
Ruang perjamuan.
Ruang makan besar untuk acara makan bersama adalah ruangan sangat luas. Kapasitas ruang ini mencapai ribuan. Disinilah suatu pertempuran berlangsung antara seorang yang berniat menguasai dunia. Ia ingin menjadikan sekolah sebagai tempat percetakan laskar tempurnya, karena akademi sihir sangat berpotensi baginya untuk menjadi kekuatan tempur kubunya.
Satella memulai inisiasi tempur dengan beraninya. Sukses untuk memancingnya keberanian murid sihir lainya untuk melawan balik. Tetapi berakhir dengan Satella terkena efek kejut sihir lightning.
Tubuhnya tersengat, kejang dan lumpuh. Ini bukan seperti kena senjata stunt gun, ini lebih sakit, jauh-jauh lebih sakit karena ini adalah sihir tingkat menengah.
Pertempuran dimulai...
Kembali kepada perspektif Satella yang terbaring terlentang dilantai. Pandangan Satella remang-remang seperti gadis dianiaya lelaki, walau Satella belum pernah merasakan dihajar lelaki karena nyatanya dia cukup overpower untuk menyerang balik. Kalau Satella memakai sihir terkuatnya maka tidak ada yang selamat kecuali dirinya. Membuat semua beku dengan sihir terkuat.
Apabila Satella hanya sendiri maka akan dia gunakan sihir yang akan membekukan semuanya. Tetapi ini banyak orang disekitar yang bisa ikutan terkena dampak sihirnya.
Pandangan buram..
Tubuhnya lemas..
"Satella bangun! Hei.. cepat bangun kumohon."
Matanya buram, melihat ke atap tetapi pendengaran masih tajam mendengar. Ada yang memanggil beberapa kali, Satella masih kena terapi kejut listrik dan lemas.
[Satella : ahh... Seseorang meremas dada kiri ku.] 🤪 😖
"Masih ada detak jantungnya! Dia masih hidup.. syukurlah." Suara orang yang sama seperti yang tadi.
Siapa dia..
"Dia masih hidup!" Mengulang lagi kata-katanya, orang itu terdengar sangat senang.
"Sejak kapan kamu peduli kepada Satella? Bukankah kamu senang membuly gadis setengah matang." Suara yang lain, suara dari sosok penggerutu.
Benarkah aku masih hidup? Aku masih hidup, syukurlah...
Tiba-tiba berteriak..
"SEMUANYA AKU BUTUH CLERIC DISINI!" Suara gadis pertama itu berteriak keras, ia menjerit keras seperti auman singa.
"Jangan berisik Minerva!"
Ternyata mereka teman-teman..
"Terus gimana? Gimana caranya nolong anak ini." Minerva resah.
"Kasih napas buatan!" Seseorang memberikan saran ke Minerva.
"Yang benar saja!" Omel Minerva.
"Sungguh, aku tahu itu dari eskul palang merah." Ujarnya.
"Beneran gak ada cara lain? Masa ciuman pertamaku buat sesama cewe?" Keluh Minerva.
"Memang itulah cara bikin orang siuman." Tegasnya.
"Em, uh.. serius? I~~iya baiklah, kulakukan segera." Ucap Minerva.
Sekarang hanya terdengar suara rusuh para murid sihir.
Mulutku seperti dibuka paksa...
Bibirku basah dan hangat..
Mulutku ditiup, napas seseorang masuk kedalam mulutku, napasnya memompa tenggorokan ku...
Perasaan deg-degan macam apa ini...
Oh tidak ada lidah seseorang yang menempel di lidahku, terasa geli..
"Sekarang tekan dadanya supaya napasnya keluar, bantu dia bisa bernapas, beri napas bantuan!"
kya... Apa ini.. payudara ku terasa digenggam dan didorong-dorong, bahkan kena remas tanpa sengaja.
Napas buatan terus berlanjut..
[Satella : kok jantungku yang terasa lemas akibat efek kejut setrum kini mulai baikan. perlakuan orang itu membuat jantungku menjadi terasa berdebar-debar.] 😲 💗
Pandangan mulai jelas..
"Uhuk-uhuk." Satella terbatuk memuntahkan cairan mulutnya
"Dia sadar.. dia sadar." Minerva merasa lega, sedikit girang.
Pandangan tambah jelas, Satella mampu melihat siapa saja yang berada disekitarnya.
__ADS_1
"Eh.. kalian?" Satella mengucapkan kata-katanya.
"Apa kamu bisa berdiri?" Minerva bertanya.
"Masih lemas dong." Potong Isyana.
Satella melenguh kecil..
"Mulutku kok basah? Mulutku kok rasanya panas-panas anget gitu dan agak geli. Dadaku kok rasanya jadi tegang gini? Aku kenapa?" Satella merasa aneh dan jadi sedikit resah.
Isyana menoleh kearah Minerva sambil menyentuh-nyentuh bahu Minerva dengan telunjuk. Isyana sedikit melotot, mimiknya jengkel.
"Aku bilang! berikan tiupan udara, bukanya transfer saliva, malah tukeran air liur, emangnya mau ciuman apa?" Omel Isyana, agak sedikit toxic.
"Maaf aku gak tau, aku kan kurang ngerti caranya kasih napas buatan." Balas Minerva.
Isyana malah lanjut..
"Terus kan aku suruh dorong itu supaya bisa maksa napasnya untuk keluar, jadi udaranya bisa dipompa lagi. Bukan malah diremas-remas, kasian tuh, bukit kembarnya jadi menegang." Omel Isyana.
"Eh kok jadi malah ngomelin aku!" Protes Minerva.
Keadaan jadi tambah bising...
"Jadi aku dikasih napas buatan? Terimakasih sudah bikin aku jadi siuman." Ucap Satella, nadanya masihlah terdengar lemas.
"Eh?" Minerva menoleh dengan sedikit kaget.
Minerva menatap Satella sambil meresapi pujian itu. Minerva jadi teringat momen pemberian napas buatan, seketika ingat rasa hangat pada bibirnya. Minerva memerah pipinya, merasa malu.
"Liat tuh mimik Minerva malah tersipu malu! Jangan-jangan ya.. Minerva itu penyuka cewe lagi." Isyana mulut toxic nya kambuh segera ngatain Minerva.
"ENAK AJA! Dasar Isyana jenong, mulutnya toxic!" Omel Minerva.
Suasana tambah bising lagi...
"Datanglah padaku! Phoenix." Seru Satella, dengan nada lemah.
"Dengan berkah sihir air!" Satella dengan suara lesu, mengaliri mana menuju kedua tangannya. Kedua tangannya dialiri sihir air sekarang.
Cleric !!
Satella memulihkan diri sendiri dengan sihir air. Memulihkan lagi sistem syaraf dari lumpuh karena dampak kejut petir.
"Kamu bisa cleric? Satella sedang menyembuhkan diri sendiri." Seru Violetta, nada sedikit terkejut.
"Benarkah." Sahut Minerva.
Satella terus konsentrasi dengan kemampuan cleric nya.
Dalam sekejap keadaan berubah. Murid sihir telah menyerah karena banyak yang dilumpuhkan. Banyak murid sembunyi dikolong meja. Beberapa mengangkat tangannya.
Satella bernapas berat...
Satella berdiri, dua membantunya dengan memegang tangannya yang bertumpu untuk dapat berdiri.
"Terimakasih man teman." Satella mengukir senyum dibibir basahnya.
"Rasanya pengen kumur-kumur deh aku." Keluh Satella dengan sorot matanya yang kesal.
"Maaf." Latah, Minerva agak kaget lalu merasa malu sendiri, bahkan Minerva memegangi bibirnya saat meresapi rasa malunya.
Beberapa siswa berlutut dilantai dengan lutut menyentuh lantai dan tangan diangkat. Tetapi ia melihat beberapa siswi berdiri tegak lalu tambah geram atas perlawanan itu. Minerva dan lainnya yang masih berani berdiri menentang Snape.
"BERANI MELAWAN YA!" Sentak Snape, menunjuk kearah Minerva juga lainnya.
Satella sudah pulih dari efek shock sihir lightning. Sistem syarafnya sekarang sudah kembali normal.
"Tenagaku hampir pulih." Satella memperlebar senyumnya.
"BERLUTUT!" Sentak Snape pada kelompok Minerva.
"TIDAK SUDI!" Balas Minerva yang mengaum bagai singa betina, gagah.
"Baiklah terima ini!" Snape pun bersiap.
Violetta yang punya third eyes bisa memprediksi yang terjadi dalam beberapa detik yang akan datang. Violetta membaca bahwa wujud doppelganger Bellatrix melesatkan sihir lightning tingkat menengah.
"Minerva!" Seru Violetta.
Iris mata Minerva sedikit menoleh kearah Violetta, menyimak.
"Gunakan stone wall!" Seru Violetta.
__ADS_1
"Tahan." Seru Violetta, lagi.
Benar saja karena kedua tangannya Bellatrix mengeluarkan kilatan petir yang bercabang. Siluet mengambil ancang-ancang menembak sihirnya.
"Sekarang!" Seru Violetta.
"Baiklah." Sahut Minerva.
Secara bersamaan Minerva sukses membentuk tembok tanah yang timingnya hampir bareng dengan kilatan petir bercabang. Bagaikan petir ditangkal dan dialirkan sudah menuju tanah terserap habis.
"Great." Seru Violetta.
Phoenix milik Satella pun datang menjemput tuanya. Memberikan pemulihan kepada Satella dengan mengenakan sayapnya. Prosesnya muncul pusaran api mengelilingi Satella, uapnya memulihkan.
"Aku seger lagi." Kata Satella.
Mulai terjadi perlawanan didekat pintu keluar yang dijaga kelompok dead eater. Awalnya mereka tidak berani melawan, tapi perlawanan terjadi karena mereka ingin coba melarikan diri dari ruangan ini.
Satella balik badan, melihat barang sejenak perjuangan orang-orang dibarisan belakang. Ternyata tidak begitu berguna, Satella menjadi khawatir karena para siswa sihir ditembaki sihir sehingga banyak diantara mereka luka-luka serius.
"Yang itu tidak bisa dibiarkan!" Seru Satella, berniat mengambil langkah sendiri sesuai dengan pikirannya.
Satella akan menembakan sihir tingkat satu yang efeknya menjadi bisa membekukan seisi ruangan. Satella menembak satu proyektil pusaran bola salju. Melesat kearah sekumpulan pasukan dead eater.
Driver frost !!
Tidak! Ini lebih kuat lagi, ini lebih daripada sihir yang biasa Satella gunakan, pusaran salju berotasi sangat kencang, lesatannya cukup cepat. Lantai yang dilalui sihir ini disulap secara otomatis menjadi kristal es runcing sepanjang garis lintasan sihirnya. Mengeluarkan semprotan salju deras.
"Lebih kuat dari biasanya?" Satella terbengong heran.
Pusaran bola saljunya menabrak seseorang. Pusarannya membesar menyembur salju super dingin bervolume tinggi. Tiga detik kaki membeku, sembilan detik orang tersebut membeku. Salju es nya menyebar ke segala sudut ruangan dengan kecepatan dan volume yang tinggi. Empat puluh detik cukup untuk membekukan seisi ruangan.
Semua membeku kecuali Satella dan beberapa orang yang berdiri sangat dekat dengannya. Anehnya Snape selalu bisa survive dari pembekuan entah bagaikan caranya. Sisi baiknya semua dead eater ikut membeku.
Kini Satella hanya perlu fokus tuk menghadapi doppelganger dan juga Snape. Tapi Satella baru menyadari.
"Oh iya.. apa kalau lama-lama beku, mereka bisa mati?" Satella dengan nada yang terlalu tenang.
"Eh? Iya juga ya." Sahut Minerva.
"Satella freezing." Sindir Isyana karena keahliannya dalam hal membekukan terlewat kuat.
"Kamu mau bunuh orang-orang satu sekolah?" Omel Isyana.
"Apakah kalian bisa membebaskan pembekuan?" Tanya Satella.
Isyana menjawab.
"Aku tidak. Tapi aku tahu siapa saja yang menguasai keterampilan tuk membebaskan efek pembekuannya." Jawabnya.
"Ah.. untung aku menyadari hal ini, karena sebelumnya aku membuat ramuan cure potion, Isyana tolong." Satella merogoh kantung sihirnya.
Satella mengeluarkan botol kaca berisi cure potion. Ada empat yang diberikan kepada Isyana, kemudian Isyana memakai kedua tangannya untuk membawa semua botol kaca.
"Bantu aku." Protes Isyana.
Akhirnya Iota membawa dua botol cure potion. Iota mengikuti Isyana menyembuhkan mage penyembuh.
"Kamu serius memetik tanaman Mandagora?" Tanya Minerva.
"...." Satella pun tersenyum sambil mengangkat Griffin sword nya.
"Minerva ayo!"
Selagi Isyana dan little Iota sedang mencairkan seseorang, Minerva dan Satella juga Violettapergi menantang penjahatnya.
Mereka lari ke dekat mimbar..
Snape terkejut.
"Wow... Aku terkejut." Ujar Snape.
Satella menenteng Griffin sword dengan keberanian penuh.
"Kamu bisa survive! Kukira kamu sudah pingsan dengan sihir seperti barusan." Snape bernada kecewa.
Satella ingin melenyapkan tiruan Bellatrix, Violetta membaca itu dengan third eyes nya. Violetta memprediksi kalau serangannya Satella akan meleset. Karena skill pasive third eyes bisa memberikan prediksi tentang apakah serangan tersebut akan diblokir, dihindari resist, imune, atau weakness.
"Tidak Satella, dia bisa mengelak serangan mu." Violetta memberi prediksi third eyes.
"Ada benarnya juga sih." Prediksi Satella.
Satella paham kalau alasan di loop ketiga Bellatrix bisa dibunuh dengan telekinesis pedang. Adalah posisi menyerang penuh dimana Minerva menjadi umpan. Sekarang lain cerita, karena tidak ada yang sedang diserangnya secara all-out.
__ADS_1
~bersambung~