
Putri Charlotte kembar kini telah berusia lima belas tahun. Mereka sudah cukup usia untuk mengikuti akademi sihir. Sebelumnya mereka akan berziarah ke makam ibunya. Ibunya dimakamkan dengan cara sederhana di desa Alechia. Kalau kaum bangsawan pada umumnya sudah pasti dimakamkan ditempat komplek pemakaman elite. Kalau didunia yang kita kenal maka itu adalah kompleks San Diego Hills.
Setelah selesai berziarah mereka berjalan-jalan dikota.
Mereka adalah Satella, Starla dan Historia.
"Kak, aku mau ngomong sesuatu." Starla menahan langkah Satella.
"Kenapa, dik Starla?" Tanya Satella.
"Aku pengen tanding ulang loh, kak!" Tantang Starla.
"Tanding ulang apa?" Tanya Satella.
"Yang waktu itu!" Kata Starla.
"...." Satella cuekin Starla.
"Kak, sekarang aku udah lebih kuat loh kak!" Ujar Starla.
"Kalau udah tanding ulang terus kamu mau apa?" Tanya Satella.
"Berikan batu permata merahnya padaku!" Ujar Starla.
"Itukan milikku." Tegas Satella.
"Kalau aku menang, permata nya milikku." Tantang Starla.
"Gak, permata ini milikku! Kita gak perlu tanding karena permata ruby sudah menjadi milikku!" Satella pun menolak tantangan Starla.
"Berarti kakak takut." Starla mulai memprovokasi.
"Gak, aku gak takut!" Balas Satella.
"Kak Stella menolak tanding ulang karena kakak takut dengan ku kan." Starla kembali memprovokasi.
"Aku gak takut." Balas Satella.
"Ternyata kakak udah bukan kak Stella yang aku kenal. Kakak yang sekarang itu penakut yang sangat pengecut. Kakak takut kalah dan takut kehilangan permata ruby." Starla memanas-manasi Satella.
"Aku gak takut sama kamu, tanding yuk!" Satella menerima tantangan yang Starla berikan.
"Berarti kalau kakak kalah ruby menjadi milikku!" Kata Starla.
"Iya, serterah! Balas Satella.
Mereka pun memulai pertarungan disudut taman rumput yang lebih luas lokasinya.
PVP. ⚔️
"Aku duluan!" Seru Starla.
Seperti biasa Starla akan memulai dengan menembakkan baut apinya. Seperti biasa Satella akan menyulap perisai es untuk menangkisnya.
Perisai es dengan mudahnya telah mementahkan rentetan baut api dalam jumlah banyak itu. Bahkan Satella belum sempat memulai gilirannya. Starla terlalu cepat sehingga bisa mengambil dua kali giliran dalam satu waktu. Starla bermanuver kearah Satella dengan flyng magic nya. Starla lurus saja melesat kedepan pandang Satella.
Tentu saja Satella menembakan baut-baut esnya. Dengan entengnya Starla menghindari baut es yang melesat kencang. Ia bukan hanya zig-zag saja, tetapi bermanuver dengan gerak berkelok melingkar kedepan seperti pusaran tornado.
Sejago apapun mage melesatkan sihirnya, takkan mungkin terkena Starla. Karena kemampuan Starla dalam bermanuver sangat jagoan.
Jarak antara Satella dan Starla pun sudah sangat dekat. Tersenyumlah Satella seolah akan memenangkan pertarungan ini. Satella menyulap tembok es didepan matanya yang menghalangi dirinya dari Starla.
Suara asap bertekanan tinggi pun terdengar seolah melesat ke atas. Menyadari itu Satella pun menoleh keatas. Benar saja karena Starla berhasil menukik keatas untuk mencegah menabrak dindingnya.
"Aku disini, kak...." Seru Starla yang bersiap melempar magic gem dari atas kebawah.
Starla melempar bebatuan sihir berisikan sihir peledak rendah.
Satella pun berlari kedepan sambil menyulap perisai es dipunggungnya. Sebelum Satella mencapai dinding esnya, Satella terkena hentakan ledakan kecil. Hempasan ledakan membuatnya terpeleset kedepan namun kedua tangannya sempat menahan tembok agar tubuhnya tidak berbenturan dengan keras.
Serpihan dari batu sihir peledak berhasil ditahan perisai es yang terdapat dipunggungnya.
__ADS_1
Starla terus melempar batu sihir ledakan kearah Satella. Punggung terlindungi oleh dinding es ketika Satella menyender. Bagian depan tubuhnya terlindungi perisai es.
Lemparan gem magic berkali-kali tidak melukai Satella.
Starla menembak tombak apinya kearah Satella. Seolah Starla itu mengincar punggungnya Satella.
Starla menyulap tombak apinya menjadi tornado api setinggi dua meter saja. Tornado api memberi dampak knock back yang telah menghempaskan Satella kedepan.
Satella terhempas kedepan sejauh delapan meter setelah berguling ditanah beberapa kali. Menahan sensasi rasa sakitnya Satella pun berdiri lagi setelah beberapa saat.
Kini sihir baut es yang dibentuk Satella adalah sebesar tombak es. Satella membentuk banyak sekali tombak es. Sesaat sebelum Satella sempat menyulap agar seluruh tombak es melesat, Starla sudah mendahului Satella dalam upaya melepaskan sihir.
Starla menyulap dinding api yang tingginya dua meter didepan mata Satella. Jarak antara wajahnya dan tembok api adalah lima centimeter. Tembok api tidak padan dan keras tetapi sifatnya adalah zat gas.
Tembok api menyemprotkan gas panas kearah Satella dan memberi dampak knock back. Untuk kedua kalinya Satella dihempaskan lagi. Tetapi kali ini Satella terhempas sampai punggung menabrak pohon.
"Aduh, sakit...." Satella merintih.
Masih terduduk sambil punggung menyender dipohon. Satella masih terbatuk-batuk dan lemas.
"Dilukai oleh adik kembar sendiri. Aku tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya." Gumam Satella.
"Kamu pernah melakukannya pada diriku setahun yang lalu. Maukah kakak memahami rasa sakit yang kurasakan. Harusnya kita berbagi rasa sakit kan?" Komentar Starla.
Starla tersenyum jahat, imutnya kontradiksi dengan tindakan yang mengarah ke sadis untuk saat ini.
Satella berusaha mengumpulkan tenaga lagi untuk berdiri. Kali ini pressure yang dilakukan Starla sangatlah keras, seolah ia penyihir matang sang juara duel sihir.
"Ayo kak ... cepet berdiri! Gak asik kalau sebentar udah kalah." Kata Starla, sambil mengolok-olok.
Merintih kesakitan, Satella segera berdiri. Terjatuh lagi karena tulang yang sakit. Satella berusaha untuk berdiri dan menahan sakitnya.
Sementara Starla mulai berhenti melakukan pressure. Starla kini melangkah kearah Satella sambil memberi olok-olokan dengan rasa puas dihati.
"Kakak yang selalu ku andalkan ini sekarang lemah! Kakak kembarku yang mana aku selalu bergantung padanya. Aku ngerasa kecewa kak." Starla meremehkan Satella.
Satella mendesis kesal sambil diam tidak berdaya.
"Ini terlalu mudah kak." Starla kembali menguap bosan.
"Kamu boleh pake batu bertuah supaya kita setara. Aku gak mau menang secara tidak terhormat." Komentar Starla.
"...." Satella masih duduk sambil senderan dipohon.
"Kenapa diam kak? Mau aku hitung sampai sepuluh?" Tanya Starla.
Bernada sarkastik, Starla meniru gestur Satella kala itu. Menikmati setiap detik dari mengolok-olok.
"Satu, dua, tiga, empat...." Starla menikmati setiap momennya.
Satella berdiri, memegang batu bertuah nya.
Seketika muncul seberkas cahaya yang berubah jadi batang tongkat sihir sepanjang satu meter. Tongkat sihirnya sepanjang satu meter.
"Kamu sudah putuskan, kak?" Ucap Starla.
"...." Satella menghela napas yang panjang.
"Aku anggap iya." Starla memasang eskpresi wajah sombong.
"Kamu sekarang udah gak menurut lagi. Dasar adik tukang ngelawan!" Omel Satella, sudah sangat sebal.
"Sekarang kita sendiri sendiri aja ya kak!" Sahut Starla.
Satella yang kesal dengan ekspresi tengil Starla segera menembak sihir dengan Ruby. Melakukan auto cast, menembakan bola laser ke Starla.
Starla langsung berkelok dengan cepatnya dengan flyng magic nya.
"Segitu aja?" Starla mengolok-olok.
"Kakak pake Ruby kan, berarti aku boleh pake magic arow!" Starla pun memunculkan gulungan sihir tuk memanggil senjatanya.
__ADS_1
Senjata yang dimunculkan Starla adalah longbow. Busur panah yang panjangnya melebihi tinggi Starla.
"Apa katamu, memakai panah yang sebesar ini apa tidak repot? Aku kan sudah profesional kak! Aku sudah latihan dalam waktu yang lama juga sangat intens." Kata Starla, walau Satella tidak bertanya demikian tapi Starla bertingkah seolah tahu kalau kakak kembarnya memikirkan apa.
Memasang sarung anak panahnya dipinggangnya.
Starla mulai menarik busur panah yang dibidik kearah Satella. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membidik, Starla melepaskannya.
Anak panah dilesatkan dan sekilas hampir mengenai Satella. Anak panahnya menggores kulit leher Satella, lalu menabrak pohon yang ada dibelakangnya. Anak panah tertancap cukup dalam. Itu belum mengandung sihir, karena daya penetrasi kuat diakibatkan karena longbow umunya sangat bertenaga.
"Kamu mau membunuhku ya, dik!" Omel Satella.
Starla ketawa jahat.
"Ops ... sayangnya meleset." Canda Starla, menutupi bibirnya dengan ujung jarinya.
"Gess ... dasar adik bandel!" Satella mendesis kesal.
"Hanya pemanasan kok kak." Balas Starla sambil menarik tali busurnya.
Kali ini Starla mengarahkan anak panahnya ke tubuh Satella. Starla yakin kalau normal atack seperti itu takkan membunuh kakak kembar tercinta. Lesatan anak panahnya menembus perisai es, akan tetapi tersangkut disana. Anak panahnya tersangkut dan sukses menembus hingga setengah batang kayu anak panahnya tertancap disana.
"Busur panah macam apa itu! Itu bahaya, kalau kena tancep dapat terbunuh dalam waktu satu jam karena kehilangan banyak darah!" Satella bernada panik.
"Kakak pasti belajar dari buku ya. Sejak dulu kakak selalu belajar dari buku dan memberitahu aku hal-hal yang aku tidak tahu." Ucap Starla.
"Itu bukan cuma dapat memburu rusa, badak pun pasti tewas karena busur panah mengerikan milikmu!" Satella heboh.
"Ini namanya longbow kak! Busur panah ini berat tarikannya 120lbs kakak...." Ujar Starla.
[Note : 120lbs itu setara 60kg.]
"Gimana caranya kamu bisa tarik beban sebanyak itu diusia segini?" Tanya Satella, heboh sambil terus menunjuk kearah adik kembarnya.
"Aku kan latihan sejak kecil kakak. Mulanya aku pakai short bow yang beratnya 34lbs. Lama-lama makin tinggi tingkat busur panah yang aku pakai karena aku bukan amatiran sekarang." Ujar Starla yang sudah mengambil busur panahnya.
"Tentu saja aku mana kuat untuk melakukan full draw. Aku hanya menarik setengah tarikan pada talinya." Starla masih membidik
Tau-tau muncul seberkas cahaya diujung anak panahnya. Ini adalah kekuatan magic arrow, Starla akan menunjukkan potensinya sebagai pengguna magic archer.
"Jangan mati, nanti aku bisa kena marahnya ayah loh." Ucap Starla.
Satella menjerit dengan kagetnya.
Satella memantrai ulang perisai es yang semula retak parah. Perisai es Satella kini utuh dan kuat kembali.
Seberkas cahaya pada ujung arrow Starla. Cahaya itu semakin terang, semakin silau dan berdaya magis.
Starla melesatkan magic arrow.
Magic arrow melesat dengan daya lesatan yang kencang sekali. Bahkan lebih cepat dari senjata api, pistol.
Satella tersentak kaget, perisai es pecah seketika. Tongkat sihir ruby yang dipegangnya bereaksi cepat. Kekuatan Ruby membentuk magic barrier yang sangat kuat. Muncul sebuah perisai magis yang berbasis white magic.
Satella menjerit karena efek suara ledakan yang membuatnya kaget.
Ledakan magic archer membuat dampak ledakan tingkat menengah. Gelombang kejutnya bikin Satella terpental kebelakang walau perisai Ruby telah memblokir kerusakan sihirnya, Satella kena knock back.
Starla melangkah kearah kakak kembarnya.
"Apa kamu udah kalah? Tapi Starla gak mau kakak kalah." Ucap Starla.
"Kenapa?" Balas Satella.
Tiga kali dihempaskan membuat tubuhnya yang ringkih sudah tak sanggup action lagi. Satella hanya terduduk menyender ke pohon. Satella nampak lunglai dan penuh lika-liku kala itu.
"Aku mau tanding ulang kak, bye." Starla meninggalkan Satella yang terduduk lunglai, dipermalukan.
Sambil melangkah pergi, Starla pun berbisik pada dirinya sendiri.
"Satu sama kak." Bisik nya.
__ADS_1
~Bersambung~