Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
kelas dari instruktur amatir


__ADS_3

Point of view.


Hari lainnya saat instruktur Ernest menjadi pemateri lagi pada kelas ekstra di third semester. Pemateri yaitu instruktur Ernest pun sudah duduk dimeja guru. Satella masih duduk sebangku dengan Emili.


Kelas masih belum dimulai.


"Hei.. Stella!" Seru Emili.


"Apa?" Balas Satella, jutek.


"Kemaren aku ke UKS sekolah kan, ya." Kata Emili.


"Terus?" Satella dengan raut wajah yang terlihat galak.


"Kata perawat, pipiku gak memar sedikit pun." Kata Emili, wajahnya sedikit lirih.


"Terus?" Satella mulai mengukir wajah penuh senyuman akibat rasa lucu yang ia rasakan.


"Sampai sekarang aku masih sakit dibagian pipi, padahal gak memar kata perawat." Keluh Emili.


"Masih sakit?" Satella sok peduli, padahal lagi akting.


"Jangan-jangan aku kena mantra Voodoo lagi." Emili menduga-duga.


"Pff.. apa?" Satella menahan tawa sambil menutup bibirnya dengan ujung jari, bibirnya menyemprot karena tak kuat menahan tawa.


Satella terkikik..


Satella terus menerus menertawai nasib buruk Emili.


"Apa yang lucu?" Emili jadi kesal kepada Satella. Melipat tangannya sambil memanyunkan bibirnya.


Emili cemberut, ia membuang mukanya terhadap Satella.


Satella merasa lega karena dapat menghentikan tawanya.


"Aku lega rasa lucunya bisa hilang juga." Batin Satella.


Satella bernapas lega.


"Dengerin aku dulu!" Satella pun mendorong-dorong pelan bajunya Emili, minta diperhatikan.


"Apa!" Emili ngambek.


"Gak ada yang namanya Voodoo!" Satella menjelaskan.


"Lalu apa ini?" Emili sebal.


"Iya dengar dulu!" Pinta Satella.


"Rasanya sakit, tapinya gak bisa diobati karena gak ada luka fisik." Keluh Emili.


"Emili stop!" Satella pun menaruh telunjuknya dibibir Emili untuk membungkamnya.


Emili diam, sedikit bengong.


"Emili lihat aku!" Pinta Satella.


"....." Emili menatap kearah Satella seraya menyimaknya.


"Emili lihat aku!"


Hipnosis !!


"Pipimu gak akan sakit lagi kok sekarang!"


Sugesti diberikan.


"Eh?" Emili terkejut, ia memegangi pipinya.


"Kok sakitnya hilang?" Emili pun menjadi heran.


Skip...


Akhirnya instruktur Ernest pun memulai kelasnya. Mulanya ia memperkenalkan dirinya kepada murid-murid dikelas ini.


"Ahem!"


Ernest berdeham, memukul meja secara pelan pakai penggaris kayu.


"Mohon perhatian semuannya!" Instruktur Ernest memulai.


"Ernest itu belum ada pengalaman aslinya, lihatlah dia merasa gugup." Komentar Satella, membisiki Emili.


"Kamu tau namanya!" Itu bukan bernada pertanyaan, tapi Emili merasa kalau dirinya telah disalip oleh Satella.

__ADS_1


"Kami kenalan." Satella dengan bernada mengolok-olok.


Emili mendesis kesal.


Satella membisikan sindiran demi sindiran pada Emili.


"Makanya jadi cewe itu jangan klemar-klemer gitu dong, kenalan kalau berani lalu ajak ia bicara." Satella mengolok-olok Emili, lalu menertawakan ke bucinan juga karakter klemar-klemer Emili.


"Anu.. malu tau!" Emili cemberut, membuang muka dari hadapan Satella dengan raut yang jengkel.


Satella pun mulai berhenti ganggu Emili, ia mendengarkan instruktur.


"Saya mohon maaf karena sudah kabur dari pekerjaan saya sebagai pemateri." Ernest baru memulai pidatonya saat Satella berhenti mengolok-olok Emili dan berfokus pada ucapan pematerinya.


Ada suara bisik-bisik di kelompok siswa laki-laki. Satella memukul mejanya dengan buku note untuk mencatat. Satella hanya berdeham, seisi kelas nampak ketakutan dan kelas kembali hening. Kelas cukup hening untuk mempermudah kerja pengajar amatiran macam Ernest.


Satella tidak segalak Minerva dan bukan tangan besi, tapi ia pintar dalam memanfaatkan bakat sihir miliknya untuk menggertak orang.


"Biarkan saya menebus kesalahan yang kemarin. Saya akan maksimal hari ini." Ujar Ernest.


Murid-murid belum tahu nama instruktur muda itu, setelah usai berpidato ia memperkenalkan namanya. Ernest berdeham lagi, menampakkan kegugupannya.


"Nama saya Ernest!" Ia pun selesai memperkenalkan namanya pada murid-murid dikelas ini.


Emili mendesis geram.


"Ternyata benar bahwa Satella itu sudah terlebih dahulu berkenalan, aku keduluan." Batin Emili.


Emili yang mengeluh, suaranya terdengar Satella. Mendengar apa yang keluar dari mulutnya Emili membuat Satella terkikik pelan. Satella menahan volume tawanya supaya Ernest tidak merasa tidak didengarkan lagi.


"Syukurin!" Satella menjulurkan lidahnya kearah Emili.


Emili yang kesal pun mengangkat tinjunya seolah ingin menjitaki kepalanya Satella. Emili tak berani melakukannya, ia hanya berani membuat gestur ingin menjitak. Gerakan ingin menjitak hanya dilakukan oleh Emili saat Satella menatap kearah depan. Tau-tau Satella menoleh kearah Emili yang tersentak kaget.


Seketika Emili menyembunyikan tinjunya dibelakang pinggang dan senyam-senyum kearah Satella.


Emili ciut terhadap Satella.


"Kamu kenapa?" Tanya Satella.


"Gak." Emili senyam-senyum.


"Kaya menyembunyikan sesuatu." Gumam Satella, dengan raut wajah bengong nya yang imut.


"Gak kok." Emili senyam-senyum, memasang wajah yang pura-pura ramah kepada Satella. Dalam hati, Emili merasa sangat sebal kepada Satella sampai ke ubun-ubun.


"Aneh?" Gumam Satella, kembali menatap kearah depan.


Satella mendengarkan pemateri.


"Kali ini kita membahas materi tentang cara pengoperasian turret sihir." Ujar Ernest.


Instruktur akan memulai materi, murid-murid memotong. Pertama siswa cowo berkomentar dengan kritis. Sementara siswi cewe malah kebalikannya. Ernest yang masih amatiran pun bernapas panjang.


"Permisi pak, kita udah belajar tentang cara pengoperasian turret sihir sejak tahun kedua loh pak!"


"Baiklah tolong dengarkan dulu!" Jawab Ernest.


"Pertama, pembahasan ini lebih kompleks dari teori dasar pada tingkat kedua. Banyak point yang belum kalian pelajari sebelumnya, banyak pengetahuan yang baru."


"Kedua, saya belum terlalu senior. Usia saya juga masih kemaren sore, jangan panggil pak!" Ujar Ernest.


"Baiklah instruktur Ernest." Jawab siswa penanya barusan.


Siswi cewe menginterupsi dengan pertanyaan kurang penting.


"Pak, permisi tanya!" Siswi cewe memotong.


"Iya silahkan!" Sahut Ernest.


"Berapa usia pak Ernest, eh salah maksud saya instruktur Ernest." Begitulah pertanyaan siswi cewe.


Sejenak Ernest seperti gugup dan ingin geleng-geleng kepala. Tetapi Ernest segera meladeni pertanyaan siswi tersebut dengan terpaksa.


"Sebenarnya saya baru lulus dari akademi sihir tahun lalu. Saya itu asalnya dari akademi sihir Skymage  kota Juno." Jawab Ernest.


"Berarti usia bapak, eh maksudku instruktur Ernest masih berusia sembilan belas tahun." Kata siswi cewe pemberi pertanyaan itu.


"Iya benar, winter nanti bakalan bertambah jadi dua puluh." Sahut Ernest, wajahnya menegang jadi semakin gugup karena tindakan beberapa siswi cewe random itu.


Menyimak itu Satella pun sengaja memberi provokasi kepada kubu cewek-cewek kelas.


"Ahem!" Satella berdeham.


Ernest pun menoleh kearah Satella dengan raut wajah tegang.

__ADS_1


"Aku juga lahir saat winter loh instruktur Ernest." Seru Satella dengan nada pura-pura genit.


Wajahnya Ernest dibuat memerah karena sifat pura-pura menggoda Satella itu. Atas reaksi wajah yang masam dari kubu siswi cewe, bikin Satella tertawa ria dalam hati.


"Maafkan aku ya, silahkan dilanjut saja instruktur Ernest." Seru Satella.


Ernest berdeham.


"Baiklah dengan ini pendalaman materi tentang cara pengoperasian turret tingkat mendalam akan saya lanjutkan!" Ucap Ernest.


Mulanya Ernest menempel poster bergambar menara turret sihir dan tulisan-tulisan. Pada masa ini tidak ada teknologi proyektor, makanya presentasi memakai dengan poster bergambar dan beberapa tulisan. Gambar pada posternya digambar secara manual oleh juru gambar. Tulisan-tulisan poster presentasi ditulis manual oleh juru tulis yang terampil memakai pena gambar.


"Yang kalian tahu hanyalah model menara turret yang konvensional bukan. Ini adalah beberapa model lainnya dari menara turret." Ujar Ernest, menjelaskan.


"Sistem meriam sihirnya memiliki kualifikasi berbeda-beda. Berikut pemisahan tole dari kru operator turret sihir."


Ernest terus menjelaskan materi sampai selesai. Hingga empat jam kedepan dan tanpa kendala lagi.


Skip...


Lorong sekolah.


Kelas ekstra telah berakhir, tibalah jam istirahat. Satella memakai jam rehat berdurasi empat puluh menit untuk berdiam di kafetaria sekolah. Seperti biasa Satella akan kumpul bersama teman-teman terdekat.


Satella berjalan dilorong dengan santainya. Saat hampir sampai ia merasa bahwa seseorang sedang membuntutinya. Satella segera memperlambat langkahnya dan benar saja bahwa seseorang pun menegur sapa kepada dirinya.


"Hai tunggu!" Seru orang itu.


Satella belum tahu siapa dia, tapi suaranya dari belakang. Suaranya terdengar seperti seorang laki-laki.


Satella balik badan.


"Kamu!" Sahut Satella.


Orang itu adalah Ernest.


"Tunggu!" Ernest menyusul.


Satella pun menunggu Ernest yang menyusulnya untuk mencari tahu tujuannya itu.


"Aku ingin berterimakasih atas dukungan yang kemarin."


Ternyata Ernest ingin memberikan ucapan terimakasih.


"Sama-sama." Balas Satella dengan cueknya.


"Aku juga ingin meminta maaf atas kesan pertama yang buruk." Ernest sedikit menundukkan badannya memberi gestur penghormatan.


"Kalau boleh jujur!" Satella segera mengangkat tangannya. Sementara Ernest terlihat serius menyimak.


"Caramu menjelaskan itu buruk Ernest. Aku kurang paham materi barusan, bukan karena itu rumit tetapi caramu menjelaskan terlalu gugup dan tidak lancar. Bicaramu ketika menerangkan kurang jelas!" Satella memberi kritik.


"Eng.. ya, sebagai mage aku sangat amatir. Usiaku juga masih sembilan belas tahun, aku belumlah matang sebagai mage yang bekerja untuk kementrian sihir." Curhat Ernest.


"Maaf ini sakit tapi, kurasa kamu kurang berbakat." Satella dengan terus terang.


"Maaf." Satella mengulang.


Satella baru sampai level ucapan toxic setara dengan seperempat mulutnya Isyana. Tapi yang Ernest rasakan sudah sesakit ini, tetapi Satella datang dengan niat baik.


"Apa kamu punya tujuan, ambisi, mimpi atau semacamnya?" Tanya Satella, dengan santai sementara Ernest gugup terhadap Satella.


"Tidak ada." Jawabnya.


"Pantas saja." Gumam Satella.


"Sejak kecil aku tinggal dengan ibu tercinta tanpa ayah. Asal aku bisa terlihat hebat dimata ibuku kurasa sudah cukup." Curhat Ernest.


Satella merenung.


Point of view.


Pada titik ini terdapat perbedaan sudut pandang. Satella sejak kecil diajarkan asas-asas budaya yang sudut pandangnya baik. Polosnya Satella tidak mengenal makna distopia. Yang Satella tahu hanya kehidupan ideal ala bangsawan aristokrat. Satu-satunya luka yang Satella miliki hanyalah ditinggal mendiang ibunya saat kecil. Satella kira ayahnya Ernest mati sebagai abdi kerajaan saat bertugas.


penafsiran Satella berbeda dengan yang Ernest ceritakan.


Sementara masa kecil Ernest itu posisinya agak suram. Ibunya itu tidak ditinggal mati oleh ayahnya, tapi ditinggal tanggung jawab.


Ernest adalah seorang dari kelas rakyat jelata dengan paras tampan rupawan. Pada zaman ini, kasus Ernest hanya ada satu jawabannya tanpa banyak hipotesa lain lagi.


Adalah cinta terlarang antara gadis jelata dan pria bangsawan. Budaya melarangnya, tapi sesuatu terlanjur terjadi. Pada zaman dimana pedang keadilan belum dicabut dari batu, sudut pandang masihlah terbatas kepada salahnya gadis jelata. Pada zaman ini, tidak ada rasa bersalah dimata pria bangsawan tersebut.


POV end...


Sebenarnya apa yang Ernest butuh dari Satella ini.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2