Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
pulang..!!


__ADS_3

Teknik ilusi yang Satella mainkan berada ditingkat dimana ilusi dan kenyataan itu sendiri menjadi sulit untuk dibedakan. Hanya dengan menendang angin tanpa gelombang kejut, target terpental kebelakang karena percaya bahwa dia telah dipentalkan. Pelakunya tidak lain adalah sihir ilusi.


Penyidik terlentang dilantai sambil percaya kalau dia sedang diikat oleh tali penjerat. Satella memamerkan sepatu boot, penyidik percaya kalau magician boot itu adalah sepatu hak tinggi. Dari jauh Minerva memberi instruksi untuk menjahili penyidik, Satella mematuhinya begitu saja.


"Aku akan memaksamu membuka kakimu! Sekarang terbukalah." Seru Satella, sugesti Satella dicerna otak Nick secara mentah-mentah lalu membuka lebar-lebar sela pahanya.


"Sekarang kamu injak!" Instruksi Minerva dari kejauhan.


"Eh?" Satella kaget, kemudian dia melakukan gestur berbisik, terlihat seperti membisiki angin.


"Heh.. apa itu tidak jahat? Diinjak begitu kan sakit." Tanya Satella yang bernada berbisik.


"Kamu pura-pura nya menginjak! Tapi kakimu gak harus kena anu punya dia, ini kan sihir ilusi kamu paham?" Balas Minerva via telepati.


"Oh.. aku ngerti aku ngerti." Balas Satella dengan nada berbisik.


"Hihihi." Gelak tawa tak kuasa dikeluarkan Satella.


"Lihat.. akan kuunjak anu mu itu dengan ujung high heels ini. Akan aku.. injak-injak, kamu akan memar disitu!" Satella memberi instrumen siksaan berupa ancaman bohong.


Jelas-jelas ini sihir ilusi, jadi yang Satella bilang akan membuatnya memar dibagian pribadi hanya tipu-tipu pemberi rasa takut.


"Hah.. ha.. tidak! Masa depanku! Jangan main-main dengan masa depanku!" Penyidik teriak-teriak, gawatnya penjaga bisa datang.


"Aku buat kamu bisu!" Kata Satella dengan gerakan meraup pasir pakai tangannya.


Sugesti diberikan !!


Penyidik Nick percaya kalau dia jadi bisu sekarang..


"Lihat.. makanya jangan coba-coba melawan aku! Hahaha.. hahaha." Satella ketawa terbahak-bahak.


Pesan dari telepati..


"Ya.. ampun, tawamu itu seperti nenek sihir yang jahat." Isyana menyindir Satella.


[Satella : ya.. ampun. Dari sini aku baru tahu, ternyata Isyana orangnya bermulut toxic. Masa aku dikatain nenek sihir, sebel banget tau.] 😞


Sementara itu Minerva membela Satella dengan ikut tertawa..


"Hahaha.. hahaha. Lihat.. aku juga nenek sihir kan Isyana! Sini kamu biar aku jitak!" Minerva membela Satella dari ledekan Isyana.


"Kya.. ampun." Keluh Isyana.


Lanjut..


"Sekarang katakan." Bisik Minerva memberi arahan via telepati.


"Em." Satella mengangguk sambil melipat tangan. Mengangkat dagu, wajahnya memamerkan ekspresi yang angkuh.


"Katakan! aku akan memberikan footjob khusus untuk masokis." Minerva ngasih arahan.


"Eh? Eh.. tunggu dulu. Apa maksud dari footjob? Dan apa itu masokis?" Satella yang masih polos gak ngerti perkataan Minerva yang udah jadi gadis dewasa tulen.


"Iya.. itu sih, POKOKNYA! Ikuti saja perkataan aku!" Tegas Minerva, tak menerima protes.


"Em.. yah." Satella mengangguk dengan polosnya. Disuruh-suruh untuk melakukan suatu yang dia sendiri tidak mengerti.


"Kamu! Dengarlah." Satella nunjuk kearah penyidik yang akan dijahili.


"Aku akan memberikan footjob khusus untuk masokis!" Satella memiringkan kepala dengan imut seolah tak memahami apa yang diucapkannya itu. Iya sebenarnya memang gak paham sama sekali.


Penyidik meronta-ronta dengan suaranya yang hilang. Tangan yang diikat oleh sihir ilusi dan kakinya dipaksa terbuka lebar oleh ilusi.


Sugesti diberikan !!


Penyidik Nick percaya kalau dirinya akan dijadikan seorang submisive laki-laki..


"Lihat.. aku mengangkat kakiku." Satella bicara apa yang Minerva suruh dan melakukan apa yang Minerva suruh.

__ADS_1


"....." Penyidik yang suaranya telah dibikin bisu oleh sihir ilusi hanya meronta-ronta tanpa bersuara.


"Dekatkan kakimu ke anu nya kemudian buat gerakan seolah kakimu menginjak-injak terus katakan." Minerva, memberikan arahan melalui jalur telepatinya Violetta.


"Em.. ya." Satella mengangkat kaki kemudian didekatkan dibagian pribadinya penyidik. Tak sampai bersentuhan realnya, kemudian dibuat gerakan seolah-olah kaki Satella mengulek benda pribadi miliknya penyidik Nick. Satella pun mengikuti ucapan Minerva.


"Lihat.. aku melakukan footjob yang paling kasar, lihat.. ini lihat.. ini ku jadikan kamu submisive ku." Satella ngikutin omongan Minerva yang dikirimkan lewat telepati.


Sugesti diberikan !!


Penyidik Nick percaya kalau dia sedang dihukum dengan footjob paling kasar. Merasa ngilu karena bagian pribadinya diurut dengan bagian ujung high heels yang amat keras. Wajah penyidik pun terlihat seperti merintih, antara nikmat dicampur sakit yang melinukan.


Satella tak melakukan itu, semua hanyalah ilusi. Bukan kekerasan.


Meanwhile.


Perspektif berpindah sebentar keruang kebutuhan.


"Ke.. ke.. kya... Violetta! Tolong dong telepati nya diputus dulu! Aku udah bener-bener gak kuat." Minerva guling-guling disofa panjang seraya membekap mulutnya sendiri.


"Okey." Jawab Violetta.


Telepati berakhir..


"Kya.. ini lucu.. astaga oh astaga! Satella mau saja disuruh-suruh melakukan seperti itu. Sungguh? Satella beneran gak ngerti makna ucapan ku tadi." Minerva bernada lepas sambil guling-guling disofa.


"Kya.. hahaha hahaha." Minerva tertawa terbahak-bahak atas yang dilakukan Satella. Melihat Minerva membuat Violetta ikut ketawa.


Tertawa Violetta paling beda..


Semua orang disana tertawa atas Satella yang dengan polosnya mau menuruti arahan Minerva. Yang Minerva lakukan adalah menyuruh Satella yang masih polos untuk berperan sebagai gadis penderita parafilia. Satella sama sekali tidak memiliki pemahaman tentang parafilia sampai pasangan sadistik dan submisive. Hanya saja kalau Satella yang polos memerankannya membuat situasi jadi lucu.


Isyana juga ketawa, tertawa Isyana adalah terkekeh-kekeh yaitu karakter ketawa yang periang. Kalau little Iota tertawa mendesah. Tawa mendesah  tingkatnya diatas terbahak-bahak. Karena sudah terlalu lelah tertawa terbahak-bahak maka suara tawa hanya desahan napasnya.


Violetta dan dewi Eris punya cara tertawa yang sama. Mereka berdua sama-sama menahan tawanya. Violetta menahan tawanya sampai seminim mungkin. Sementara itu dewi Eris bisa menahan sampai suaranya hampir tak terdengar. Violetta dan dewi Eris sama-sama tertawa diam.


Isyana komentar atas perbuatan teman dekatnya itu.


"Neruva jahat! Tella yang polos itu diajari caranya nakal." Little Iota ikutan komentar.


"Aku suka gadis polos yang belum ngerti apa-apa. Serius deh, lucu rasanya melihat anak lugu itu mau melakukan hal itu." Minerva bisa menahan tawanya barang sebentar. Setelah mengakhiri kata-katanya, Minerva kembali terbahak-bahak.


"Kya.. hahaha aku lemas.. kya.. aku dibikin lemas karena ketawa. Aduh kelakuan! sumpah deh." Minerva mengusap tangis penghiburan.


"Kamu nakal." Kata dewi Eris, tawa  yang tanpa suara membuat wajah sang dewi nampak manis.


Perspektif kembali ke Satella yang berada diruang interogasi.


Ruang interogasi.


Satella melakukan ilusi itu selama puluhan menit. membayangkan momen ketika pantatnya ditampar hingga merah juga memar bikin Satella tega melakukan ilusi itu selama-lamanya. Bermain sebagai wanita sadistik yang menghukum laki-laki submisive.


Empat puluh menit telah berlalu..


Violetta menyambungkan kembali jalur telepatinya.


"Hai.. Satella stop! Kamu masih melakukannya terlalu lama."


Violetta menyela.


"Kenapa kalau aku melakukannya terlalu lama?" Balas Satella.


"Tidak.. hanya saja." Violetta pun menahan tawanya.


Sementara mereka saling bisik membisik.


"Hei.. anu. Kira-kira orang itu pelepasan berapa kali?" Violetta bernada pelan kearah yang lain.


"Astaga! Bisa-bisa semen pria itu mengering parah deh, itu sama seperti disedot oleh sucubus tau." Minerva menjawab dengan nada penuh perasaan geli.

__ADS_1


"Hei Satella.. tanyakan laki-laki itu sudah berapa kali eja*kulasi?" Violetta bertanya dengan susah payahnya dalam nahan tawa.


"Apa itu ejak*lasi?" Tanya Satella.


"Itu semacam pelepasan." Jawab Minerva.


"Apa pula pelepasan yang Minerva maksud? Aku bingung." Satella membalas dengan kening yang dipenuhi kerutan.


"Iya nanti kami jelaskan." Balas Minerva, berdalih.


"Baiklah.. baiklah." Satella ngalah.


Satella menghela napas. Yang ada dihadapannya itu adalah seorang penyidik yang terlentang dengan sangat kelelahan.


"Baiklah sekarang kamu sudah sanggup bicara lagi!" Ucap Satella.


"G~~gah fuh.. fuh." Erangan panjang nan keras mewakili rasa sakit dan linu dari penyidik. bernapas berat dan terengah-engah seperti habis berlomba lari maraton saja.


"Aku mau tanya! Tolong jawablah." Tanya Satella.


"...." Penyidik diam dengan wajah lesu, kemudian menoleh kearah Satella dengan mimik bermasalah.


"Jawab atau akan kuberikan lagi hukuman seperti tadi loh." Ancam Satella, menyeringai.


"....." Penyidik menelan ludah lalu mengangguk ketakutan.


"Katakan! Kamu sudah berapa kali ejak*lasi?" Tanya Satella dengan wajah polos yang tak serasi antara ekspresi dan pertanyaan.


"Cih.. sebelas! dasar ANAK S*ETAN! GILA... deh, kamu memaksaku tuk keluar dengan menggesek barang pribadiku dengan bagian terkeras high heels mu itu. Dasar kamu.. itu gadis berwajah polos tapi sangat sadistik." Umpat penyidik.


"Ini seperti adegan penyiksaan terhadap submisive! AKU BUKAN MASOKIS KAMU ANAK SET*AN!" Umpat penyidik, dengan nada lesu yang dipaksakan teriak keras.


"Eh?" Satella yang tak mengerti keadaan hanya bengong.


"Kamu semarah itu? Apa yang aku lakukan." Satella yang amat polos bertanya-tanya. Sebab yang dirinya lakukan itu disuruh.


Penyidik kelelahan, menutup mata saking lelahnya. Bernapas sambil terpejam dan pingsan ditempat. Kemungkinan kecil ia kehabisan energi dan tewas. Ia benar, karena bisa saja membuatnya tewas.


"Hei.. Satella, pulanglah sekarang." Pinta Minerva.


"I~~iya baiklah.. tentu aku dapat keluar kapanpun dari sini, tak ada penjaga yang bisa menahan aku lama-lama disini." Balas Satella.


Satella membuka pintu ruangan interogasi dengan pelan. Tetapi disamping kiri setelah dia keluar pintu ada penjaga dengan tombak.


"Aku baru tahu ruangan itu kedap suara." Gumam Satella, sambil menaruh telunjuk didagunya.


"APA?" Respon penjaga sangat terkejut.


"Apa? Apanya dong." Sahur Satella memiringkan kepala.


"Bagaimana kamu bisa? MUNDUR KAMU!" Tindak-tanduk Satella itu sukses membuat resah penjaga.


"Sudahlah.. sudahlah.. jangan marah dulu! Coba tatap aku! Tatap mataku yang imut ini." Ucap Satella, yang memberikan sugesti.


Penjaga menatap mata Satella dan terjebak dalam penguasaan gadis dengan kemampuan hipnotis.


"Menatap mataku membuatmu jadi tambah ngantuk. Kamu akan segera tertidur sekarang!" Ujar Satella yang menghipnotis penjaga.


Bruk...


Penjaga terjatuh.


ZzzZzz


Entah bagaimana penjaga itupun tertidur dengan pulas nya. Satella berlari disepanjang lorong kantor polisi militer tingkat distrik.


Ruang tempat Satella tadi itu adalah ruang interogasi. Ruang interogasi terletak dilantai dua kantor polisi militer tingkat distrik. Dan setelah menemukan letak jendela, Satella merubah wujudnya menjadi wujud burung merpati hitam.


Satella terbang menuju kastel akademi sihir sebagai merpati.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2