
Kekonyolan Satella membuat dewi Eris tak kuasa menahan tawanya. Kemudian dewi Eris berjanji pada Satella untuk membuat Phoenix menjadi bisa bicara. Kini dewi Eris berdiri didepan sangkar Phoenix kemudian bersiap dengan kekuatan sihir level dewa minor dari Asgard.
Pertama Phoenix dikeluarkan dulu dari sangkarnya.
Dewi Eris bersiap...
Muncul circle sihir diarea yang Phoenix injak.
Authority of Goddess blessing !!
Dewi Eris pun merubah wujudnya Phoenix menjadi sosok manusia secara ajaib. tercengang lah Satella dibuatnya. Bahkan Phoenix mampu berbicara bahasa manusia untuk sekarang ini.
"Selamat pagi majikan ku." Sosok avatar manusia dari Phoenix itu menunduk kepada tuannya.
Memberi salam penghormatan..
"Bi.. bi.. bisa bicara!" Satella kaget.
"Yes.. master." Kata Phoenix yang memakai avatar manusia.
"Bahkan dewi Eris menyulapnya dengan pakaian seorang butler, kerennya." Seru Satella, girangnya.
"Karena Phoenix mu berwujud manusia sekarang, ayo berikan nama." Seru dewi Eris.
"Eng.. itu." Satella pun menaruh telunjuknya didagu sambil terus memikirkan sebuah nama.
"Ah.. aku tahu!" Satella dengan semangat menjentikan jarinya.
"Hei.. Phoenix, sekarang namamu adalah Theodore!" Seru Satella.
"Theodore huh.. nama yang indah master ku." Komentar Phoenix.
Satella menamai Phoenix sebagai Theodore..
"Kamu suka?" Satella memandang kearah Theodore dengan girang. Ia menunggu tanggapan atas nama yang diberikannya.
"Yes.. master." Sahut Theodore.
"Yeay." Satella melompat senang.
"Apa-apaan ada pria diruangan ini huh!" Protes Minerva, ia menolak pinggang dengan eskpresi galak.
Sementara Satella membalasnya dengan.
"Ini peliharaan ku." Ujar Satella.
"Iya, tapi." Minerva menampakkan wajah yang malu-malu kucing.
"Yasudah lah." Minerva dengan pipinya dipenuhi rona merah.
"Bolehkah saya disini nyonya cantik yang berambut pirang." Theodore mencoba membujuk Minerva yang pembawaannya cenderung galak.
"Em, uh.. yeah terserah!" Balas Minerva memalingkan wajah, kedua tangan ditaruh dibelakang pinggangnya. Minerva yang malu-malu kucing terlihat manis wajahnya.
Suasana hening sesaat...
Theodore adalah sesosok laki-laki jangkung dengan rambut berwarna putih. Model rambutnya low fade, postur 180cm dengan badan agak kekar dan berpakaian seragam ala butler secara permanen. Lumayan tampan untuk manusia ras Eropa.
Entah kenapa Satella tertarik pada Theodore sebagai taman laki-laki bukan romantis. Mungkin Satella hanya tertarik pada orang dengan persyaratan tertentu. Lagipula juga Theodore adalah Phoenix dengan kedok penyamaran avatar manusia berwujud seorang butler tampan.
Minerva pun tertarik padanya tuk sesaat. Sampai disadarkan fakta bahwa itu bukanlah manusia asli.
"Kamu sudah puas?" Tanya Eris.
Satella mengangguk.
"Ada perintah tuan?" Theodore menatap Satella.
"Belum ada!" Balas Satella.
Satella mendekati Minerva untuk bertanya. Satella bertanya dengan nada sedikit berbisik.
"Cincin yang kamu lepaskan dari Rika, berikan cepat!" Pinta Satella.
"Sebentar." Balas Minerva.
Minerva berjalan menuju lemari dipojokkan ruang. Lemari kaca tempat beberapa orang menaruh barang pribadi masing-masing. Minerva membuka lemari kaca kemudian mengambil isinya yaitu cincin batu sihir. Minerva segera memberikan cincin itu ke Satella.
Cincin Bellatrix didapatkan..
Satella menyimpan cincin horcrux yang satu ini. Kemudian Satella pun menanyakan perihal lain lagi pada Minerva. Mumpung Satella dalam keadaan baik. Ia akan selesaikan semua yang bisa sebelum sekolah kembali masuk di third semester.
"Taring balisik kamu simpan kan?" Tanya Satella.
"Ada kok." Jawab Minerva.
"Semua aku pergi dulu." Satella pamitan.
Sebelum Satella pergi dewi Eris menahan sebentar.
"Simpan saja barang berharga mu disini, tidak akan hilang kok." Kata dewi Eris.
__ADS_1
"Eh?" Satella yang awalnya jalan menuju pintu keluar, putar badan menatap Eris dengan bengong.
"Lemari penyimpanan mu sendiri!" Ujar dewi Eris.
"Itu hanya lemari kaca tanpa ada mekanisme kunci, bahkan kalau lemari bisa dikunci maka tinggal dipukul dengan linggis kemudian pecahlah." Komentar Satella yang menutup satu mata sebagai satu ekspresi heran yang sangat imut.
"Kamu memandang kami sebagai pengidap kleptomania apa!" Omel Minerva, sedikit tersinggung.
"Hehe.. bukan seperti itu, salah paham." Satella ketakutan.
"Jangan negatif thinking ya!" Balas dewi Eris, melipat tangannya dan membentuk wajah yang bangga.
"Apa maksudmu?" Satella telah mengukir mimik wajah bengong.
"Wajah bengong masterku sangat imut." Goda Theodore.
"Kya.. berisik." Satella terkejut saat dirinya disanjung.
Dewi Eris terkekeh..
"Walah.. imut." Dewi Eris menutup bibirnya dengan telapak tangan tuk menyembunyikan tawanya.
"Lemari kaca itu adalah item sihir loh." Ujar dewi Eris.
"Oh begitu." Satella dengan mimik bengong sampai rongga mulutnya terbuka, menampakkan keimutan.
Dewi Eris menjelaskan.
"Setiap lemari mengkonfirmasi pemiliknya. Kalau bukan pemilik lemari maka tidak bisa dibuka."
"Dengan kata lain ini aman walau tanpa mekanisme kunci mekanik."
Sekian penjelasan dewi Eris.
"Menarik." Satella cengar-cengir menyesali komentarnya barusan.
"Silahkan pilih lemari kaca untuk kamu!" Kata dewi Eris.
Satella difasilitasi.
Barisan lemari kaca letaknya itu dipojokan belakang sebelah kanan. Banyak lemari kaca berjejer tepat disudut itu. Lemari kaca dengan paling berkilau dari kaca yang ada didunia ini, seolah itu terbuat dari campuran pasir kaca dan berlian.
Satella berjalan memutari meja perkumpulan dititik paling tengah ruangan. Menuju barisan lemari kosong. Tak ada lemari kayu disini, yang ada hanyalah sekumpulan lemari kaca dengan unsur mistik.
Satella tiba dipojok kanan atas dari ruangan.
Menimbang..
Satella menaruh jarinya disamping kepala kanan, sambil memiringkan kepalanya ke kanan pula. Menghela napas bernada kebingungan.
"Em.. uh?"
"Ah, yang ini!" Satella menjentikan jarinya.
Dewi Eris melangkah mendekati Satella.
Kemudian dewi Eris memberikan sebuah magic scroll kepada Satella. Magic scroll adalah gulungan yang didalamnya berisi mantra sihir tuk sekali pakai. Dengan magic scroll seorang yang tidak bisa memakai sihir tertentu menjadi bisa pakai. Biasanya lembar kertas berwarna kekuningan berisi tulisan dengan huruf rune kuno didalamnya itu.
"Magic scroll?" Satella bingung dan mempertanyakan kenapa ia diberi sebuah magic scroll.
"Scroll ini adalah mekanisme tuk menjadi pengguna lemari mistik super aman ini." Ujar dewi Eris.
"Jadi aku hanya harus membakar magic scroll ini saja kan?" Tanya Satella.
Sihir aktivasi adalah sihir dasar termudah, dipelajari sejak awal pelajaran. Yaitu mengaktifkan gulungan sihir supaya sihir yang tersimpan didalam scroll dapat digunakan. Scroll akan terbakar.
"Aku aktifkan ini?" Satella dengan ekspresi ragu-ragu memandang kearah dewi Eris.
"Iya."
Setelah dewi Eris menkonfirmasi, Satella pun mengaktifkan gulungan sihirnya. Mulanya Satella meremas gulungan itu, sejumlah kecil mana point seperti mengalir kedalam gulungan. Itu membakar gulungan sihirnya, pertanda sihirnya aktif.
"Scroll itu merupakan kunci mistik lemari kaca yang tadi kamu pilih, Satella. Sekarang kamu bisa buka lemari kaca." Ujar dewi Eris.
Satella mencobanya..
Membuka lemari kaca, lemarinya terbuka.
"Benar." Ucap Satella.
"Kamu bisa pilih benda yang mau disimpan. Aku jamin akan hilang." Kata dewi Eris.
Satella menyimpan cincin Bellatrix dan taring ular balisik didalamnya. Sementara liontin jimat emas akan dibawanya kemanapun. Lemarinya tertutup rapat, itu terkunci keras.
Menoleh kearah dewi Eris, Satella segera melambaikan tangannya sebagai gestur berpamitan.
"Dah." Satella pamit.
Melewati meja perkumpulan, lalu melangkah kearah pintu keluar ruangan ini. Tiba-tiba balik badan, lalu menatap kearah Theodore.
"Kembali kewujud aslimu!" Satella memberikan perintah.
__ADS_1
"Lalu masuk sangkar!"
Theodore kembali kewujud unggas terbang warna merah emas. Ia pun langsung masuk kedalam sangkar Phoenix. Satella tak langsung pergi tapi matanya seolah terpaku pada Phoenix, mau memastikan unggas peliharaannya kembali kedalam sangkarnya. Setelah itu sorot mata Satella yang fokus menjadi sedikit rileks. Kemudian Satella melambai kepada teman-teman yang duduk santai dimeja perkumpulan. Saat fokus memastikan Phoenix masuk kedalam sangkar, itu membuatnya sangat melotot yang sangat imut.
Bukan hanya sorot matanya saja melotot, garis wajahnya menjadi sangat tegang seperti anak kecil memandangi anak laki-laki bandel yang ingin dia usir secepatnya. Melotot, seolah bola matanya itu sangat besar seperti bola mata anak-anak usia tujuh tahun saja.
Unggas masuk sangkar, sorot mata melotot nya menjadi sorot mata paling tenang dan santai seolah ia berhasil menemukan pr nya yang terselip diantara tumpukan buku didalam tasnya. Mimik wajahnya seperti mewakili perasaan lega.
Violetta sedikit memotong Satella.
"Hati-hati, peliharaan mu aslinya sangat sangat bawel dalam sosok avatar manusia nya." Ujar Violetta.
"Benarkah?" Satella menggaruk kepala samping dengan telunjuk.
"Padahal dia sedikit bicara." Satella bergumam, dengan mimik bengong.
Tidak terlalu memperdulikan apa yang disampaikan Violetta, Satella langsung saja pergi.
"Semua aku pergi dulu, dadah."
Satella melambaikan tangannya kemudian balik badan.
"Yee.. main nyelonong aja tuh anak, tunggu kita balas bicara dulu kek." Protes Isyana dengan garis kening yang sangat mengkerut.
"Em, iya benar tuh, rambut bihun emang sedikit songong." Kata Iota, bernada sedikit sebal.
Minerva berdeham.
"Bukannya kamu juga tidak sopan terhadap Satella?" Minerva sedikit menegur Iota.
"Bela aja terus Tella!" Iota dengan nada sebal yang lucu.
Kemudian..
Lorong sekolah.
Satella terlihat berjalan dilorong dengan suasana ceria yang biasa diluapkannya. Melangkah dengan langkah yang panjang, iramanya berjalan melompat-lompat sangat riang dan periang.
La... La... La..
Bersenandung..
Tiba-tiba langkah Satella terhenti barang sebentar, ia melihat papan mading dilantai empat. Yang bikin Satella terhenti dan terdiam amat bengong bukan itu saja. Kerumunan orang sangat banyak, berkerumun diarea papan mading.
Satella menampakkan lagi mimik wajah yang sangat bengong. Imut wajahnya bahkan dikomentari.
"Eh.. imutnya."
Ada suara.
Sadar sedang dibercandai, Satella segera menoleh. Satella melotot kearah siswa yang telah mencuri atensinya itu. menampakkan satu ekspresi melotot yang imut sekali.
"APA!" Omel Satella.
"Galaknya."
Itu adalah siswa sekelasnya Satella.
"Mau apa Alfredo!" Omel Satella.
"Kupikir kamu masih sakit?" Siswa tersebut terkekeh.
"Apa maksudnya masih sakit, itu?" Gumam Satella, berfikir keras.
"Eh... DASAR MESUM!" Omel Satella yang menyadari bahwa mata lawan bicaranya tertuju pada pantatnya.
Alfredo sedikit bercanda, ia pun mengulurkan tangan pada Satella dengan gestur meremas angin.
"Tanganku masih kangen dengan segumpal empuk yang dia tampar belum lama ini." Canda Alfredo.
"BRENGS*K!" Umpat Satella.
Memunculkan es batu ditangan dengan bentuk kotak sempurna seukuran rubik. Satella melempar batu es sekencangnya.
Satella menimpuk.
"Aduh."
Dia lari.
Satella sedikit ngecheat, ia mengulurkan kedua tangan kedepan. Satella melakukan sihir algoritma perubahan cuaca tepat didalam ruangan. Lorong disulap menjadi seperti musim salju.
Kerumunan orang-orang lari dari tempat ini karena tak mau kena penyakit demam. Tidak ada yang tahan dinginnya kecuali Satella dengan imunitas tinggi terhadap element es. Kalau ada yang serang Satella dengan sihir pembekuan, berarti sama saja dengan mencoba memadamkan api dengan bensin.
Satella melangkah kearah mading untuk membaca pengumuman.
"Duellist kingdom!"
"Huh.. ada turnamen penyihir!"
Satella nampak girang.
__ADS_1
~bersambung~