Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Tak punya rencana


__ADS_3

Sampai sini saya kepikiran buat bikin lagi spesial chapter. Kira-kira kalau ada sedikit bumbu minor romantis bakal seru gak ya.


Sampai sini, alurnya jadi buruk apa sudah bagus. Semoga ada masukan, sekian dan terimakasih.


______________________________________________


Setelah survive dari percobaan werewolf, Satella menambah jam rehatnya. Hari masih malam kala werewolf menyerang, begitupun setelah werewolf kalah dan kabur.


Lalu....


Alarm dari jam kayu antik pun berbunyi. Satella bangun di pagi harinya dengan kondisi prima.


Satella masih ingat bahwa Reiner sudah diberi perintah olehnya tuk mengunjungi kamar tabib agar ia mendapat perawatan medis. Kalau dibandingkan loop waktu yang lalu, kemungkinan sekarang Reiner bisa pulih dengan cepat.


Ia terbangun, meminum segelas air putih. Duduk menatap cermin dan menyisir rambutnya. Memandangi dirinya sendiri, ia berpikir keras.


Sampai Satella mencapai final dari upaya berfikir nya.


"Ahah, aku tahu!" Pikir Satella.


Mendapat ide tentang cara yang dipakai untuk menangani tindak persekusi seorang Gunners.


Setelah mandi dan sarapan, Satella mampir ke tempat sang tabib.


Kamar tabib.


Reiner terbaring dalam keadaan sadar. Zirah nya yang sudah rusak dilepaskan. Ia bertelanjang dada, tabibnya memegang jarum dan benang dari kotak medkit. Reiner meringis kala alkohol 80 persen dituangkan ke kulit lukanya. Perut mendapat luka cabik yang pedih.


"Kenapa tidak memakai kapas saja sebagai media mengolesi alkohol kepada luka?" Tanya Satella yang melihat penderita pengawalnya.


"Lebih cepat sembuh dengan cara begini." Sanggah tabib.


Satella mengiyakan.


"Baiklah, lebih cepat lebih baik." Satella memalingkan wajahnya.


Reiner meringis.


Penderitaannya makin bertambah setelah jarum menusuk kulitnya untuk menjahit luka sayatan akibat cakar werewolf. Mendengar hal itu, kuping Satella berkedut. Satella pun berbalik badan tak kuat melihat seseorang dijahit kulitnya. Satella merasa mual dan ingin muntah.


Andai saja ada mage type healer. Kondisinya serba darurat. Sudah menjadi aturan untuk mengurung penghuni. Selagi karantina sedang berlangsung, orang luar tak boleh masuk kedalam lingkungan rumah penginapan besar ini. Itu aturan.


Tak lama datanglah seorang yang mengaku sebagai penerawang.


Tapi Satella dengan role seorang magic caster, sudah tahu identitas Climbt yang sebenarnya. Di dalam mini game werewolf, magic caster adalah role yang dengan kelebihan tersendiri. Salah satu kelebihannya adalah, mampu mengetahui siapa yang akan diserang oleh werewolf dimalam pertama.


"Masuklah!" Jawab tabib terhadap suara ketukan pintu.


Tidak lama, Climbt pun masuk.


"Ah, ternyata kamu sudah datang Climbt." Sambut Satella.


"Eh, huh, apa?" Climbt kaget.


"Namaku Stella, aku hanya gadis remaja biasa tanpa kekuatan sihir atau semacamnya. Pasti kamu ini datang hanya untuk bilang, aku ini orang baik. Bukan begitu Climbt?" Satella bernada sarkastik.


"Wow." Climbt tercengang.


Satella tahu kalau Climbt adalah seorang Beholder bukannya sosok seer yang asli.

__ADS_1


Pada dasarnya Climbt itu tidak memiliki keterampilan apapun. Penerawang asli bukanlah Climbt.


"Kamarku berantakan akibat ulah werewolf. Bisa pinjamkan aku satu kamar yang masih bagus dan rapi. Kumohon, aku butuh istirahat dan aku gak tahan sama kamar yang acak-acakan." Satella merengek kepada Climbt.


"Baiklah." Climbt tercengang.


Kemudian.


Kamar Climbt.


Sama seperti putaran waktu yang sebelumnya, Satella bertukar kamar dengan Beholder.


"Bagaimana kamu tahu tentang namaku?" Climbt bingung.


"Kamu bukan seer, kamu juru bicaranya kan." Satella menebak.


"Tapi, bagaimana mungkin?" Reiner sedikit shock karena indentitasnya dapat dibongkar.


"Kalau gitu, tolong bilang pada seer yang asli. Malam ini terawang sang tabib yang tadi. Aku curiga kepada tabib itu!" Satella memberi usulan.


"Akan kusampaikan pesan mu itu." Climbt menerima usulan Satella.


Skip....


Perspektif waktu pun berlangsung pada sore harinya. Kali ini sang Gunners tetap akan dihukum mati. Sosok Gunners berlutut dilantai dengan wajah ditutup kain karung. Terdakwa diikat, sekumpulan kru polisi militer membidik terdakwa dengan bolt action rifle.


Dor....


Beberapa tembakan terjadi dalam satu waktu.


Orang yang didakwa hukuman mati sudah tergeletak dilantai, tak lagi bernyawa. Seorang polisi militer membawakan kantung mayat tuk membungkus mayat sang Gunners.


Entah bagaimana, ada uap yang berwarna hitam meluap ditubuh orang mati itu. Hingga mayatnya dimasukkan kedalam kantung lalu seleting nya ditutup rapat. Polisi militer mengangkat kantung mayat.


Dua orang mengangkatnya.


Hingga mereka mencapai halaman belakang penginapan.


"Kenapa mayatnya menjadi sangat ringan?"


"Tidak usah banyak bicara, kita masukan sekarang!"


Setelah lubang penguburan selesai digali, mayatnya dilempar beserta kantung mayat berbentuk seperti sebuah tas. Lalu dikubur tanahnya.


Skip....


Satella duduk dimeja makan. Ini adalah waktu untuk makan malam. Malam telah tiba, yang Satella tahu adalah malam ini ia tidak diincar. Sementara Satella berada dikamar paling atas. Di sana ada kamarnya pemilik penginapan dan pangeran. Keduanya adalah tempat paling eksklusif di penginapan besar ini.


Akses menuju kamar pangeran disana ada beberapa penjaga. Baik pengawal pribadi ataupun polisi militer yang tugasnya adalah piket harian. Akhirnya Satella dipersilahkan untuk mengunjungi pangeran. Setelah ia berdiri di depan pintu sambil diantar oleh penjaga, penjaga mengetuk pintu kamar.


Yang membuka pintu adalah penjaga lain. Mereka saling kenal. Setelah memastikan, Satella dipersilahkan masuk.


Satella masuk, melihat keseluruhan ruang kelas eksekutif ini. Akhirnya ia menemukan sosok pangeran keempat. Satella segera menebar senyum dan memberikan tegur sapa. Satella mencerminkan etiket yang sesuai dengan status keningratan nya itu.


"Salam hormat, pangeran kelima. Roman Giovanni Valois." Satella menunduk dan memberi sikap hormat.


Prince yang awalnya duduk santai kala menikmati sampanye, langsung berdiri karena ingin menyambut Satella.


"Jadi benar, itu beneran kamu. Putri ketiga dari keluarga Charlotte. Satella, sudah lama tidak bertemu semenjak...." Ucapan prince terhenti sampai sini, ia tersenyum senang. Menatap takjub gadis bertubuh mungil tapi cantik. Terkesima menatap kulitnya yang seputih salju, mata fokus pada satu titik.

__ADS_1


"Satu hal yang penting! Identitas sebagai seorang putri bangsawan harus menjadi rahasia. Aku juga ingin membagi rahasia terpenting." Satella merogoh saku untuk mengeluarkan sebuah surat penting.


"Tapi kenapa? Kenapa seorang ningrat ada disini? Kenapa kamu ikut terjebak dalam situasi ini?" Apa yang kamu lakukan disini Satella?" Pangeran keempat tak hentinya bertanya-tanya. Dilihat dari nada suaranya, seperti khawatir oleh wanita yang ada dihadapannya.


Siapapun yang menatap gadis itu tak akan menyangka kalau ia itu kuat bukan. Tubuh ringkih nya. Pangeran keempat tentu hanya memandang Satella sebagai putri ningrat yang lemah tanpa kemampuan bertahan hidup. Tentu prince Roman amat khawatir.


Satella menunjukkan kertas yang ia bawa tanpa menyerahkan pada pangeran. Yang dilakukan hanya menunjukkan identitas sesuai prosedur. Adalah standar operasi sebagai agen dari minister order. Satella menjelaskan pada pangeran keempat.


"Aku sekarang bekerja di kementerian sihir loh. Aku ditunjuk untuk menuntaskan kasus komplotan werewolf yang meresahkan loh, pangeran," ujar Satella.


"Kamu?" Pangeran keempat tercengang.


"Iya, aku ditunjuk oleh kementerian sihir." Satella memperjelas.


"Tapi, tapi, tapi bagaimana bisa. Satella itu seorang mage? Bahkan aku baru tahu kalau Stella itu ahli sihir." Pangeran keempat pun terdiam sejenak. Dilihat dari ekspresinya, sangat tidak percaya.


"Aku sudah menyelesaikan pendidikan di akademi sihir Griffin Quen kota Geffenia. Pangeran tidak pernah mencari informasi tentang aku. Tidak pula ingin tahu tentang aku, huh...." Satella cemberut, ia melipat tangannya dan memalingkan wajahnya.


"Maafkan saya." Pangeran keempat pun mengangkat tangan, memberi gestur menyesal. lalu ia menarik napas berat.


Panggil saja nama masa kecil, kak Stella.


Jadi Satella lebih tua daripada pangeran keempat.


Saat ini Satella berusia 19 tahun, pangeran keempat usianya 18 tahun. Satella lebih tua satu tahun daripada pangeran keempat.


Berarti pangeran keempat lebih muda tiga tahun dari pangeran kedua. Prince Philips adalah kakak tiri prince Roman. Mereka memiliki ayah yang sama tapi ibu mereka berbeda. Raja kerajaan ini memiliki banyak permaisuri dan dayang-dayang kerajaan.


"Boleh duduk sebentar," pinta Satella.


"Silahkan Stella ku." kata pangeran Roman.


"Ada apa dengan panggilan Stella ku, aneh banget deh!" Satella menatap cemberut, merasa bete dengan panggilan asing itu.


Pangeran keempat terkekeh.


Pangeran keempat adalah putra yang tertampan diantara keempat putra resmi Baginda raja Vilenchia. Anak resmi raja berjumlah enam, dengan keduanya itu berjenis kelamin putri. Putri yang termuda adalah putri jenius diusia anak-anak.


Pangeran keempat memiliki postur tubuh jangkung dan kurus. Lebih tepatnya tubuh ramping, hanya sedikit masa otot hampir menegaskan bahwa ia sama sekali tidak memiliki latar belakang militer. Pangeran keempat memiliki model rambut panjang. Model rambut kepang Perancis, umumnya hanya dimiliki gadis-gadis. Akan tetapi pangeran keempat tetap memberi kesan tampan dengan gaya rambut tersebut.


Pangeran Roman dan putri Stella sedang duduk. Posisi kursi mereka berhadapan. Pangeran Roman Giovanni mengusap wajahnya. Menepuk kening memberikan gestur pusing. Mengambil napas berat beserta raut wajah muramnya. Pangeran keempat memberikan nada mengeluh.


"Kenapa Stella ku berada ditempat seperti ini?" Prince Roman bernada pasrah.


"Memangnya kenapa?" Tanya Satella.


"Dengar, bahkan keberadaan ku disini pun karena aku terpaksa. Aku tidak pernah mau menginjakan kaki disini. Aku ini pemimpin daerah untuk kota administrasi ini. Karena diriku telah ditunjuk untuk mengelola kota Ustgard, aku pula yang harus menuntaskan masalah disini. Werewolf si*lan!" Prince Roman berkeluh kesah dengan nada yang setengah heboh campur stres.


"Kalau gitu, biar aku saja yang selesaikan masalah ini." Satella tersenyum bangga, memberi nada suara yang sombong. Tapi, sebenarnya ia ketakutan dengan teror werewolf. Satella belum sampai kepada petunjuk, siapa werewolf nya dan belum memiliki rencana apapun, ia hanya ingin kelihatan keren dimata keluarga kerajaan.


Prince Roman menarik napas lega yang setengah gelisah.


"Putri ketiga house of Charlotte selalu jadi panutan. Kecil-kecil tapi pemberani, kamu selalu terkenal dimata anak-anak Noble house dan royal household. Walau sudah lama, meski semua telah melupakannya. Mungkin masa-masa itu akan terulang kembali, Stella. Pilihlah aku dibandingkan kakakku atau adikku." Pangeran keempat memberikan nada curhat. Bercerita akan kisah masa kecil mereka.


"Pilihlah, ngomong apa sih kamu?" Satella menjadi lupa, dengan siapa ia berbicara. Seolah-olah itu teman masa kecil, tetapi kenyataannya ia berbicara dengan salah seorang keluarga kerajaan.


Pangeran keempat adalah tokoh politik kerajaan yang paling skeptis pandangan tentang visinya.


Suasana semakin hangat semakin akrab. Ditengah teror werewolf yang mencekam ditempat karantina ini, rasa nyaman telah terbangun ditempat prince.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2