Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
kena siklus


__ADS_3

Ruang perjamuan.


Jam dua belas lebih sedikit, inilah waktunya seluruh murid menuju ruangan makan yang sangat besar. Saking besarnya, orang satu kastel bisa makan secara serentak disini.


Satella makan bersama temannya seperti biasa. Yang paling rakus adalah little Iota dan paling elegan adalah dewi Eris dan Satella. Dua orang siswi dimeja ini yang paling berisik adalah Minerva dan Isyana. Isyana selalu komentarin apapun secara negatif sementara Minerva selalu mengomeli hal-hal sepele.


"Iota kecil-kecil tapi rakus banget masalah makan." Komentar Isyana.


Litle Iota menanggapi Isyana pakai gestur menutup kuping, sesekali ia menjulurkan lidahnya.


"Makanya pelan-pelan dong Iota kecil." Komentar Satella.


"Berisik.. kalian berisik, berisik, berisik, berisik!" Balas litle Iota menutupi kedua telinganya.


Tak lama kemudian kepala sekolah naik keatas mimbar. Sesuatu yang baru karena kepala sekolah mulai memakai sihir megaphone. Yaitu perangkat megaphone yang pada umumnya, tepi dengan efek sihir.


Megaphone manual suaranya akan pecah kalau terlalu keras dan akan memberi polusi suara. Sementara megaphone sihir suaranya sangat dimanipulasi sihir element angin. Megaphone sihir juga bisa diatur supaya suaranya menyebar dengan rata, yaitu orang yang duduknya dikursi paling belakang mendapat suara sama rata dengan orang yang duduk dikursi paling dekat. Bukan hanya itu, suara bisa diblokir jadi hanya sebatas ruang perjamuan. Dengan begitu orang yang berada diluar area takkan terganggu oleh polusi suara megaphone sihir ini.


Berikut pengumumannya.


"Selamat siang."


Kepala sekolah membuka pidato.


"Selamat bagi siswa tingkat ketiga yang akan lulus pada akhir tahun ajaran ini. Terutama untuk seorang lulusan terbaik tahun ini, aku juga memberikan kredit point karena upayanya menghentikan kekacauan waktu itu. Saya ucapkan dengan ketulusan, terimakasih saya kepada putri ketiga charlotte."


Saat kepala sekolah mengukir raut gembira dan tepuk tangan, seketika pandangannya mengarah kepada Satella. Gemuruh tepuk tangan pun terdengar, beberapa murid sampai menoleh kearah Satella dan disusul dengan sorak Sorai penghargaan.


Gemuruh pun berakhir, kemudian Satella menanggapi dengan.


"Pak tua si*lan itu buat aku tersipu malu, pinter ngomong juga pak tua tukang omel itu." Komentar Satella.


Isyana menanggapi ucapan Satella dengan.


"Kepala sekolah itu harusnya galak menurutku." Kata Isyana.


"Berarti dimasa depan Minerva bakalan jadi Kepala sekolah dong. Secara dia kan galak banget." Kata Satella, tanpa sadar keceplosan.


"Mungkin udah gak secantik ini dengan uban dan keriput, apakah kegalakan Minerva masih lestari nantinya?" Komentar Isyana agak cenderung toxic.


"Kalian anj*ng ya!" Omel Minerva sambil menimpuk kacang garing masih terbungkus kulit mengenai jidat Isyana dengan telak.


"Aduh." Isyana kaget, memegangi jidatnya yang jenong.


Dengan kekuatan paranormal nya Violetta menyimpulkan. Kekuatan third eyes nya juga sedang aktif.


"Aku meramalkan bahwa Minerva bakalan menjadi kepala sekolah diusia sangat muda." Kata Violetta.


"Nah Itu baru menyenangkan." Kata Minerva, mengangkat alisnya itu secara naik turun sambil mengukir senyum selebar-lebarnya.


"Ramalan si lunglai Violetta emang terbaik." Komentar Minerva.


"Malah ngatain lagi, dasar melon." Violetta bernada lesu.


Dan begitulah.


Kepala sekolah masih berpidato, sementara beberapa murid malah mengobrol dan tidak mendengar.


"Para murid tingkat pertama dan kedua bisa pulang karena tahun ajaran berakhir. Kepada murid tingkat tiga akan mengikuti kelas tambahan berdasarkan kebijakan third semester. Boleh untuk tidak mengikuti, tapi ini dipantau oleh orang kementrian sihir. Silahkan kalau ingin kehilangan peluang diterima ditempat paling bergengsi bagi mage manapun."


Kepala sekolah terus melanjutkan pidatonya.


Skip..


Setelah jam makan siang Satella awalnya pergi keruang kebutuhan untuk bertemu Theodore. Kali ini Satella meminta bantuan, Satella meminta diikuti sampai ke tempat yang agak jauh. Tujuannya adalah desa tempat rumah Bellatrix.


Green apple village.


Tiba-tiba Satella sudah bersama Theodore dalam wujud avatar manusianya. Lelaki tampan yang berpostur jangkung dan rambut pendek ala low fade warna silver.


Theodore tampak cocok dengan seragam seorang pelayan. Dilihat dari manapun ia adalah butler paling elegan. Apa mungkin dewi Eris sengaja dalam mendesain avatar manusianya ini sebaik mungkin.


"Theodore." Seru Satella.


"Iya master." Sahut Theodore yang menunduk hormat.


"Apa kamu pintar bersih-bersih?" Tanya Satella.


"Saya akan belajar." Theodore.


Kemudian.

__ADS_1


Theodore membersihkan ruangan atas. Terakhir Satella mendatangi rumah ini, itu sudah dibersihkan. Berhubung rumah ini sudah empat abad makanya debunya bisa jadi sangat pekat sekali. Satella masih duduk diteras sementara Theodore masih menyapu dilantai satu rumah tersebut. Rumah tua ini hanya ada dua lantai, yaitu lantai satu dan juga lantai basemen.


"Sudah belum Theodore!" Satella memanggil dengan nada teriak.


"Belum master, debunya sangat mengerak sekali. Kalau boleh tahu tempat ini sudah berapa lama tak dibersihkan?" Tanya Theodore.


"Empat abad." Seru Satella yang bernada keras agar terdengar.


"APA?" Theodore mulai frustasi.


"Kemarilah Theodore!" Satella memanggil.


"Iya tuanku." Theodore bergegas menuju Satella.


Beberapa saat kemudian Theodore sampai didepan pintu teras lalu ia menatap Satella yang duduk dikursi terasnya.


"Master." Seru Theodore.


"Bisa tolong bantu aku!" Satella menoleh kearah Theodore.


"Apapun ku kerjakan, aku sangat patuh pada tuan Stella." Theodore membungkuk hormat, memberi kesan yang menjilat.


"Tolong cari dokumen diruangan bawah tanah." Pinta Satella.


"Dokumen apa master?" Tanya Theodore.


"Dokumen kepemilikan rekening lemari besi bank daerah Juno atas nama Bellatrix!" Perintah Satella.


"Akan ku kerjakan master." Seru Theodore, memberi gestur yang paling menghormati.


Pada akhirnya rumah tua Bellatrix tidak bisa dibersihkan dalam waktu sebentar. Ini butuh mencicilnya berulang kali, mereka harus sering kembali kesini untuk sedikit demi sedikit membersihkan rumah ini.


Satella duduk diteras dengan rasa bosan selagi menunggu sang butler Theodore mencarikan dokumen.


Skip..


Besoknya.


Satella terlihat berjalan dilorong dengan seragamnya dan sangatlah harum. Rambut peraknya tertata sangat rapih dan sedikit gelombang diujung rambutan. Satella sudah sampai didepan kelasnya dan akan memasuki ruang kelasnya. Satella disambut oleh beberapa siswi satu kelasnya, beberapa murid berdiri diluar kelas beberapa sudah stay didalam kelasnya. Sementara Iota yang sekelas dengan Satella sempat menyapa namun dengan agak sensi.


"Hei Tella si rambut bihun." Iota menyapa, melambaikan tangannya yang lentik beserta wajah meledek.


"Itu nyapa atau ngajak berantem!" Balas Satella dengan mimik wajah yang masam.


"Pagi ya bocil!" Sapa Satella.


"Pagi juga." Balas Satella.


Awalnya Iota membalas tegur sapa Satella dengan senyum yang amat imutnya. Tetapi hanya sementara sebelum berubah jadi olok-olokan.


"Kalau aku bocah kecil berarti Tella itu tante ya." Iota mengolok-olok.


"Demi dewa!" Satella mendesis.


Seakan kepalanya berasap, darah mendidih seketika.


"Loh kok aku dibilang tante sih, emangnya wajahku cepat tua ya?" Satella kesal, agak gregetan.


"Kamu lihat dong, wajahku imut seperti gadis belia begini." Satella memejamkan matanya sambil ia mengangkat tangannya.


"Aku ini lebih imut, kalau aku yang imut ini disebut bocah kecil berarti Tella itu tante." Iota mengolok-olok.


"Sakitnya tuh disini." Batin Satella, kedua telapak tangan menyentuh dadanya tepat dibagian ulu hati.


Tak lama kemudian ketua kelas berjalan kearah pintu masuk ruang kelasnya.


"Kalian minggir dong!" Ujar ketua kelasnya pada Satella dan Iota yang menghalangi pintu masuknya.


"Maaf Silvi." Satella tersenyum masam, lalu mundur.


"Anu.. ketua kelas." Seru Satella.


"Apa sih, aku kan kepengen sampaikan pengumuman dulu!" Omel Silvi.


"Pengumuman apa?" Tanya Satella.


"Kelas bakal diundur satu jam lagi karena pemateri belum siap." Kata Silvi, Satella menjadi lega.


Menatap mimik wajah Satella dan ketua kelas menyindir.


"Lulusan terbaik tahun ini kok bisa senang kalau kelas diundur? karena aku pikir lulusan terbaik harusnya punya sifat rajin dong!" Omel Silvi.

__ADS_1


"Syukur!" Iota mengolok-olok.


Satella menghela napas berat.


"TERSERAH DEH, AKU CAPEK!" Satella dengan nada frustasi yang terdengar seperti suara lesu.


Satella pergi kearah tangga untuk menuju lantai sembilan. Berjalan disepanjang lorong dengan hati dipenuhi kekesalan. Wajahnya pun nampak masam dan ditekuk.


Skip..


Ruang kebutuhan.


Satella masuki ruang kebutuhan disana tampak sepi. Selain Satella hanya ada dua orang lainnya lagi. Satella sedikitnya kaget atas yang dilihatnya ini.


"Aku gak nyuruh kamu berwujud avatar manusia ya!" Omel Satella.


Theodore awalnya duduk sambil membaca sebuah buku menjadi menoleh kearah Satella.


"Ya ampun ya ampun, betapa imut wajah marah masterku." Theodore sedikit merayu.


Atas tingkah Theodore justru itu membuat wajah Satella semakin menampakkan marah.


"Kenapa masterku nampak marah, apa yang terjadi master, apa ada hal buruk terjadi?" Tanya Theodore.


"KEPO BANGET!" Omel Satella.


Satella melotot sebal dengan pipi digemukkan terisi penuh udara didalamnya. Mengepalkan kedua tangannya dirapatkan disisi paha. Matanya seolah membesar sangat keki. Sementara Theodore hanya mengangkat tangan dengan raut wajah ketakutan tanpa sadar.


"Master, ini terasa buruk bagiku master." Keluh Theodore seolah dirinya dibuat gelisah karena ia diberikan tatapan amarah.


Satella dipengaruhi emosi. Melihat pemandangan seperti ini dewi Eris terkekeh saja.


Satella melangkah dengan cepat kearah meja ataupun titik paling tengah dalam ruangan.


Melangkah..


Sudah dekat.


"Kamu!" Satella menunjuk kearah Theodore.


"A.. a~~apa master?" Theodore memasang mimik ketakutan.


"Siapa yang nyuruh kamu buat merubah wujud mu itu? Dasar peliharaan bandel!" Omel Satella, melempar es batu kotak besar kearahnya Theodore.


Sementara Theodore mulai ciut nyalinya, dewi Eris menengahi perselisihan diantara mereka.


"Tunggu dulu, tenang ya." Potong dewi Eris, tersenyum tipis sambil memiringkan kepala.


"...." Wajah galak Satella mereda kemudian ia menyimak dewi Eris dengan wajah bengong nan imut.


"Walah.. walah, masterku sangatlah imut." Goda Theodore.


"TOLONG DIAM!" Satella kembali melempar batu es pada Theodore.


"Dengar ya!" Potong dewi Eris.


"Aku cuma minta ditemenin sama Theodore, habisnya diriku disini kesepian." Curhat dewi Eris.


"Maaf deh." Satella buang muka.


"Perutku sakit." Curhat Satella ia memegangi perutnya.


"Sakit pencernaan?" Tanya Eris.


"Siklus perempuan." Bisik Satella.


"Oh." Tawa ditahan dewi Eris.


Satella melangkah menuju lemari kaca. Setelah membuka lemari kaca kemudian memasukkan satu benda kedalamnya. memasukan kedalamnya adalah jam pasir dekorasi kedalamnya.


Satu horcrux lainnya disimpan..


Menutup lemari kaca, Satella pun kembali ketempat semula. Setelah sampai disofa Satella bicara pada Theodore.


"Makasih ya Theodore buat yang kemaren." Ucap Satella dengan senyum masam yang dipaksakan.


"Saya akan selalu melayani tuan." Sahut Theodore tersenyum puas.


Satella menjatuhkan diri kesofa kemudian sedikit kaget.


"Tumpah." Satella latah.

__ADS_1


Satella menarik napas berat.


~bersambung~


__ADS_2