Legenda Naga Indosiar

Legenda Naga Indosiar
rencana matang lebih ok


__ADS_3

Green Apple village.


Satella masih duduk dikursi taman kecil tersebut. Duduk manis Satella menendang-nendang kakinya amat imut seolah ia ada dipinggir kolam renang menendang-nendang air. Lamunan imutnya dikejutkan oleh tukang gali yang menemukan peti kayu kuno didalamnya.


"Hai.. putri kecil, aku menemukan kotak kayu." Seru penggali.


Satella melompat dari kursi taman seperti anak kecil imut bukannya gadis remaja dewasa. Iya janganlah menilai Satella sebagai tidak dewasa. Sebab imutnya membuat gadis yang seumuran dengannya terasa seperti sudah tante-tante. Saking imut dan telat matangnya rupa Satella itu.


"Iya.. tunggu." Satella berlari kecil.


"Tapi, apa kamu membawa kunci untuk membuka gembok petinya, putri kecil?" Tanya penggali.


"Menjauh dari peti itu!" Satella bersiap membuka paksa.


"Ha? Kenapa putri kecil." Penggali menjadi bingung.


"Pokoknya minggir!" Satella maksa.


"Tapi."


"MINGGIR CEPAT argh." Satella pun menyentak emosi.


"Ba~~baiklah putri kecil." Penggali segera mundur dari peti kayu.


Satella bersiap membuka peti kayu secang paksa. Membentuk baut es, alih-alih menghancurkan gembok besinya Satella malah berniat untuk menghancurkan peti kayunya.


Belasan baut es melayang diudara. Setiap baut es ukurannya setara genggaman tangan. Dalam sekali hentakan tangan rentetan baut es melesat menghancurkan petinya.


Ice bolt !!


Suara yang dihasilkan seperti peti kayu dihantam kapak dua tangan ala suku viking dengan unit pasukan berseker. Peti kayu malah tertutup kabut es tebal yang tebalnya bikin Satella gak bisa lihat apa peti kayu sudah terbuka atau malah belum.


Uap es meluap keatas. Satella pun melangkah mendekati, menunggu kabut es nya menghilang dari peti.


Beberapa saat kemudian...


"Paman.. ini uangnya." Satella pun memberikan beberapa koin silver yang telah ia janjikan sebelumnya.


"Terimakasih putri kecil." Setelah penggali itu menerima upahnya itu Satella segera meninggalkan desa.


Karena Satella telah membayar upahnya secara penuh, dia segera menutup lagi lubang galiannya seperti yang telah disepakati.


"Selamat tinggal paman." Sahut Satella, melambaikan tangannya.


Satella segera berubah kewujud merpati hitamnya. Dalam wujud merpati Satella pulang dengan cepatnya menuju kastel akademi. Kemampuan merubah wujud ini sangatlah efektif bagi Satella. Ini memakan mana cost yang lebih sedikit daripada skill teleportation.


[Note : skill teleport makan mana point yang banyak, malah seorang magic caster akan tinggal setengah saja mana point nya setelah sekali pakai skill teleportation ini.]


Terbang mengudara meninggalkan desa yang adannya di dekat Ivalice city. Ivalice city itu kota yang ada disebelah tenggara nya Geffenia. Berarti sekarang Satella berwujud merpati sedang terbang menuju kearah utara untuk menuju kota Geffenia lagi, tepatnya sekolahnya.


Skip..


Kamar asrama putri.


Satella kini berada didalam kamar asramanya. Sudah duduk manis dikursi yang menghadap ke meja riasnya, meja dengan cermin itu. Sambil duduk Satella memegang liontin jimat emas. Yang Satella lakukan adalah duduk dan akan melakukan lagi skill mediumship.


"Ah.. aku haus."


A few moments later...


"Sekarang aku siap!" Satella mulai konsentrasi dengan mediasi dengan pecahan roh didalam benda mati yang disebut horcrux ini.


Mediumship !!


Satella kembali memasuki dimensi yang persis seperti yang didatangi pada loop waktu yang sebelumnya.


Dimensi ini wujudnya sangat luas seperti aula besar yang lebih besar lagi dari aula yang sangat besar.


[Note : aula outdoor.]

__ADS_1


Sebuah marmer kotak-kotak warna abu-abu. Setiap kotak dari lantainya sangatlah besar. Menoleh kesegala arah hanya ada kabut putih seperti awan sepanjang mata memandang.


Setelah Satella melihat-lihat area kabut putih ini akhirnya Satella berhenti menoleh kesegala arah. Penyebabnya adalah sosok orang berjubah abu-abu gelap, kepalanya ditutupi jubah kerucut di kepala. Sosok berjubah itu memegangi tingkat sabit ala malaikat maut.


"Masih sama saja." Komentar dari Satella, ia pun melangkah maju.


Akhirnya Satella tiba di sebuah gelaran handuk. Sebuah mayat seukuran genggaman tangan itu bergelung diatas handuk hangat merintih. Napasnya sesak hingga sosok itu harus berjuang untuk sekedar bernapas saja.


Mahluk itu tidak hidup juga tidak mati. Jazad manusia yang terkena dampak kutukan sihir gelapnya sendiri. Pada loop kedua Satella memberanikan diri, kini memiliki keberanian yang lebih baik lagi.


Karena Satella berani menyentuh mayat setengah hidup terkutuk itu maka kemunculan Bellatrix entah bagaimana dipercepat.


Tengkuk Satella jadi merinding seperti ditiup uap es, itu efek dari memegang benda mengerikan itu.


[Author : jenglot hidup dipegang sampai diangkat loh, bandel.] 😬


"Menjijikkan bukan."


Spontan Satella menaruh sosok menjijikkan juga mengerikan itu diatas handuk kembali. Satella menoleh ke sumber suara, yang dilihatnya adalah sosok Bellatrix.


"Iya memang.. kalau boleh jujur. Ngomong-ngomong apa kabar." Satella menyapa Bellatrix seraya melambaikan tangannya.


"O~~key baik tapi, kenapa kamu memandangku biasa saja? Karena kupikir kamu akan takut." Itulah kata-kata balasan Bellatrix.


"Kenapa aku harus takut?" Satella bertanya balik.


"Iya karena aku dulunya, apakah kamu tahu." Bellatrix bilang.


"Biasa saja." Balas Satella.


Bellatrix tercengang atas reaksi Satella itu, mulutnya menganga selama beberapa saat sebelum.


Prokk..


Ia menepuk tangan kemudian menanggapi dengan.


"Well.. kamu menarik! Namamu adalah." Bellatrix berhenti disini, nunggu Satella memperkenalkan dirinya.


"Satella.. ya. Jadi gadis yang punya rupa mirip denganku ini namanya Satella." Respon Bellatrix.


"Aku janji akan membantu kamu menyatukan jiwamu kembali agar kutukan itu berakhir." Kata Satella.


"Apa? Jadi.. kamu mau buat janji denganku bahwa kamu akan bantu aku. Begitu kan?" Balas Bellatrix.


"Bukan! Maksudku." Ucap Satella, mengoreksi.


"Aku tidak mau membuat janji tapi mau menepati janji. Sebelum ini aku sudah berjanji padamu." Kata Satella.


"Apa? Yang benar? Yang ku ingat diriku tidak pernah membuat janji apapun denganmu sebelumnya." Bellatrix sungguh mengangkat bahunya, dibuatnya jadi bingung.


"Kamu tidak perlu membuat janji denganku. Karena aku sudah buat janji denganmu." Jawab Satella.


"Apa? Tunggu dulu, ya.. aku disini tambah bingung jadi, gimana bisa kamu bilang tidak perlu buat janji karena kita sudah membuat janji. Disini aku bingung! Jelas-jelas kita belum bikin janji apapun." balas Bellatrix, mengerutkan keningnya.


"Inilah yang disebut paradox waktu." Kata Satella.


"....." Bellatrix diam.


"Percayalah! Kita tidak boleh bikin janji karena aku sudah mempunya janji padamu. Karena Kalau kali ini aku buat janji denganmu, aku punya dua janji yang harus aku penuhi." Jawab Satella.


"Apa?" Bellatrix bingung.


Bellatrix terdiam beberapa saat sebelum berkomentar.


"Well.. sejujurnya aku gak ngerti kamu ngomong apa, tapi kamu itu orangnya cukup nyentrik dan juga cukup unik. Sepertinya kamu juga anaknya masih polos. Baik kalau kamu mau nya begitu ya sudah. Serterah padamu mau melakukan apapun itu." Balas Bellatrix.


"Janji yang kamu maksud, imbalan apa yang aku janjikan padamu itu didalam janji kita?" Tanya Bellatrix.


"Tidak ada." Balas Satella.

__ADS_1


"Serius! Mana mungkin." Bellatrix mengedutkan alisnya.


"Kamu pikir aku serakah!" Balas Bellatrix dengan raut kesal.


"Aku tidak bilang. Aku juga tidak berfikir kamu serakah." Satella memberi jawaban.


"Janji macam apa itu? Mustahil aku setega itu, aku meminta bantuan tanpa menawarkan imbalan, yang benar saja! Aku yakin aku bukanlah orang seperti itu." Tegas Bellatrix.


"Dalam janji kita." Satella bersuara.


"Kamu menawarkan imbalan pada ku, tapi aku menolaknya karena ku murni ingin menolong. Kamu tidak salah kalau bicara siapa yang salah akulah yang salah." Balas Satella.


Untuk kali kedua Bellatrix dibuat tercengang oleh Satella.


"Serius." Bellatrix tercengang.


"Well.. kamu ini unik. Dimasa ku hidup dulu, gak ada satupun yang seperti kamu tau gak! Benar-benar cuma satu satunya didunia ini dan gak ada Satella yang lain." Bellatrix dengan mimik terkagum kagum.


"Tapi." Potong Satella.


"Tapi kenapa? Mau bilang semua dikenakan syarat dan ketentuan." Balas Bellatrix.


"Bukan! Tapi, aku cuma mau bilang kalau salah satu horcrux milikmu berada ditangan Jason. Maksudku Snape, dia memakai nama Jason sebagai kedok penyamaran." Ujar Satella.


"Jangan-jangan dia Jason yang aku kenal." Ucap Bellatrix.


"Snape akan muncul dua hari lagi untuk menumbalkan seorang agar bisa menciptakan siluet hitam yang berwujud dirimu. Semua dilakukan melalui horcrux mu dengan wujud fisik sebuah cincin." Kata Satella.


"Jangan-jangan yang kamu maksud adalah doppelganger diriku." Ujar Bellatrix mengoreksi.


"Oh jadi siluet hitam itu bernama doppelganger." Seru Satella.


"Sosok bayangan hitam tiruan dari wujud seseorang itu disebut dengan doppelganger tau." Kata Bellatrix.


"Snape juga akan mengeluarkan balisik." Ujar Satella.


"Kepada siapa dia akan pasangkan cincin horcrux ku?" Tanya Bellatrix.


"Siswi tahun ketiga yang bernama Rika." Jawab Satella.


"Kalau gitu kamu menyamar saja menjadi Rika." Usul Bellatrix.


"Apa? Menyamar." Sahut Satella.


"Jangan bilang kamu belum pernah bikin ramuan polyjus." Bellatrix.


"Oke nanti bikin, akan ku cari tahu." Balas Satella.


"Lalu kekuatannya? Apalagi." Tanya Bellatrix.


"Dia punya peliharaan yang bisa diperintah berupa ular balisik, sih, tapi tenang karena aku seratus plus satu persen yakin bisa mengatasi mahluk itu." Ujar Satella.


"Kalau bisa kamu harus punya Phoenix." Saran Bellatrix.


"Kenapa? Untuk lawan ular balisik kan, aku yakin aku menang lawan mahluk itu tanpa punya peliharaan Phoenix kok." Balas Satella.


"Sebisa mungkin kamu harus! Ya punya Phoenix, itupun kalau kamu mampu mendapatkannya. Well.. kamu gak akan menyesal nurutin saranku! Nanti akan kuberi tahu langkah yang akan kamu lakukan dengan Phoenix dan ular balisik. Percaya, kamu akan untuk seribu persen deh." Ujar Bellatrix.


"Itu aja sih, yang penting itu dulu kamu lakukan! Jadi, good luck oke." Kata Bellatrix.


"Oke sampai nanti." Balas Satella.


"Oh iya hampir lupa, kalau kamu gagal menemukan panduan cara membuat ramuan itu, kamu bisa mendapat bukunya diruangan perpustakaan pribadi ku, di desa green Apple tepatnya. Soalnya ramuan seperti itu dibatasi banget peredarannya dimasa ini." Ujar Bellatrix, lagi.


"Oh.. baiklah." Balas Satella.


"Tahu dimana rumahku? Oh aku sangat tahu kamu tahu, ada lantai dengan akses jalan rahasia untuk menuju ruang bawah tanahnya. Kutahu seratus persen kamu bisa menemukannya tanpa diberitahu deh." Terang Bellatrix.


"Baiklah."

__ADS_1


Pertemuan pun berakhir dengan Satella mengakhiri mediumship, segera tersadar penuh.


~bersambung~


__ADS_2