
Urusan mereka di pasar gelap pun selesai. Veritaserum yang mereka cari-cari sudah didapatkan bahkan dengan stok lebih. Veritaserum sebanyak itu bisa mereka simpan diruang kebutuhan. Ruang rahasia untuk menyembunyikan sesuatu. Violetta berjalan didepannya lalu Satella terhenti barang sejenak.
"Pulang yuk." Seru Satella.
Satella diam sejenak, menatap ke langit. Langitnya telah memerah layaknya sore menjelang malam. Kira-kira 20 menit sebelum malam tiba. Mendengar ajakan pulang membuat Violetta putar badan.
"Jangan pulang!" Balas Violetta.
"Kenapa?" Tanya Satella.
"Emangnya gak mau lihat-lihat?" Tanya Violetta.
"Malam hari itu banyak tindakan kejahatan tau." Kata Satella.
"Jangan takut ... kita mage yang hebat." Kata Violetta.
"Aku takut kalau keluar malam." Satella menolak.
"Tenang deh ... ada aku. Aku jaga kamu kalau kamu takut." Violetta terus membujuk.
"Oke jaga ya." Tagih Satella.
"Em." Violetta mengangguk.
Satella diam sejenak.
Anehnya kalau menjelang malam orang-orang tambah ramai seakan komunitas tersembunyi ini dibuat khusus untuk malam. Satella diam terbengong sambil melihat langit merah yang dia anggap indah itu.
"Sunset itu keren kan." Violetta.
Satella menoleh kearah depan, memandang Violetta.
"Iya." Ucap Satella.
"Sunset di pantai lebih indah lagi." Kata Violetta.
Satella masih terdiam.
"Ayo ikut aku!" Seru Violetta.
Satella berjalan mengikuti Violetta yang dengan menenteng koper yang kecil. Seakan sudah pernah datang kemari, Violetta melalui belokan beberapa kali. Entah berapa kali ia mengambil belokan, Satella tidak sanggup mengingat jalan pulang. Hanya Violetta lah yang hapal rute jalur di gang pasar gelap. Sekarang mereka berjalan dijalan yang agak besar nampaknya. Dibanding jalur lainnya, ini memiliki punya ruas.
Langit semakin gelap saja. Langit masih menampakkan sinar merah yang tajam tapi hampir menuju ke gelap malam. Ada tiang bambu terpasang dipinggir jalan dengan lingkaran cermin. Sepertinya itu peralatan yang mengukur tingkat kegelapan langit, dengan kata lain mengukur antara siang dan malam.
Alat itu mengkonfirmasi bahwa malam telah tiba.
Beberapa tiang bambu setinggi tiga meter ujungnya menggantung satu lentera. Lentera berbentuk artistik dinyalakan cahayanya saat malam telah dikonfirmasi. Cahaya warna hijau yang khas muncul dijalan itu. Lampu-lampu penerangan telah memancarkan cahaya hijau yang tidak biasa. Tak terasa tempatnya sangat ramai dibanding sebelum malam tiba. Satella pun terhenti.
"Bangunan besar." Satella kagum.
Satella kagum bukan karena ada bangunan yang megah. Satella itu kagum karena melihat bangunan paling besar sendiri dibandingkan bangunan lain yang tak sebegitu besarnya. Itulah bangunan yang berada dihadapan mereka berdua.
Magic creature market.
Itulah yang tertulis diplang toko dengan papan besi.
"Satella ayo!" Seru Violetta.
Satella berlari kecil kearah Violetta.
"Apa itu toko eksperimental?" Tanya Satella.
"Toko yang menjual binatang sihir." Violetta bilang.
"Apakah binatang sihir dilarang?" Tanya Satella.
"Beberapa binatang sihir ada yang dilarang. Ban on experimental breeding ... begitulah disebutnya." Ujar Violetta.
"Aku mau lihat ... aku mau lihat." Satella bersemangat.
"Yaudah ayo." Ajak Violetta.
Akhirnya mereka berdua segera memasuki gedung tiga lantai itu. Disanalah beberapa spesies dari binatang sihir diperjual belikan secara bebas. Butuh kehati-hatian mengingat bahwa yang berada didalamnya dilarang. Kalau sang pemilik kedapatan memelihara bintang sihir yang di ban pihak pemerintah, bukan hanya dikenai penyitaan saja tapi pemilik akan dikurung didalam jeruji besi.
Mereka pun melewati pintunya.
Magic creature shop.
Violetta berjalan didepan disusul Satella. Ini baru lantai satu dan belasan orang berada disini untuk melihat-lihat magic creature yang dilarang ketat itu. Ada beberapa akuarium kaca dan jeruji besi tuk mengurung magic creature nya.
Melihat-lihat hal seperti ini jelas kesenangan bagi Violetta. Satella sebagai orang yang awam dengan hal-hal ilegal pun telah dibuatnya terkagum. Tercengang lah ia saat melihat binatang langka yang ia belum pernah lihat. Satu kali lagi Satella menampakkan raut wajah bengong yang sangat imut.
__ADS_1
Violetta meramalkan sesuatu hal tidak terduga. Putar badan untuk mencari letak Satella. Tak lama ia menemukan posisi Satella berada. Violetta melangkah kearah Satella.
"Hei ... sedang apa?" Violetta pun menegur Satella.
Satella sedang melihat satu jeruji yang mengurung binatang sihir.
"Aku baru tahu kalau ayam jago dilarang?" Ucap Satella sambil ia mendekat untuk mengintipnya.
Violetta menangkap lengan baju Satella. Hal itu ia lakukan karena Satella terlalu dekat ke jeruji nya.
"Aku mau lihat ... aku mau lihat." Satella merengek. Violetta terus menahannya.
Dengan cepat Violetta pun menarik lengan baju Satella hingga mundur kebelakang. Dan secara bersamaan ayam jago itu menyemburkan satu napas api yang memanjang. Nyaris mengenai rambut kepala Satella.
"Kya ... apa tuh. kok ada apinya!" Satella menjerit histeris.
"Sstt ... Tolong jangan jejeritan ya Stella!" Pinta Violetta.
"Habisnya ada apinya." Satella bernada protes.
"Kamu sih deket-deket!" Violetta memberi teguran.
Violetta pun kesal dan menyentil kupingnya Satella yang lancip.
Satella merasa ngilu.
"Ini adalah binatang sihir berjenis ayam yang bisa menyembur api. Kegunaannya itu serupa dengan seekor anjing penjaga." Violetta menjelaskan.
"Bagus dong kalau penjaganya itu binatang sihir seperti itu." Komen Satella.
"Tapi bahaya juga sih. Makanya dilarang." Ujar Violetta.
"Duh jantungku hampir copot!" Satella mengelus dadanya sambil menghela napas yang panjang. Matanya sampai terpejam seraya menggelengkan kepalanya.
"Ayo lihat-lihat lagi." Ajak Violetta.
"Em." Satella mengangguk.
Melihat-lihat beberapa jeruji yang mengurung bintang sihir. Satella melihat ke jeruji yang lebih kecil daripada jeruji lainnya. Jeruji yang dilihatnya setinggi satu meter saja.
"Lucunya." Gumam Satella.
"Anak ini!" Violetta mengepalkan tangan, agak kesal.
Bagaimana tidak.
Selucu-lucunya bintang sihir pasti mereka berbahaya.
Violetta mendekati Satella lagi.
"Lucunya anak anjing ini." Seru Satella.
"Apa!" Violetta kaget.
"Jangan pegang-pegang." Bentak Violetta.
"Ada apa ... seekor puppy itu kan lucu." Satella menampakkan raut sedih kearah Violetta. Ekspresinya membuat Violetta tertawa geli.
Violetta terkekeh.
"Bukan begitu ya!" Tegur Violetta.
"Memangnya tidak boleh untuk memegang seekor puppy dengan wujud selucu ini." Raut sedihnya Satella sungguh imut dan lucu.
Raut wajah Satella itu se polos wajahnya anak-anak.
"Itu bintang sihir loh ... namanya adalah Crup. Adalah anjing yang berekor dua. Kalau sudah besar berguna sebagai anjing penjaga. Sebagai hewan penjaga ia punya gigitan yang menyakitkan juga cakaran yang sakit. Itu sih belum seberapa, ekornya lah yang paling berbahaya." Kata Violetta.
"Ekornya?" Gumam Satella.
"Ekornya bisa bermutasi menjadi tentakel sekeras besi runcing nan tajam. Cabika ekornya bisa bikin perutmu seperti sundel bolong loh. Dalam sekejap mata." Kata Violetta bernada menakut-nakuti.
"Kya ... apa katamu, su ... sundel bolong." Satella menjerit kaget.
"Sstt ... jangan jejeritan!" Violetta mengomel.
"Mau lihat-lihat lagi gak?" Tanya Violetta.
"Iya mau." Seru Satella.
"Jangan rusuh!" Seru Violetta.
__ADS_1
Violetta melihat-lihat yang lainnya lagi.
Satella juga melihat beberapa bintang sihir yang asing baginya. Tapi kali ini Violetta menunjukkan kepada Satella satu binatang sihir. Mereka memilih persepsi berbeda. Satella jijik dengan binatang sihir yang satu ini, sementara Violetta justru malah terpukau kagumnya.
"Satella lihatlah ini." Seru Violetta.
Satella pergi kearah yang ditunjuk Violetta.
Sebuah akuarium kaca yang diisi tarantula. Mungkin kacanya amat tebal supaya binatang sihir yang berada didalamnya tak bisa lepas.
"Laba-laba ... Kamu ya Vio!" Omel Satella.
"Ini binatang sihir." Kata Violetta.
"Aku benci laba-laba karena itu bentuknya nyebelin." Kata Satella.
"Huh?" Violetta menoleh kearah Satella.
Violetta menatap takjub spesies laba-laba itu.
"Nama resminya akromantula atau sebutan lainnya itu bloodmother adalah binatang sihir berbahaya." Ujar Violetta.
Yang dipandangi Violetta adalah laba-laba yang matanya sebesar kelereng. Seluruh mata berwarna hitam. Delapan kakinya terbungkus tulang luar yang keras. Matanya berjumlah delapan. Laba-laba itu panjang tubuhnya setengah meter.
"Yang bikin ngeri ya ... mereka itu besar sekali." Kata Satella.
"Serius?" Gumam Violetta.
"Mereka masih spesies anakan loh. Nantinya kalau sudah dewasa bisa punya panjang tubuh dua sampai lima meter loh." Ujar Violetta.
"Serius?" Satella kaget.
"Ada spesies tetangga yang serupa dengan laba-laba ini. Mereka punya bentuk seperti kumbang raksasa." Ujar Violetta.
"Pantas aja mereka dilarang. Kalau ada laba-laba sepanjang lima meter berkeliaran kan bahaya." Komentar Satella.
"Mereka biasa hidup berkoloni. Berpotensi jadi pasukan perang murah meriah. Kalau kita bisa membesarkan spesies ini sejak berukuran kecil hingga raksasa mereka bisa diperintah layaknya pasukan perang." Ujar Violetta.
"Mantap betul." Seru Satella yang menampakkan ekspresi kagum.
"Itulah yang membuat aku suka dengan spesies laba-laba tersebut." Ucap Violetta.
"Tapi berapa lama waktu untuk membesarkannya?" Tanya Satella.
"Mereka cepat besar kalau mereka sering diberikan makanan berupa daging." Jawab Violetta.
"Coba pikirkan ... dengan efisien kamu bisa menternakkan mereka sampai ratusan. Ratusan itu bisa membuatmu menang melawan ribuan knight. Berapa banyaknya emas untuk anggaran pasukan yang bisa kamu hemat kalau kamu membudidayakan binatang sihir!" Ujar Violetta.
Dengan kagumnya Satella hanya menanggapi dengan.
"Wow." Ucap Satella.
"Sayangnya setiap binatang sihir punya kelemahan." Kata Violetta.
"Apa itu?" Tanya Satella.
"Mereka takut terhadap balisik." Jawab Satella.
"Oh gitu." Sahut Satella.
"Jadi begini. Akromantula lemah terhadap balisik lalu balisik lemah terhadap phoenix dan sebagainya." Ujar Violetta.
"Wawasan mu luas." Puji Satella.
"Masih banyak binatang sihir lain yang keren-keren. Tapi udah malem nih, pulang yuk." Ajak Violetta.
"Yuk." sahut Satella.
Violetta dan Satella yang keluar begitu saja tak dipedulikan oleh penjaga toko. Karena masih banyak orang-orang yang melihat-lihat berpotensi menjadi pembeli. Berjalan cepat mereka pergi dari komunitas pasar gelap tersebut.
Bagi Satella naiki taxi kereta naga adalah hal yang sangat terjangkau mengingat ia putri ningrat. Mereka pulang dan sampai malam hari. Terpaksa beli makanan kafetaria karena ruang perjamuan sudah ditutup sesi makan malamnya itu.
Bukan hal yang masalah karena Satella sangat sugih untuk makan makanan berbayar di kafetaria. Sudah diputuskan bahwa mereka harus me maintenance fisiknya dengan istirahat lebih awal. Besok mereka akan melanjutkan lagi investigasi terhadap sindikat itu.
"Dadah." Satella pamitan kepada Violetta. Satella bergegas menuju kamar asrama putri.
"Dah Stella." Violetta pun kembali menuju asramanya.
Entah tantangan apa yang akan menanti. Yang jelas besok mereka akan melakukan petualangan.
~bersambung~
__ADS_1