
Jam makan siang..
Jam makan siang telah tiba dengan semua murid diliburkan. dan kini Satella duduk manis, menikmati makan siang bareng teman-teman terdekat. Kepala sekolah nantinya berpidato seperti biasa, persis pada loop waktu pertama.
"Hei Minerva." Panggil Satella.
"Apa? Ya." Sahut Minerva dengan senyum tipis.
"Nanti malam bakalan terjadi lagi deh." Kata Satella dengan wajah muram.
"Kita sembunyi di ruang kebutuhan." Jawab Minerva.
"Tapi ular balisik beserta pangeran (putri) kegelapan akan muncul pada jam makan malam loh." Kata Satella dengan raut resah.
"Kita jangan ikut makan malam berarti." Jawab Minerva.
"Kita bisa dicurigai loh sebagai si pelaku." Satella bilang.
"Habis bagaimana?" Minerva ikut bingung.
"Apa boleh buat." Satella menghela napas, mengerutkan keningnya.
"Ada apa oy." Isyana ikut penasaran, karena Isyana selalu duduk didekat Minerva makanya dia selalu saja pengen tahu apa-apa yang dibilang oleh Minerva.
"Kita bicarakan nanti." Minerva.
"Ngomong-ngomong sejak kapan Minerva akrab dengan Satella?" Ledek little Iota.
"Iota.. stop!" Minerva melotot.
Satella menoleh kearah meja para guru yang berada di paling depan dekat mimbar pidato. Secara tidak terkira Satella melihat guru yang semalam jadi dalangnya. Sorot mata Satella tampak nanar melihatnya.
"Itu bukannya guru yang semalam." Satella menatap Minerva sambil memberi isyarat menunjuk kearah meja para guru.
"Iya benar." Minerva.
"Kenapa pelakunya masih keliaran bebas." Satella geram.
"Tentu saja, tak ada bukti untuk menuduhnya." Jawab Minerva.
"Siapa nama guru itu?" Satella.
"Jason."
"Aku kira kamu bilang." Minerva berhenti disini, sesaat kemudian melanjutkan dengan ejekan.
"Kurang tertarik buat tahu tentang orang itu." Minerva meniru suara Satella sebagai ejekan, juga gestur bahasa tubuh Satella waktu malam kemarin ditiru persis.
"Hentikan itu! Malu tau." Keluh Satella, tanpa sengaja ingat momen yang membuat malu.
"Hei.. Minerva, punya rencana gak? Tentang cara hadapi ular balisik." Tanya Satella, ganti topik.
"Jangan tanya aku! Ya.. aku males kalau disuruh mikir. Coba tanya Violetta atau dewi Eris." Minerva mengerutkan kening, terpejam menghela napas berat.
"Makanan datangnya lama." Keluh Isyana sambil tutup kuping karena Minerva agak berisik bagi Isyana.
"Ada apa? Bawa-bawa nama aku segala." Balas Violetta.
"Ne.. Violetta, tahu tidak caranya menghadapi ular balisik." Satella bertanya pada Violetta.
"Kamu tidak pernah mendengar waktu dikelas? Ya." Violetta malah menyindir dengan wajah setengah kantuknya yang cantik itu.
"Apa?" Satella kaget atas ucapan Violetta.
"Waktu kelas dua, ada pelajaran pertahanan terhadap mahluk myth. Memang sih ular balisik tak dibahas waktu itu, tapi guru itu bilang kalau ular balisik termasuk mahluk myth yang disebut bersama monster lain, sekarang paham kan?" Ujar Violetta.
"Mahluk mitologi ya?" Satella diam.
"He.. kok aku lebih ngerti kalau Violetta yang terangkan daripada gurunya. Jangan-jangan Violetta cocoknya jadi ibu guru nanti ya." Isyana komentar.
"Cocoknya jadi tukang tidur aja si Yuleta ini." Kata Iota.
"Gess.. berisik kamu little Iota." Violetta mendesis kesal.
Diberi nada protes little Iota malah menjulurkan lidah memberi gestur mengolok-olok.
"Tapikan hei.. Iota, bukanya kamu sering tidur?" Tanya Satella.
__ADS_1
"Lihat.. lihat.. hei Tella, beda tau, kalau aku tidur ya tidur tapi kalau Violetta tidur setiap saat." Kata Iota sambil nahan tawa.
"Tidur setiap saat?" Satella bingung.
"Liat tuh muka." Kata Iota menatap Satella sambil menunjuk kearahnya Violetta.
"Sekarang pun dia masih tidur." Iota semakin menahan tawa.
"Eh? Eh.. masa iya." Satella malah menoleh kearah Violetta atas sugesti dari little Iota.
"Hihihi." Suara tawa kecil Isyana terdengar saat Satella baru sesaat menatap wajah Violetta.
"Apa yang lucu hei.. cewe jenong dengan rambut belah tengah." Violetta sebal dengan Isyana yang memberi nada ejekan.
"Lihat." Seru Isyana.
"Lihat apa?" Satella.
"Maksud Iota itu, wajah Violetta terlihat seperti ngantuk makanya dikatain lagi tidur karena wajah Violetta tampak selalu mengantuk." Isyana ngejelasin maksud Iota.
"Aku gak ngantuk! Ya.. muka aku emang begini dari lahir." Violetta mengepal tinjunya dengan wajah terpejam memunculkan ekspresi marah yang minim ekspresi.
"Sekarang aku tanya.. apa kamu sedang tidur sekarang? Atau tidak." Iota memberi sindiran.
"Aku gak tidur." Violetta.
"Lihat.. tuh, makan aja sambil tidur terus jalan sambil tidur, giliran pas tidur dia malah mati suri." Setelah puas meledek, little Iota memberi olok-olokan menjulurkan lidahnya.
"Iota.. stop!" Violetta terpejam kesal.
"Ingat waktu dikelas deh, Violetta apakah kamu begadang semalam? Terus dia jawab, gak bu.. wajah aku memang begini sejak lahir. Begitu katanya." Isyana pun ikut-ikutan mengolok-olok Violetta.
"Lucunya melihat rasa frustasi dari muka minim ekspresi itu." Dan Iota ikutan ngatain lagi.
"Bagus! Ya.. sekarang si jenong dan loli kerjasama buat mengolok-olok aku." Keluh Violetta.
"Sudah.. sudah.. hihihi, maksudku sudahlah jangan mengolok-olok satu sama lain, oke." Bahkan dewi Eris yang melerai tak sengaja tertawa karena sulit menahannya ketika gadis-gadis didepannya bertindak sangat lucu dan jenaka.
Suara pun menginterupsi sebelum semua semakin gaduh diantara para gadis yang satu meja dengan dewi Eris, adalah pidato kepala sekolah sendiri. Bersamaan dengan itu suasana sedikit hening dan hampir semua murid menyimak santai.
"Mohon perhatiannya.. para siswa juga guru." Kepala sekolah menyela acara makan siang yang santai.
"Kemarin malam.. kita dikejutkan oleh teror pemantra. Terduga masih belum ditemukan dan sedang dalam penyelidikan korps polisi militer kerajaan. Tolong agar lebih tenang karena para ahli sedang dipanggil untuk memulihkan kutukan."
Begitulah seru kepala sekolah yang berpidato. Memberi tanda bahaya sekaligus rasa tenang sebagaimana tugasnya sebagai kepala sekolah.
"Ya.. ampun? Kok aku berasa kaya dejavu." Bisik Satella.
Sementara yang lain menyimaknya dengan serius, pendengaran Satella seakan terdistorsi. Dan yang Satella dengarkan hanyalah..
Bla.. bla.. bla..
Semua seperti angin lalu, semua kembali normal ketika..
"Untuk siswi tahun ketiga yang bernama, Satella." Kepala sekolah mengumumkan, hampir semua terdiam disini.
"Bisa keruangan kepala sekolah sehabis jam makan siang." Kepala sekolah mengumumkan, gemuruh suara semakin riuh setelahnya.
"Oh tidak! Ini terjadi lagi." Gumam Satella.
Lantai tujuh.
Berada di lorong lantai tujuh yang bergerak menuju ruangan kepala sekolah. Yang menemani sekarang adalah dua orang, terlihat tiga gadis berjalan di lorong. Dua gadis, satu yang berambut silver satunya pirang molek dengan kunciran disebelah kanan, model rambut cantik juga lucu.
Kemudian..
Berada didepan pintu.
"Aku tunggu sini, ya." Kata dewi Eris.
"Aku ikut!" Minerva dengan sorot matanya yang tajam nan tegas.
"Tapi." Satella bengong.
"Biar ada yang belain, kan aku juga termasuk saksi mata." Kata Minerva.
"Oh.. iya juga." Satella.
__ADS_1
Akhirnya Satella masuk kedalam ruangan kepala sekolah, kali ini dia tidak sendirian. Loop kedua telah terjadi perbedaan, pengetahuan Satella di loop pertama membuat tindakan berbeda. Tindakan yang diambil Satella merubah alurnya.
Ruang kepala sekolah.
Satella mulai melangkah kearah depan. Sementara kepala sekolah terduduk dimeja dengan kacamata baca dan koran.
"Sudah datang? Gak ketuk pintu terlebih dulu." Kepala sekolah pun memberi teguran.
"Eh.. maaf, aku lupa." Satella sedikit canggung.
Satella duduk dikursi. Minerva berdiri menyender di rak buku didekat meja kepala sekolah.
"Dan kenapa nyonya yang satu ini ikutan masuk?" kepala sekolah memberi protes.
"Aku saksi mata pak! Salah besar kalau kesaksian dariku diabaikan begitu saja." Tegas Minerva.
"Tapi apakah.. anda sudah belajar tentang tatak rama terhadap guru apalagi kepala sekolah? Nyonya muda." Balas kepala sekolah.
"Iya itu aku paham, tapi. Aku gak seneng lihat orang lain disalahkan secara sepihak! Kalau aku emosi, bisa-bisa lantai ruangan ini runtuh kebawah loh." Balas Minerva.
"Aku ini kepala sekolah loh!"
Kepala sekolah memukul meja dan tidak senang dengan keberadaan Minerva diruang ini. Minerva tegas mendeklarasikan diri sebagai juru bicara bagi Satella sekaligus saksi mata yang hadir di lokasi kejadian.
"Langsung ke intinya saja! Ya.. apa alasan Satella dibawa kesini?" Tanya Minerva.
"Tapi urusan saya dengan Satella." Kepala sekolah bersikeras, sengaja menunda sampai orang kecuali Satella untuk keluar.
"Tentang penyerangan ular balisik kan?" Minerva menekan.
"...." Kepala sekolah bungkam. Diam sebagai upaya untuk menunda lagi.
"Bagaimana dengan Jason! Dialah yang memanggil ular balisik." Kata Minerva. Atas pernyataan itu lalu kepala sekolah mulai buka suara.
"Saksi mata melihat Jason berada disana, tapi Jason juga korban sama seperti yang lain." Kepala sekolah bilang.
"H~~huh apa.. korban?" Minerva tersentak kaget sambil menahan kepalan tinju yang bisa kelepasan kapan saja. Kepalan tangannya bergetar kuat dan keras.
"Jason tidak menyerang siapapun sehingga dia tidak bisa dijadikan tersangka." Jawab kepala sekolah.
"Serius!" Minerva dengan wajah terlihat murka.
"Kenapa? Tidak terima." Sahut kepala sekolah.
"Lalu setelah ini apalagi?" Minerva mulai menaikkan nadanya.
"Bisakah anda pergi dulu! Supaya saya bisa menanyakan sesuatu pada Satella." Tegas kepala sekolah.
"Biar ku tebak! Anda akan bertanya kepada Satella. Apa kamu pemantra yang terlibat dalam kasus kutukan kemarin malam?" Jelas-jelas ular balisik pelakunya." Tegas Minerva yang tidak suka dengan keputusan kepala sekolah yang enggan untuk menetapkan Jason sebagai suspect.
"Tapi, beberapa saksi mata bilang kalau ada sosok caster yang telah menyerang beberapa murid dengan sihirnya. Menurut saksi mata sosok caster sangat persis seperti Satella." Kepala sekolah bilang.
"Itu bukan Satella, tapi pangeran kegelapan." Minerva membantah pernyataan kepala sekolah.
"Saksi mata bilang begitu jadi yang saya bisa adalah mencurigai Satella untuk sekarang ini." Kepala sekolah dengan pemikirannya.
"Eh!" Minerva diam sesaat dengan aura neraka meluap disekitar tubuh atletisnya.
Minerva memasuki mode murka.
"Ye.. sibeg*k." Gumam Minerva.
"Permisi?" Ucap kepala sekolah.
"Eh.. sibeg*k! Udah tua bangka terusnya be~~bebal banget lagi pemikirannya." Gumam Minerva. Ucapan Minerva adalah buah dari rasa murkanya yang ditahan.
"Aku ini kepala sekolah loh."
"Aku ini kan juga saksi! Dengar ya.. Satella bersamaku terus ya.. Satella bukan pelaku, tapi Jason." Minerva mengulang pernyataannya lagi.
"Aku tidak bisa menjadikan Jason tersangka." Kata kepala sekolah.
Yang dikatakan kepala sekolah membuat Minerva sangat murka. Perlahan melangkah menuju pak kepala sekolah dengan emosi jiwa yang memuncak.
Apa yang terjadi ketika Minerva berada pada mode murka..?
Saksikan.
__ADS_1
~bersambung~