
Aula sekolah.
Ada banyak kursi kayu tanpa meja diruangan yang megah ini. Adalah kursi kayu panjang dan kaki-kaki besinya. Kursi yang biasa banyak terdapat di taman. Semua kursinya menghadap ke mimbar, satu tata ruang yang lantainya paling tinggi diantara sudut lainnya. Biasanya seseorang akan berpidato disana.
Yang berpidato tidak lain adalah kepala sekolah.
Yang hadir adalah seluruh pelajar tingkat tiga.
"Terimakasih atas ketertibannya murid-murid sekalian. Sekarang biarkan bapak memberikan kata sambutan. Selamat karena sudah menempuh pendidikan, juga telah mengikuti program third semester yang diselenggarakan kementerian sihir. Sekarang, formulir untuk pendaftaran turnamen sihir akan bapak bagikan.
"Selanjutnya minta persetujuan terlebih dulu dari orang tua, baru bawa kesini untuk pengesahan dengan stempel asli." Demikianlah kepala sekolah menyampaikan.
Sementara Satella duduk bersama beberapa orang yang lainnya.
"Hei ... Tella, kenapa kamu gelisah begitu?" Tegur Iota.
Minerva sedikit kaget.
"Iyakah, ada apa Satella?" Tanya Minerva.
"Semenjak adik kembarku berbuat onar kemarin. Orang-orang pada ngomongin aku. Aku jadi merasa malu kan." Keluh Satella dengan suaranya yang kurang semangat.
"Pura-pura gak tau aja." Minerva memberi solusi.
"Ih ... susah kan!" Keluh Satella.
Violetta berdeham.
"Punya solusi?" Satella menatap Violetta.
"Jenong lagi ketawain kamu tuh didalam hatinya. Puas banget dia melihat penderiatan mu." Violetta memberi tahu, lalu iris matanya bergerak-gerak sebagai gestur menunjuk kearah Isyana.
"Males ah." Sahut Satella.
"Tapi, mau hipnosis? Dengan cara hipnosis, kamu akan melupakan kenangan buruk secara instan loh." Violetta memberi usulan.
"Gak mau! Takutnya kamu jahil dengan cara menambahkan sugesti yang aneh-aneh ya!" Omel Satella.
Violetta gagal menahan lekukan dibibirnya. Akhirnya ekspresi seyuman karena gagal menahan tawanya terbentuk juga. Satella menarik napas berat dibuatnya.
Tapi bantuan datang secara tak terduga.
Suara pidato kepala sekolah kian terdengar.
"Mengenai insiden kemarin yang menimpa murid di training ground sekolah, bukan ulah siswi yang bernama Satella. Pelakunya yang bertanggung jawab atas itu adalah adik kembarnya sendiri. Starla, kembaran Satella yang sekolah di akademi Blue Rose. Mohon murid sekalian tak menyalahkan Satella."
Begitulah yang disampaikan oleh kepala sekolah.
"Walah ... bapak? Loh kok, bapak kepala sekolah bisa tahu tentang semuannya. Tapi untung deh, aku tambah lega." Curhat Satella.
Tak lama berselang, Satella pergi mengambil formulir.
Setelahnya, bergegas meninggalkan akademi.
Lorong sekolah.
Satella berjalan sendirian untuk menuju asrama. Tidak lain tidak bukan adalah untuk mengemasi barang-barang miliknya. Untuk kedepannya Satella tak akan ada disekolah ini lagi.
Kecuali kalau ia rela menjadi guru daripada menjadi staf penyihir elit kementerian sihir.
Satella berjalan amat cepat dan antusias.
Seseorang menegur sapa kearah dirinya.
"Hai...."
Satella terhenti.
"Siapa?"
Satella menoleh kesegala arah, lalu melihat seorang datang padanya. Ternyata yang datang adalah sosok Ernest, instruktur pengajar dari kementerian sihir. Seperti mereka berdua akan saling berpamitan.
"Sudah mau pulang?" Tanya Ernest.
"Kereta naga keluargaku sudah menanti. Aku harus cepat. Kalau melawan untuk pulang sekarang, ayahku bisa marah." Kata Satella.
"Aku hanya ingin berpamitan. Jadi selamat tinggal." Ucap Ernest.
"Iya, selamat tinggal juga." Balas Satella.
"Terimakasih banyak kamu telah membantu. Jujur, materi tentang werewolf itu sulit disampaikan." Tukas Ernest.
Satella dan Ernest berjalan saling beriringan.
"Mau ku bantu, membawa barang?" Tanya Ernest.
"Tidak usah, biasanya ada butler untuk membantu membawakan barang ku." Sanggah Satella.
Meski yang didengar Satella adalah ocehan Ernest. Ia malah melamun, Satella fokus mengingat kenangan yang ada. Tau-tau kenangan selama tiga tahun terbayang kembali.
Satella tersenyum sendiri.
__ADS_1
Skip....
Point of view.
Satella kini sudah pulang, tinggal dikediamannya, mansion Charlotte. Satella mendapatkan formulir awal dari sekolah yang selanjutnya akan meminta data tangan wali untuk persyaratan mengikuti turnamen.
Kereta naga baru saja melewati gerbang depan mansion. Satella menuruni kereta dan melangkah memasuki mansion. Sedikitpun Satella tidak merasa letih setelah menempuh perjalanan.
POV end.
Melewati lorong, sampai diruang tengah keluarga. Satella langsung mencari keberadaan adik kembar tercinta. Ketika Satella menyayangi adik kembarnya, sesekali menjadi emosi karena ingat tingkah bandel yang kadang kambuh dari Starla.
"Gak ada?" Gumam Satella.
Seorang pelayan rumah berseragam maid lewat, ia berhenti sejenak tuk menyambut tuan putri.
"Selamat datang nyonya kecil." Pelayanannya menyapa.
"Apa kamu lihat Starla?" Satella bertanya.
"Tuan putri Starla sudah pulang beberapa jam yang lalu. Kemudian pergi lagi keluar. Padahal baru aja pulang, tuan Starla memang tidak kenal lelah yah." Jawab maid.
Satella mengurungkan niat untuk menyender disofa.
"Terimakasih."
Setelah berterimakasih pada maid, Satella bergegas menuju kamarnya. Sesaat setelah Satella menaiki anak tangga menuju kamar, beberapa butler membawakan koper milik Satella. Koper besar ada tiga yang baru diangkut dari bagasi kereta.
Kamar.
Satella baru sebentar rebahan di kasur. Satella menyadari ada satu amplop terletak diatas meja rias dikala menatap kaca sambil iseng melihat pantulan wajahnya.
Suara ketukan pintu.
"Siapa?"
"Saya, membawa barang-barang bawaan nyonya kecil." Balasnya.
"Oh butler, silahkan masuk dan simpan didekat lemari." Perintah Satella.
Pintu dibuka, tiga butler masuk. Masing-masing membawakan satu koper yang sungguh besar. Mereka menaruh koper didekat lemari.
"Permisi, maaf mengganggu."
Beberapa saat kemudian.
Satella bangkit untuk mengambil sepucuk surat.
Mulanya Satella melihat refleksi wajahnya di cermin.
Dengan iseng, Satella menyentuh wajahnya yang imut.
"Kuping masih lancip. Mata besar bulat, bibir minimalis yang imut. Rambut perak terurai berkibar indahnya kala tertiup angin lewat. Cantiknya...." Canda Satella, yang terkekeh sambil menutupi bibirnya dengan ujung jari lentik.
"Wah, ada minum." Tanpa menaruh sedikitpun rasa curiga, ia minum airnya sampai habis.
Meminum penuh dahaga.
Mengambil sepucuk surat. Satella membaca surat sambil berdiri.
Pertama-tama melihat identitas pengirim pesan.
"Walah, Starla?"
Satella kaget karena penulis surat adalah adik kembarnya sendiri.
Surat.
Kakak ku,
Satella
Dirumah.
Salam sekandung,
Hai kak, apa kabar? Bagaimana keadaanmu disana, pasti sehat ya. Sudah satu tahun ajaran kita tidak bertemu kak, kangen deh.
Banyak yang terjadi semenjak aku tidak bersama kakak. Sudah banyak keterampilan yang aku pelajar, kak. Aku tahu kakak pasti berniat untuk mengikuti turnamen sihir juga kan. Aku sudah mendapat data tangan yang ditulis oleh kakak Diana.
Sudah, sekian dulu ya kak. Starla ingin mengunjungi beberapa anak bangsawan lain untuk melakukan sebuah uji coba.
Pergilah ke koloseum kota, kalau pengen iseng.
Sudah dulu ya kak.
Salam aku,
Starla cantik.
Surat end....
__ADS_1
Satella terkejut setelah membaca suratnya.
"Apa, uji coba! Pasti Starla berniat bikin onar lagi seperti kemarin disekolah." Satella pusing setelah memikirkannya.
Tiba-tiba Satella terjatuh kearah belakang.
Bukan pingsan, tapi hanya merasa sedikit lelah.
Wajahnya frustasi karena sedang memikirkan betapa bandel adik kembarnya itu.
Skip....
Koloseum.
Di koloseum terdapat beberapa penyihir bertalenta. Entah gimana tapi, koloseum mendadak berubah menjadi ajang player vs player.
Seperti arena PVP dalam game.
Sepertinya Starla memang sudah memprediksi ini. Mungkin Starla mengetahui dari jauh hari.
Area tanah lapang yang berbentuk persegi panjang. Sedikit lebih luas daripada lapangan bola. Mungkin semifinal turnamen sihir diadakan ditempat seperti koloseum ini. Area disekitar lapangan duel adalah tempat penonton. Seperti stadion olahraga, tapi olahraga bertarung. Koloseum terinspirasi dari budaya Greek mitologi.
Kerajaan punya koloseum tertutup yang tidak dibuka untuk kalangan umum. Itulah koloseum khusus tuk turnamen sihir. Kalau untuk para kesatria, biasanya mereka berada disana untuk wave monster. Yang mereka hadapi adalah monster yang taraf kekuatannya diatas rata-rata kekuatan manusia. Dengan kata lain itu monster yang sudah dimutasi.
Di sana ada banyak mage biasa dan mage reguler.
Turnamen ada dua.
Turnamen khusus : Yang diikuti siswa kelas tiga yang baru menerima kelulusan belum lama ini.
Turnamen umum : Yang diikuti penyihir manapun, tidak peduli berapa usia mereka.
Mage yang baru lulus belum lama, tidak mungkin mengikuti turnamen umum. Apabila mereka mage yang memiliki garis keturunan selama berabad-abad maka lain ceritanya.
Garis keturunan penyihir adalah segalanya. Semakin tua silsilah keluarga sihir mereka, penyihir itu semakin kuat.
Terutama pure blood.
Saat ini Starla baru saja tiba dan duduk di kursi penonton.
Starla masih memantau kekuatan penyihir yang datang ke koloseum kota ini. Koloseum ibu kota adalah yang paling megah dan juga baik kualitas infrastrukturnya.
Melihatnya Starla menguap karena belum ada penyihir hebat muncul dipermukaan.
Semenjak Starla duduk di kursi penonton koloseum, penyihir yang datang semakin banyak saja.
Namun, Starla didahului.
Ada orang selain dirinya yang melakukan uji coba.
Sekumpulan penyihir dikalahkan. Mereka menjadi tumpukan mage yang terbaring dipingigran arena koloseum. Beberapa mage cleric dengan sukarela mengobati mage yang luka-luka karena berduel.
Sampai membuat Starla tersenyum merekah.
"Ara ... ara, menarik ini sungguh menarik." Starla puas, disisi lain tertantang.
Alih-alih menuruni anak tangga untuk menuju arena, Starla lebih memilih memakai flyng magic.
Dalam sekejap ia pindah dari kursi penonton menjadi diarena.
Ada banyak penyihir disana yang dikalahkan. Dari semuanya ada beberapa penyihir diusia matang. Mereka hanya dikalahkan oleh seorang anak kecil. Itulah yang menurut Starla sebagai menarik.
Dikala banyak yang mage tergeletak disana, hanya Starla yang berdiri kokoh sambil melangkah kearahnya.
"Anak kecil...." Seru Starla.
Ia menoleh kearah Starla dengan tatapan kesal.
"Aku bukan anak kecil! Usiaku 18 tahun. Namaku Ciel Ferguson."
Starla terkekeh sambil berjalan kearahnya.
Yang ada dihadapan Starla adalah seorang anak laki-laki remaja yang memiliki tubuh kecil. Tubuhnya sangat mirip dengan anak-anak. Bahkan garis wajahnya lebih muda daripada Starla. Seolah wajahnya ditafsir beberapa tahun lebih muda daripada Starla yang seorang elves.
Ciel hanya setinggi 145cm saja. jika ia dibandingkan dengan Starla, perbedaan tingginya adalah 30 sentimeter.
Tanpa bicara, tau-tau Ciel melepas gelombang serang berbentuk wave cembung putih transparan kearah Starla. Gelombang serangannya melesat kencang dan tanpa ampun.
Namun Starla sigap.
Starla melepaskan energi asap dari telapak tangannya.
Melompat keatas dengan gerakan salto. Starla menggunakan kekuatan flyng magic nya.
"Kamu!" Ciel tampak kesal.
"Hei kamu. Sudahlah ... sudahlah, jangan emosi. Apakah kamu suka bunga? Nanti kita petik di taman." Senyuman Starla amat merekah.
Nampaknya Starla jatuh cinta.
Ras elves umumnya mencapai masa pubertas pada usia seratus tahun.
__ADS_1
Starla mengalami cinta monyet.
~Bersambung~