Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
Bakat sihir air


__ADS_3

Satella terbaring dikasur merintih.


"Aduh ... aduh, sakit...." Satella pun mengeluh.


"Permisi." Suara orang dari balik pintu.


"Siapa itu?" Tanya Satella.


"Ini aku, Rika...." Seru Rika.


"Oh, masuklah, Riko kucing!" Pinta Satella.


"Rika oy ... aku ini Rika ya tuan...." Protes Rika, kemudian membuka pintunya dan segera masuk kamar.


"Ada apa?" Tanya Satella.


"Aku ingin melihat keadaan tuan." Jawab Rika.


"Huhuhu ... sakit, aduh sakit aku sakit." Keluh Satella.


"Aku udah belajar ilmu sihir air penyembuh selama satu tahun loh. Bolehkah aku mencoba pulihkan lukanya tuan Stella?" Tanya Rika.


"Ya udah cepet, sakit nih." Satella merintih terasa pilu di tubuhnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rika, ia memegang tangannya Satella untuk diperiksa. Rika mengelus lembut kulitnya Satella, Satella mengeluh kesakitan saat kulitnya tersentuh.


"Dimana saja bagian yang sakit?" Tanya Rika.


"Sekujur tubuh." Jawab Satella.


"Kenapa sebelumnya tidak datang saja ke tabib?" Tanya Rika.


"Nanti ketauan kalau sebabnya itu karena berkelahi. Nanti bakalan celaka deh." Jawab Satella.


"Maaf tuan, kamu harus melepas pakaianmu supaya tidak basah karena terkena sihir element air." Pinta Rika.


"Harus begitu?" Satella ragu.


"Kalau tidak mau ya tidak apa-apa, nanti tinggal mengganti gaunnya." Kata Rika.


"Baik, sebentar." Balas Satella.


Skip....


Satu hari telah berlalu semenjak Satella melakukan duel adu sihir dengan adik kembarnya.


Sore harinya Satella pergi menuju halaman belakang mansion untuk latihan sihir. Biasanya Margareth berada disana dan berlatih pedang. Margareth sudah tidak belajar lagi dengan guru pedangnya karena ia sudah berada ditingkatan master dalam ilmu berpedang. Sebut saja Margareth sudah sabuk hitam pada ilmu pedang tradisional.


Saat Satella menginjak batu-batu setapaknya, ia melihat beberapa sanak saudara yang merupakan anak-anak dari keluarga cabang.


Seperti biasa, Rika sedang berlatih bersama Margareth.


"Kalian." Sapa Satella.


Rika terlihat kelelahan sementara Margareth napasnya masih sangat panjang. Kemampuan berpedang mereka memang seperti bumi dan langit. Melihat datangnya Satella, Margareth menghentikan latihan.


"Sepupu Stella...." Sahut Margareth.


"Tuan, hehehe." Entah kenapa Rika menjadi cengar-cengir saat melihat tuannya, seolah berimajinasi.


Rika memandang Satella kemudian sedikit membayangkan tangan yang telapak nya menyentuh punggung yang mulus. Hidung Rika menjadi mimisan karenanya.


"Itu, hidung kamu?" Ucap Satella, menunjuk kearah Rika.


"Ya ampun ... apa semua ini salahku ya, terlalu enerjik." Seru Margareth.


"Bukan kok, bukan." Jawab Rika yang menggaruk belakang kepalanya.


"Hei Riko kucing." Seru Satella.


"Aku Rika!" Protes Rika.


"Iya Rika." Satella terkekeh.


"Apa, tuan?" Tanya Rika.


"Aku juga bisa sihir air, sihirku ini dapat memulihkan tubuh dari rasa lelah loh." Kata Satella.


"Serius?" Rika cengar-cengir.

__ADS_1


"Mau coba?" Tanya Satella.


Skip....


Masih berada dihalaman belakang. Rika duduk dengan kaki menyilang sementara Satella dibelakangnya dengan lutut menyentuh rumput. Satella menaruh telapak tangannya dipunggung Rika. Rika terpejam pertanda menikmati efek sihir air.


"Tuan jago banget, rasa lelahku jadi hilang dan staminaku pulih." Rika tersenyum senang.


"Anu, Rika, aku mau tanya." Ucap Satella.


"Silahkan tanya tuan." Balas Rika.


"Sihir air penyembuh tidak perlu melepas pakaian kan. Aku baca pengetahuan itu dibuku barusan." Satella bicara sambil memalingkan wajahnya, padahal wajahnya tidak menatap Rika.


"Eh, tuan tau itu." Rika memasang ekspresi kaget dan cemas.


"Semalam kamu pake trik jahil, ya?" Tanya Satella.


"Anu." Rika gelisah.


"Dasar kucing bandel." Ucap Satella, wajahnya memerah.


"Berani lakuin trik jahil seperti itu sekali lagi, nanti aku jitak!" Ancam Satella, dengan mimik polosnya.


"Eh ... dasar majikan yang polos." Bisik Rika pada dirinya sendiri.


"Kucing nakal, kucing nakal, kucing nakal, kucing nakal, kucing nakal, kucing nakal." Ceracau Satella.


Rika terkekeh.


Sekali lagi Rika alias Riko kucing sedang berimajinasi.


Dalam imajinasinya kedua telapak tangannya menyentuh punggung mulus. Kala itu ia kembali teringat momen ketika sedang melakukan sihir air pemulihan kepada Satella. Satella posisinya sedang duduk membelakangi Rika. Punggungnya yang mulus tak tertutup sehelai benangpun. Dalam imajinasinya, Satella beberapa kali terlihat malu, memanggil namanya dengan nada yang sangat malu-malu.


"Nada malu-malu, sangatlah indah." Pikir Rika, dengan berbisik kepada dirinya sendiri.


Hidungnya mimisan lagi, imajinasi Rika dihentikan oleh nada seruan Satella dari belakangnya.


"Hei ... Rika." Seru Satella.


"Iya, tuan." Balas Rika, bernada sedikit kaget.


"Kenapa jadi plin-plan? Waktu itu katanya tuan minta supaya aku menjadi kesatria, sekarang minta sebagai tabib?" Tanya Rika.


"Tidak apa-apa, seorang kesatria dengan ilmu pedang sekaligus kemampuan tabib apa salahnya?" Balas Satella.


"Akan ku turuti tuan." Balas Rika.


"Kucing penurut, kucing yang baik." Seru Satella sambil mengelus bulu diatas kepala Rika dengan lembut.


Atas perlakuan seperti itu, hidung Rika alias Riko semakin deras saja mimisannya.


"Manis, manis, manis, manis, manis, manis, manis, manis." Ceracau Rika.


Skip....


Makan malam.


Keluarga sedang makan diruang makan. Mansion yang besar ini memiliki lebih dari satu ruangan makan. Dimeja makan, Satella dan adik kembarnya sedang bersama kakak keduanya. Di sana juga ada Historia berada ditengah sebagai penghalang antara Satella dan juga Starla. Makanan tradisional bagi  bangsawan pada umumnya.


"Sebentar lagi kalian akan mulai bersekolah. Kalian aku daftarkan disekolah sihir yang berbeda loh." Diana memulai bicara.


"Sekolah yang berbeda?" Gumam Satella.


"Kak...." Seru Historia mengangkat tangannya.


"Iya, dik?" Sahut Diana.


"Kenapa kita semua harus sekolah ditempat yang berbeda?" Historia bertanya.


"Well ... kakak ingin supaya kalian bertiga menjadi juara disekolah masing-masing. Biasanya akan ada piala api untuk kompetisi siswa penyihir dibeberapa sekolah, aku kepengen kalian mewakili sekolah masing-masing nanti." Ujar Diana.


"Susah ngebayangin si kembar ini dipisahkan." Diana terkekeh.


Sekilas Diana memperhatikan dua adik kembarnya. Kemudian Diana melihat ada keanehan disana.


"Kenapa, apa kalian berdua sedang bermusuhan?" Diana fokus kepada kedua adik kembarnya.


Kedua adiknya saling diam, Diana menghela napas berat.

__ADS_1


"Apa kamu tau sesuatu, Historia?" Diana mengorek informasi.


"Akhir-akhir ini mereka seperti sedang berkompetisi kak. Mereka seakan bersaing untuk menjadi penyihir yang paling hebat, kak." Jawab Historia.


"Huh ... kalian lupa ya. Kalian lupa betapa lengketnya kalian berdua ketika kecil?" Kata Diana, terkekeh.


"Starla udah gak nurut lagi sama Stella. Itulah yang bikin Stella jadi kesel, kak Diana." Ujar Satella.


"Bukan gitu, Starla cape karena keseringan nurut sama kak Stella.  Sekali-kali kak Stella harus mau mengandalkan Starla. Jangan lagi menganggap Starla itu gak bisa apa-apa ya kak! Starla tau Starla kecilnya cengeng, penakut, kurang guna bagi kakak yang waktu itu senang berpetualang ke lokasi yang jauh dari rumah. Starla pengen menjadi figur yang ada disamping kakak Stella, jangan lagi sering ninggalin Starla kaya dulu lagi ya akak...." Curhat Starla.


"Sudah-sudah, akrab lagi kaya dulu kalian." Ucap Diana.


"Kak Stella, kak Starla, kak Diana, makan yuk." Historia bertingkah manisnya.


Skip....


Rika kucing berdiri didepan pagar mansion sambil menatap kereta kebangsawanan yang mengangkut Satella. Tatapan rasa kesepian pun terpancar dimatanya.


"Ada apa?" Diana mendatanginya.


"Kapan Stella akan pulang?" Tanya Rika kucing.


"Sepuluh bulan lagi." Jawab Diana.


"Lamanya...." Seru Rika.


Terpancar kesepian dalam sorot matanya Rika kucing.


"Jangan sedih." Bujuk Diana.


"Kak, apakah manusia hewan itu pantas untuk manusia?" Rika pun bertanya dengan wajah sedihnya.


"Maksudnya?" Tanya Diana.


"Misalnya kakak Diana, maksudku tuan majikan kalau melihat lelaki manusia pasti memandang indah. Dibandingkan dengan laki-laki dari ras manusia, aku ini membuat jijik bukan?" Ujar Rika.


"Kamu naksir aku?" Diana bergurau dengan wajah pura-pura terkejut.


"Bukan kak, maksudku bukan tuan majikan tapi tuan Stella." Jawabnya.


"Oh, kamu naksir adikku? Sudah pubertas ya kamu? Tapi adik aku butuh seratus tahun lagi untuk pubertas, elves itu pubertas nya sangat lama tau." Kata Diana.


"Aku keburu dikubur kalau harus menunggu seratus tahun." Rika dengan ekspresi wajah bermasalah.


"Masyarakat tradisional elves akan menganggap laki-laki ras lain yang menikahi elves berusia 20 hingga 30 tahun sebagai pedofil loh." Diana bergurau lalu tertawa terbahak-bahak.


"Kalau tuan majikan menjadi tuan Stella pasti lebih menyukai sosok laki-laki manusia ketimbang sosok laki-laki manusia hewan. Adalah sesuatu yang aneh kan, bagi kalian memandang demi-human?" Tanya Rika, sambil menunduk minder.


"Aku rasa iya." Jawab Diana.


"Walau nyatanya seperti itu, aku sangat mengagumi sosoknya tuan Stella." Kata Rika.


"Mau jadi pengikut setia adikku. Kalau aku jadi adikku, memiliki seorang dengan figur fetisme itu kesannya menggemaskan dan juga manis loh." Diana memberikan pendapatnya.


[Note : Fetisme adalah pemuja setia.]


"Bisa disisi tuan Stella saja sudah untung. Dulu tuan Stella kecil lah orang yang menyelamatkan diriku dari neraka kehidupan." Curhatan Rika, tatapan sedikit menunduk.


"Berbuat baiklah kepada adikku. Dengan begitu aku merasa senang." Ucap Diana, terdengar tulus.


"Tuan Stella memintaku menjadi seorang tabib sekaligus kesatria." Curhat Rika, seolah Rika sedang menyampaikan arah tujuannya.


"Bagaimana bila aku daftarkan dirimu di akademi sihir. Akan ku danai. Kamu sekolah di akademi berbeda dengan adikku supaya nantinya terkesan surprise banget." Diana menawarkan kebaikan.


"Dengan begitu aku bisa menjadi seorang tabib." Ujar Rika, seolah melihat seberkas cahaya didepan matanya.


"Iya, tentu." Diana.


"Kalau aku sudah menjadi tabib terhebat, aku akan mengembalikan biaya sekolahnya." Kata Rika.


"Gak perlu." Balas Diana.


Skip....


Beberapa bulan telah berlalu sejak saat itu. Rika kucing kini sudah jadi siswa sihir. Rika berada dikelas untuk praktik sihir air. Rika sangat rapih dengan kemeja putih dengan lambang sekolah sihirnya. Satu-satunya manusia hewan yang belajar disekolah sihir ini.


Dimeja tergeletak seekor pig dengan luka sayat dalam. Tugas murid-murid adalah menutupnya dengan sihir air penyembuh agar sayatan dagingnya menutup. Walau lukanya fatal tapi b*bi percobaan masih hidup. Sebelum tubuhnya disayat, mereka dibius dulu. Rika cukup ahli dalam bidang sihir air penyembuh. Rika jadi siswa yang pertama selesai dalam praktik.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2