
Lorong sekolah.
Minerva memukul tembok. Wajah cantiknya semakin cantik akibat menampakkan mimik kemarahan. Beberapa murid tercengang diam menonton, seolah mereka sedang melihat preman disekolah.
"Preman cantik." Canda Violetta.
"BERISIK!" Sentak Minerva kesal.
"Ayo kita jenguk Satella." Violetta mengajak, seraya menenangkan suasana hati Minerva yang telah mengalami darah tinggi.
"SEBENTAR!" Minerva nge-gas.
"Santai." Seru Violetta, datar.
"Maksudku tunggu sebentar ya, aku lagi darah tinggi tau!" Ujar Minerva, nge-gas.
Violetta terkekeh.
Violetta pun melangkah kearah Minerva, mendekatlah dia.
"Tatap aku!" Violetta memantrai Minerva dengan sihir ilusi yang efeknya setara dengan hipnoterapi.
"APA SAYU!" Minerva nge-gas.
"Tarik napas dulu!" Seru Violetta memberikan sugesti.
Minerva menarik napas berat.
"Tarik napas lagi!" Violetta masih berupaya menurunkan tensi darah Minerva agar relatif santai.
Minerva menarik napas.
"Tarik napasnya yang panjang!" Violetta menenangkan Minerva.
"Bawel banget mata sayu!" Sentak Minerva, dengan luapan emosinya sangat-sangat berasap.
"Tarik napas panjang!" Violetta tak berhenti begitu saja.
Minerva menarik napas panjang.
"Tahan!"
Violetta menyuruh Minerva tuk menahan napasnya, anehnya ia menurut saja.
"Baiklah sekarang lepaskan." Seru Violetta.
Minerva menghembuskan napas panjang penuh kelegaan.
"Sudah mendingan?" Violetta.
"YA!" Minerva nge-gas.
"Baiklah.. sekarang kita jenguk Satella." Ujar Violetta.
"Huh.. jenguk?" Minerva bernada heran.
"Yang menjadi korban love potion bukan hanya kamu!" Ujar Violetta.
"APA KATAMU!" Minerva kaget.
"Maksudnya Satella juga terkena dampak sihir love potion?" Tanya Minerva, heboh.
"Tapi sudah ku pulihkan, tapi ia masih merasa sedikit trauma sih." Jawab Violetta.
Minerva mencengkeram bahu Violetta. Kedua bahu si jangkung diremas hingga wajah datarnya berubah menjadi mengejan saat menahan nyeri. Minerva tidak menyadari bahwa kekuatan otot lengannya sangat menyakitkan teruntuk orang lain yang diremas.
"Dimana dia!" Tanya Minerva, cengkraman pada kedua bahu Violetta semakin keras saja.
"Bunuh saja aku!" Protes Violetta dengan nada datarnya.
"KATAKAN DIMANA!" Minerva pun mendorong-dorong tubuh Violetta kedepan dan belakang membuatnya merasa mabuk.
"Aku mulai pusing loh!" Protes Violetta, nadanya datar tetapi matanya jelas berputar-putar merasakan sensasi mual-mual.
Minerva terus menggoyangkan tubuhnya Violetta seperti botol milkshake.
"Diruang inap oy, lepas oy.. aku rasanya ingin muntah!" Protes Violetta.
Skip...
Ruang inap sekolah.
Minerva bersama Violetta pun memasuki ruang inap sekolah. Mereka menjenguk Satella yang sebenarnya sama sekali tidak mengalami sakit. Hanya saja ia merasakan sedikit trauma.
"Apa kau baik-baik saja Stella." Minerva datang.
"Minerva." Sahut Satella.
"Aku juga jadi korban keusilan ramuan jahat itu!" Ucap Minerva.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan Minerva." Satella yang bernada khawatir.
"Untungnya ditolong si mata sayu." Ujar Minerva, dengan raut wajah galaknya yang khas.
"Syukurlah." Satella bernada lega.
"Baikan?" Tanya Violetta.
"Kupikir kamu tau jawabannya. Biasanya kamu akan bilang, aku menerawang kok." Sindir Satella.
Saat Satella bilang aku menerawang kok, nadanya menirukan suaranya Violetta seakan meledek.
"Maaf aku orangnya blak-blakan. Tapikan, aku juga perlu basa-basi sedikit." Ucap Violetta.
Satella terkekeh.
"Emangnya aku gak boleh sedikit bertutur kata?" Violetta sambil mengangkat bahunya.
"Maaf aku usil ngatain, aku kan bercanda Vio." Tawa kecil Satella.
"Minerva jagain Satella ya!" Pinta Violetta.
Tanpa mendengar balasan, Violetta langsung saja bergegas pergi.
"Theodore ikut aku!" Pinta Violetta.
__ADS_1
Akhirnya Theodore dan Violetta meninggalkan ruangan, sementara Minerva ada untuk menemani dan menjaga Satella.
Kemudian.
Lorong sekolah.
Violetta terus berjalan kedepan dengan Theodore mengikutinya. Tau-tau Violetta berhenti seraya memutar badannya. Kini Violetta memandang kearah Theodore.
"Bawa orang jahatnya keruang kebutuhan!" Perintah Violetta.
"Saatnya revenge!" Seru Theodore, dengan murka.
"No.. no.. no, jangan Theodore!" Violetta membantah.
"Lalu?" Theodore mengangkat bahunya.
"Kita memindahkannya bukanya untuk balas dendam, nanti kita lakukan interogasi!" Ujar Violetta.
Theodore menyeringai sembari mengepal tinjunya. Terlihat agak bersemangat, membuat bunyi gemeretak pada tulang tangan.
"Ayo kita interogasi habis-habisan orang khentu itu!" Theodore tidak sabar ingin mengintegrasi dengan cara yang keras.
Violetta dan Theodore berpencar, mereka ketemuan diruang yang paling rahasia disekolah.
Skip...
Ruang kebutuhan.
Didalam ruang kebutuhan hanya berempat. Violetta, dewi Eris dan Theodore yang membawa orang untuk diinterogasi.
Dengan murkanya Theodore pun melempar Lei gendut hingga ia terbanting kelantai. Theodore pun menginjak perut buncit Lei dan ditekan ke bumi kuat-kuat seolah Theodore berniat mengeluarkan usianya keluar semua hingga sisa kulitnya saja.
"KAMU APAKAN MASTERKU!" Theodore terlihat sangat galak.
"Hei.. hentikan Theodore!" Omel Violetta, melangkah mendekati.
"Ugly b4stard ini telah berniat tuk menodai masterku, tidak ada yang boleh menodai kesucian masterku, biarkan aku menghabisi orang ini!" Theodore naik semakin darah.
"Jangan sampe dia koma, nantinya susah buat mengorek info!" Pinta Violetta.
"Baiklah." Mendengus, Theodore melepaskan Lei.
"Kita harus tangkap dalangnya!" Violetta bilang.
Violetta keluarkan cure potion.
"Pertama pulihkan dulu dia dari kelumpuhan, supaya bisa buka suara." Gumam Violetta.
Violetta meminumkan cure potion kepada Lei gendut.
Cure !!
Lei sembuh dari kelumpuhan, ia tersadar lalu cepat-cepat berdiri dengan dipenuhi rasa takut.
"Mau apa kalian!" Seru Lei.
Theodore mengejar Lei kemudian menganggapnya sebagai gerakan mengunci pada seni ilmu bela diri. Theodore mengunci pergerakan Lei dengan keras seolah-olah sedang menangkap seorang maling.
"Beraninya kamu melecehkan masterku!" Theodore nge-gas.
Theodore muak dan menampar kepalanya Lei sekerasnya.
"Lancang sekali memanggil master seperti itu!" Omel Theodore.
"Kamu menodai masterku!" Umpat Theodore, ia mengunci lebih keras hingga persendian dan tulang Lei terasa sangat nyeri.
"Sakit!" Keluh Lei, meronta.
"Aku tidak argh.. aku belum, tolong lepaskan dulu!" Pinta Lei, meronta, biacara pun jadi sulit.
"BAIKLAH!" Theodore melempar tubuh Lei hingga ia membentur ke tembok.
Bukan hanya itu.
Theodore menendangnya dua kali dengan keras.
Pertama mengenai kaki, membuat tubuh Lei terperosok jatuh.
Kedua Theodore menendang kearah bahu amat keras. Lei sempat untuk menangkis, tetapi tangannya Lei itu terpental dan membiru amat nyeri.
"Dasar tukang pukul!" Umpat Lei, bernada mengutuk.
"Si-alan juga kau berani menodai masterku!" Umpat Theodore.
"Aku belum menodainya, aku baru akan mencicipi kegadisan nyonya cantik ini. Tidak sebelum wanita j4lang itu menghalangi niat ku ini!" Lei mengumpat kearah Violetta.
Hanya ditanggapi datar saja oleh Violetta. Bahkan Violetta hanya menguap bosan.
Theodore menggertak.
"Berani bicara nyolot lagi, akan aku pukul kau dasar badut kau hom0!" Theodore menggertak dengan satu kepalan tangan.
Violetta menguap sampai-sampai kepalanya menengadah keatas.
Violetta melangkah.
"Beri tahu, kamu dapat darimana potion itu?" Tanya Violetta.
"Aku meraciknya." Jawab Lei.
Violetta menguap.
"Kamu pembohong ya!" Violetta menatap dengan raut bosan.
"JANGAN BOHONG!" Theodore menggertak dengan satu kepalan tinjunya, tanpa memukul dulu.
"Ampun!" Reflek Lei, kelihatan takutnya.
"Kamu beli potion itu dari mana?" Tanya Violetta.
"Sudah kubilang aku meraciknya!" Bersikeras, Lei tak mengakui.
Violetta menguap.
"Ara.. ara, cepat paksa dia mengaku hei.. Theodore!" Pinta Violetta.
__ADS_1
Theodore menendang lutut Lei sehingga ia kesakitan dan jatuh kelantai terduduk, meringis.
"Berdirilah!" Pinta Violetta.
Theodore meremas kerah baju Lei sambil memaksanya berdiri.
Theodore meninju lagi perutnya.
"Hentikan itu Theo!" Seru Violetta.
"Maaf aku terlalu naik darah, aku kesal karena masterku dilecehkan oleh si hina ini." Ujar Theodore.
"Aku bisa sendiri!" Ujar Violetta.
"...." Theodore bingung.
Violetta mengepalkan tinjunya kemudian memukul sekerasnya diperut buncit Lei.
Dia tersedak meringis sakit.
"Anda kuat sekali teman master." Theodore sempat berkata takjub kepada Violetta.
"Habisnya aku semakin kehabisan waktu!" Keluh Violetta.
"Bohong banget orang bebal yang seperti kamu meracik ramuan ini. Jelas-jelas aku yang ahli di bidang ramuan saja masih belum bisa ya!" Violetta menepuk-nepuk bahu Lei, memasang sorot mata tajam yang disertai raut lesu.
"S1al, si lesu ini sadis banget!" Kata Lei, amat tak terima.
"Baiklah!" Violetta marah.
Violetta mengeluarkan sekantung serbuk. Tanpa banyak omong lagi, Violetta menabur bubuk ke kulit badan Lei. Menuangkan melalui sela-sela leher atau kerah bajunya.
Beberapa saat kemudian..
Lei terbaring dilantai dengan rasa gatal-gatal tak tertahan.
"Kamu apakan aku, hei dasar cewe lesu!" Umpat Lei.
"Mau disembuhkan tidak?" Ujar Violetta.
"Cepat sembuhkan!" Sentak Lei.
"Mengaku dulu!" Ujar Violetta.
"Aku mulai kehabisan waktu tau!" Violetta menguap, melipat tangan sambil menampakan raut lesu dan penuh kebosanan.
"Aku punya usulan bagus temanya master!" Theodore mengangkat tangannya.
Seolah bisa memprediksi, Violetta membalas dengan.
"Apa katamu.. Oleskan batang letoy nya dengan balsam ekstra panas?" Kata Violetta terkekeh.
"Astaga.. kok bisa tau, padahal aku belum mengatakannya?" Theodore tercengang atas sisi paranormal dirinya Violetta.
"Aku memprediksi!" Sahut Violetta.
"Hentikan.. jangan lakukan yang seperti itu!" Lei menjerit histeris, ketakutan dengan ide sadis yang Theodore usulkan itu.
"Makanya menurut saja gendut!" Violetta menyeringai.
"Sudah kubilang." Balas Lei.
"Cepat ambilkan balsem ekstra panasnya Theo!" Ancam Violetta.
"JANGAN!" Jerit Lei, histeris.
"Sudahlah.. sudahlah, tolong dong jangan buat aku kehabisan waktu!" Violetta mendesau.
"Cepat ambil balsem panasnya Theodore!" Ancam Violetta, lagi.
"Jangan.. baiklah aku mengakui!" Akhirnya Lei menyerah setelah ia menjerit histeris.
"Banc1 gentong air ini nurut juga akhirnya." Violetta bernapas lesu.
"Berdiri kan dia Theo!" Violetta mengeluarkan obatnya.
Theodore memaksakan Lei berdiri sambil bertindak kasar.
"Kamu dapatkan dari siapa love potion nya?" Tanya Violetta.
"Teman kelasku, namanya Bili." Bernada ketakutan, Lei hanya bisa mengakuinya.
"Kamu kelas apa!" Violetta agak represif, mencengkeram dagunya dengan kekuatan remasan.
"Kelas tiga F." Jawabnya.
"Baiklah dengan ini gatal-gatal ditubuh mu hilang!" Violetta menjentikan jarinya.
"Eh?" Lei bingung.
"Tadi itu bagian dari permainan ilusiku." Ujar Violetta.
"Aku hanya menaburi tepung pada tubuh kotor mu itu!" Violetta pun menertawai Lei.
Violetta berdiri didekat Lei sambil menunjukkan potion.
"Potion ini efek sihirnya membuat dirimu melupakan kejadian yang terjadi selama satu hari kebelakang loh." Ujar Violetta.
Violetta memaksa Lei meminum ramuan tersebut, tapi Lei melawan hingga potion terjatuh kelantai dan pecahlah botolnya.
Tiba-tiba perspektif Violetta pun mundur tiga detik kebelakang.
Adalah saat dimana potion belum terjatuh.
"Kamu pasti akan memecahkan botolnya, karena aku meramalkannya!" Violetta sangatlah geram.
"Theodore tolong pegang kedua tangannya!" Pinta Violetta.
[Author : itu adalah skill pasive andalan Violetta.]
[Author : untung aja Violetta itu karakter baik, kalau Violetta jadi antagonis bakalan susah mc nya.]
Setelah Violetta memaksa Lei tuk meminum potion, ia melupakan semua kejadian selama satu hari kebelakang. Kemudian Theodore menendangnya keluar, membuang sampah dipingigran lorong lantai empat sekolah ini.
~bersambung~
__ADS_1