Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
danau didekat bukit


__ADS_3

Satella dikejutkan oleh munculnya bocah ingusan yang mirip gembel. Satella terhenti, melipat tangannya sambil memalingkan wajahnya. Ketika bocah itu mendekat kearah Satella, mau tidak mau Satella kecil pun harus menemuinya langsung. Bocah yang bernama Artha terlihat datang bersama dua temannya.


"Hehe ... putri kecil, apa anak ini kenalan mu?" Tanya mbak maid.


"Dih, amit-amit, aku gak kenal dengannya! Lagipula dia main dekat-dekat saja dan sok kenal begitu." Satella terlihat jijik.


Mbak maid hanya bisa terkekeh.


"Hai putri salju." Sapa Artha.


"Hai, apa?" Sahut Satella dengan judesnya.


"Main yuk." Ajak Artha.


"Mbak, puter balik yuk!" Satella merasa kesal.


"Tadi katanya mau berburu Kappa?" Tanya bocah gendut.


"Maaf aku bohong, sebenarnya aku hanya pengen bertemu Putri salju." Balas Artha.


Bocah gendut mengerutkan keningnya.


"Apa tadi kataku, kamu sungguhan kalau disini itu ada Kappa?" Tanya Satella kecil.


"Iya benar, dibelakang mansion." Jawab bocah gendut.


"Oke, ayo berburu Kappa!" Satella dengan energi hebohnya.


"Gak boleh!" Mbak maid melarang.


"Kenapa gak boleh?" Tanya Satella dengan wajah muramnya.


"Jangan main-main dengan yang namanya binatang sihir, Kappa itu pemakan anak-anak tau!" Omel pelayanan rumah.


"Selama ada mentimun, pasti bisa." Jawab bocah gendut.


"Mentimun?" Tanya Satella.


"Kappa itu suka dengan mentimun loh, seperti ikan suka cacing. Saat memancing kita memakai cacing sebagai umpan. Memancing Kappa pakai mentimun dong." Jawabnya.


"Eh, eh ... gendut kamu pintar." Seru Satella dengan energi hebohnya.


Mendengar si gendut dipuji oleh idolanya, Artha mengedutkan alis.


"Pintar apanya?" Artha menggerutu.


"Hei, gendut, bisa bawakan sayur mentimun?" Tanya Satella.


"Tidak ada uang." Balas gendut.


Kemudian Satella menatap Philips kecil.


"Minta uang dong, tuan pangeran." Pinta Satella.


Sekilas Philips kecil memasukan tangan kesaku nya.


"Ambillah uang jajanku!" Philips memberi uang koin pada Satella.


Uang koin tersebut jumlahnya lima keping koin emas.


"Oy gendut, belikan mentimun!" Perintah Satella sambil memberi keping koin pada bocah gendut.


"Walah ... uang nomplok." Mata pelayan rumah menjadi berkilau setelah melihat koin emas.


[Author : bayangin lima koin emas nilainya lima juta. Biasanya dalam dunia RPG atau virtual reality itu kalau satu koin emas setara sejuta rupiah nilainya.]


"Aku gak tau apakah lima keping cukup untuk itu?" Gumam bocah gendut.


Bocah gendut gak ngerti soal uang. Dipikirnya ia sedang memegang kepingan koin perunggu yang biasa dipakainya untuk jajan.


"Kebanyakan!" Pelayan rumah secepat mungkin merampas koin ditangan bocah gendut.


Kemudian menukar dengan uang didalam saku seragamnya. Maid memberi bocah gendut puluhan keping koin perungu.


"Wah, ini sih lebih dari cukup, terimakasih banyak mbaknya." Dengan polosnya si gendut mikir bahwa uangnya sekarang lebih banyak lagi dari sebelumnya.


Yang ada ditangan si gendut kini empat puluh koin tembaga.


[Author : bayangin satu keping koin tembaga itu seribu rupiah. Empat puluh keping koin tembaga setara dengan empat puluh ribu rupiah.]


"Kalian buta dengan nilai uang ya? Itukan koin tembaga, jauh lebih sedikit dari...." Philips kecil akan menjelaskan, cepat-cepat mbaknya mencubit tangan Philips dengan niatan menghentikan ia bicara.


"Sstt...." Mbak maid memberi gestur seolah berkata 'tolong jangan kamu beritahu mereka' begitulah.


"Seumur hidup aku tidak pernah dicubitin loh!" Protes Philips.

__ADS_1


"Kya ... hamba mohon maaf." Seru pelayan rumah.


Kemudian mbak maid berbisik kepada diri sendiri.


"Yang mulia raja tolong jangan hukum hamba. Apa kata mu yang mulia, aku harus menari-nari tanpa busana dihadapan anda berdua saja dikamarnya para selir kerajaan...." Mengatakan itu, gestur dan nada pelayan rumah terlihat genit.


Pelayan rumah berfikir bahwa dijadikan selir raja berarti akan mendapatkan kemewahan.


"Dik Stalla ... dik Stalla, mbaknya sedikit aneh." Bisik Satella pada adiknya.


"Kak Stella ... kak Stella, mbaknya bisik-bisik sendiri dan kaya cacing kepanasan." Sahut Starla.


"Ayo tinggalkan mbaknya." Bisik Satella.


"Tunggu kalian mau kemana?"


Mbak maid menahan mereka.


"Sudah jelas kan ... mbak, kita ini akan berburu Kappa." Kata Satella.


"Gak boleh, ngelawan aku adukan kepada ibumu!" Ancam mbaknya.


"Kita pulang deh." Satella nyerah, wajahnya muram.


Skip....


Halaman belakang mansion.


Dihalaman belakang mansion ada Satella yang terlihat sedang asik bermain sekop. Sekop yang biasa dipakai untuk mengangkat bunga ditanah lalu dipindahkan kedalam sebuah pot tanaman.


"Kak Stella ... kak Stella, apa kakak sedang ingin bermain permainan berkebun?" Tanya Starla.


"Bukan hehehe...." Satella hanya cengar-cengir saja.


Meanwhile.


Kembali ke desa, bocah gendut membawa setengah karung sayur mentimun. Saat ini mereka ada di taman main yang disebut garden. Bocah gendut juga sedang bersama Artha dan Rain.


"Apa kamu serius ingin memburu Kappa?" Tanya temannya.


"Serius dong." Jawab bocah gendut sambil cengar-cengir.


Melihat tampang tak meyakinkan teman-temannya, bocah gendut terpikirkan sebuah cara.


"Ditambah tadi aku bertemu putri salju. Kalian tahu siapa temannya putri salju?" Tanya bocah gendut.


"Soalnya putri salju itu kenalan pangeran kerajaan kita. Apa kalian tahu kalau pangeran kerajaan itu selalu mewarisi pedang excalibur yang tak terkalahkan." Kata bocah gendut itu.


Gendut sukses mengiming-imingi rencana petualangan yang seru kepada anak-anak desa. Usulannya tentang mengajak anak-anak desa berpetualang dengan pangeran kerajaan memberi suntikan moril kepada anak-anak desa. Semuanya menjadi lebih berani lagi.


Sementara Artha malah berulah dengan menurunkan semangat teman-temannya.


"Lagipula pangeran yang si gendut Giant besar-besarkan hanyalah seorang anak kecil seumuran kita." Kata Artha.


Tidak menyerah, bocah gendut menaikan lagi semangat juang teman-temannya.


"Tidak peduli ia masih kecil atau sudah dewasa. Pangeran kecil tetaplah tak terkalahkan kalah ia sudah memegang excalibur nya." Si gendut Giant terus memotivasi.


"Gendut Giant memang benar teman-teman...." Seru temannya.


Dengan ini, sekumpulan anak dari desa pun bergegas menuju danau belakang mansion.


Skip....


Kembali lagi ke halaman belakang mansion.


Satella berjalan menuju ke gerbang pagar belakang. Sementara Starla mengikuti dengan tindak-tanduk seolah tidak mau ditinggal kakak kembarnya. Philips mengikuti saja dengan santainya. Mereka semua terlihat sedang membawa sekop.


Satella terhenti, berdiri didepan gerbang pagar. Menoleh kearah penjaga berzirah.


"Kenapa gak boleh?" Ucap Satella dengan raut wajah dibikin sedih.


Penjaga dibuat terkekeh.


"Apanya yang gak boleh, dik imut?" Tanya penjaga sambil menahan tawanya.


"Buka pagar, aku mau lewat." Ucap Satella, dengan raut wajah yang dibuat seolah sangat sedih. Akting Satella bukan hanya meyakinkan, tetapi sangat lucu dan imut.


"Mau kemana dik kecil, diluar itu banyak binatang liar loh." Penjaga melarang dengan lembut.


"Cuma kepingin memetik beberapa tangkai bunga diluar sana. Pengen mengoleksi beberapa jenis bunga dihalaman belakang mansion kita." Jawab Satella, dengan nada imut ala anak kecil belia.


"Lucunya...." Penjaga terpukau dengan penjelasan Satella kecil.


Pagar pun dibuka.

__ADS_1


"Cepat kembali." Kata penjaga.


"Yes...." Satella mengangkat kepal tangannya.


"Bentar kok akunya, makasih pak penjaga." Seru Satella.


Mereka bertiga pun sukses keluar lewat gerbang belakang mansion. Berjalan menyusuri jalan setapak dimana kanan dan kirinya adalah area perkebunan. Kebun-kebun terlihat sudah kosong tanpa ada tanamannya. Itu karena esok telah winter, makanya perkebunan pun sudah tidak dijalankan lagi.


Melewati jalan setapak, mereka menemukan beberapa jalan yang bercabang. Satella kecil bertemu anak-anak desa mereka dari jalur lainnya.


"Hai, putri salju...." Seru Artha.


"Dia lagi." Satella bete.


Artha dan Rain datang bersama gendut Giant dan tujuh anak desa lainnya. Aslinya pangeran kedua ketakutan melihat banyak anak seusianya datang. Yang Philips pikirkan adalah perasaan takut dibully. Yang sebenarnya terjadi, anak-anak desa mengidolakan pangeran Philips kecil layaknya pangeran dibuku cerita berwarna.


Gendut Giant berjalan kearahnya Philips kecil, sekilas Philips kecil merasa takut dengan gendut Giant.


"Kamu tuan pangeran itu, iya kan?" Tanya gendut Giant.


"I-iya benar, aku pangeran kedua, namaku Philips." Jawab Philips.


"Kalau begitu aku Giant." Gendut Giant menagih jabat tangan pada Philips kecil.


Philips kecil pun menyambut jabat tangan dengan ragu-ragu, sedikit gemetar takut. Nyatanya Giant itu hanya menanggapi santai, malah tanpa Philips tahu Giant adalah karakter pendukung utamanya.


"Apa tuan pangeran bisa memakai kekuatan pedang excalibur?" Tanya pangeran Philips.


Philips kebingungan.


"Pedang excalibur?" Gumam Satella.


"Tapi tuan pangeran seperti tidak membawa excalibur, bagaimana ini gendut Giant?" Tanya temannya.


"Kalau tidak salah ... pedang itu, excalibur ya?" Satella seperti lagi mengingat-ingat.


"Ahah...." Satella berhasil ingat.


"Anak-anak ini kurang membaca. Excalibur kan diwariskan kepada seorang raja, bukanya pangeran." Satella dengan nada bisik-bisik.


Tak sengaja Giant mendengar nada bisik-bisik Satella. Giant mendekat kearah Satella dan berbisik.


"Aku cuma berbohong saja kepada anak-anak desa. Tujuanku bohong, supaya mereka mau ikut denganku." Bisik gendut Giant pada Satella.


"Oh, begitu...." Tanggapan Satella, sambil cengar-cengir.


Melihatnya Artha kesal.


"Jangan dekat-dekat dengan putri salju oy ... Giant!" Protes Artha.


"Apa sih tuh anak, dasar anak yang aneh." Komen Satella pada Artha.


"Hei, gendut sini dulu!" Satella memanggil Giant dengan nada berbisik.


"Apa lagi?" Tanya Giant.


"Gimana dong, cara kita kalahin Kappa?" Tanya Satella.


"Kita harus bikin Kappa menatap kearah bawah, kalau air yang ada diatas kepalanya jatuh semua itu bikin Kappa jadi lemah." Jawab gendut Giant, berbisik.


"Habis itu?" Satella bertanya.


"Gak kepikiran." Balas Giant.


Seketika Satella merasa seperti terpeleset kebawah, saking bete nya.


"Ada yang mau jadi umpan?" Tanya gendut Giant.


Tak ada jawaban.


"Ada yang mau jadi umpan?" Tanya Satella.


Artha angkat tangan. Satella pun tertawa usil.


Skip....


Mereka mengikuti jalan setapak dengan kontur sedikit menanjak. Jalan yang mereka lalui memang mengarah keatas bukit. Tetapi tak sampai keatas bukit, hanya sampai danau saja. Tidak terlalu jauh.


Didekat danau kecil yang dangkal dipercaya ada Kappa, monster penghuni perairan dangkal tanpa arus yang deras. Tidak jauh dari danau ada rerumputan tinggi.


Dirumput tinggi semua sembunyi kecuali sang umpan. Artha dengan pedenya mengolok-olok Kappa.


"Monster jelek, keluarlah kamu!" Menjulurkan lidahnya sambil bernada meledek. Tingkah Artha memang menyebalkan, sehingga cocok untuk jadi umpan.


Tiba-tiba air di danau terciprat kencang keatas. Sesuatu keluar, mengejar Artha. Ada seseorang melempar petasan banting untuk memberi tanda bahwa Kappa nya muncul dan Artha harus lari.

__ADS_1


Artha pun lari, tetapi mahluk berwarna hijau menyeramkan mengejarnya hingga ke darat.


~bersambung~


__ADS_2