiduran dengan kepala bertumpu pada sikutnya.


[Note : yang Satella maksud cewe stundere galak adalah Minerva.]


Kemudian...


"Ah.. aku tahu! Kali ini aku akan merubah alurnya." Tegas Satella.


"Lagi?"


Satella menghela napas berat, tapi bibirnya masih mengukir senyum walau kecut. Tapi sisa semangatnya masihlah ada. Diruang tengah itu biasanya ada lemari berisi banyak handuk kering. Satella ambil saja handuknya, langsung masuk ke kamar mandi dalam asrama putri.


Bersiap-siap..


A few moments later..


Langit-langit sangat indah, cerah cuacanya. Merpati terbang tinggi diatas langit juga cepat. Dibawah merpati ada desa dengan ladang jagung. Tau-tau merpati menukik kebawah, anehnya merpati hitam tersebut terbangnya lebih kencang dari elang. Bahkan tiga kali lipat kencangnya dari elang predator ataupun Garuda. Inilah merpati hitam mistis, bahkan kencangnya jauh lebih cepat dari naga wyvern.


Desa yang dikelilingi ladang jagung juga rumah dalam jumlah lumayan banyak. Merpati hitam menukik dititik yang ada taman kecil hingga mendarat didalamnya. Setelah ia hinggap di taman kecil berubah ia menjadi sosok gadis remaja yang berseragam kemeja putih dan juga jubah almamater akademi sihir.


Green Apple village.


"Sampai." Seru Satella.


"Kalau tidak salah, ini dia taman kecilnya! Lantas dimana artefak tersebut dikuburnya?" Ucap Satella menaruh telunjuk didagunya.


Satella memasang matanya untuk menerka lokasi dimana liontin nya Bellatrix dikuburnya. Kepalanya bergeser ke kanan ke kiri mencari titik penguburan artefak tersebut.


Beberapa menit kemudian...


"Ah.. ketemu!" Satella menjentikan jarinya. Iya berjalan menuju titik penggalian yang dia duga tersebut.


Berjalan kesana...


Memunculkan magic bag warna hitam miliknya. Dari kantung sihir tersebut ia mengeluarkan sekop untuk menggali titik penggalian. Sejauh ini tidak banyak penduduk yang curiga. Barangkali penduduk menganggap Satella sebagai remaja dengan kecil kurang bahagia yang menggali tanah bagai anak kecil.


Seseorang dengan baju cokelat ala petani lewat, berjalan disisi pagar taman sambil berkomentar.

__ADS_1


"Anak kecil." Katanya geleng-geleng kepala.


Sementara itu Satella dengan giat terus menggali tanah. Satella akan memungut jimat liontin emas segi enam milik Bellatrix. Ini adalah galian ke sebelas, tanah yang telah diuruk nya belum banyak masihlah rendah. Bahkan baru saja segitu Satella sudah menyeka keningnya.


"Capeknya." Satella menjatuhkan sekopnya.


"Kenapa.. sih aku harus memiliki tangan lemah gemulai ini? Letoi banget deh, kesel." Keluh Satella.


Seketika Satella menjadi iri dengan betapa atletisnya tubuh Minerva itu dan betapa kuatnya tenaga tangan Minerva. Betapa menawan bentuk bahu atletis Minerva dan byceps membuat lelaki pengen nyenggol bawaannya, nyenggol bahu dengan bahu. Itulah lamunan Satella.


"Coba deh lihat, betapa mudahnya laki-laki terpikat oleh Minerva itu. Pasti karena dia punya tubuh yang atletis. Aku main iri saja." Gumam Satella seraya menunggu pegalnya sedikit mereda.


"Tapi!"


"Aku harus menepati janjiku untuk menolong Bellatrix dari pembatal kutukan sihir terlarang. Walaupun janji itu belum dibuat di loop waktu ketiga ini, tapikan aku tahu kalau aku telah setuju di loop waktu yang sebelumnya. Janji haruslah ditepati walau cuma aku yang tahu, walau orang lain belum membuat janji itu sendiri karena waktu yang terulang. Aku yang mampu mengulang waktu ini harus menepati janji, karena kemampuan mengulang waktu itu tidak boleh disalah gunakan untuk mencurangi janji. Pokoknya kalau sudah janji ya aku harus menepati."


Bibir lentik Satella berbicara amat cepatnya, itu menandakan betapa cerewetnya sosok remaja childish tersebut. Masih berjongkok untuk menunggu pegalnya mereda.


Beberapa menit kemudian...


Satella baru akan menggali tanah tetapi di interupsi seseorang.


"Permisi.. apa yang adik kecil ini lakukan?" Tanya seorang penduduk.


"Sudah jelas kan! Aku ini sedang menggali." Jawab Satella sambil menoleh kearahnya.


"Untuk apa kamu menggali?" Tanya seseorang.


"Mengambil sebuah benda." Jawab Satella.


"Apa kamu sedang menggali harta Karun? Anak kecil." Tanya orang tersebut.


"Bukan.. hanya sebuah kalung peninggalan." Jawab Satella.


"Selamat menggali." Ucapnya, orang tersebut seperti akan segera pergi.


"Hei.. tunggu! Apa kamu tidak mau membantuku? Nanti aku berikan silver coin loh." Satella bilang.


"Sungguh?" Tanya orang itu.


"Em." Satella mengangguk dengan imutnya.


"Bayar dimuka loh." Kata orang tersebut.


"Baiklah." Satella segera merogoh kantung uangnya. Tentu saja itu hanyalah recehan bagi Satella yang notabennya seorang putri ningrat.


Satella memberi koin silver.


"Apa ini cukup?" Tanya Satella.


"Tentu saja," dia memasukan koin silver ke kantung uangnya, terus melanjutkan, "ini belum termasuk biaya menguruk tanahnya kembali seperti sediakala loh, putri kecil."


"Tentu saja.. itu hal yang mudah bagiku." Satella mengkonfirmasi kesanggupannya.


"Baiklah.. aku kerjakan."


Penduduk desa itu langsung mengerjakan tugasnya sebagai penggali tanah. Tentu setelah dia menerima bayaran yang terlalu besar bagi ukuran pekerjaan yang sangat sepele tersebut.


Merasa sedikit kesal, Satella pun berbisik..


"Kenapa sih orang-orang selalu mengira aku sebagai anak kecil berusia belia? Sementara orang mengagumi Minerva karena memiliki bentuk tubuh atletis. Wujudku menyebabkan orang mengira ku sebagai anak kecil belia, walaupun aku gak pendek-pendek amat atau cebol. Padahal tinggi ku 165 cm, bukankah itu tidak terlalu kerdil untuk disebut anak-anak?" Bisik Satella, meluapkan keluh kesahnya dengan raut wajah kecut.


Satella duduk dikursi taman selagi menunggu tukang suruh menggali tanahnya.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2