Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
menambah kerjaan saja


__ADS_3

Hari keempat.


Ini adalah libur hari keempat yang berarti besok semua akan memulai third semester. Satella duduk saja dimeja rias, kondisi rapih dan juga serba harum. Memandangi cermin rias sambil menyisir rambutnya. Semua elves salju memiliki rambut perak, tidak ada yang tidak perak.


Yang tergeletak di meja adalah raportnya. Selesai menyisir rapih rambutnya, Satella mengambil raportnya itu, dilihat hasilnya.


"Nilai ku sangat tak terduga, aku lulusan terbaik tahun ini." Satella mengukir wajah paling bangga.


Diletakan didalam laci.


Satella memegang liontin jimat emasnya. Digenggam erat dengan kedua tangan lentiknya. Terlihat seperti tangan anak-anak yang memegang bundaran logam yang amat besar. rantai besi berukuran besar-besar juga. Satella bersiap berkomunikasi dengan sosok roh.


Horcrux itu adalah fragmen jiwa. Karena itu potongan jiwa maka itu bisa diajak komunikasi dengan kemampuan psyche seorang Esper.


Mediumship !!


Satella memulai berkomunikasi dengan roh. Jiwa Satella terkirim kedunia astral sebagai bayangan ataupun ilusi. Satella terkirim ketempat fragmen jiwa itu berada. Adalah alterlife dimensi. Jembatan antara alam yang hidup dan mati. Karena Bellatrix membagi jiwa kedalam beberapa bagian maka shinigami tidak membiarkannya masuki gerbang dunia kematian.


Bermain-main dengan ilmu hitam keabadian membuat shinigami membencinya. Ilmu hitam untuk mengakali kematian dampaknya adalah, jiwa Bellatrix tak diterima alam kematian dan menjadi jiwa gentayangan didunia. Bukan hanya itu, tubuhnya dikutuk menjadi perwujudan yang disebut jenglot.


Saat ini sudah dua kali Satella tiba ditempat ini, jembatan antara alam hidup dan mati. Ini kali ketiganya ia berkunjung dalam wujud shadow. Berdasarkan time loop sudah tiga kalinya, tapi berdasarkan real nya berarti baru dua kali kunjungan.


Seperti biasa Satella akan melihat lantai marmer yang indah tanpa dinding dan kabut putih sepanjang mata memandang. Awan cerah itu seperti seolah ada diluar, lantas kenapa dipasang marmer kastel. Enyahlah meski bentuknya astral begini, sejatinya ini adalah satu jembatan penghubung dua alam.


Menatap lurus kedepan Satella melihat shinigami dan jasad yang dikutuk menjadi jenglot. Karena wujudnya dikutuk menjadi sosok jenglot makanya Bellatrix tidak sanggup menyebrangi gerbang kematian, apalagi putar balik tuk pulang ke alam orang yang hidup.


Kalaupun ia sanggup putar balik kedunia hidup, jazadnya sudah dikutuk jadi jenglot.


Satella terus melangkah kearah shinigami dan sosok manusia kutukan berada. Ia terus berjalan sambil memandang sosok tubuh seukuran bayi prematur ataupun jazad yang dikutuk jadi jenglot.


Sambil menatap jazad abnormal berukuran bayi prematur, Satella bergumam sambil ia merinding.


"Aku gak akan pernah berani coba-coba deh dengan sihir gelap keabadian, nanti diriku dikutuk." Merinding, Satella jadi bergumam sendiri.


Dirinya melangkah sambil tangan memeluk diri sendiri dalam satu suasana merinding. Tau-tau ada kejadian mengejutkan dirinya.


"Keputusan mu bijak sekali nyonya kecil!" Suaranya serak menyeramkan layaknya shinigami pun muncul.


Menjerit..


Satella jantungan setelah entitas mistis yang awalnya ada diujung pandang, tau-tau ada disamping kanannya. Tersentak kaget, Satella menoleh kearah kanan tetapi tak tampak sosok yang bersuara tadi.


"Jangan pernah coba-coba sihir kegelapan, itu keabadian palsu!"


Menjerit, lagi..


Baru saja Satella menoleh kearah kanan, sumber suara tak nampak disebelah kanan. Tau-tau sumber suara muncul disebelah kirinya. Satella mengalami terapi jantung untuk yang kedua kalinya dalam waktu singkat. Bahkan ia belum sempat mengelus dada, menoleh kearah kiri. Lagi-lagi tak nampak sosok yang berbicara barusan itu.


Menghela napas..


Wajah marah yang masam tapi sangatlah imut terbentuk sendiri pada wajah Satella. Mengangkat tinjunya seolah-olah sangat ingin meninju shinigami walaupun nyali Satella tidak sebesar itu tentunya.


Hanya beberapa detik saja waktu tersedia untuk Satella meredakan irama jantung. Shinigami muncul kembali dengan ciri khasnya yang membuat Satella tambah kagetan.


"Sekali tergoda keabadian, dirimu akan tertahan di alam hidup dan kematian. Jembatan ini menahan pelanggar maut!"


Menjerit lagi dan lagi...


Kali ini shinigami berada didepan Satella. Satella menatap kedepan, shinigami tidak berpindah lagi sekarang. Mempertahankan posisi didepan Satella dengan pose yang menunduk sehingga wajahnya itu tertutup tuding jubahnya. Satella pun mengangkat tinjunya, amat kesal.


"Kenapa sih perempuan itu harus selalu menjerit dan menjerit?" Ujar shinigami tersebut, ia tertunduk memandang ke bumi.


"Tikam saja jantungku shinigami sialan, selalu saja mengagetkan! Umpat Satella.


Shinigami yang semula tertunduk ketanah, mulai menengadah dan menatap lurus kedepan. Secara tak terduga mengagetkan Satella untuk kesekian kalinya. Hal yang membuat Satella kaget adalah wajahnya itu yang berwujud tengkorak manusia.


"Kya.. aaa, kaget aduh kaget!" Itu ungkapan Satella dengan sensasi terapi kejut jantung.


"Silahkan kalau ada perlu dengan seseorang." Shinigami pun segera menyingkir.

__ADS_1


Shinigami pun balik arah, menjauhi Satella dengan berjalan ke posisi semula. Satella melanjutkan niat awalnya untuk berbicara dengan sosok Bellatrix dijembatan arwah. Jembatan yang menahan arwah kedalam posisi gentayangan, yaitu kondisi tidak mati juga tidak hidup.


Melangkah..


Satella berjongkok disampingnya sosok tubuh Bellatrix yang telah dikutuk jadi sosok tidak manusiawi. Tubuh sebesar bayi prematur yang kulitnya sangat merah seperti kulit merah bayi tikus. Ataupun kulit manusia yang dikuliti tapi telah tumbuh kembali kulit tipis baru.


Bergumam, Satella bersuara pada sosok tersebut.


"Aku datang lagi."


"Kamu dengar aku?"


"Tolong bicaralah padaku!"


Satella berjongkok disana selama beberapa detik saja.


"Mencari aku?"


Muncul suara yang mirip Satella tapi bukan Satella. Seorang yang suaranya mirip dengan Satella itu hanyalah Bellatrix. Seolah Satella berbicara pada dirinya sendiri. Suaranya ada dibelakang, Satella merasa Bellatrix ada dibelakang.


Satella segera berdiri dan berbalik badan. Mengukir senyum tipis saat bertemu lagi dengan sosok Bellatrix.


"Hai.. hai." Sapa Satella.


"Hai juga, selamat ketemu lagi." Sambut Bellatrix.


Satella bengong sebentar, memandang Bellatrix.


"Seramah inikah sosok pangeran kegelapan itu?" Gumam Satella yang bernada bingung.


"Dulunya itu aku jahat loh." Kata Bellatrix, dengan nada pita suara yang sangat persis dengan Satella.


Suara Bellatrix itu sama imutnya dengan suara Satella.


"Aku susah percaya kalau dulunya kamu itu jahat. Suaramu imut dan sifat mu ramah sekali padaku, iya sulit percaya kalau kamu itu jahat." Komentar Satella.


"Kalau semua fragmen jiwaku itu selesai dikumpulkan, kuceritakan semuanya padamu." Kata Bellatrix.


Bellatrix mengangguk, sambil ia menyambut salaman kelingking untuk membuat janji.


"Ada kabar apa kamu datang lagi kemari?" Tanya Bellatrix.


Mereka berdua berdiri tegak saling berhadapan satu sama lain. Dalam perspektif Bellatrix ini kali kedua mereka bertemu, dalam perspektif Satella sudah sudah tiga.


"Aku mendapat cincin horcrux milikmu." Satella bilang.


"Good job wahai kamu gadis yang mirip aku, siapapun kamu." Ucap Bellatrix, sedikit bernapas lega.


"Terus apalagi yang harusnya aku lakukan?" Tanya Satella.


"Temukan fragmen jiwaku yang lainnya lagi." Jawab Bellatrix.


"Iya, baiklah." Gumam Satella bernada lambat.


"Senjata mage sejenis buku sihir bertuliskan grimiore. Mahkota ratu penyihir Helene, jam pasir dengan dekorasi emas, cermin dengan bola mutiara dan batu ruby. Itu semua benda yang ku sembunyikan sejak empat ratus tahun lalu."


Men-jeda sebentar, lalu menghela napas sebelum Bellatrix mulai lagi melanjutkan penjelasannya.


"Semuanya adalah benda dengan kekuatan sihir didalamnya. Akan kuberi tahu lokasinya."


Selanjutnya Bellatrix men-jeda satu demi satu benda itu.


"Jam pasir dekorasi aku simpan di lemari besi bank kota Juno. Untuk verivikasi sidik jari dan sebagainya kamu pakai cincin fragmen jiwaku untuk menyamar menjadi aku."


"Cermin dengan bola mutiara dan batu ruby ku simpan diruangan bawah tanah rumahku yang ada di desa Green apple."


"Buku sihir bertuliskan grimiore dititipkan pada Ruvik."


"Mahkota ratu penyihir Helene ku simpan dihutan. Aku telah melubangi pohonnya supaya aku bisa menyembunyikan benda relic itu. Tentang dimana tepatnya, ada peta lokasi yang ku simpan diruangan bawah tanah rumahku di desa itu."

__ADS_1


Bellatrix selesai.


"Dari mana dulu ya?" Bergumam panjang, Satella sangat bingung.


"Apa saja efek sihir semua benda tersebut?" Tanya Satella.


"Mahkota memberikan rasa haus akan pengetahuan. Itu terpesona fragmen jiwa Helene charlotte, itu membuatmu mewarisi kecerdasan Helene charlotte." Bellatrix sedang menceritakan, Satella memotong.


"Tunggu dulu!" Satella heboh.


"Kenapa huh?" Tanya Bellatrix.


"Kamu telah mencuri benda punya nenek moyangku!" Agak heboh Satella menunjuk kearah Bellatrix.


"Kami berduel sampe ******!" Bellatrix tersenyum sarkastik.


"Dan aku menang, aku melucuti pusaka sihirnya." Kata Bellatrix, terkekeh puas.


"Terus efek sihir benda lainnya apalagi?" Tanya Satella.


"Jam pasir dekorasi, memiliki efek sihir yaitu time tunnel. Dengan itu kamu bisa mengulang waktu juga menimpah kebeeadaan mu. Kamu bisa saja bolos dan mengikuti kelas secara bersamaan." Ujar Bellatrix.


Komentar Satella adalah.


"Sayangnya sebentar lagi lulus." Gumam Satella dengan nada yang kurang bersemangat.


Satella menjentikan jari sambil mengubah ekspresinya.


"Lumayan juga buat bolos selama berjalannya third semester." Kata Satella, bertingkah girang.


"Gess!" Satella mendesis, sambil mengangkat tinjunya, terasa keki.


"Mau ku teruskan?" Tanya Bellatrix.


[Author : kalau lihat Bellatrix itu bayangin Satella lagi bicara sama kembarannya. Soalnya mereka ini mirip banget, beda kupingnya aja.]


"Em, lanjut dong." Balas Satella, mengangguk.


"Cermin dengan bola mutiara dan batu ruby, memberi penglihatan clairvoyance!" Kata Bellatrix.


"Sama seperti bola penerawangan berarti." Komentar Satella.


"Aku juga punya skill clairvoyance loh." Satella terlihat gak tertarik dengan efek sihir benda cermin.


"Pertama, kamu bisa clairvoyance tanpa kehilangan indera saat lagi menerawang pakai clairvoyance. Kedua, ini lebih fleksibel karena cermin sebesar genggaman tangan jadinya bisa dibawa-bawa dengan mudah kemanapun bahkan saat pengejaran." Ujar Bellatrix.


"Iya juga sih." Balas Satella.


"Tentang buku grimiore, nanti menyusul. Yang pasti buku sihir tersebut paling krusial efeknya."


"Kalau ketiga benda sudah kamu dapatkan nanti kita bicarakan lagi nanti. Gak usah nunggu dapet ini semua, cicil aja dalam ngumpulin horcrux milikku ini." Kata Bellatrix.


"Sudah boleh pulang?" Satella.


"Pulang ya pulang saja." Bellatrix.


"Dadah!" Satella melambaikan tangannya dengan mimik wajah sangat jutek.


Mediumship berakhir..


Proses komunikasi dengan roh pun selesai. Satella menyimpan benda berisi fragmen jiwa itu dengan baik.


Satella menatap jam kayu antik dikamarnya. Menengadah sedikit keatas dalam posisi duduk ketika menatap jam kayu antik sebesar kotak surat yang dipaku ditembok kamarnya. Waktu menunjukkan pukul sebelas pagi sekarang ini.


"Besok third semester!" Gumam Satella.


Bangkit dari duduk ia melangkah menuju jendela menatap gedung kota. melihat lebih jauh sampai ke dinding kota dari titik tinggi menara kastel lantai tiga ini. Semakin rileks hingga bisa lihat perbukitan sebelum kota juga nan jauh diseberang sana. Hembusan udara kota ini sangat sejuk terasa.


"Habis makan siangĀ  nanti akan ku ambil salah satu benda, mungkin pilihanku adalah jam pasir. Benda tersebut bisa bikin aku membolos tetapi masuk kelas dalam waktu bersamaan." Satella pun memilih.

__ADS_1


Satella beranjak, bersiap-siap tuk mengikuti makan siang bersama diruang perjamuan.


~bersambung~


__ADS_2