Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
ribuan orang tidak menyadari


__ADS_3

Ruang perjamuan.


Keadaan berlalu sampai malam keempat. Inilah batas waktu yang tidak pernah bisa dilewati Satella sebelumnya. Apakah Satella bisa memanfaatkan segala sumberdaya kekuatan yang ia peroleh kali ini.


Berbeda dari putaran waktu yang sebelumnya, malam ini akademi diselimuti kedamaian. Nuansa rasa damai tenteram yang gagal didapat pada loop waktu sebelumnya.


Raut wajah murid-murid terlihat sangat damai dengan perasaan sukacita. Seorang gadis berambut silver lah yang telah berkorban mendapatkan kondisi ideal seperti sekarang. Ribuan orang tidak menyadari pengorbanan apa yang sudah dilakukan oleh Satella.


Bermain restart lalu mati dengan beberapa cara. Mati terbakar, lalu tersengat dan yang terakhir kena goresan bilah belati yang diolesi racun balisik. Pada akhirnya yang Satella mau hanya hari kelima.


7.40


Tiba-tiba Jason naik keatas mimbar yang biasanya kepala sekolah pakai untuk pidato. Jason berjalan sambil membawa kantung sihir.


"Apa ada yang menyuruhnya untuk melucu?" Seru kepala sekolah yang duduk bersama para guru. Karena loop waktu kali ini sangatlah damai, tidak ada prasangka dipikirannya kepala sekolah.


Sementara kelompok Eris order mengikuti acara makan malam dengan duduk bersama. Satella sedang duduk dimeja lain hanya seorang diri. Mungkin kalau hari kelima bisa dilewati, mungkin pertemanan akan didapat Satella.


Berdiri diatas mimbar guru Jason mendeklarasikan diri.


"Saya mendeklarasikan diri saya sebagai pemimpin akademi Griffin quen! KALIAN BISA PILIH INGIN BERGABUNG DAN SELAMAT ATAU MATI DIEKSEKUSI!" Ujar Jason yang telah mendeklarasikan dirinya sebagai perebut kastel akademi.


Jason mengangkat kantung sihir kemudian mengeluarkan sesuatu yang ada didalam.


Jason mengeluarkan batu katalis pemanggilan. Adalah batu kristal dengan fungsi sumoned monster. Akan tetapi bisa saja mahluk lain yang dipanggilnya.


Jason mengangkat batu katalis itu untuk memamerkannya.


Suara gemuruh berisik yang resah kian terdengar. Tindak-tanduknya Jason telah membawa keresahan di kastel akademi sihir ini. Para guru juga kepala sekolah kini berdiri dengan kondisi siaga. Mereka kini memandang Jason kurang waras.


"AKU PERSEMBAHKAN! Inilah dia pangeran kegelapan." Tau-tau sosok yang telah memakan tumbal siswi yang bernama Rika pun muncul. Kemunculannya sebagai pangeran kegelapan yang telah lama tiada.


Bellatrix telah muncul kembali..


Katanya.


Disamping Jason hanyalah doppelganger Bellatrix. Sementara sosok Bellatrix yang asli berada didalam liontin jimat emas yang malam ini dikenakan Satella.


Satella adalah orang pertama yang berdiri dari kursinya. Untuk dia seorang, wajahnya sangat tenang.


Jason kembali melanjutkan..


"Namaku bukan Jason."


"Namaku Snape! Aku dulunya itu teman sekelas Bellatrix, aku adalah tangan kanan pangeran kegelapan. Aku pengguna sihir kultivasi yang sudah hidup selama empat ratus tahun lebih." Ujar Snape.


Jason mendeklarasikan dirinya sebagai Snape.


"...." Kepala sekolah bungkam saja untuk loop kali ini. Beberapa guru tercengang tanpa bingung harus berkata apa.


Satella satu-satunya orang yang berjalan menuju mimbar. Semua orang tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Hanya Satella yang tahu jelasnya. Satella sedikit terpejam, menaruh jari telunjuk dikepala sampingnya, konsentrasi.


Satella memulai telepati..


"Halo dewi Eris, lepas Phoenix nya. Lepaskan sekarang!" Bisik Satella dengan sihir telepati. Satella tahu betul kalau tidak lama lagi Snape akan memanggil ular balisik.


"Tidak ada jawaban?" Ucap Snape, menaruh ujung jari dikuping nya.

__ADS_1


"Jangan bilang ini prank." Kepala sekolah versi loop keempat, tidak menyadari apa yang terjadi.


Karena tidak menyadari, para guru sihir terlalu tenang. Para murid pun tampak tenteram tanpa kepanikan.


Snape melihat Satella melangkah menuju kearahnya. Snape berdiri diatas mimbar semakin tersulut emosinya saat melihat sosok yang membuat rencananya acak-acakan.


"DIAM DITEMPAT!" Snape teriak sambil menunjuk kearah Satella.


Satella tak mengindahkan perintah Snape, malah terus saja melangkah menuju mimbar.


"Mendekatlah Phoenix ku." Bisik Satella, memberi mantra perintah.


Disaat yang sama Snape memakai mantra perintah kepada peliharaan miliknya. Adalah ular balisik yang dipanggil dengan mantra perintah selaku pemilik peliharaan sihir.


"Ngomong-ngomong dimana dia menyimpan balisik selama ini ya?" Gumam Satella, nada berbisik.


"KUBILANG DIAM DITEMPAT!" Gertakan kembali diberikan oleh Snape yang kian panik.


Satella merogoh magic bag miliknya untuk mengambil benda. Kantung kain yang berwarna hitam, segera mengeluarkan pedang keramat nya.


Griffin sword dikeluarkan..


Alih-alih menenteng magic rod layaknya mage pada umumnya, Satella menenteng pedang mistik.


"MUNDUR!" Gertak Snape.


Satella tak peduli dengan gertakan Snape, terus melangkah. Satella menenteng Griffin sword ditangan kanan, sementara tangan kirinya diulurkan kearah depan. Satella memakai tangan kirinya untuk pertahanan diri. Tapi bagaimana caranya untuk memakai tangan lentiknya yang lemah gemulai tuk pertahanan diri.


Kita lihat...


"MUNDUR LAH GADIS CECUNGUK!" Snape kian kesal dan menggertak terus kepada Satella yang terus saja melangkah kedepan.


Kekesalan Snape mencapai puncak karena peringatannya tidak diikuti Satella. Snape bersiap melakukan gertakan keras dengan lesatan sihir.


Fire bolt !!


Baut api ditembak secara beruntun oleh Snape. Satella menyulap perisai es ditangan kirinya, baut api sukses ditahannya. Baut api diresapi oleh perisai es menjadi uap udara hangat.


Frost shield !!


Kemudian Snape berniat untuk memakai sihir petir, yaitu kontra element dari es. Snape menembak baut petir melesat menuju Satella. Pada awalnya perisai masih kuat menahan karena yang menyerang adalah sihir ringan. Snape terus melesatkan sihir petir beberapa lesatan hingga menembus perisai. Setiap dua baut petir dilesatkan, perisai es pecah, setiap perisai es pecah Satella menyulap ulang perisainya. Pertarungan agak alot.


Lightning bolt !!


Orang-orang menonton ini segera berdiri dari duduk. Makan malam menjadi terlupakan karena situasi mulai rusuh. Beberapa orang yang sudah berdiri, wajahnya resah.


Satella melepas serangan balasan dengan menembak baut es, Snape mengelak. Ini hanya pengalihan supaya Satella bisa menyulap lagi perisai es hingga empat stack. Pertarungan terjadi cepat dan juga singkat. Beberapa orang takut.


Electo bolt !!


Sihir petir tingkat empat Snape keluarkan. Ini menembus semua perisai es yang di stack. Perisai menjadi pecah, baut petir level menengah menembus tubuhnya Satella menyengat secara telak.


"Kya... Sakit!" Jerit Satella, dengan tubuhnya terhentak kebelakang.


Satella terlentang ditanah dengan efek shock ditubuh. Efek shock nya membuat syaraf tubuhnya menolak menerima perintah dari otaknya untuk bergerak. Satella merasakan sensasi setrum dan kejang-kejang.


Beberapa murid makin resah lalu memutuskan untuk meninggalkan ruang perjamuan. Akan tetapi saat keluar, dihadang oleh sekelompok magic caster profesional. Kekuatan mage yang masih ada di masa-masa pendidikan tak mungkin melawan mage profesional. Murid yang tadi pergi dari pintu keluar pun masuk kembali karena takut dengan yang menghadangnya.

__ADS_1


Suara gemuruh jeritan...


Satella masih terlentang dengan kepala menengadah keatas karena sulit bergerak. Bahkan leher saja susah untuk digerakan, Satella terkena stunt dalam waktu lama.


Sekumpulan murid yang gagal tuk kabur akhirnya mereka berkumpul ditengah. Beberapa yang ketakutan bersembunyi dikolong meja. Tetapi beberapa siswa laki-laki mencoba melawan, walaupun mereka sia-sia.


Beberapa siswa ceroboh dengan keberanian, lari menuju ke posisi Satella. Mereka melesatkan sihir dengan sihir yang mereka bisa. Lesatan sihir ditembak dengan serentak, awalnya Snape masih sempat balik dengan baut sihir.


Siswa akademi yang melesatkan sihirnya kearah Snape itu terlalu banyak. Rentetan sihir kian deras menghujani Snape, tiap waktu keberanian siswa sihir bertambah seiring satu demi satu siswa yang berani dan inisiatif maju. Makin banyak siswa yang maju semakin memancing keberanian yang lain. Siswa yang awalnya takut menjadi berani karena pengaruh tadi.


Snape merunduk dan berlindung dibalik meja mimbar. Derasnya lesatan sihir yang ditembak dari segitu banyaknya siswa membuat Snape kesulitan melawan balik.


Tetapi Snape tetaplah lebih kuat..


Kepala sekolah dan guru lainnya menyimpan sihirnya. Mengirit kondisi gerbang sihirnya dan juga mana point mereka. Sementara umpatan kesal Snape luapkan.


"MATILAH KALIAN KENCUR!" Umpat Snape bernada kesal.


Kemudian Snape menyuruh siluet hitam untuk membalas. Bellatrix melesatkan sihir tingkat empatnya kearah para siswa. Petir itu melesat dan merambat seperti akar yang merambat kesegala arah. Kilatan mengakar dan mengenai beberapa orang dalam sekali giliran.


Forked lighting !!


Petir menggelegar...


Beberapa siswa terkena efek kejut kilatan petir. Mereka pun terbaring dilantai mati rasa karena sihir yang berlevel empat itu. Beberapa siswa dengan build cleric tidak berani untuk mengobati yang kesakitan.


Satu tembakan petir bercabang membuat sebagian besar takut kembali. Sementara itu dibarisan belakang berbaris resah karena sekumpulan mage berjubah yang memaksa masuk. Pada khirnya tak ada lagi perlawanan.


"HAHAHA." Snape tertawa menang.


Sementara itu.


Minerva dan kawan-kawan masih duduk menyaksikan situasi yang semakin rusuh. Muncul lagi rasa keberanian dibarisan depan yang melesatkan lagi sihir. Sementara barisan belakang masih berdiri terdiam menatap barikade mage berjubah hitam, para dead eater.


"Apa Satella baik-baik saja?" Kata Minerva dengan gelisah. Membuka pembicaraan setelah hanya diam menonton.


"Mana kutahu? Tapi jujur Satella sangat berani, gak bisa ungkapin dengan kata-kata aku tuh. Soalnya mulut toxic ku gak pantes komen orang yang udah berani berkorban seperti itu." Komentar Isyana.


"Ayo kita kabur." Keluh Satella.


"Gak bisa Iota! Kita kejebak disini, jalan keluar dijaga sama peneror." Minerva mengomeli little Iota.


"Violet.. tolong! Bagaimana dengan Satella." Minerva meminta bantu Violetta dengan skillnya.


"Dimengerti." Sahut Violetta.


Violetta melakukan penerawangan untuk mencari lokasi Satella, yang terhalang kerumunan murid baik yang tergeletak ataupun melawan balik. Penglihatan Violetta menjadi penerawangan, mata fisiknya telah terpejam berganti dengan indera penerawangnya yang mistis.


Violetta melihat kelokasi didekat mimbar, ada beberapa siswa sedang terbaring. Mereka terkena disable alias tidak bisa gerak sementara. Butuh mage type cleric agar bisa memulihkan mereka dari dampak shock sihir lightning. Violetta pun menemukan lokasi Satella berada.


Kemudian penglihatan mistisnya diarahkan kebelakang, yaitu pintu keluar. Pintu keluar ada beberapa mage berjubah hitam, penutup kepalanya berbentuk kerucut yang lancip. Berbeda dengan dibarisan depan, murid didekat pintu keluar tidak berani melesatkan sihirnya.


Penerawangan berakhir..


"Aku temukan dia!" Seru Violetta, suaranya persis pengisi suara pada acara paranormal di tv.


"Oh goddess.. suaramu! Suaramu sangat mirip seorang paranormal Violetta, nakutin aku aja dasar kamu mata sayu!" Minerva mengomel setelah Violetta membuatnya takut dengan suara ala paranormal.

__ADS_1


Mereka berempat berniat untuk menghampiri Satella, setelah salut akan keberanian Satella diawal.


~bersambung~


__ADS_2