
Iota diomeli karena memotong arah cerita Violetta. Segalanya kembali tenang. Satella yang belum sempat dipersilahkan duduk memilih untuk berjongkok dengan siku tangannya menyender dimeja panjang, ruang kebutuhan dan lutut menempel karpet.
"Ini kisah tentang masa pangeran kegelapan, era kelam." Violetta pun memulai.
"Pangeran (putri) kegelapan punya banyak pengikut. Dead Eater yang tidak terkalahkan, sampai-sampai keluarga kerajaan dan royal guard yang setia pun mengungsi ke tanah antah berantah. Para mage tak ada yang berani melawan kengeriannya pangeran kegelapan. Empat ratus tahun yang lalu akademi Griffin dikalahkan oleh dead Eater dalam sekejap. Pangeran kegelapan sukses mengklaim atas kekuasaan di tanah ini, selama puluhan tahun lamanya."
Sekian cerita dari Violetta baru saja setengah jalan. Satella merenung sambil mengingat-ingat kilas balik.
[Satella : Ledakan yang waktu itu, ingatan siswa yang mencuri artefak sihir sage diary. Mungkin ledakan diruang perjamuan adalah waktu dead Eater menyerang akademi.] 🙄
Yang Satella pikirkan adalah fakta yang dikisahkan Violetta dengan penerawangnya via psikometri sangat lah cocok.
"Bagaimana pangeran kegelapan dikalahkan?" Tanya Iota.
"Yah, itu Violetta, Isyana juga pengen tahu." Kata Isyana.
"Sabar, ya!" Balas Violetta, model poni panjangnya yang menutupi sebelah mata mempertegas karakter wajah Kuudere yang cool dan apatis juga acuh dari Violetta.
"Pangeran kegelapan telah disegel kedalam bola kristal. Bola kristal sukses mengurung jiwa pangeran kegelapan." Kata Violetta.
"Siapa yang menyegel?" Tanya Iota.
"Entahlah, pahlawan yang sukses menyegel pangeran kegelapan tidak terlalu terkenal. Konon katanya dia membuat sebilah pedang mistis berkekuatan roh dengan potensi white magic yang besar. Kalau aku tidak salah namanya Gandalf, dia menyegel pedang di alun-alun ibu kota. Orang adil dengan level karma yang tinggi bisa menariknya kata dibuku. Tapi sampai sekarang tak satupun yang sukses menariknya.
"Gandalf menamakan pedang itu sebagai, justice sword." Violetta.
"Tapi." Violetta mengangkat tangan untuk melanjutkan.
"Pangeran kegelapan telah membagi jiwanya kedalam tujuh benda. Kalau bola kristal yang ada di departemen sihir dihitung maka jiwa nya telah dibagi delapan potong." Violetta masih menjelaskan.
"Delapan fragmen jiwa?" Gumam Satella.
"Tepat!" Tiba-tiba secara dramatis Violetta menggebrak meja, sukses membuat semua kaget.
"Kya ... Copot." Jerit Satella.
"Jantung aku sampe shock tau gak!" Protes Satella, melotot sebal kearah Violetta. Mengelus dada agar detak jantungnya tenang kembali.
"Maaf." Ucap Violetta.
"Horcrux, atau fragmen jiwa Semua itu gunanya untuk menghidupkan kembali pangeran kegelapan." Kata Violetta.
"Sudah empat ratus tahun berlalu, dead Eater tidak menghidupkan pangeran kegelapan lagi. Artinya mereka sudah musnah kah?" Ucap Satella, berkomentar.
"Siapa bilang?" Balas Violetta.
"Hah?" Satella bengong.
"Barang kali pengikut pangeran kegelapan memakai sihir kultivasi supaya masih hidup hingga saat ini bukan?" Violetta ngasih argumen.
"Orang-orang pasti melupakan kisah tentang pangeran kegelapan." Satella komentar.
"Fakta fragmentasi jiwa pangeran kegelapan masih tersebar di suatu tempat, membuat orang-orang masa kini waspada. Sejarah masih terus diturunkan loh." Bantah Violetta.
Kemudian Violetta memunculkan sebuah buku sejarah. Ditaruhnya diatas meja, pada halaman awal terdapat ilustrasi yang nunjukin gambar fotografi sihir wajah juga wujud pangeran kegelapan sendiri.
"Loh ... mirip aku?" Satella kaget.
"Itu gak mungkin. Stella bukanlah pangeran kegelapan." Bantah Iota.
"Sudah jelaskan!" Kata Minerva.
"Neruva, jangan gitu sama Tella ya." Protes Iota.
"Berisik cadel." Minerva marah.
Dengan lidah cadelnya Iota selalu salah mengeja nama teman-teman yang dia kenal. Seperti menyebut Minerva menjadi Neruva, Satella menjadi Tella, Isyana jadi Sahna. Violetta menjadi Yuleta. Cadelnya sungguh serasi dengan perawakan super mungil Iota.
Bahkan diusia 18 tahun, Iota hanya setinggi 145cm.
"Beri tahu sista galak ini dewi Ilis." Dengan cadelnya Iota memanggil dewi Eris sebagai dewi Ilis.
"Aku tidak galak! Maksudku, sudah lah!" Minerva marah-marah lagi karena ulah Iota yang membela Satella.
"Tolong maafkan aku Minerva." Permintaan tulus dari Satella.
"...." Minerva buang muka atas ketulusan Satella, membalasnya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Ayolah jangan egois." Dewi Eris menekan Minerva.
"Kamu harus bisa terima tulusnya Tella oy, Neruva!" Iota menekan.
"Em." Minerva buang muka sambil masang wajah cemberut.
"Ayo baikan." Violetta memberi dorongan pada Minerva.
"Ego mu itu besar! Kebangetan aja kalau menolak permintaan tulus Satella." Isyana memberi dorongan kepada Minerva untuk berbaikan.
"Tuh ... kan Neruva. Bener tuh kata Sahna." Iota bilang.
Alih-alih menerima dengan hangat permintaan maaf Satella, Minerva dengan egonya menolak pernyataan Satella yang tulus. Akhirnya bikin Minerva jadi murka. Memukul meja dengan tangan atletisnya, Minerva mengumpat sebelum pergi.
"Kenapa sih kalian lebih membela anak bau bawang ini daripada aku!" Sentak Minerva, memukul meja beberapa kali. Galaknya Minerva membuat ciut Iota dan Isyana lalu Violetta menekuk bibirnya karena kemakan sentakan Minerva yang bikin shock. Satella menundukkan kepala kelantai bagaikan anak kecil dimarahi ibunya. Sementara dewi Eris hanya geleng-geleng kepala sambil mengelus dadanya yang agak ikutan kena efek shock terapi dari sentakan Minerva yang murka.
Minerva sudah meninggalkan ruangan.
"Ya ... ampun ya ... ampun. Apa boleh buat." Dewi Eris pun geleng-geleng kepala karenanya.
"Dasar, perawan emosian." Sindir Isyana.
"Apa boleh buat." Violetta minjam kata-kata dewi Eris, mata indigo Violetta terpejam dengan lekukan bibir nan legowo.
"Neruva, dasar emosian! Semoga kelak dia gak jadi guru, bakalan jadi sosok guru killer." Iota menyender disofa dengan gestur lelah.
"Kalau Minerva itu kepala sekolah ataupun wakil kepala sekolah. Aku bakalan pindah sekolah." Satella ikutan komentar.
"Apa boleh buat." Balas Violetta menanggapi Satella.
"Well ... Minerva itu punya sisi manis loh, tunggu tanggal mainnya." Dewi Eris bilang.
"Aku gak bisa bayangin deh aku dibelai Minerva. Ku ... ku ... ku ... lucu, kikikik, lucu, lucu. Minerva punya sisi manis." Satella menanggapinya dengan tawa cekikikan.
"Apa boleh buat." Violetta menghela napas seraya bayangin kegalakkan Minerva yang pemarah.
"Hora ... Satella itu orangnya baik kurasa, semuanya mohon perhatian sebentar, ya!" Pinta dewi Eris dengan suara manjanya menagih perhatian para siswi sihir imut. Menepuk tangan.
Prok ... prok....
"Ya ... dewi Ilis?" Sahut Iota.
"Disini aku mau demokrasi. Kalian beri pendapat ya! Satella boleh gak gabung di kelompok kita?" Tanya dewi Eris.
"Aku sih seneng-seneng aja Tella gabung kesini." Iota mem vote.
"Aku sih yes." Violetta mem vote.
"Kalau dewi Eris bilang baik, ya artinya dia baik. Aku setuju Satella gabung sama kita." Isyana memilih.
"Selamat datang di kelompok kita, Satella." Sambut dewi Eris.
"Yeay." Satella berjingkrak sekali mengangkat kepal tangan keatas, bersuka cita.
"Hebohnya." Gumam Violetta.
"Norak!" Sindir Isyana.
"Maklum, dia kan nolep, jarang ada temen." Iota.
"Astaga." Satella menyentuh dada seakan kena sakit jantung sebagai gestur termakan ledekan.
"Sakitnya tuh disini." Gumam Satella.
"Hihihi." Dewi Eris tertawa kecil sambil menutup bibirnya dengan ujung jari tangan.
Satella kini telah diterima oleh kelompok siswi penghuni ruang kebutuhan. Keberedaan ruangan rahasia dimonopoli oleh mereka. Barangkali ada beberapa siswa mengetahui ruangan ini dari peri tanah. Yaitu Dolby si peri tanah yang bekerja sebagai petugas kebersihan di kastel akademi sihir Griffin quen. Pendatang akan diusir secara halus.
Dan kebetulan....
Satella melihat sendiri caranya kelompok siswi ini mengusir siswa lain. Mereka menjaga rahasia dari keberadaan ruang kebutuhan.
Main ular tangga.
"Jadi apa nama kelompok kita?" Tanya Satella. Sambil mengocok dadu pada permainan ular tangga.
"Eris order." Jawab Isyana.
__ADS_1
"Apa?" Satella.
"Iya, karena dewi Eris yang pertama ajak semuannya kesini." Isyana bilang.
"Penamaan hanya untuk keren kerenan saja sih." Ucap Violetta dengan nada pemalas.
"Hora ... jangan terus terang begitu dong Violetta." Protes Isyana.
Tiba-tiba seseorang masuk..
"Astaga ini mengagumkan." Seru siswa laki-laki yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan ini.
"Ya ampun, ya ampun, terulang kembali deh." Seru dewi Eris.
Siswi laki-laki tingkat akhir pun melangkahkan kaki mendekati anggota Eris order yang berkumpul dengan tentramnya. Dan tentunya keberadaan siswa yang datang itu merusak ketentraman para gadis.
"Hai gadis-gadis, apa kabar." Sapa siswa lelaki tak dikenal itu.
"Tugasnya Minerva." Bisik Violetta.
"Gak ada Minerva repot juga, sebab cuma dia yang galaknya gak bisa ditandingi." Sahut Isyana.
"Kita apakan nih cebong yang satu ini!" Iota menanggapi.
"Gini aja deh, siapa yang diajaknya bicara pertama dia yang mengusir." Usul dewi Eris.
"Hai rambut ungu." Sapa siswa laki-laki, melambaikan tangan kearahnya Violetta.
"Astaga ... repot deh." Terpejam mata sayu nya, Violetta menghela napas dengan mimik penuh kebosanan.
"Emang ini udah jadi spesialisasi Violetta sih." Gumam Isyana.
"...." Satella yang bingung nampak bengong dan menonton.
Violetta berjalan kearah siswa tadi hingga saling berhadapan. Sekarang Violetta menanggapi anak laki-laki tadi dengan mata sayu dan mimik penuh kebosanan yang menjadi bawaan lahir.
"...." Violetta melambaikan tangan tanpa bicara. Mengandalkan wajah diam yang minim ekspresi sebagai pesonanya khas miliknya yang cool.
"Eng ... anu, siapa namamu gadis cantik." Sapa siswi itu.
"Violetta."
"Nama yang indah, dan perkenalkan namaku Stuart." Siswa mengulurkan tangan, menagih jabat tangan. Dan disambut oleh jabat tangan Violetta yang super dingin.
"Tatap aku Stuart." Kata Violetta.
"Ya." Sahut Stuart.
"Tatap mata saya!" Pinta Violetta, memberi sugesti hipnosis.
"...." Stuart menatap fokus.
"Ruang kebutuhan itu tidak ada Stuart! Kamu telah dibohongi dan kamu akan lupa tentang ingatan sejam kebelakang!" Violetta telah memberikan sugesti.
"...." Stuart mengangguk dengan tatapan kosong.
"Kamu gak tau siapa aku!" Sugesti dari Violetta.
"Sekarang kembali saja ke asrama, Stuart!" Ujar Violetta.
Akhirnya siswa tersebut pergi meninggalkan ruang kebutuhan dengan keadaan linglung. Satu lagi telah diboikot dari ruang rahasia. Hanya kelompok Eris order yang memonopoli ruang rahasia ini.
"Excellent." Puji dewi Eris seraya bertepuk tangan untuk Violetta.
"Kelen banget Yuleta." Seru Iota. Sambil mengangkat kedua tangan keatas dengan gestur selebrasi.
"Good Violetta." Isyana mengangkat jempol, nyengir kepada Violetta.
"Tadi itu, hipnotis?" Tanya Satella.
"Iya ... pintar." Jawab dewi Eris.
"Giliran siapa ini!" Seru Iota.
"Abis aku siapa?" Kata Satella.
"Itu aku." Kata Violetta.
__ADS_1
Violetta mengocok dadu. Satella semakin akrab dengan seluruh anggota kelompok dewi Eris. Saking senangnya Satella bermain dengan mereka semua sampai lupa waktu.
~Bersambung~