Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Vexana


__ADS_3

Satella hendak membujuk dua bangsawan penyihir yang bertengkar beradu gengsi. Kedua putri bangsawan itu menoleh kearah Satella, seperti melihat monster. Itu respon pertama yang dilihat Satella, hingga dia menyadari bahwa orang yang ditakutkan mereka berada dibelakangnya.


"Kalian kenapa?" Satella bengong.


"Itu!" Salah satunya menunjuk kearah belakang Satella. Gadis kuncir dua agak gemetaran seperti melihat monster.


"Ara...." Sebelum menoleh, hanya terdengar suara lembut seorang putri.


"Siapa kamu?" Satella dengan agak resah.


"Perkenalkan namaku Vexana, mage ahli sihir-sihir gelap.


Tersenyum jahat.


Vexana.



Hanya penyihir biasa. Rambutnya hitam memiliki putih susu yang lebih pantas tuk dikagumi daripada ditakuti. Walau postur tubuhnya sedikit lebih ramping, ia tidak memiliki tanda-tanda kalau ia keturunan monster atau iblis. Misalnya tak bertanduk tidak memiliki atribut bahwa ia keturunan monster atau iblis. Lantas kenapa mereka kelihatan ketakutan.


Wajahnya bengong saat memikirkan itu.


"Hai kuping lancip." Vexana menyapa.


"...." Napasnya terdengar imut, wajahnya sangat imut, Satella hampir seperti gadis kecil daripada remaja.


"Mau mengikuti turnamen, kurasa kamu belum cukup umur." Vexana tertawa.


"Usiaku 18 kok." Satella dengan nada polosnya.


"Aku tidak yakin," ucap Vexana.


"Pulanglah, nanti takutnya kamu ngompol di celana setelah melihat kerasnya turnamen." Vexana tertawa ngakak.


Starla mengerutkan keningnya, geram atas penghinaan terhadap kakak kembarnya.


"Kakakku itu mage paling hebat loh dasar wicth!" Satella bernada protes, kepalanya seolah berasap.


"Ara ... Ara...." Vexana malah terkekeh seolah tidak menanggapi serius.


"Ternyata kalian kembar toh." Vexana menutupi bibirnya dengan ujung jari saat menahan tawa.


"Minta maaf pada kakakku cepat!" Sentak Starla.


Lain cerita dengan kakak kembarnya yang menatap adiknya, menasihati.


"Kamu tidak boleh menyebut orang lain sebagai witch tau!" Omel Satella menatap galak kearah adiknya.


"Tapi, kak...."


"Tuh dengar kata kakakmu, nyonya kecil. Diriku sampai geli membayangkan kalian menguatkan diri setelah takut dan trauma dengan turnamen sihir." Vexana terkekeh kesekian kalinya, seolah tidak menerka kekuatan dua monster kecil yang bertubuh mungil dihadapannya.


"Berhenti meremehkan kami, Ya!" Starla semakin geram, mengepalkan tangannya.


"Anu, kalian hentikan." Gadis berambut ikal bor itu terlihat gelisah.


"Hei, Vexana. Kupikir kamu tidak ikutan karena sudah terlalu kuat." Esmeralda pun seolah ketakutan atas partisipasi Vexana.


Sementara itu....


Nightingtale yang memantau dari kejauhan merasa kalau putri tuanya baik-baik saja mengobrol dengan sesama putri penyihir lainnya. Memakai binokular untuk melihat, memantau putri kembar tuanya.


Kemudian.


"Sudah, aku gak akan membuang waktuku dengan mengobrol dengan orang-orang seperti kalian. Sudah tahu akan ku kalahkan tapi masih nekat untuk ikut turnamen ini." Dengan penuh kesombongan, penyihir berambut hitam melontarkan argumennya.


Kemudian dua orang lainnya datang.


"Oh, kalian lama sekali." Vexana melihat kearah dua orang itu.


"Luna elf, Elsa," ucap Vexana.


Luna elf.



Seorang remaja berdarah campuran elves dengan manusia. Memiliki rambut pirang sedikit bergelombang diujung nya. Postur tubuhnya lebih tinggi dan berisi kalau itu dibandingkan Satella.


Elsa.



Gadis berambut hitam dengan wajah khas orientasi ala kepulauan Amaterasu. Postur tubuhnya lebih jangkung daripada Luna elf.


.

__ADS_1


.


Starla sangat tidak menyukai remaja yang bernama Vexana itu. Menggertakan giginya, memandang sinis gadis angkuh itu. Kalau tidak dijaga kakaknya, Starla cenderung berbuat sesuai amarahnya. Memang itulah adalah. Begitulah watak Starla.


Starla itu panas, Starla adalah nama bintang yang bersinar sangat panas.


Starla mengarahkan telunjuknya kearah Vexana.


Berniat menembak api sebesar korek api untuk membalas dengan mengusili. Starla benar-benar ingin membuat malu seorang yang sembarangan memandang kakak kembarnya tercinta. Starla menembaknya.


Api sebesar lilin melesat, itu pasti akan membakar pakaiannya.


Api kecil melesat kearah bokong Vexana, niatnya Satella adalah membakar busana bawah Vexana.


Tau-tau Vexana menoleh, menangkap api kecilnya dengan telapak tangan lalu segera mengepalkan tangannya dengan gestur seolah telah menangkap serangga.


"Walah ... sihir macam apa ini?" Vexana memberikan mimik meledeknya, seolah matanya menatap lucu seorang pelawak.


"Mau membakar gaunku ya anak kecil?" Vexana dengan nada mengolok-olok.


"Aku bukan anak kecil tau!" Starla sangat geram, membentak lawan.


"Anak kecil," ucap Vexana.


"Starla...." Satella mengusap punggung adiknya lembut, ingin menenangkan.


Kala Vexana dan dua lainnya sudah jauh berjalan, tau-tau dibuat berbalik karena tindakan sembrono Starla.


Fire bolt !!


Starla menembak baut api secara serentak kearah Vexana.


Tau-tau Vexana memunculkan barrier berwujud bayangan hitam. Magic barrier berbasis dark magic pun menahan sihir tingkat rendah dari Starla.


"Apa!" Esmeralda dan Guinevere terkejut melihat aksi nekat Starla.


"Walah ... bakal serumit yang sudah-sudah nih." Satella menggelengkan kepalanya.


Terakhir kali melihat adiknya berbuat onar adalah saat desa milik rumah bangsawan Charlotte hancur.


Adalah saat teman-temannya di bully oleh sihir overpower Starla. Berakhir semua jadi menyalahkan kakak kembarnya karena ia wajahnya sangat identik.


Adalah kerusuhan diarena koloseum.


Vexana menyeringai.


"Walah ... bisa-bisanya sihir tingkat satu memiliki damage sebesar ini. Kamu punya kualifikasi untuk menantang ku berduel. Itupun jika kamu mau." Vexana memberi tantangan. Alih-alih marah, Vexana malah bergairah. Merasa sangat tertantang oleh kekuatan didepannya.


"STARLA!" Satella memberi teguran.


"Tenang aja, kak." Starla dengan nada uring-uringan.


"Tidak, bukan begitu dik. Nanti aku lagi, disalahkan ayah atau kakak Diana, dasar!" Satella dibuat kesal oleh adik kembarnya.


Vexana dari jarak agak jauh memandang kearah Starla. Telunjuk diangkat, digerakan sebagai gestur meminta Starla datang.


"Ayo, maju, kalau mau." Vexana dengan nada lembut seolah ingin memberi kasih sayang daripada bertarung.


Memang seperti itulah karakter suara dari Vexana.


Vexana memiliki karakter suara yang manja dan sangat keibuan, walau ia masih remaja.


Satella memegang bahu Starla dengan tangan lentiknya. Tau-tau adik kembarnya sudah melesat dengan flyng magic yang berbasis element asap. Akhirnya Satella dibuat kesal, lagi.


"STARLA!" Satella berteriak marah.


*Pertempuran dimulai....


Inilah duel sihir*.


Starla melaju dengan flyng magic nya.


Sejak terakhir berduel dengan saudari kembarnya, Starla sangat ahli dalam flyng magic nya. Sekarang Starla sudah tambah ahli lagi dalam hal manuver.


Vexana terkejut.


Elsa melempar belati sihir kearah Starla. Kecepatan manuver Starla sangat tinggi sehingga belati tidak kena sama sekali.


Varertyr spear !!


Vexana menyulap tombak element angin. Rentetan tombak angin melesat menuju Starla yang bermanuver. Manuver sihir terbangnya cepat, sampai-sampai tombak angin tidak mengenai. Saking intens nya rentetan tombak angin, sampai-sampai menyakiti Starla. Itu mengenai bahunya sehingga meninggalkan luka sayat tipis.


Juga mengenai paha kiri, pundak tangan sampai perut kanan.


Kemampuan manuver Starla sangatlah jagoan. Saking ahlinya, ratusan tombak element angin hanya kena beberapa saja. Apabila menyerang orang lain, mungkin serangannya sudah menewaskan instan.

__ADS_1


Saat jaraknya sudah dekat, ada api yang membakar kedua tangannya.


Itu bukan seperti tangannya dibakar oleh mantra api musuh, itu sihir Starla sendiri. Starla memusatkan sihir api ditangannya. Kedua tangannya seolah terbakar bara api yang besar, berkobar liar.


Starla melempar api yang semula berada ditangannya. Api kembar melesat kearah ketiga mage yang sedang ia tantang itu.


Api kembar, yang satu berwarna hijau dan satunya berwarna biru. Ketika api kembar bertubrukan, menciptakan sihir dahsyat.


Fire pilar !!


Tornado api tercipta akibat api kembar bertubrukan.


Kedua sekutu Vexana terhempas, satu ke kanan dan satunya ke kiri. Vexana sendiri terjebak didalam tornado api, entah efek seperti apa yang ada didalam pusarannya.


Tornado itu sangat dahsyat. Tingginya itu mencapai tujuh meter sementara lebar dan panjang sama-sama dua meter saja.


Butuh waktu belasan detik hingga apinya padam lagi.


Orang-orang yang ada disana, terdiam menyaksikan sihir dahsyat yang Starla tunjukkan.


[Satella : Tukang pamer.] 😑


Tapi....


Kala tornado apinya berakhir, yang dilihat Starla adalah sekumpulan perisai hitam membentuk formasi palang. Tumpukan perisai berproperti darkness menutupi pengguna nya. Fakta bahwa serangannya gagal, bikin Starla kesal setengah mati.


"Kenapa, kenapa tidak bisa mencapai ku. Anak kecil yang menyebalkan." Vexana memberi olok-olokan setelah Starla gagal mengenainya.


"Gess." Starla mendesis kesal, mengepal tangannya.


Starla membuat api merah scarlett yang biasanya ia pakai untuk memproyeksikan senjata proyeksi. Api hitam Scarlett Starla proyeksikan menjadi busur jenis long bow.


Starla menggenggam busur panjang. Ia dengan mudah memproyeksikan arrow sebanyak yang ia mau. menarik busurnya, membidik lawannya yang membuatnya merasa kesal. Starla melepas anak panah.


Vexana melesatkan tombak angin kearah Starla. Anak panah Starla tidak pernah bisa mencapai Vexana, karena itu pecah atau meledak saat beradu dengan tombak angin Vexana. Orang-orang terpukau atas sihir mengagumkan yang mereka tonton itu.


"Boleh juga, anak kecil." Vexana tertawa dengan sinis.


"Aku bukan anak kecil!" Starla membalas dengan membentak kesal, tangannya pun menyapu angin.


"Sekarang giliran ku," ucap Vexana.


Vexana memakai sihir buff yang bisanya disebut dengan sihir akselerasi. Alih-alih memakai flyng magic seperti lawannya ia memiliki gaya bertarungnya sendiri yang cenderung lebih darat. Dikatakan darat dikarenakan movement speed dari sihir akselerasi tak sebanding dengan cepatnya flyng magic. Apalagi flyng magic Starla merupakan yang tercepat dikelas remaja.


Mungkin selevel dengan mage dewasa dengan pengalaman yang banyak.


Starla diam ditempat sambil menembaki dengan busur panjang tanpa henti kearah Vexana yang melakukan sihir akselerasi.


Berkelok, meliuk-liuk bagai ular sampai melakukan lari zig-zag untuk menghindari lesatan anak panah Starla.


Magic archer di counter sihir akselerasi.


Lesatan keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan. Semua lesatan melaju sangat cepat namun dapat meleset kala dihadapi dengan sihir akselerasi yang sangat cepat lajunya. Pinggang Vexana sangatlah lentur saat meliuk menghindari lesatan anak panah Starla. Meski seorang mage, dodge rate Vexana seperti assassin.


[Satella : Orang itu mage atau assassin?] 🙄


Bahkan Satella yang bertanggungjawab mengurus adik kembarnya, tak bisa lagi mengatur-atur adik kembarnya itu. Starla mengabaikan teguran kakak kembarnya.


Akhirnya Starla berduel sengit dengan seorang mage yang bukan sembarangan.


Starla melompat kesamping kanan kala menghindari tombak angin.


Lompatan atletik yang dipadukan dengan tenaga sihir asap yang ditembakkan dari telapak kakinya.


Lesatan panah sihir dibalas tombak angin sihir, saling menghindar juga.


Vexana berhasil memperpendek jaraknya bersiap melepas sihir pengekang ataupun semacam kutukan.


Shield imprison !!


Vexana memakai sihir pengekang yang berbasis dark magic.


Sekumpulan perisai bayangan hitam itu mengurung Starla. Masing-masing perisai diikat kencang dengan rantai berwarna bayangan hitam gelap. Seolah diikat amat kencang. Bunyi dentuman besi muncul karena Starla memukulnya dari dalam.


Belati yang Starla proyeksikan dari api berwarna merah scarlett gagal merusak pengekang nya.


Muncul banyak tombak bayangan hitam. Tombaknya akan ditusuk melalui celah perisainya. Seperti peti eksekusi mati pada abad pertengahan. Korban dikurung dan ditusukkan besi-besi tajam kedalamnya.


Satella kian panik, khawatir dengan yang menimpa Starla.


"HENTIKAN!" Satella berteriak sekeras mungkin.


Seperti menjerit sejadi-jadinya.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2